Tolo Ukur Bermutu dan Tidak Bermutu

Tanpa disadari orang seringkali memilah antara bermutu dan tidak bermutu. Entah barang, entah pembicaraan, buku, acara televisi dan sebagainya. Namun apakah yang menjadi ‘standar pengukuran’ yang membedakan antara sesuatu itu masuk dalam kategori ‘bermutu’ atau sebaliknya?

Tidak jelas memang, dan variabelnya relatif bagi masing-masing individu. Tapi tentu ada pula hal-hal yang berkesan ‘general’ dalam arti dipersepsi sama oleh sebagian besar orang.

Ambil contoh misalnya antara tayangan berita dengan tayangan hiburan, atau buku ilmiah dengan fiksi. Sebagian besar orang beranggapan (atau memaksakan diri untuk menerima) bahwa berita dan ilmiah leboh ‘berbobot’ ketimbang fiksi dan hiburan.

Bagi saya tidak selalu demikian. Belakangan ini justru saya menghindari berita. Pekerjaan saya nyaris tidak membutuhkan update berita. Alih-alih tahu perkembangan atau menambah ilmu malah yang ada juga jengkel. Jengkel karena banyak kebusukan di ekspose di media, jengkel juga dengan presenter televisi yang pertanyaan dan opininya ‘sesat’ dan sekedar mencari sensasi.

Maka bagi saya menyaksikan berita hanya buang-buang waktu dan tidak bermutu. Tapi seorang yang berkecimpung di dunia politik misalnya, tentu akan berpendapat lain.

Sebaliknya tayangan hiburan seperti film-film Hollywood (dan Bollywood sesekali, mis.: ‘3 Idioits’) , sekalipun fiksi seringkali justru memberi saya inspirasi yang bermanfaat bagi untuk meningkatkan produktivitas kerja dan memberi ide-ide segar yang selalu saya perlukan.

Seorang motivator pernah mengatakan bahwa penting bagi seorang untuk menjaga emosi positif dalam kehidupan sehari-hari. Nah, terkait dengan itu saya lihat tayangan berita justru membangkitkan emosi negatif dan sebaliknya tayangan hiburan bisa membawa emosi positif. Lebih lanjut disebut pula oleh sang motivator bahwa emosi positif bukan hanya membangkitkan motivasi, lebih dari itu melahirkan inspirasi. Dan memang demikian pengalaman saya.

Saya pribadi berpendapat bahwa bermutu atau tidaknya segala sesuatu bergantung pada kemampuan seseorang untuk berpikir secara terbuka dan menggali dalam-dalam makna yang terkandung dari sesuatu yang dialami, dibaca, disaksikan atau apapun bentuknya.

Kalau kita mampu bersikap demikian maka tak jarang pada hal-hal yang dianggap orang lain kecil atau remeh sekalipun kita bisa mengambil pelajaran yang teramat penting di dalamnya.

Sebaliknya jika pikiran kita biasa tertutup dan terkotak-kotak oleh persepsi yang sudah terbentuk selama bertahun-tahun bisa jadi pada hal-hal yang jelas-jelas sarat makna pun kita tak mampu melihat kualitas di dalamnya.

Kecenderungan orang mudah berkomentar (‘asbun’) sebelum mendalami baik-baik objek yang hendak dikomentari juga turut mendangkalkan kemampuan yang bersangkutan mengambil makna atas suatu hal.

Jadi pada akhirnya, antara ‘mutu’ dan ‘tidak bermutu’ adalah relatif. Bergantung pada minat, pola pikir, keyakinan dan kecerdasan masing-masing. (Satrio)