Apakah semua hal pantas ditanyakan?

Etika‘Penghasilan suami-mu lebih besar kan dari gajimu?’ Wow.. Saya kaget dengan kalimat pertanyaan itu. Di tengah kekagetan itu, spontan Saya menjawab iya, karena memang penghasilan Suami lebih besar dari gaji yang Saya terima setiap bulannya. Kalimat pertanyaan tersebut terlontar dari seorang sahabat lama saat kami bertemu dalam sebuah kesempatan reuni. Setelah acara reuni selesai, kalimat pertanyaan seperti itu masih terngiang-ngiang di telinga Saya. Sepertinya Saya cukup kaget dengan pertanyaan sahabat lama Saya itu. Saya belum pernah menerima pertanyaan seperti itu sebelumnya.

Hal ini kemudian membuat Saya berpikir, apakah memang semua hal boleh ditanyakan kepada teman atau sahabat atau kakak atau adik atau saudara atau orang lain. Sebenarnya apakah ada kriteria atau batasan-batasan tertentu mengenai hal-hal yang pantas ditanyakan atau tidak ditanyakan. Selain itu, apakah ada topik-topik tertentu yang sebenarnya tidak boleh diajukan dalam suatu percakapan yang sifatnya sosial.

Menurut Saya mengenai hal pantas atau tidak pantas suatu topik ditanyakan dalam suatu percakapan adalah masalah etiket. Sayangnya masalah etika dalam percakapan hanya membahas mengenai hal-hal yang terkait bahasa tubuh. Beberapa contoh misalnya, berbicara sambil mengunyah permen karet tidak pantas dilakukan dan berbicara sambil berkacak pinggang dianggap sombong atau merendahkan orang lain. Setidaknya inilah yang Saya temukan dalam pencarian Saya mengenai etiket dalam percakapan sosial. Kalaupun menyangkut isi, hanya tertulis agar tidak membicarakan hal-hal yang berbau politik, agama, atau kepercayaan dengan orang yang baru dikenal. Bagaimana dengan hal-hal yang bersifat pribadi? Saya belum menemukan yang membahas mengenai hal ini.

Bukan maksud Saya mengatakan bahwa bahasa tubuh dalam pecakapan bukan hal yang penting. Namun selain bahasa tubuh, etiket yang juga harus diperhatikan adalah mengenai hal-hal yang pantas dan tidak pantas ditanyakan dalam suatu percakapan sosial. Nampaknya hal ini belum terlalu mendapat perhatian pada budaya yang lebih mengedepankan komunalitas. Seolah-olah dengan mengatasnamakan kebersamaan dan perhatian maka semua hal boleh ditanyakan.

Menurut Saya, pilihan pertanyaan yang diajukan juga menyangkut etiket dalam percakapan sosial. Pertanyaan-pertanyaan yang bersifat pribadi tidak sepantasnya diajukan dalam percakapan sosial. Alasan komunalitas atau perhatian bagi Saya bukanlah alasan pembenar menyanyakan hal-hal yang bersifat pribadi. Hal-hal yang bersifat pribadi diantaranya terkait mengenai penghasilan dalam keluarga, kualitas hubungan antar anggota keluarga, keadaan keuangan, pangkat atau jabatan suami/istri di tempat kerja, sifat buruk pasangan, dan hal-hal lain yang menyangkut masalah pribadi.

Saya tahu contoh-contoh tersebut dapat diperdebatkan mengenai kepantasan menjadi topik pertanyaan dalam suatu percakapan sosial. Pembahasan mengenai hal-hal diatas mungkin saja muncul dalam suatu percakapan, namun bagi Saya satu-satunya alasan topik tersebut harus muncul dari orang yang bersangkutan. Bukan muncul karena suatu pertanyaan.

Saya tahu setiap orang memiliki cara yang berbeda. Saya sendiri termasuk orang yang tidak terlalu suka mengumbar hal-hal yang bersifat pribadi kepada orang lain. Saya lebih suka menceritakan hal-hal yang bersifat pribadi hanya kepada Suami. Apabila ada hal-hal yang ingin Saya keluhkan mengenai hal-hal yang bersifat pribadi, Saya memilih melakukannya dalam doa dan kemudian menjadi lega.

Pada budaya yang tidak mengedepankan komunalitas yaitu budaya yang lebih menghargai individualitas, pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin tidak muncul dalam percakapan sosial karena orang sudah lebih menghargai dan mengetahui batasan mengenai apa yang terlalu bersifat pribadi sehingga tidak pantas ditanyakan. Lebih dari itu, sesungguhnya topik-topik lain tidak kurang banyaknya.

Saya memikirkan, jika suatu saat mengahadapi situasi mirip seperti kejadian yang Saya ceritakan di awal tulisan ini, Saya akan menjawab dengan berbeda. Bagi Saya pertanyaan itu (“Penghasilan suami-mu lebih besar kan dari gajimu?”) merupakan pertanyaan yang terlalu bersifat pribadi. Saya tidak pernah dan tidak akan pernah menanyakan pertanyaan seperti itu atau yang sejenis dengan itu kepada orang lain, siapa pun dia. Jika pertanyaan serupa itu Saya temui lagi, Saya akan menjawab “Wah, itu bukan hal perlu aku jawab, karena pertanyaan itu terlalu bersifat pribadi” Menurut Saya kita harus mulai belajar mengenai etiket dalam percakapan sosial. (Indirani)

  Copyright protected by Digiprove © 2011