Pengguna Aplikasi Ad Blocking: Pig Ignorant!

Aplikasi Ad Blocking baik berupa plug-in untuk browser maupun aplikasi di Android sebenarnya bukan muncul baru-baru ini. Namun sorotan mengenai aplikasi pemblokir iklan tersebut baru menjadi sorotan manakala Apple mengintegrasikannnya pada sistem operasi mobile terbaru mereka iOS 9.

Sebut saja Peace, Crystal dan Purify yang merupakan tiga aplikasi pemblokir iklan paling populer untuk iOS saat ini. Konon tujuan para pengembang aplikasi melahirkan aplikasi-aplikasi tersebut adalah demi mengoptimalkan pengalaman pengguna saat melakukan penjelajahan di dunia maya. Menurut klaim mereka aplikasi tersebut mampu mematikan kode javascript yang umumnya merupakan kode iklan yang ditayangkan dalam sebuah situs/blog. Dengan blokir tersebut maka pengguna bisa merasakan kecepatan dan privasi yang lebih baik selama menjelajah.

Tanpa menampik kebenaran tersebut, sekaligus juga memahami bahwa tak sedikit pemilik situs/blog yang secara berlebihan memasang iklan pada situs/blognya sehingga mengganggu pengalaman kala menjelajah namun pada sisi lain sebagai Content Strategist sekaligus blogger profesional saya sendiri mempertanyakan etika si pengembang maupun pengguna.

Aplikas-Blokir-Iklan

Image credit: @matthewhughes

Iklan memang bisa terasa menggangu ketika pemilik situs menggunakan berbagai cara untuk “memaksa” pembaca/pengunjung meng-klik iklan. Iklan jenis pop-up dan under-up utamanya tak diingkari keberadaannya sering menyebalkan, lebih-lebih jika ternyata konten dari blog tersebut tidak berbobot. Karenanya tak mengherankan jika dari kacamata pengguna awam keberadaan aplikasi-aplikasi pemblokir iklan tersebut dirasa sangat membantu.

Namun di sisi lain pengguna pun harus sadar bahwa hampir semua situs/blog yang dinikmatinya selama ini, memberi informasi, hiburan dan sebagainya dihidupi sepenuhnya dari iklan tersebut. Mengoperasikan blog/situs dalam tingkat profesional membutuhkan biaya yang tidak sedikit, jangan disamakan seperti mengoperasikan blog pribadi. Kebetulan saya memiliki blog pribadi dan blog profesional. Blog pribadi seperti yang sedang Anda kunjungi saat ini tidak membutuhkan biaya besar, konten di blog ini pun tak dimaksudkan beroleh penghasilan, hanya sekedar media aktualisasi diri kalau bagi saya. Namun untuk beberapa blog profesional membutuhkan biaya operasional yang jauh lebih besar dan pengelolalan yang lebih kompleks.

Selain biaya sewa hosting serta domain masih ada demikian banyak biaya operasional lain tergantung tingkatan blog/situs itu sendiri. Setidaknya masih ada biaya untuk menggaji penulis artikel (content writer). Pada level yang lebih tinggi lagi bahkan pemilik harus pula menggaji Web Content Producer dan bahkan Content Strategist untuk blog/situs yang tarafnya benar-benar sudah profesional dan umumnya dimiliki oleh perusahaan besar.

Gambaran tersebut hanyalah gambaran umum, sebab jika diulas secara detil masih banyak lagi biaya-biaya operasional lain.

Keberadaan aplikasi dan plug-in pemblokir iklan tentu saja dirasa mengancam oleh pemilik situs/blog profesional. Kenapa saya mempertanyakan etika para pengembang aplikasi tersebut? Sebab para pengembang itu di mata saya mencoba memperoleh pendapatan lewat penjualan aplikasi dengan cara mematikan pendapatan orang lain.

Karenanya ketika Marco Arment, sang pengembang aplikasi Peace kemudian memutuskan untuk menarik aplikasi buatannya dari penjualan bahkan memberi refund bagi mereka yang sudah terlanjur membelinya, saya sangat berharap kesadaran yang sama juga lambat laun bakal dimilki oleh pengembang aplikasi lainnya.

Namun sekali lagi bukan hanya pengembang aplikasi yang etikanya perlu dipertanyakan, hal yang sama berlaku untuk pengguna internet yang menggunakan aplikasi tersebut.

Seorang pemilik situs/blog profesional sudah mengeluarkan demikian banyak biaya, waktu dan tenaga untuk mengelola situs/blog miliknya, mempekerjakan orang-orang baik secara freelance maupun permanent dan atas hasil kerja tersebut maka pengguna internet bisa menikmati konten entah berupa hiburan, informasi dan sebagainya secara cuma-cuma namun oleh karena merasa terganggu oleh iklan maka mereka yang menikmati secara cuma-cuma ini pilih menggunakan aplikasi pemblokir iklan. Demi apa? Demi agar dirinya bisa lebih nyaman selama menikmati konten gratisan tersebut yang dibiayai oleh pemiliknya.

Well, FYI bagi yang belum paham, iklan di situs/blog itu sama sekali berbeda dengan iklan di televisi, radio, majalah atau media lainnya. Kalau Anda enggan menyaksikan iklan di televisi dan mengganti channel atau Facebook-an selama iklan tayang maka stasiun televisi tidak akan rugi, toh mereka tetap dibayar oleh pemasang iklan.
Tapi di internet kondisinya beda sama sekali, umumnya pemilik situs/blog hanya dibayar manakala iklan tersebut di-klik, bukan sekedar ditayangkan.

Dan perlu diketahui juga bahwa dengan asumsi iklan yang dipasang adalah AdSense maka nilai satu klik untuk blog berbahasa Indonesia rata-rata hanya $0.04 atau setara Rp 560,- dengan asumsi nilai tukar Rp terhadap USD saat ini adalah Rp 14.000,- Untuk blog berbahasa Inggris nilainya lebih tinggi, namun belakangan ini rata-rata juga tidak sampai $1, kecuali untuk niche tertentu.

Dari nilai yang tidak seberapa itu berdasar pengalaman pribadi setiap 1000 pengunjung biasanya hanya sekitar 17-23 orang yang melakukan klik iklan. Kalkulasi ini sekali lagi berdasar pengalaman pribadi, sebab posisi penempatan iklan serta template yang digunakan juga bisa memengaruhi.

Bayangkan dari jumlah yang tak seberapa per-klik iklan tersebut pengguna internet masih pula pilih menggunakan aplikasi pemblokir iklan demi alasan kenyamanan dan kecepatan selama menjelajah. Padahal menulis konten bukan hal yang sepele. Perlu riset, perlu memahami topik yang ditulis, perlu memikirkan pengkalimatan seperti apa yang bakal disukai oleh audience dan sebagainya.

Dan berapa banyak orang yang penghidupannya dari situs/blog tersebut? Dalam kapasitas paling minim tentu adalah si pemilik yang sekaligus pengelola dan penulis konten. Dalam taraf yang lebih tinggi selain pemilik juga ada pegawai-pegawai entah penulis konten, web producer, content strategist, pengelola media sosial dan sebagainya. Jangan dianggap mereka-mereka ini semuanya sekedar pelajar atau mahasiswa yang mencari uang saku tambahan, sebab tak sedikit pula yang adalah kepala keluarga dan menghidupi keluarganya dari pekerjaan ini. Pantaskah demi kenikmatan menjelajah dunia maya pendapatan mereka-mereka ini terancam?

Now, saya tak menampik bahwa terutama untuk situs/blog berbahasa Indonesia banyak situs/blog yang tidak bermutu nangkring di halaman-halaman awal mesin pencari mengalahkan situs/blog yang sebenarnya berbobot. Di antara situs-situs tersebut tak sedikit pula yang menempatkan iklan secara berlebihan, menjebak bahkan tidak jelas dimana posisi klik untuk menutup iklan itu sendiri.

Namun jangan lupa juga bahwa sebagai pengguna, tanpa aplikasi pemblokir iklan pun Anda memiliki hak untuk mengunjungi atau tidak mengunjugi situs/blog tertentu. Bahkan pada situs/blog yang konten-nya berbobot pun Anda juga masih punya pilihan untuk meng-klik atau tidak meng-klik iklan.

Tentu sebagai blogger/publisher saya tidak mengajak Anda untuk meng-klik iklan sebagai “pembayaran” atas informasi atau konten yang Anda nikmati. Yang saya maksudkan adalah setidaknya jangan bersikap egois dengan menggunakan aplikasi pemblokir iklan tersebut. Tak masalah jika Anda tidak melakukan klik iklan, kami para blogger profesional/publisher punya kalkulasi sendiri dan memang sudah memperhitungkan bahwa tak setiap pembaca akan melakukan klik iklan. Namun setidaknya dengan tidak menggunakan aplikasi tersebut iklan tetap tayang, dan siapa tahu ada iklan yang relevan dengan kebutuhan Anda. Kalaupun tidak, tentu tidak masalah. Jadi saya pikir bukankah hubungan semacam ini sebenarnya merupakan hubungan timbal balik yang saling menguntungkan dan tanpa paksaan?

Konon, alasan Apple mengintegrasikan aplikasi pemblokir iklan pada sistem operasi terbarunya merupakan upaya terakhir mereka untuk mematikan Google. Bukan rahasia bahwa kedua perusahaan itu bersaing makin sengit belakangan ini dan bukan rahasia pula bahwa pendapatan utama Google berasal dari iklan. Benar atau tidaknya teori konspirasi tersebut yang pasti di tengah-tengah perang antar dua perusahaan raksasa itu sudah pasti muncul collateral damage. Google dan Apple punya cukup amunisi untuk meneruskan perseteruan namun collateral damage yang adalah para blogger/publisher profesional serta orang-orang yang dipekerjakan di dalamnya tidak bakal punya cukup amunisi untuk menghadapi.

Jangan pula bersikap naif bahwa keberlangsungan aplikasi pemblokir konten ini hanya akan merugikan blogger/publisher. Anda sebagai pengguna internet mestinya juga sadar bahwa ketika blogger/publisher tidak lagi mendapat pendapatan yang cukup dari iklan untuk terus mengelola situs/blog-nya, untuk terus menggaji orang-orang, untuk terus membiayai operasional situs/blog-nya maka lambat laun operasional situs/blog bakal terhenti. Bukan tidak mungkin bahwa situs/blog yang selama ini dengan mudah Anda nikmati secara cuma-cuma bakal tumbang satu per satu. Artinya kesempatan Anda untuk menikmati kebebasan informasi dan hiburan cuma-cuma ini pun juga terancam!

Tahun ini saja beberapa situs kecil yang berkualitas sudah mulai tumbang karena alasan tersebut. Kehadiran aplikasi pemblokir iklan selama ini sudah memotong sekitar 75-85% pendapatan blog/situs kecil dan semua itu hanya atas nama kenyamanan menjelajah internet?

Bagaimana dengan situs dalam skala yang lebih besar? Saya pikir mereka akan bertahan karena sumber daya yang memungkinkan untuk itu, namun jangan harap artikel mereka bisa dibaca secara cuma-cuma seperti saat ini. Sebagai Content Strategist yang bergelut di bidang ini saya tidak akan heran jika kondisi ini berlanjut situs-situs besar akan menarik biaya sebelum pengunjung bisa membaca sebuah artikel secara penuh. Kurang lebih seperti yang dilakukan Kaskus jika Anda ingin forum ditampilkan tanpa iklan. Itukah yang Anda para pengguna internet inginkan?