Kembali ke RS Gara-gara Kelaparan

Excessive crying

hhuaa…hhuaaa…hhuaaaa… suara tangisan Jethro keras sekali memecah malam. Hari itu dia berumur tiga hari, tubuhnya masih bergitu mungil namun tangisnya amat keras dan terdengar begitu frustasi. Aku tidak tahu pasti apa yang ingin disampaikannya. Popoknya kering, aku baru saja memberi asi, kucoba lagi dia minum hanya sebentar kemudian menangis lagi. Kutenangkan dia, dan dia tertidur di pelukanku. Sepanjang malam aku menggendongnya.

Pada saat itu aku masih lelah karena sejak melahirkan aku belum benar-benar bersistirahat. Malam terakhir di rumah sakit (sebelum pulang) Jethro juga tidak mau ditaruh dan hanya tenang jika kupeluk. Sampai-sampai midwife yang bertugas malam itu mengambil Jethro satu jam supaya aku bisa tidur.

Aku sangat khawatir karena ketika pemeriksaan di RS sebelum pulang, kadar bilirubin dalam darah Jethro naik, jadi dia sedikit jaundice (kuning) walaupun tidak dalam tahap yg perlu ada tindakan medis. Pagi harinya kami pergi ke dokter (GP/general practitioner) untuk memastikan Jethro baik-baik saja. Menurut GP dari pemeriksaan fisik, Jethro baik-baik saja namun dia tidak bisa memastikan kadar bilirubin karena dia tidak memiliki alat untuk itu. Dia menyarankan kalau kami khawatir, langsung saja kembali ke RS (the Women”s hospital) dan dia pun membuatkan surat pengantar seandainya kami memutuskan ke RS. Saat itu Jethro kelihatan begitu tenang dan menurut suamiku Jethro baik-baik saja, jaundice-nya tidak perlu dikhawatirkan. Aku sendiri tidak bisa berpikir logis karena terlalu khawatir, jadi kami memutuskan untuk tidak ke RS.

Siang hari beberapa kali Jethro menangis keras, tapi tidak seperti malam sebelumnya. Namun sore menjelang malam, Jethro kembali menangis dengan hebat. Beberapa kali karena lelah dan pengaruh hormon yang belum normal aku merasa ingin menangis juga nangis . Berulang kali aku mencoba memberi asi, namun Jethro hanya minum sebentar kemudian menangis lagi dengan frustasi. Saat itu memberi asi bukan hal mudah buatku karena payudaraku luka lecet sehingga terasa perih. Namun karena sejak hamil aku sudah bertekad untuk memberi asi eksklusif selama 6 bulan maka kutahan saja rasa perihnya dengan menggigit bibir.

Suamiku berusaha tetap tenang dan ternyata suamiku berusaha memikirkan solusi dari situasi yang terjadi ting . Menurut suamiku, Jethro belum kenyang dengan hanya minum asi (yg masih berupa kolustrum karena susunya belum terproduksi) dia mengusulkan untuk menambah dengan susu formula. Aku tidak setuju jahat , aku meminta supaya dibicarakan lagi esok pagi. Suamiku berusaha meyakinkan aku dengan mengatakan kalau bagi dia tidak masuk akal memaksakan tetap hanya ASI pada situasi ini. Suamiku mengatakan kalau saat ini yang dia lihat adalah dua orang yang sangat dia sayangi sama-sama sakit; aku berusaha memberi asi sekalipun dalam prosesnya sampai mengeluarkan air mata menahan perih sementara asi yang keluar tidak cukup mengenyangkan sehingga Jethro di pihal lain terus menangis frustasi karena lapar.

Aku tetap tidak setuju, aku menawar dengan mengatakan untuk melihat sampai besok. Aku sudah membaca berbagai sumber yang mengatakan asi adalah makanan terbaik untuk bayi dan akan memperoleh manfaat maksimal kalau diberikan secara eksklusif selama enam bulan. Aku ingin memberikan yang terbaik itu untuk anakku semangat! .

Malam itu berlangsung sama seperti malam sebelumnya, Jethro menangis keras sekali. Aku berusaha mengeluarkan asi secara manual sementara Jethro digendong suamiku. Terkumpul beberapa tetes mungkin hanya sekitar 10 ml, kemudian Jethro tertidur. Aku sedikit lega. Akan tetapi sejam kemudian Jethro kembali bangun karena lapar, aku melakukan cara yang sama, dia pun tertidur walaupun kelihatan belum kenyang. Demikian berulang sepanjang malam. Sesungguhnya Jethro bisa tertidur karena ia tidur diatas dada ayahnya. Hanya dengan begitu dia bisa tidur dengan nyenyak.

Jethro & Dad

Hanya Dengan Cara Ini Jethro Bisa Tidur Selama “Masa Kelaparan”

Keesokan harinya kumulai dengan rasa lelah karena kurang tidur dan stress. Namun akau sedikit tenang karena pagi itu sepertinya produksi susu mulai berjalan ok . Hari itu ada kunjungan midwife dari the Women’s Hospital (ada layanan kunjungan ke rumah setelah pulang dari RS untuk memastikan ibu dan bayi baik-baik saja).

Back to hospital

Sabtu, sekitar pukul sepuluh pagi seorang midwife datang. Jethro pun ditimbang, saat itu beratnya 2,57 kg berarti Jethro kehilangan berat badan lagi. Saat lahir beratnya 2,914 kg kemudian saat pulang dari RS beratnya turun menjadi 2,674 kg. Merupakan hal yang biasa bagi bayi untuk kehilangan berat di hari-hari pertama setelah lahir, namun jika turun lebih dari 10% perlu mendapat perhatian. Midwife mengulang lagi pengukuran berat dan memang berat badan Jethro hanya 2,57 kg. Dengan kehilangan berat dan moderate jaundice pada Jethro, midwife menjadi khawatir. Dia kemudian meminta ijin mengambil darah Jethro untuk tes bilirubin. Dia akan memberitahukan hasilnya lewat telepon dan jika dirasa cukup tinggi maka kami harus kembali ke RS. Sementara itu dia memintaku untuk meberi Jethro tambahan susu formula 30ml yang harus diberikan setiap dua jam agar berat badannya tidak semakin turun.

Setelah midwife pergi, suamiku langsung bersiap pergi membeli susu formula. Akhirnya aku setuju untuk memberi susu formula walau berarti tidak asi eksklusif lagi karena faktanya Jethro kehilangan banyak berat badan gembeng .

Dering ringtone menghentikan aktivitasku, saat itu aku sedang menyiapkan makan siang untukku dan suami sementara Jethro tidur di atas dada suamiku. Midwife memberi kabar bahwa hasil tes bilirubin Jethro sudah ada (SBR 300) dan dengan kehilangan berat badan yang banyak kami diminta untuk segera ke emergency The Women Hospital. Aku segera bergegas ke kamar dan memberitahu suamiku. Kamipun batal makan siang dan segera menyiapkan barang-barang yang perlu dibawa ke RS .

Petugas di bagian emergency sudah mengetahui kedatangan kami sehingga fileku dan Jethro sudah disiapkan. Seorang midwife segera melakukan pemeriksaan awal, kemudian mengantar ke ruang perawatan di lantai 4. Aku dan Jethro mendapat kamar tepat disebelah kamar kami sebelumnya. Di kamar sudah disiapkan kotak untuk menempatkan Jethro dibawah sinar ultraviolet. Kami diminta menunggu kedatangan dokter anak yang akan memeriksa sebelum ada tindakan lebih lanjut. Tidak lama dokter anak datang dan segera memeriksa Jethro dengan teliti dan menanyakan beberapa pertanyaan kepadaku dan suami seperti, apakah Jethro muntah atau tidak, berapa kali buang air kecil dan buang air besar, apakah Jethro mau makan, jika bangun apakah terlihat waspada atau mengantuk.

Setelah selesai dengan semua pemeriksaan dan melihat kembali data-data dan hasil tes Jethro sebelumnya, dokter itu mengatakan bahwa kehilangan berat badan yang cukup banyak dalam kurun waktu 5 hari setelah lahir yang lebih menjadi perhatiannya. Menurutnya jaundice pada Jethro tidak perlu dikhawatirkan jika berat badan Jethro naik kembali kerena jaundice akan hilang dengan sendirinya beberapa minggu kedepan. Oleh karenanya penyinaran dengan sinar ultraviolet yang semula akan dilakukan dibatalkan. Aku senang mendengarnya karena dari penjelasan midwifes sebelumnya, jika ditaruh dalam kontak itu Jethro hanya boleh keluar untuk minum susu dan paling lama 30 menit, sekalipun ia menangis aku tidak boleh menggendongnya.

Tidak lama setelah dokter keluar dari kamarku, datang seorang midwife, dia menjelaskan bahwa dokter minta supaya Jethro diberi susu sebanyak 50 ml setiap tiga jam. Aku diminta untuk memompa asi dan menambah dengan susu formula apabila asi yang kuhasilkan kurang dari 50 ml. Tentu saja aku harus menambah dengan formula karena pertama kali dipompa hanya terkumpul 10ml kemudian selanjutnya bisa terkumpul 20 ml.

Aku juga menceritakan ke midwife di the Women’s mengenai kronologi kenapa Jethro harus kembali ke RS dan aku juga menceritakan perdebatan antara aku dan suami ku karena aku ingin memaksakan asi ekslusif sementara suamiku menilai seharusnya dalam kondisi ini ditambah susu formula. Mendengar penjelasan itu midwife tersenyum dan berkata pada suamiku: “Smart man!”
Untuk kesekian kalinya suamiku mendapat pujian dari midwife, meski berbeda dari midwives selama melahirkan yang rata-rata masih muda dan cantik-cantik, midwife kali ini sudah setengah tua melet .

Setelah menjelaskan soal pemberian susu, midwife itu kemudian meminta ijin mengambil sampel darah Jethro untuk tes antibody. Kembali kaki mungil bayiku harus ditusuk jarum dan diambil darahnya. Ini kali kedua dalam satu hari ini Jethro diambil darahnya, sungguh tidak tega aku melihatnya nangis2 .

Bekas Tusukan Jarum

Kaki Mungil Bayiku Dipenuhi Bekas Tusukan Jarum

Malam itu aku dan Jethro terpaksa menginap di rumah sakit. Observasi yang dilakukan sebenarnya untuk memastikan Jethro kenyang dan bertambah beratnya. Sekitar pukul 05.18 (pagi) saat mengganti nappy aku melihat ada darah keluar dari cord Jehtro, aku bergegas memanggil midwife dan midwife membawa Jethro untuk diperiksa. Sementara itu aku dengan panik menelepon suamiku untuk menceritakan kejadiannya sambil menangis. Lewat telepon suamiku berusaha menenangkan aku dan bertanya apa dia perlu ke RS?

Tak lama kemudian midwife kembali ke ruanganku membawa Jethro dan bertanya siapa yang sedang menelepon?
“My husband” jawabku
“He calls you at this time?” katanya
“No, I called him” jawabku lagi
“Why?” midwife tampak penasaran
“Because of my baby’s cord” kataku
“Honey, there’s nothing to worry about” kata si midwife dengan ramah dan bergaya keibuan berusaha menenangkanku manja

Akhirnya aku kembali menelepon suamiku dan berkata bahwa dia tidak perlu datang kemari saat ini juga karena semuanya baik-baik saja swt2 . Dan memang Jethro juga tak tampak kesakitan, kata midwife itu adalah hal biasa menjelang cord terlepas. Beberapa hari kemudian memang cord itu akhirnya terlepas.

Keesokan paginya, Jethro kembali diambil darahnya untuk cek kadar billirubin, kembali lagi jarum menusuk kaki mungil bayiku. Seperti tahu mommynya tidak tega, Jethro tidak menangis dan tetap tenang dalam proses itu. Saat itu dalam usia 6 hari, di kaki Jethro sudah ada 4 bekas tusukan jarum untuk diambil darah; pertama untuk newborn neonatal screening test, kedua pemeriksaan kadar bilirubin, ketiga pemeriksaan antibody, dan keempat pemeriksaan kadar bilirubin lagi.

Setelah itu Jethro ditimbang beratnya, dan ternyata berat badannya naik 74 gram gembira . Aku senang sekali dan berharap tidak perlu ada tindakan medis lagi untuk Jethro. Menjelang siang, dokter anak kembali memeriksa kondisi Jethro dengan lengkap dan teliti, dia nampak puas dengan pemeriksaannya dan juga kenaikan berat badan Jethro. Aku ditanya apa ingin pulang ke rumah, tentu saja aku mengiyakan. Aku dan Jethro boleh pulang, namun diminta meneruskan pemberian susu seperti di rumah sakit, karena sangat penting bagi Jethro untuk mendapatkan kembali berat badannya yang hilang selama beberapa hari terakhir. Dua hari setelah pulang aka nada midwifes yang berkunjung untuk memeriksa dan melakukan penimbangan berat badan. Selama produksi asi-ku masih kurang, aku diminta menambah dulu dengan susu formula, kalau sudah cukup susu formula boleh ditinggalkan.

Hari itu minggu siang, kami pulang kembali ke rumah. Aku meneruskan pola pemberian susu setiap tiga jam. Dua hari kemudian ketika midwifes menimbang berat badan Jethro, beratnya naik 146 gram sehingga menjadi 2,79 kg. Jethro kelihatan aktif dan sehat gembira . Dia mengatakan tidak akan berkunjung lagi, tapi jika terjadi sesuatu di luar dugaan silakan menghubungi The Women’s Hospital lagi.

Sampai Jethro berusia dua minggu aku memberikan susu dengan jadwal setiap 3 jam, kadang kala lebih awal jika Jethro memintanya. Namun setelah itu aku memberikan asi sesuai dengan permintaan Jethro. Syukurlah asi-ku sudah mencukupi sehingga tidak perlu lagi ditambah formula. Berat badan Jethro pada saat usia dua minggu juga sudah naik lagi menjadi 3,270 kg semangat! .

Setelah Jethro kenyang, dia tidak lagi menangis keras seperti dulu dan dapat tidur dengan nyenyak. Ternyata Jethro hanya lapar, sejak minggu kedua hidupnya sampai sekarang (semoga seterusnya), Jethro tidak pernah lagi menangis frustasi seperti dulu lagi. Hingga saat ini aku hanya memberikan asi saja untuk Jethro, aku masih tetap memompa asi namun juga memberikan secara langsung.

My first lesson as a mom

Setelah pulang dari rumah sakit, aku ingat suamiku berkata, kalau keinginanku memberi asi eksklusif untuk Jethro sangat baik, tapi aku juga harus realistis melihat pada situasi yang ada. Kalau aku memaksakan asi saja sementara Jethro tidak kenyang dan terus menangis, sesungguhnya tidak ada gunanya. Sedikit asi yang dia makan kemudian diubah menjadi energy yang digunakan untuk menangis karena lapar. Belum lagi dia akan belajar bahwa kebutuhannya tidak terpenuhi, tidak ditanggapi. Lebih parah lagi, jika dibiarkan terus menerus, bukan tidak mungkin Jethro akan terbiasa mudah marah atau jengkelan.

Tulisan ini kubuat untuk mengingatkanku akan pelajaran pertama sebagai ibu yang harus selalu kuingat. Pertama. sesuatu yang kita anggap terbaik, jika dipaksakan belum tentu akan diterima sebagai sesuatu yang baik. Aku berkeinginan untuk memberikan asi eksklusif untuk Jethro karena asi yang terbaik bagi bayi. Aku ingin memberikan apa yang menurutku terbaik. Tentu saja aku tidak pernah membayangkan asi-ku pada awalnya tidak mencukupi. Aku tidak pernah berharap Jethro akan menangis frustasi yang ternyata karena lapar atau pun Jethro harus diambil darahnya berkali-kali karena kehilangan berat badan.

Aku memaksakan hanya asi tanpa tambahan yang lain, ternyata bayi mungilku masih lapar, jika kupaksakan dia akan terus lapar dan belajar tidak merasa aman karena kebutuhannya tidak terpenuhi.
Sebagai orang tua aku punya pandangan yang menurutku terbaik, tapi bisa jadi anakku mempunyai kebutuhan yang berbeda yang juga baik. Oleh karenanya aku akan berusaha untuk tidak memaksakan keinginan dan kebutuhanku tapi memperhatikan dan menghargai keinginan dan kebutuhan anakku.

Jadi pelajaran untuk hari ini dan seterusnya bagiku adalah “yang terbaik” adalah sesuatu yang relatif, artinya bisa berbeda untuk setiap orang. “Yang terbaik” dalam pandanganku bukan selalu sama artinya “yang terbaik” dari sudut pandang anakku.

Kedua, kadangkala tidak banyak bicara, menyarankan sesuatu, atau berkomentar justru memberi banyak. Aku sempat bercerita kepada beberapa orang mengenai kejadian kembali masuk rumah sakit dan mesti top up susu formula karena asi tidak cukup. Pada saat itu yang kuharapkan adalah empati, karena bagiku melihat bayi mungilku yang belum lagi genap satu minggu diambil darah berkali-kali, mendengar dia menangis luar biasa dan pada saat itu aku sebagai ibunya tidak mengerti kalau dia lapar (tetap yakin bahwa asi yang kuberikan cukup, padahal tidak; sudah diberitahu suamiku tapi tidak mendengarkan) bukanlah hal yang mudah. Pada saat itu informasi mengenai betapa pentingnya asi dengan beragam manfaatnya memang baik, tapi bukanlah hal yang kubutuhkan, hal itu juga sudah aku ketahui dari beragam sumber bahkan sejak sebelum aku hamil. Nasehat untuk membulatkan tekad memberikan asi mungkin bermaksud memberikan semangat, namun juga bukan hal yang kubutuhkan karena bukan itu esensi dari situasi yang kuhadapi. Seorang teman tidak banyak memberikan komentar, aku juga tidak tahu alasan persis tindakannya, tapi saat itu justru aku merasa dia memberikan empatinya.

Syukurlah sekarang urusan makan sudah berjalan baik, Jethro cukup mendapatkan asi dan sepertinya keinginanku untuk memberikan asi eksklusif selama 6 bulan bisa berjalan karena produksi asiku meningkat sesuai permintaan Jethro gembira .