Back to Melbourne

Setelah kunjungan pertama ke Melbourne tahun 1997 lalu akhirnya hari Selasa, 15 Agustus untuk kedua kalinya saya kembali ke kota ini. Tentu dengan tujuan dan kondisi yang berbeda dari 15 tahun yang lalu meski saat kedatangan sama-sama di musim dingin (winter). Kala itu saya tiba pada bulan Juli dan kini di bulan Agustus.

Kunjungan Pertama – 1997

15 tahun lalu ketika menginjakkan kaki di Melbourne untuk pertama kalinya saya masih berusia 18 tahun. Kala itu saya ikut sebagai peserta program perttukaran siswa.

Begitu tiba di bandara Tullamarine saya dijemput oleh keluarga homestay dimana saya selanjutnya akan tinggal bersama mereka selama kurang lebih 30 hari ke depan.

Jangan bayangkan saya tahu sudah tahu wajah mereka atau berkomunikasi sebelumnya, pertemuan di bandara adalah untuk pertama kalinya kami saling berkenalan dan melihat wajah masing-masing.

Kalau sekarang mungkin anak-anak peserta program pertukaran siswa bisa jadi sudah berkomunikasi lewat Facebook, email dan sebagainya. Tahun 1997 boro-boro mau Facebook-an, internet saja masih barang langka di Indonesia. Bahkan di Australia saat itu akses internet juga baru ada di sekolah, belum sampai ke rumah-rumah. Beda dengan sekarang yang free WiFi saja tersedia dimana-mana bahkan lebih stabil dari internet berbayar di Indonesia.

Sekedar handphone yang bisa dipakai untuk SMS atau telepon pun kala itu masih termasuk barang mewah yang jauh dari bayangan saya untuk memilikinya kala itu, Jadi selama di Melbourne hanya sekali saya menerima telepon dari keluarga di Salatiga, itupun menjelang saya kembali ke tanah air.

Selama di Melbourne saya hanya sekali diantar sekolah dengan mobil dan sekali diantar dengan bus. Saat diantar homestay saya diminta menghafal jalan dan jalur transportasi umum karena setiap hari saya harus pergi sendiri.

Andai saja kala itu sudah ada smartphone ber GPS tentu saya tinggal manfaatkan Google Map, Bing dan sebagainya. Atau masuk ke web PTV (Public Transport Victoria) untuk mencari jalur transportasi umum.

Kala itu semua tidak ada, dan menghafalkan nama-nama jalan yang asing plus rute-rute kendaraan umum cukup sulit ketika masih baru tiba. Jadilah saya menggunakan nama toko, restoran atau bahkan bentuk pohon sebagai patokan. swt2

Kalau harus ke CBD selain mengandalkan insting juga bisa bertanya ke pos-pos informasi yang kala itu banyak diketemukan di sini.

Melbourne

Kunjungan Kedua – 2012

Saat tiba kedua kalinya di Tullamarine saya melihat ada beberapa perubahan dari sebelumnya. Kali ini saya tiba dengan istri dan sudah berbekal smartphone ber GPS.

Setelah turun dari pesawat kami melaporkan diri ke imigrasi dan custom. Konon custom di Australia dan New Zealand adalah yang paling ketat di seluruh dunia. Jadi waktu menjelang pemeriksaan agak was-was juga karena istri sedang hamil dan kami membawa beberapa jamu pasca melahirkan dari tanah air. Selain itu juga ada makanan-makanan lain seperti abon, bandrek Sido Muncul dan sebagainya silau man! .

Kami melewati setidaknya tiga petugas imigrasi yang melakukan pemeriksaan. Si petugas meminta passpor, visa dan menanyakan tujuan kedatangan kami, dimana kami tinggal dan sebagainya.

Sebaiknya formulir yang harus diisi dan diserahkan diisi alamat sedetil-detilnya, keluarga di depan kami sempat tertahan cukup lama karena mereka hanya menulis kata “hotel” di kolom bagian tempat tinggal.

Untunglah kami mengisi dengan lengkap, jadi tidak banyak kesulitan. Petugas imigrasi sempat bertanya apakah kami mengenal seseorang yang ada di Melbourne? Saya jawab bahwa saya pernah ke Melbourne sebelumnya tapi lama tidak saling kontak dengan ex keluarga homestay karena waktu itu teknologi komunikasi masih terbatas. Jadi pada dasarnya kami tidak kenal siapapun di Melbourne. Si petugas kemudian tersenyum dan berkata “You’re very brave!” dan mengijinkan kami lewat semangat! .

Sampai di Custom lagi-lagi Tuhan memberikan kemudahan. Begitu tiba giliran kami petugas meminta formulir yang sudah kami isi di pesawat dan bertanya pada saya pakah barang-barang yang wajib dilaporkan ada dalam satu tas atau tersebar di beberapa tas.

Untunglah istri saya sudah mengepack semua barang wajib lapor dalam satu tas. Ketika saya jawab satu tas dan saya tunjukkan tasnya petugas custom meminta seluruh tas (3 kopor dan 1 backpack) dimasukkan ke X Ray.

Awalnya saya menduga itu hanya awal pemeriksaan sebelum kopor dibuka dan diperiksa. Sebab orang lain yang lebih dulu dari kami semua diminta membuka tas dan diperiksa isinya satu persatu bahkan beberapa tampaknya sempat terjadi adu argumentasi.

Puji Tuhan, kami hanya diperiksa melalui X-Ray dan langsung diperbolehkan melanjutkan perjalanan. Jadilah jamu, minyak telon, mie instan, kopi instan dan bandrek Sido Muncul tiba di Melbourne dengan selamat tanpa halangan dan kekurangan suatu apapun.

Jadi kami sama sekali tidak mengalami hal-hal yang biasa kami tonton di saluran CI: Border Security.

Selesai proses di custom kami beristirahat sejenak, maklum bawaan kami cukup banyak dan berat. Berbeda dengan bandara Indonesia yang dimana-mana ada portir, di sini kami harus membawa sendiri.

Setelah beristirahat beberapa saat barulah kami keluar untuk mencari taxi.
Suhu udara saat kami tiba adalah 8°, cukup dingin mengingat saat itu di Indonesia suhunya berkisar antara 27°-33°

Untunglah kami bisa segera mendapat taxi dan sekitar 30 menit kemudian sudah tiba di studio apartemen yang kami sewa.

Kalau di tahun 1997 saya tinggal di suburb Eltham, kali ini kami tinggal di Preston untuk sementara dan berharap bisa mendapatkan tempat permanen di CBD dalam waktu dekat malaikat .