Benedict Jethro Sandi Wicaksono -Behind the Scenes

Hari itu, Minggu 21 Oktober 2012 cuaca tidak begitu baik. Angin bertiup cukup kencang ± 35 mph menurut BOM dan cuaca terus berubah dengan cepat dari panas ke mendung lalu kembali panas sebelum akhirnya menjadi mendung gelap disertai hujan gerimis.

Sebelum waktu menunjukkan pukul 06.00 (GMT +10) aku dibangunkan oleh istri yang merasa bahwa sudah tiba waktunya si kecil Jethro lahir di dunia. Meski EDD menurut dokter adalah tanggal 4 November namun kejadian pagi itu tak terlalu mengejutkan bagi kami berdua. Sebab sejak hari Sabtu istri sudah mulai merasakan kontraksi-kontraksi yang semakin sering. Kami juga tidak khawatir mengenai kondisi si kecil karena meski lebih cepat dari perkiraan namun usianya sudah masuk 38 minggu yang berarti tidak tergolong prematur.

Setelah menghubungi bagian Emergency di the Royal Women’s Hospital (the Women’s) kami masih berusaha tenang karena menurut petugas the Women’s melalui telepon berdasarkan tanda-tanda yang ada masih belum waktunya berangkat ke RS.

Seperti halnya hari-hari lain, setelah berdoa pagi aku melanjutkan dengan 15 Doa St. Birgitta. Kemudian setelah sarapan pagi seperti biasa juga aku melanjutkan dengan doa Rosario. Bahkan aku masih sempat melakukan pekerjaanku me-review produk ASUS X301A. Aktifitas hari itu berjalan cukup normal bagi kami berdua meski disertai ketegangan terutama dalam diriku. Kala itu istriku masih sempat menggoda dan mentertawakan ketegangan yang mulai aku rasakan.

Harus diakui bahwa sejak awal, satu-satunya hal yang menjadi perhatian dan kekhawatiranku sebelum kami berangkat ke Australia adalah hari kelahiran anak pertama kami. Bagi kami berdua ini adalah pengalaman pertama, seumur-umur aku belum pernah menemani dan menyaksikan proses kelahiran. Lebih-lebih kali ini adalah keluargaku sendiri dan aku adalah kepala keluarga yang berarti bertanggung jawab atas Keamanan serta keselamatan istri dan calon anak kami.

Jam terus berjalan terasa sangat lambat, cuaca tak juga membaik. Aku bahkan sudah siap berganti pakaian sejak pagi sambil terus membantu istri mencatat durasi dan waktu kontraksi.

Setelah untuk ketiga kalinya pihak the Women’s melalui telepon menyebut bahwa tanda-tanda yang diberikan istriku tidak menunjukkan bahwa kelahiran akan segera dimulai maka akhirnya pukul 21.00 waktu setempat kami memilih untuk beristirahat (tidur) untuk menghemat energi. Sebab bagi kami berdua dan terutama bagi istriku tentu energi akan banyak terkuras saat persalinan nanti.

Setelah berganti pakaian tidur dan berdoa malam bersama seperti biasa, kami pun berbaring sambil tetap memegang stopwatch untuk mencatat jarak antar kontraksi dan durasinya. Sekitar pukul 22.00 jarak antar kontraksi sudah mencapai 3-4 menit dengan durasi minimal 1 menit. Ketika bagian emergency the Royal Women’s Hospital dihubungi petugas menyarankan kami berangkat ke RS.

Saat itu juga kami segera turun ke lobi apartemen dengan aku membawa dua tas besar dan satu tas punggung berisi keperluan istri dan calon bayi selama di RS. Sebelum turun ke lobi aku sudah menelepon taxi yang katanya akan segera tiba kurang dari 3 menit.

Ditunggu cukup lama taxi tak segera muncul, akhirnya aku kembali menelepon perusahaan taxi dan dengan terpaksa aku meninggalkan istri di lobi sendirian dan mengelilingi blok tempat tinggal kami untuk menjemput dan memastikan taxi benar-benar segera datang. Saat itu aku berpikir andai ada taxi lain di sekitar blok ini sebelum taxi yang kami pesan datang tentu lebih baik. Cuaca saat itu semakin memburuk, angin bertiup kencang hingga jaket yang kupakai pun tak terasa cukup menahan dinginnya malam.

Setelah taxi tiba kami segera menuju ke bagian emergency the Royal Women’s Hospital. Petugas kemudian memintaku mengisi dan menandatangani beberapa dokumen kemudian kami di antar ke Birth Center di lantai 3.

Midwife (bidan) yang bertugas malam itu segera memeriksa istri. Di sini persalinan dengan tingkat resiko rendah tidak dilakukan oleh dokter kandungan (obstetrician) melainkan oleh bidan (midwives). Obstetrician hanya menjadi pengawas dan hanya turun tangan untuk persalinan dengan resiko tinggi. Bahkan untuk periksa kehamilan pun hingga minggu ke 20 juga tidak dilakukan di obstetrician ataupun bidan namun di GP (dokter umum).

Sejak minggu pertama datang ke Melbourne kami sudah menemui GP dan karena saat itu usia kehamilan istri sudah lebih dari 20 minggu maka GP segera merujuk dan membuatkan janji ke the Women’s.

Namun mendapat giliran periksa di the Royal Women’s Hospital bukanlah perkara mudah. RS ini adalah RS bersalin tarbaik dan tersibuk di Australia sehingga bagian administrasi sangat ketat menyeleksi pasien-pasien mana yang bisa diterima dan pasien mana yang harus ditolak dan dirujuk ke bidan atau RS bersalin lainnya.

Minggu kedua bulan September kami sudah diterima dan dibuatkan janji untuk diperiksa namun siangnya tiba-tiba pihak RS menelepon dan membatalkan janji. Mereka ingin kami memberikan keterangan tempat tinggal tambahan sebab alamat kami sebelumnya adalah Preston namun kemudian berganti menjadi Carlton. Jika kami memang di Preston maka kami harus mencari RS di sekitar Preston. Mereka perlu bukti kami benar-benar tinggal di Carlton karena katanya banyak calon pasien yang demi bisa bersalin di the Women’s memberi alamat palsu seolah mereka berdomisili di sekitar Parkville padahal hanya meminjam alamat teman atau saudaranya.

Pembatalan ini cukup mengecewakan mengingat usia kehamilan istri yang sudah cukup tua sementara sudah lebih dari sebulan sejak terakhir kali kandungan diperiksa (ketika masih di Indonesia).

Pihak GP pun menyebut tindakan RS yang membatalkan janji sebagai “silly”. Namun karena tak ada pilihan lain maka akhirnya berlembar-lembar surat bukti mulai dari kontrak perjanjian sewa apartemen hingga rekomendasi dari agen properti dikirimkan ke the Women’s.

Baru akhirnya tanggal 15 Oktober untuk pertama kalinya istri memeriksakan kandungan sejak tiba di Australia. Lucunya antara pihak administrasi dan tim medis di the Women’s nampaknya tidak sejalan. Sementara pihak administrasi menyeleksi dengan proses cukup panjang, midwife dan obstetrician saat memeriksa menyebut bahwa tindakan tim administrasi yang baru mengijinkan istri periksa kandungan setelah usia kehamilan memasuki minggu ke 37 sangatlah tidak manusiawi.

Petugas bagian administrasi di the Women’s memang terkesan menyebalkan, tak beda dengan 90% layanan publik di Indonesia yang sok penting dan tidak ramah, meski tentu kinerja mereka lebih profesional ketimbang pegawai kantor layanan publik di Indonesia yang seringkali masih disambi ngobrol atau bercanda sementara melayani masyarakat. Di lain pihak tenaga medis seperti dokter dan midwife bukan sekedar ramah namun juga sangat bersahabat sehingga pasien merasa sangat nyaman.

Bagi kami sendiri bisa memperoleh janji di RS untuk periksa sekaligus booking persalinan sudah merupakan kemurahan besar dari Tuhan.

24 Jam Paling Menegangkan

Setelah diperiksa midwife yang bertugas pada pukul 22.40 (Minggu malam) ternyata proses bukaan masih jauh dari mendekati. Namun ketika dokter yang malam itu bertugas memeriksa dan menemukan bahwa air ketuban sudah pecah maka dokter memutuskan dimulai proses induksi dengan melakukan infus hormon ke istri.

the women's

Saat baru tiba di the Women’s

Sejak saat itu kontraksinya makin menjadi-jadi, awalnya istri masih bisa menahan sakit bahkan masih sempat berfoto dan mengemil. Menjelang pukul 07.00 pagi kondisi nampak berubah, istri nampak semakin kesakitan sementara senyum dan keceriaan semakin memudar dari wajahnya.

Kondisi terus memburuk hingga aku sering kali tak tega melihatnya. Hingga menjelang pukul 10.00 cairan infus masih terus dimasukkan disertai teriakan-teriakan istri yang nampak sangat tersiksa. Ketika pukul 10.00 dokter memeriksa ternyata bukaannya masih tetap 1 cm sehingga seolah semua rasa sakit yang dialaminya selama berjam-jam seperti sia-sia.

Pukul 12.00 dokter memutuskan untuk memecahkan balon ketuban yang menjadi bantalan bayi untuk mempercepat proses. Ketika dipecahkan istriku semakin meronta-ronta kesakitan. Tidak ada lagi kata-kata lain yang keluar dari mulutnya selain menyebut nama “Yesus” dan memanggil-manggil namaku. Sungguh sebuah pengalaman yang terasa paling mengerikan dalam hidupku, sangat menakutkan dan menyiksa rasanya melihat orang yang kita cintai mengalami kesakitan luar biasa tanpa kita bisa berbuat apa-apa.

Jam-jam berikut suasana terasa semakin mencekam, midwives juga menjaga gorden tertutup dan lampu diredupkan karena menurut mereka suasana itu sangat membantu pasien dalam menghadapi rasa sakit akibat kontraksi. Di lain sisi bagiku kondisi ini membuat aku seolah mengalami disorientasi waktu. Aku berusaha menjaga ‘kewarasan’ dalam kondisi disorientasi waktu serta tidak makan dan minum. Satu-satunya yang kupikirkan adalah bahwa aku harus tetap tenang dan ‘waras’ karena istriku sangat membutuhkan ketenanganku. Maka dalam hati aku tak pernah berhenti menyebut: “Tuhan kasihanilah kami, Kristus kasihanilah kami”. Doa yang selama bertahun-tahun selalu kuulang-ulang dan kuucapkan dalam hati terutama pada masa-masa sulit.

Midwives berulang-ulang mengingatkan aku untuk menjaga staminaku sendiri dengan beristirahat sejenak, makan dan minum. Mereka bahkan membawakan juice dan sandwich untukku. Namun tentu itu adalah hal yang mustahil kulakukan karena istriku berkali-kali meminta supaya aku tetap di sisinya sambil memegang tanganku. Aku pun tak mungkin tega untuk meninggalkan meski hanya sejenak.

Menjelang pukul 15.00 aku akhirnya memanggil seorang midwife dan meminta obat pereda rasa sakit untuk istri. Tidak mudah permintaan ini dikabulkan karena istri sudah menyusun “birth plan” yang salah satu point di dalamnya menyebut tidak akan menggunakan obat pereda rasa sakit dalam kondisi apapun. Point itulah yang menunda proses pemberian obat. Meski sebagai suami kebijakan RS tidak mengijinkan aku membuat keputusan terkait persalinan kecuali istri sebagai pasien benar-benar sudah tidak mampu membuat keputusan lagi.

Keinginanku agar istri mendapat pain relief adalah supaya setidaknya dia bisa beristirahat beberapa saat memulihkan energi dan stamina. Akhirnya setelah kubujuk istriku bersedia menggunakan pereda rasa sakit. Meski efeknya tidak lama (± 5 menit) namun itu cukup baik karena selama itu istriku sempat tertidur.

Istriku nampak sangat menderita selama berjam-jam berikutnya, bahkan sejak menjelang sore dia bekali-kali mengatakan sudah tidak kuat dan rasanya ingin menangis. Aku hanya bisa menghiburnya sambil mengingatkan untuk terus berdoa dalam hati. Aku juga mengingatkan untuk menahan jangan sampai menangis.

Sebenarnya aku bisa mengerti kalau dia menangis hanya saja aku khawatir dengan menangis nafasnya akan terganggu dan staminanya semakin terkuras. Hebatnya dia bisa menahan tangis, meski sakit luar biasa selama berjam-jam tak sekalipun aku melihat dia menangis. (Padahal ada orang tertentu yang sakit sepele saja sudah menangis atau bahkan tidak benar-benar sakit menangis bahkan masuk ke RS meski sebenarnya tidak perlu sekedar untuk mencari perhatian orang – baca: victim branding ngiler2 ngiler2 ngiler2 .)

Bukan hanya selama persalinan, selama hamil pun istriku begitu luar biasa. Bahkan ketika kami sudah tiba di Melbourne yang berarti usia kehamilannya sudah terbilang tua dia masih bisa berkuliah, memasak dan melakukan hal-hal lain dengan penuh ceria tanpa keluhan apapun. Bukan hanya itu, saya tahu bahwa dia sebenarnya juga memiliki beban pikiran terkait dana beasiswa DIKTI yang hingga detik ini belum cair serupiahpun. Namun semua kondisi itu tak menghilangkan keceriaannya sehari-hari.

Menjelang pukul 16.00 kekhawatiranku semakin bertambah, bukan hanya karena melihat istriku yang nampak semakin kesakitan namun juga mengkhawatirkan kelainan jantung ringannya yang bisa kambuh karena staminanya benar-benar terkuras. Selain itu sudah sejak tadi malam kami di ruang bersalin masih belum ada tanda-tanda apapun.

Jujur saja saat itu kekuatan mentalku juga sudah mulai terkuras, hingga akhirnya aku hanya bisa berserah. Aku ingat sekali saat itu aku sempat dalam hati berdoa “Bapa ke dalam tangan Mu kuserahkan jiwa dan raga kami”.

Tiga puluh menit kemudian seorang midwife memeriksa kondisi istri dan mengatakan bahwa kemungkinan proses mendorong (pushing) bisa dimulai sekitar dua setengah jam lagi. Tentu berita itu sangat melegakan, bagiku sendiri seolah berita itu menyuntik kembali energi fisik dan mental yang mulai terkuras.

Midwives kemudian membersihkan ruang dan mempersiapkan berbagai peralatan untuk proses persalinan.

Namun melihat kondisi istri yang sangat kesakitan maka midwife menawarkan penggunaan satu dari dua jenis obat pereda rasa sakit beserta konseskuensinya. Aku kemudian berusaha menjelaskan kepada istri yang sudah semakin susah “nyambung”. Untunglah meski harus kuulang beberapa kali istriku akhirnya mengerti opsi-opsi beserta konsekuensi yang ada dan memilih melanjutkan tanpa obat pereda rasa sakit.

Aku sendiri setelah menerima penjelasan midwife mengenai konsekuensi dari obat pereda rasa sakit menjelang fase mendorong (pushing) lebih setuju tidak menggunakan, namun tentu keputusan ada di tangan istri karena dialah yang merasakan langsung.

Pukul 18.00 obstetrician (dokter kandungan) datang dan memeriksa istri, saat itu bukaannya sudah 8 cm. Meski berarti fase pushing tidak akan benar-benar terjadi dalam waktu singkat namun melihat perjalanan yang sudah kami alami di RS sejak pukul 23.00 kemarin tentu ini menjadi sebuah berita yang luar biasa.

Pukul 22.00 terjadi pergantian shift midwives yang bertugas dan pada saat itu pula fase “pushing” dimulai dengan bantuan empat orang midwives dan diawasi seorang obstetrician.

Sekitar pukul 22.45 mulai kulihat kepala baby Jethro, setelah beberapa dorongan giliran bahu kiri kemudian diikuti bahu kanan dan akhirnya resmilah anak pertama kami lahir di dunia pada pukul 22.51 waktu Melbourne diikuti suara tangisannya yang pertama kami dengar. Tangisannya tak berlangsung lama, begitu diletakkan di dada ibunya ditutup selimut dan dibelai kepala dan badannya, dia langung tenang dan wajahnya nampak damai.

Benedict Jethro Sandi Wicaksono

Jethro Setelah dipindah ke Frances Perry House

Setelah proses persalinan (observed labour) selama 17 jam 51 menit (menurut catatan resmi the Royal Women’s Hospital) kehadirannya seolah menjadi penutup dari semua ketegangan yang kami alami dan kesakitan ibunya selama hampir 24 jam (tidak termasuk 16 jam saat masih di rumah yang dimulai pecah ketuban pkl 6 pagi sampai akhirnya ke RS pada pkl. 11 malam).

Sungguh luar biasa kekuatan yang diberikan Tuhan, menurut obstetrician dan midwives bayi yang mengalami proses persalinan lebih dari 12 jam umumnya akan mengalami stress, namun tidak demikian dengan anak kami. Dia mengalami “ujian hidup” pertamanya dengan kuat, obstetrician dan midwives berkali-kali menyebutnya sebagai “happy baby” karena sama sekali tidak ada tanda-tanda stress dalam dirinya.

Bahkan ketika dilakukan skoring Apgar (penilaian detak jantung, usaha bayi untuk bernafas, warna kulit, aktivitas otot dan kemampuan menanggapi rangsangan) dia mendapat nilai 9.

Di bawah perlindungan Tuhan, dia sudah mengawalinya dengan baik semoga kelak ia tumbuh menjadi seorang laki-laki yang kuat secara fisik dan mental dalam menghadapi segala tempaan hidup dengan mengandalkan Tuhan dalam setiap langkahnya.
Bukan itu saja, beda dengan umumnya bayi yang baru lahir, Jethro sudah mampu mengangkat kepala dan memiringkan badannya sendiri saat tidak digedong.

Kami menamainya Benedict Jethro Sandi Wicaksono yang artinya berkat berlimpah yang diberikan Tuhan untuk Satrio dan Indirani Wicaksono. Kami memanggilnya Jethro atau “J”. Nama “Wicaksono” untuk pertama kalinya secara resmi didaftarkan sebagai surename, dan Jethro lah yang pertama kali mengawali.

Setelah beberapa saat di dada ibunya, Jethro lalu ditimbang dan diukur, saat itu beratnya 2,91 kg dengan panjang 48 cm. Cukup baik mengingat dia lahir lebih cepat dua minggu dari waktu yang diperkirakan.

Semakin senang aku ketika mendengar hampir semua midwives mengatakan bahwa Jethro sangat mirip aku. Tentu akan banyak orang nanti yang mungkin berpendapat sama dengan para midwives atau sebaliknya, bagiku pendapat para midwives lebih objektif karena mereka tidak lebih mengenal salah satu dari aku atau istriku seperti orang-orang lain nantinya peace . Well… meskipun bagiku mirip aku atau istriku tak mengubah rasa banggaku pada “J”.

Bicara soal bangga, kami akan selalu bangga padanya tanpa ia harus menunjukkan atau membuktikan sesuati terlebih dahulu di masa depan. Kami hanya berharap ia belajar dan mengambil yang terbaik dari kami berdua dan menjadi lebih baik dari kami berdua. Sebagai orang tua sejak awal kami berkomitmen memosisikan diri sebagai orang tua yang mendidik dan membimbing, bukan menuntut atau menentukan arah. Kami ingin membimbingnya agar Jethro mampu mendegar dan percaya pada dirinya sendiri, berani mengambil keputusan dan menghadapi setiap konsekuensinya sendiri.

Saat itu pulalah aku baru merasakan lapar, aku segera mengambil sepotong sandwich yang sudah disiapkan istriku pada hari Minggu pagi kemarin dan meneguk juice yang disediakan seorang midwife sejak siang hari namun baru sekarang bisa kunikmati.

Malam itu setelah istri membersihkan diri (mandi) dan Jethro selesai ditimbang, imunisasi, suntik vitamin K dan sebagainya kami dipindah dari Birth Center Lt. 3 ke Frances Perry House (ward center) di lantai 4 East tepatnya kamar 8.

Sebenarnya asuransi kami hanya mengcover ruang inap tipe shared room (2 orang 1 kamar) dan kami tak cukup mampu juga untuk melakukan upgrade ke ruang yang hanya dipakai satu orang. Biaya melahirkan di sini sangat tinggi yaitu A$12,819 (hampir setara Rp 120 juta; kurs saat ini). Namun lagi-lagi Tuhan berbaik hati pada kami, karena kagum pada keteguhan istri selama proses persalinan maka istri dan anak kami mendapat upgrade ke ruang yang dikhususkan untuk satu orang tanpa kami harus membayar biaya upgrade.

Karena kebijakan the Royal Women’s Hospital tidak mengijinkan suami bermalam maka setelah semua urusan selesai pukul 03.00 akhirnya aku kembali ke apartemen dengan perasaan lega sekaligus bahagia. Sepanjang perjalanan terus terbayang-bayang wajah Jethro dan saat-saat yang kami alami menjelang kelahirannya.

Tiba di rumah aku langsung mandi dan terlelap di ranjang tanpa memedulikan perut yang keroncongan.

Pengalaman luar biasa ini rasanya takkan bisa hilang dari ingatanku, jujur saja dari masa hidupku selama 33 tahun ini tak pernah ada hal yang lebih menantang, menakutkan dan sekaligus menegangkan daripada kejadian ini.

Sebelumnya aku memang berjanji pada istri untuk menemani ke ruang persalinan jika suatu saat nanti dia melahirkan. Namun saat itu aku tak berpikir untuk melihat saat anak kami mulai keluar, dulu kupikir aku hanya akan mendampingi dan memandang wajah istriku saja. Ternyata hari ini bukan demikian yang terjadi, well… rasanya begitu banyak pengalaman yang kuperoleh sebagai laki-laki, suami dan ayah dalam 24 jam terakhir ini.

Perjalanan Jethro untuk memulai hidupnya di dunia memang sebuah pengalaman yang panjang dan menegangkan bagi kami (aku dan istriku). Meski demikian sebagai orang tua kami tak kan pernah beranggapan bahwa apa yang kami alami harus menjadi kenangan bagi Jethro dengan sebuah persepsi seolah dia berhutang pada kedua orang tuanya.

Bagi ku apa yang aku alami menjelang kelahirannya, saat kelahirannya dan saat mendampingi serta membimbingnya menjadi seorang pria dewasa nantinya adalah sebuah tanggung jawab wajar. Sudah sewajarnya seorang laki-laki yang memutuskan menikah dan berkeluarga akan mengalami proses demikian termasuk meningkatnya tanggung jawab finansial.
Sementara bagi istriku rasa sakit serta ketidaknyamanan selama kehamilan, persalinan maupun paska persalinan juga adalah sebuah proses wajar yang dialami oleh setiap wanita yang memutuskan menikah dan memiliki anak.

Pada satu sisi kami berdua sadar sepenuhnya akan keputusan yang kami buat dan konsekuensinya. Sementara pada sisi lain Jehtro bukanlah pembuat keputusan dalam hal ini. Karenanya menjadikan dia merasa berhutang pada kedua orang tuanya sama sekali takkan pernah terlintas di benak kami berdua.

Aku juga sangat bersyukur karena aku merasa Tuhan sungguh-sungguh mengabulkan doaku. Dalam 15 Doa St. Birgitta yang kupanjatkan setiap hari aku selalu memohonkan agar selama kehamilan maupun proses persalinan segalanya berjalan dengan lancar. Dan itulah yang terjadi, tak ada keluhan apapun dari istri dan janin selama masa kehamilan, bahkan kami masih sempat melakukan berbagai petualangan wisata selama di Melbourne.

Kami merasa segala sesuatunya telah diatur sedemikian sempurna oleh Tuhan, salah satunya adalah kami sudah sempat menemui obstetrician satu minggu sebelum kelahirannya. Tak terbayangkan bagaimana jika kondisi ini terjadi sebelum kami bertemu obstetrician di the Women’s.

the Royal Women's Hospital Melbourne

Sesaat Sebelum Meninggalkan the Royal Women’s Hospital Melbourne

Hari Rabu, 24 Oktober 2012 Jethro dan mommy-nya sudah diijinkan pulang. Untuk pertama kalinya kami bertiga menempati tempat tinggal yang telah Tuhan sediakan pula untuk kami dengan segala kemudahannya.

Beberapa orang di sini (Australia) termasuk mantan homestay-ku menyebut bahwa kami sangat berani karena hanya berdua, di negeri orang padahal istri hamil tua dan melahirkan di sini. Beberapa teman lain menyebut kami “keluarga jagoan”. Well, kami memang hanya berdua di sini… dan kini bertiga… tapi kami selalu percaya bahwa Tuhan lah yang menghendaki kami berada di sini (Melbourne) dan Tuhan pulalah yang menghendaki Jethro lahir di sini pada saat ini. Jadi kami percaya bahwa Tuhan pula yang akan selalu memelihara dan memberi kami kekuatan. Toh segala sesuatunya baik keberadaan kami di sini maupun kelahiran Jethro di sini bukan sesuatu yang kami rencanakan namun kejadian demi kejadian seolah menjadikan semuanya mengalir begitu saja, itu yang membuat kami percaya bahwa semua ini adalah rancangan Tuhan.
Dan faktanya memang selama di sini kami menerima berbagai kemudahan yang sering pula seperti sulit untuk dipercaya tanpa melibatkan peran serta Tuhan di dalamnya.