Berhentilah Merengek dan Mengeluh

Seorang CEO perusahaan ternama menempatkan sebuah papan bertuliskan “Jangan Merengek!” Sekilas tulisan itu tampak konyol terpajang di kantor seorang CEO yang sehari-hari lebih banyak berurusan dengan para bawahannya yang notabene adalah manajer departemen. Orang pasti akan bertanya apa gunanya tulisan tersebut bagi para manajer senior yang dalam persepsi umum sudah cukup dewasa dan berpengalaman? Bukankah papan dengan kata-kata itu lebih tepat diletakkan di kantor seorang guru Sekolah Dasar?

Tapi ketika direnungkan baik-baik sebenarnya rengekan dan keluhan boleh dibilang adalah kebiasaan hampir setiap orang dari masa kanak-kanak hingga lansia yang tampak susah dihilangkan.

Orang dewasa terlepas dari usia, pekerjaan, pendidikan dan sebagainya memiliki kecenderungan untuk melepaskan diri dari tanggung jawab manakala sebuah kejadian yang tak diinginkan terjadi.

Sedikit sekali orang yang bersedia melakukan refleksi ketika sebuah kesalahan terjadi dan memikul tanggung jawab jika memang dirinya memiliki andil dalam kejadian tersebut. Sebaliknya secara refleks orang justru mencari hal-hal lain untuk dipersalahkan baik keadaan maupun orang.

Bagi sebagian besar orang tampaknya lebih mudah untuk mempersalahkan oang lain atau keadaan ketimbang melakukan introspeksi. Orang-orang seperti ini secara sadar maupun tidak berpikir bahwa dengan menyalahkan orang lain atau keadaan minimal dirinya akan beroleh simpati dari orang lain. Atau jika lebih “beruntung” bisa meyakinkan orang lain bahwa orang atau keadaan yang dikambing hitamkan memang benar-benar bersalah.

Perilaku tersebut akhinya terbawa juga manakala seseorang berada dalam sebuah organisasi atau perusahaan. Bahkan ketika menjadi pemimpin pun tak banyak orang yang bisa melepaskan diri dari kebiasaan kontra produktif ini.

Maka tak mengherankan jika manajer antar departemen sering saling menyalahkan satu sama lain ketika tujuan organisasi tak tercapai. Alih-alih melakukan evaluasi terhadap kinerja departemen-nya sendiri, para manajer ini lebih suka melempar kesalahan pada departemen lain sambil berharap minimal CEO nya akan bersimpati atau lebih baik lagi jika CEO tersebut bisa diyakinkan bahwa departemen yang menjadi kambing hitam memang tidak kompeten menjalankan fungsinya.

Tidak melakukan introspeksi, menghindari tanggung jawab dan mencari kambing hitam pada dasarnya adalah merengek dan mengeluh.

Melihat kondisi tersebut maka papan bertuliskan “Jangan Merengek!” yang dipasang oleh seorang CEO perusahaan ternama tersebut menjadi masuk akal.

Tentu saja bagi mereka yang sudah terbiasa merengek, mencari kambing hitam adalah hal mudah. Mereka bahkan cenderung kreatif dalam menyusun skenario dan membangun logika untuk mendukung perilakunya ini.

Dalam sebuah organisasi, membangun budaya “anti merengek” sangatlah vital bagi produktivitas karyawan maupun organisasi secara keseluruhan.

Beberapa hal yang bisa diterapkan dalam rangka membangun budaya “anti merengek” dalam sebuah organisasi antara lain:

Pertama, buatlah aturan yang mengharuskan setiap anggota organisasi/karyawan memberikan solusi pada saat yang bersangkutan mengangkat atau menyoroti sebuah masalah dalam organisasi. Ide dasarnya adaah agar setiap orang dalam organisasi senantiasa berfokus pada solusi, bukan fokus pada masalah.

Kedua, terus ingatkan dan tanamkan kebiasaan untuk memiliki prasangka positif terhadap pihak/orang lain. Memang mudah untuk mempersalahkan orang lain namun secara logika tentu setiap orang normal tak pernah secara sengaja ingin menjadi biang masalah. Dalam kasus tertentu memang ada orang-orang yang abnormal, jika sampai terjadi maka departemen rekrutmen Anda memang biang masalahnya.

Meski topik ini lebih diitikberatkan pada organisasi namun kebiasaan serupa sebenarnya berawal dari kebiasaan tiap-tiap individu. Karenanya penting bagi setiap pribadi/individu untuk menjadi dewasa dengan membiasakan diri untuk melakukan introspeksi, fokus pada solusi dan berprasangka baik pada orang lain.