- Bagian 1 dari 2
- Pendahuluan
- 1. Mengapa Culas Tidak Pernah Bersifat Strategis
- Tidak berorientasi jangka panjang
- Tidak membangun keunggulan bersaing
- Merusak budaya organisasi
- Bertentangan dengan etika organisasi
- 2. Membaca Fenomena Ini melalui Pemikiran Peter Drucker
- A. Leadership: Doing the Right Things
- B. Integrity as the First Condition of Leadership
- C. Budaya sebagai Penentu Strategi
- D. Kepercayaan sebagai Modal Organisasi
- E. The Spirit of Performance
- 3. Perbandingan: Cerdas (Strategis) dan Culas (Taktis)
- 4. Analisis melalui Tiga Lensa
- Lensa Strategis
- Lensa Etis
- Lensa Budaya dan Kepemimpinan
- 5. Ketika Perilaku Culas Tampak Menang
- Kesimpulan
- Daftar Pustaka
Seri Strategi Organisasi
Bagian 1 dari 2
Pendahuluan
Ada fenomena di hampir setiap organisasi, yaitu keberadaan individu yang tampak “menang” melalui jalan pintas:
menyalahgunakan kewenangan, membangun koalisi tertutup, atau memanfaatkan celah struktural
demi kepentingan pribadi.
Praktik semacam ini kerap dipersepsikan sebagai kecakapan taktis, bahkan dipuji sebagai kecerdikan.
Namun dalam kerangka manajemen strategis modern—dan secara khusus dalam pemikiran
Peter Drucker—kemenangan semacam itu tidak pernah memenuhi syarat sebagai kecerdasan strategis.
Kecerdasan strategis selalu berhubungan dengan integritas, orientasi jangka panjang,
serta kontribusi nyata terhadap kemampuan organisasi.
Kecurangan hanya menghasilkan keberhasilan sementara dengan biaya struktural yang tinggi.
💡 Penyalahgunaan kekuasaan bukan bentuk kecerdasan, melainkan gejala kerusakan organisasi.
1. Mengapa Culas Tidak Pernah Bersifat Strategis

Penyalahgunaan kekuasaan tidak menghasilkan keunggulan strategis.
Dalam manajemen strategis, strategi dipahami sebagai rangkaian keputusan bernilai jangka panjang,
berlandaskan etika, dan berorientasi pada penciptaan keunggulan bersaing yang berkelanjutan.
Penyalahgunaan kekuasaan bertentangan dengan seluruh prasyarat tersebut.
Tidak berorientasi jangka panjang
Perilaku culas mengejar hasil instan dan mengabaikan keberlanjutan.
Ia mempersempit horizon pengambilan keputusan dan menutup kemungkinan pembelajaran organisasi.
Tidak membangun keunggulan bersaing
Pendekatan Resource-Based View menekankan bahwa daya saing bersumber dari kapabilitas
yang bernilai, langka, dan sulit ditiru.
Manipulasi kekuasaan justru merusak aset tak berwujud seperti kepercayaan, kolaborasi,
dan reputasi institusional.
Merusak budaya organisasi
Drucker berulang kali menegaskan bahwa budaya organisasi menentukan efektivitas strategi.
Perilaku culas menggerogoti norma bersama dan menciptakan iklim politik internal
yang sulit dipulihkan.
Bertentangan dengan etika organisasi
Dalam kajian etika organisasi (Treviño & Nelson), penyalahgunaan kekuasaan dapat
dikategorikan sebagai unethical pro-organizational behavior:
tindakan yang tampak menguntungkan dalam jangka pendek,
namun secara struktural merusak organisasi.
2. Membaca Fenomena Ini melalui Pemikiran Peter Drucker
Peter Drucker menempatkan dimensi moral sebagai fondasi strategi dan kepemimpinan.
Bagi Drucker, organisasi hanya dapat berkembang jika pemimpinnya mampu
melakukan hal yang benar, bukan sekadar hal yang menguntungkan.
A. Leadership: Doing the Right Things

Leadership is doing the right things (Drucker).
Bagi Drucker, kepemimpinan bukan semata soal eksekusi,
melainkan kemampuan memilih arah tindakan yang tepat.
Pelaku culas mungkin mahir memanipulasi sistem,
tetapi tindakan tersebut tidak pernah efektif bagi tujuan organisasi yang lebih luas.
B. Integrity as the First Condition of Leadership
Integritas menempati posisi utama dalam kriteria kepemimpinan Drucker.
Tanpa integritas, setiap keberhasilan hanya bersifat semu dan rapuh.
C. Budaya sebagai Penentu Strategi
Budaya yang rusak oleh intrik kekuasaan akan menggagalkan strategi paling matang sekalipun.
Penyalahgunaan kekuasaan berfungsi sebagai virus yang menggerogoti kohesi internal.
D. Kepercayaan sebagai Modal Organisasi
Drucker memandang organisasi sebagai komunitas berbasis kepercayaan.
Sekali kepercayaan hancur, biaya pemulihannya jauh melampaui manfaat jangka pendek
yang diperoleh dari tindakan culas.
E. The Spirit of Performance
Kinerja sejati, menurut Drucker, bertumpu pada tanggung jawab,
standar tinggi, dan integritas.
Politik internal tidak pernah menjadi sumber keunggulan yang berkelanjutan.
3. Perbandingan: Cerdas (Strategis) dan Culas (Taktis)

Perbedaan antara kecerdasan strategis dan kelicikan taktis.
| Dimensi | Cerdas Strategis | Culas Taktis |
|---|---|---|
| Orientasi Waktu | Jangka panjang | Jangka pendek |
| Basis Keputusan | Nilai, visi, integritas | Ambisi pribadi, ketakutan |
| Pendekatan Kekuasaan | Tanggung jawab | Dominasi dan intimidasi |
| Dampak Budaya | Memperkuat kolaborasi | Mengikis kepercayaan |
| Efek Jangka Panjang | Pertumbuhan dan reputasi | Krisis dan instabilitas |
4. Analisis melalui Tiga Lensa
Lensa Strategis
- Apakah keputusan memperkuat kapabilitas organisasi?
- Apakah berorientasi pada nilai jangka panjang?
- Apakah menciptakan keunggulan yang berkelanjutan?
Lensa Etis
- Apakah tindakan menghormati martabat manusia?
- Apakah kekuasaan digunakan secara sah?
- Apakah keputusan dapat dipertanggungjawabkan?
Lensa Budaya dan Kepemimpinan
- Apakah keputusan memperkuat atau merusak budaya?
- Apakah pemimpin menjaga integritas?
- Apakah tindakan membangun kepercayaan?
5. Ketika Perilaku Culas Tampak Menang
Kemenangan jangka pendek pelaku culas membawa konsekuensi struktural bagi organisasi:
- Talenta terbaik memilih keluar.
- Inovasi melemah karena iklim ketakutan.
- Silence culture menggantikan keberanian berbicara.
- Politik internal semakin mengakar.
- Kepercayaan runtuh secara sistemik.
💡 Keberhasilan jangka pendek tidak pernah setara dengan keberlanjutan organisasi.
Kesimpulan
Peter Drucker memandang organisasi sebagai ruang pertumbuhan manusia,
bukan arena intrik kekuasaan.
Strategi yang matang bertumpu pada integritas,
kejernihan tujuan, dan orientasi jangka panjang.
Kecerdasan sejati bukan kemampuan memanipulasi sistem,
melainkan kebijaksanaan membangun struktur yang adil dan berkelanjutan.
Ia bukan strategi, melainkan sumber kerusakan jangka panjang.
Daftar Pustaka
Drucker, P. F. (1954). The practice of management. Harper & Row.
Drucker, P. F. (1973). Management: Tasks, responsibilities, practices. Harper & Row.
Drucker, P. F. (1999). Management challenges for the 21st century. HarperBusiness.
Jones, T. M. (1991). Ethical decision making by individuals in organizations. Academy of Management Review, 16(2), 366–395.
Porter, M. E. (1996). What is strategy? Harvard Business Review, 74(6), 61–78.
Prahalad, C. K., & Hamel, G. (1990). The core competence of the corporation. Harvard Business Review, 68(3), 79–91.
Treviño, L. K., & Nelson, K. A. (2020). Managing business ethics (8th ed.). Wiley.
Wernerfelt, B. (1984). A resource-based view of the firm. Strategic Management Journal, 5(2), 171–180.
Artikel ini berlanjut ke
Bagian 2.
I’m a marketing strategist specialising in consumer behaviour, brand strategy, and digital trust. I provide insight-driven strategic guidance for organisations seeking to understand consumers more deeply, with a focus on midlife audiences and behavioural psychology. My work blends reflective analysis, cultural perspective, and practical frameworks to help brands build clarity, relevance, and long-term trust in a rapidly evolving market.
| My core archetypes: Commander (Best Match), Shaper (Good Match) and Planner (Good Match) |
I believe recognition and status matter far less than being truly competent and effective.
I stand for those whose worth is written in honesty, not in headlines.. ~ Satrio ~
Read more of my posts: Medium| Kompasiana | Indonesiana

One Reply to “Cerdas dan Culas Tidaklah Sama: Mengapa Penyalahgunaan Kekuasaan Bukan Strategi”
Comments are closed.