Do it (for) Yourself

Beberapa waktu yang lalu saya bertemu dengan seorang teman yang sudah lama tidak berjumpa, setelah mengobrol panjang lebar dan saling bercerita mengenai pengalaman masing-masing setelah sekian lama tak berjumpa saya baru tahu bahwa ternyata dia saat ini berprofesi sebagai pengajar musik dan membuka tempat kursusnya sendiri. Cukup mengejutkan bagi saya karena yang saya tahu ketika SMA dia mengambil jurusan IPA kemudian setamat SMA melanjutkan ke Fakultas Teknik bahkan kabar terakhir sebelum pertemuan kami kali ini saya dengar dia bekerja di salah satu perusahaan IT terkemuka.

Timbul rasa penasaran saya apa yang menyebabkan dia berubah haluan sedemikian drastis yang rasanya tidak nyambung. Meski semula sedikit segan untuk menanyakan karena khawatir kalau-kalau berhubungan dengan sesuatu yang sifatnya pribadi namun karena rasa penasaran ini akhirnya saya nekad bertanya meski dengan bahasa yang sedikit muter-muter.

Teman saya ini justru tertawa ketika hendak menjawab seolah dia sudah bisa menduga bahwa pertanyaan ini akan saya ajukan. Dia kemudian menjelaskan bahwa sebenarnya musik sudah menjadi hobi-nya sejak dahulu bahkan sejak dari bangku sekolah dia sudah memimpikan untuk menjadi seorang pemusik. Memang sejak dulu saya juga tahu bahwa dia pandai memainkan alat musik terutama piano.

“Sejujurnya saya tidak pernah berminat menekuni bidang teknik, apalagi berkarir di dunia itu…” lanjutnya.

Saya jadi bingung karena selama ini baik saya maupun teman-teman yang lain menganggap dia ‘teknik banget’. Maksudnya ketika di sekolah nilai-nilai di bidang ilmu pasti selalu tinggi, kemudian ketika melanjutkan kuliah di Fakultas Teknik pun lulusnya termasuk cepat dengan IP yang tinggi pula bahkan tak lama setelah lulus sudah diterima di perusahaan di bidang teknik.

Mungkin wajah penasaran bercampur bingung saya bisa dibacanya maka sambil tersenyum dia melanjutkan ceritanya.
“Orang tua dan saudara-saudara saya yang dulu menginginkan saya memilih jurusan IPA dan kuliah di Fakultas Teknik. Bahkan ketika saya melamar dan akhirnya bekerja di I*M juga lebih untuk menyenangkan mereka”

“Ketika saya diterima bekerja di sana mereka dengan bangga menceritakan pekerjaan anaknya”

“Tapi saya sendiri tidak pernah menikmatinya, kebahagiaan saya hanya ketika melihat kebanggaan mereka. Namun hati saya selalu di musik”

“Ooo….gitu” kata saya. Kini saya mulai mengerti situasinya.

Klasik memang, pikir saya. Situasi semacam ini memang bukan cerita baru dan sering kita jumpai mungkin bahwa kita alami sendiri.

Terkadang atau bahkan sering tanpa kita sadari tindakan dan keputusan yang kita ambil lebih pada tujuan memperoleh persetujuan dari orang lain entah orang tua, saudara, lingkungan dan lain sebagainya. Demi memperoleh ‘persetujuan’ ini banyak orang lupa akan tujuannya sendiri.

Teman tadi salah satunya, dia tahu apa yang dia inginkan namun bukannya memilih jalan yang diinginkannya dia malahan memilih untuk memperoleh’persetujuan’ dari lingkungannya. Dia tahu bahwa keinginan orang tuanya adalah dia menekuni bidang teknik demikian pula dia tahu bahwa terutama pada masa itu masyarakat ‘lebih mengakui’ bidang teknik ketimbang musik. Tentu dia juga tahu pada pada saat itu antara hal yang diinginkannya dengan yang ‘diinginkan’ oleh lingkungannya bertolak belakang. Rupanya dirinya tidak cukup berani untuk mengikuti keinginan hatinya dan lebih memilih ‘persetujuan’ lingkungan, meski pada akhirnya hatinya tidak bisa menerima situasi ini terus menerus.

“Sekarang rasanya lebih lega dan lebih bisa menikmati tantangannya”.  “Ada passion-nya” katanya.

‘Persetujuan’ dan ‘pengakuan’ dari orang lain dirasa penting bagi beberapa orang hingga rela mengorbankan hasratnya sendiri yang tak lain adalah impian terdalamnya. Orang acapkali lupa bahwa dalam diri setiap orang memiliki semacam ‘guidance’ terkadang ada yang menyebutnya sebagai suara hati dimana ‘guidance’ ini sebenarnya merupakan bagian dari diri setiap orang yang senantiasa ‘tahu’ tentang apa yang harus dilakukan dan yang tidak.

Kebiasaan yang terus dipelajari secara langsung maupun tidak langsung dari lingkungan telah menyebabkan pengingkaran terhadap ‘guidance system’ ini. Akibatnya banyak yang memilih mengingkari keinginan dirinya sendiri demi mendapat ‘persetujuan’ dari luar yang wujudnya bisa jadi adalah orang tua, saudara, teman, lingkungan, persepsi masyarakat dan lain sebagainya.

Lebih buruk lagi adalah bahwa ‘suara-suara’ dan ‘persetujuan’ yang hendak dimenangkan dengan mengingkari keinginan pribadi adalah ‘suara’ dan ‘persetujuan’ dari pihak luar yang dirinya sendiri telah mengingkari ‘guidance system’-nya entah demi mendapatkan ‘persetujuan’ juga atau karena telah terbiasa berperilaku demikian.

Anak kecil cenderung lebih mampu mendengarkan guidance system dalam dirinya, mereka lebih berani memilih melakukan apa yang mereka rasa menyenangkan. Ketika seorang anak ditanya mengenai cita-citanya mereka memilih berdasarkan apa yang mereka ‘rasa’ (bukan pikir) menyenangkan. Itu adalah cerminan murni dari guidance system yang mereka dengarkan, sebaliknya semakin bertambah usia orang akan menjawab dengan cara berbeda.

“Saya akan berkerja sebagai…. karena profesi ini terpandang”
“Saya ingin bekerja di perusahaan…. karena kesejahteraannya terjamin”
“Saya ingin bekerja di bidang… karena masih banyak peluang, persaingannya belum jenuh”
“Saya ingin menjadi… untuk membahagiakan….”
dan lain sebagainya yang nantinya bisa berlanjut menjadi
“Sebenarnya saya tidak menikmati pekerjaan ini tapi demi….”

Seberapa banyak mereka yang beranjak dewasa masih berani berkata
“Saya ingin bekerja sebagai…. karena profesi ini menyenangkan dan menantang”

Mungkin masih ada memang namun berapa persen dari populasi?

Faktanya segala sesuatu bisa berubah drastis bahkan bertolak belakang dari pandangan yang diyakini. Ketika orang berpikir bahwa bidang eksak dan teknik lebih menjanjikan ternyata bidang seni pun tidak kalah menjanjikan, bahkan banyak orang di bidang seni memperoleh penghasilan jauh lebih menjanjikan daripada mereka yang bekerja di bidang teknik dan sejak awal sudah mati-matian memilih jurusan IPA ketika sekolah sampai-sampai orang tuanya bersedia melakukan apapun asalkan anaknya bisa masuk ke kelas IPA.

Belum lama ini ketika bersama istri menikmati sebuah film drama komedi yang diambil dari kisah nyata berjudul “Julie & Julia” ada pelajaran yang menarik. Keduanya baik Julie maupun Julia mengawali sesuatu (memasak) bukan karena keinginan untuk memperoleh materi namun diawali dari perasaan senang atas sesuatu yang mereka lakukan.

Awalnya baik Julie maupun Julia mendapat cemoohan dan penentangan dari orang-orang di sekitarnya, hanya suami merekalah yang mendukung apa yang mereka lakukan sementara lainnya tidak memberikan dukungan. Namun mereka tak lantas berhenti melakukan apa yang mereka sukai bahkan pada akhirnya keduanya berhasil menerbitkan buku yang cukup sukses dan memberikan keuntungan finansial juga tentunya meski itu bukan motivasi bagi mereka.

Ketika Julie, Julia dan teman saya sang pemusik tadi memulai dan menekuni sesuatu yang mereka cintai siapa yang menyangka bahwa akhirnya akan membawa kesuksesan secara finansial pula? Namun pada perjalanannya ternyata mereka tak hanya mendapatkan kepuasan batin karena melakukan sesuatu yang mereka suka namun juga kepuasan materi.

Tak mudah bagi seseorang untuk memutuskan melakukan apa yang disukai ketika mendapatkan tentangan dari lingkungan terutama ketika pertentangan itu berasal dari keluarga. Ini adalah wujud betapa rata-rata orang cenderung mementingkan pengakuan lingkungan dan orang lain ketimbang kepuasan dirinya sendiri. Padahal faktanya ketika muncul kesulitan diri sendiri-lah yang paling menanggung akibatnya.

Pendapat dan pengakuan orang lain menjadi pertimbangan dalam mengambil suatu langkah sementara orang-orang yang didengarkan pendapatnya sendiri juga memberikan pertimbangan atas dasar keinginan dirinya sendiri untuk diakui oleh orang-orang di sekitarnya. Rasanya dapat dianalogikan sebagai benang kusut yang sulit diuraikan bahkan semakin kusut tanpa pernah diketemukan ujung pangkalnya.

Alih-alih bertanya pada diri sendiri: “Apa yang saya inginkan?” dan “Apa yang saya yakini?” justru yang lumrah terjadi “Apa yang diharapkan orang lain, orang tua dan lingkungan dari saya?”

Pada suatu lingkungan dimana orang sudah terbiasa mendengar orang lain untuk menentukan arah hidup dan tujuannya memang tidaklah mudah untuk menjadi diri sendiri. Namun terbukti bahwa dari sedikit orang yang berani membuat keputusan tanpa menghiraukan pendapat dan persetujuan yang umum berlaku telah mencapai serta menghasilkan hal-hal yang mengagumkan. Inilah pembeda antara seorang mediocre dengan superior. Si superior berani mengikuti suara dari dalam dirinya sementara si mediocre memilih jalur aman dengan mendengarkan dan mengharap persetujuan orang di sekitarnya.

Meski pembicaraan ini berawal dari pilihan pekerjaan namun sikap yang membedakan antara superior dan mediocre ini tak semata-mata terkait dengan keputusan tentang pekerjaan/karir melainkan dalam setiap aspek kehidupan. Dan yang tak kalah penting adalah bahwa seseorang hanya dapat mendengar kebenaran dalam dirinya ketika ia mampu berdamai dengan dirinya sendiri. (Satrio)