Impossible…. Really?

Ketika orang menyebut “mustahil” atau “tidak mungkin” pada dasarnya bisa berarti tiga hal: tidak tahu cara melakukannya, semua metode yang diketahui tak bisa diterapkan untuk mencapai tujuan itu atau tidak terpikir cara untuk melakukannya.

Jika merujuk pada ketiga makna tersebut maka pernyataan “mustahil” atau “tidak mungkin” adalah sebuah pernyataan yang tidak valid. Mengapa demikian?

Pada dasarnya tak seorangpun tahu pasti apa yang akan terjadi dimasa mendatang. Sekalipun dalam hal-hal tertentu ada metode-metode yang bisa diterapkan untuk memprediksi kondisi masa depan namun semua berdasarkan asumsi-asumsi yang tidak pasti.Impossible

Asumsi-asumsi tersebut tidak dapat dijadikan patokan mengingat bahwa pada kenyataannya segala sesuatu senantiasa berubah sehingga prediksi menjadi tidak lagi relevan.

Apa yang sulit dilakukan dimasa lalu menjadi hal yang wajar dimasa kini demikian pula yang sulit dimasa kini bisa jadi menjadi sebuah hal yang lumrah dimasa mendatang.

Televisi, internet, pesawat, komputer dan sebagainya yang ada dalam keseharian kita saat ini bukankah beratus-ratus tahun yang lalu adalah sesuatu yang mustahil bahkan mungkin dianggap khayalan belaka?

Anehnya fakta-fakta tersebut tak banyak mengubah pendirian seseorang ketika yang bersangkutan begitu yakin menyebut sesuatu sebagai hal yang tidak mungkin.

Steve Jobs vs Impossible

Dalam tulisan mengenai Steve Jobs beberapa waktu lalu diceritakan bagaimana seorang Jobs tidak pernah menerima pernyataan “tidak mungkin”.

Bagi sebagian besar orang obsesi hidupnya adalah melakukan sesuatu lebih baik dari kemarin dan bahkan daripada hari ini. Tapi tak banyak orang seperti Jobs yang bukan semata-mata berpikir bagaimana menjadi lebih baik dari kemarin dan hari ini, namun lebih dari itu adalah bagaimana melakukan sesuatu berbeda dari orang lain.

Wajar saja jika tak banyak orang berpikir untuk melakukan sesuatu secara berbeda, sebab kebanyakan lebih terobsesi pada persetujuan orang lain dan alergi terhadap penolakan.

Sebaliknya orang-orang seperti Steve Jobs tak pernah peduli pendapat orang lain lebih-lebih membutuhkan persetujuan mereka atas sesuatu yang diyakininya sendiri.

Dalam buku biografinya (Steve Jobs), Walter Isaacson menceritakan kejadian ketika pertama kali layar anti gores yang kini dikenal sebagai “gorilla glass” diproduksi.

Kala itu Jobs begitu terobesi untuk menemukan layar yang kuat, anti gores sekaligus elegan. Hingga akhirnya seorang sahabat bercerita bahwa sebuah perusahaan bernama Corning pernah menemukan teknologi tersebut beberapa tahun lalu namun tidak pernah memproduksinya.

Jobs lantas menemui Wendell Weeks yang kala itu menjadi CEO di Corning untuk memesan layar anti gores sebanyak mungkin yang dapat diproduksi oleh Corning dalam waktu enam bulan.

Weeks lantas menjawab bahwa “mustahil” memproduksi jenis tersebut dalam waktu enam bulan mengingat tak satupun pabrik yang dimilikinya telah disiapkan untuk memproduksi gorilla glass. Weeks memberikan penjelasan panjang lebar kepada Jobs disertai berbagai data untuk memperkuat alasannya.

Jobs tampak tak peduli dengan data dan alasan yang diajukan Weeks, dengan ringan dia menjawab:

“Jangan takut. Fokuskan diri Anda untuk melakukannya dengan penuh keyakinan, maka Anda pasti bisa”

Beberapa tahun kemudian Weeks mengenang kejadian tersebut sambil menggeleng-gelengkan kepalanya seolah tak percaya bahwa pada akhirnya Corning benar-benar menyelesaikan pesanan Apple dalam waktu enam bulan untuk sebuah produk yang sebelumnya sama sekali belum pernah diproduksi.

Terobosan

Dalam setiap masalah sering orang meyakini perlu adanya “terobosan” untuk mengatasi kondisi yang ada.

Terobosan dimaknai sebagai sesuatu yang baru dan sama sekali berbeda dari yang sudah-sudah. Tentu saja terobosan ini tak akan pernah tercapai jika setiap orang hanya sekedar berusaha melakukan sesuatu secara lebih baik dari apa yang telah dilakukan oleh orang lain.

Terobosan hanya bisa diwujudkan manakala seseorang mencoba melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh siapapun dan belum ada seorangpun yang tahu bagaimana cara melakukannya.

Karenanya penyataan “tidak mungkin” adalah resistensi yang hebat dari terwujudnya sebuah terobosan.

Berita baiknya adalah bahwa hampir tidak ada yang tidak mungkin selama seseorang mengatasi barier dan resistensi yang datang dari dalam diri dan lingkungannya.

Sedang berita buruknya adalah semakin sedikit alasan bagi orang untuk menolak melakukan sesuatu atau menyerah dengan alasan “tidak mungkin”

Jika seseorang ingin membuat perbedaan sekaligus menjadikan hidupnya lebih berarti maka tak ada cara yang lebih baik ketimbang menjalani hidup dan pekerjaan dengan kesenangan hati serta berkomitmen menemukan solusi sekalipun terasa mustahil.

Satu hal yang patut direnungkan adalah apabila setiap orang mudah menyerah dengan alasan “tidak mungkin”, bisa jadi hari ini kita semua masih hidup di dalam gua, berpakaian kulit binatang dan berlarian mengejar hewan buruan sebagai santapan. Think about it!