Internet Marketing Entreperneur: Is it a job or is it not?

Pertanyaan ini terlontar pada saat diskusi para “online earner” beberapa waktu lalu. Saya sendiri sebenarnya tak terlalu memikirkannya bahkan ketika mulai menekuni bidang ini. Kala itu yang saya tahu adalah bahwa saya mesti mencari sumber penghasilan baru seiring dengan tersendatnya suplai selimut jepang yang menjadi andalan di toko saya, meningkatnya persaingan dalam penyediaan barang promosi dan semakin banyaknya certified coach yang menjadikan uncertified coach mulai terpinggirkan.

Jadi apakah Internet Marketing Entrepreneur (IME) adalah sebuah pekerjaan atau bukan saya tidak ambil pusing. Satu hal yang pasti saya tahu kala itu adalah bahwa ternyata banyak orang baik di dalam maupun di luar negeri yang melakukan ‘pekerjaan’ ini dan menghasilkan pendapatan yang lebih tinggi dari rata-rata pegawai bahkan pengusaha ‘sungguhan’ pada level tertentu.

Melihat fenomena tersebut akhirnya saya menjadikan online earning sebagai salah satu alternatif memperoleh ‘tambahan’ penghasilan. Tapi lama kelamaan yang semula hanyalah ‘alternatif’ untuk mencari ‘tambahan’ ternyata mengharuskan dan menarik minat saya untuk terjun secara total.

Ada dua alasan; pertama untuk memperoleh hasil yang maksimal perlu totalitas dalam melakukannya, sama seperti pekerjaan lain. Kedua, saya melihat potensi besar di balik sebuah aktivitas pekerjaan yang di Indonesia masih jarang dilirik oleh orang ini. Dan saya melihat banyak orang sudah membuktikannya.

Lalu kembali pada pertanyaan: “Apakah IME merupakan sebuah pekerjaan?” Jawabnya tentulah bergantung pada persepsi masing-masing.

Begini… ada yang memperoleh online earning dengan cara ‘nyambi’. Sementara statusnya adalah pegawai atau pengusaha disela-sela waktu luangnya dimanfaatkan untuk memperoleh penghasilan di dunia maya. Nah kalau mereka menyebut bahwa ini hanyalah sambilan maka sah-sah saja kalau tidak dianggap sebagai pekerjaan.Internet Marketing Entrepreneurs

Tapi itu baru dari satu sudut pandang saja. Tentulah mereka yang menjadi full time IME tidak akan setuju. Kalau mau diibaratkan kurang lebih demikian; buka toko misalnya, bisa dilakukan seorang pegawai bisa juga dilakukan pengusaha full time. Tentu masing-masing punya sudut pandang berbeda. Bahkan kontraktor sekalipun ada yang statusnya sampingan ada yang full time. Sekali lagi masing-masing punya persepsi yang berbeda.

Kalau ada juga yang menyebut bahwa IME bukan pekerjaan karena tidak ada gaji dan penghasilan yang tetap. Nah, saya balik bertanya; “Kalau sesuatu itu dikategorikan sebagai pekerjaan jika ada gaji tetapnya, maka cuma pegawai dong yang punya pekerjaan?” Bagaimana dengan pengusaha? Toh meski tidak punya gaji bulanan bisa menggaji bulanan.

Lantas kalau dikatakan penghasilannya tidak tentu, saya tanya juga: “Apa ada entrepreneur yang penghasilannya tentu/pasti?”

Pengalaman saya buka toko tidak selalu untung, tidak selalu rugi, kadang impas, kadang rugi besar, kadang untung besar.
Pengalaman saya menjadi supplier promotional merchandise pun sama saja.

Sementara online earning ya sama, kalau bukan musim belanja yang sedikit pendapatannya. Kalau musim belanja pendapatan meningkat.

Jadi penghasilan tidak bisa menjadi tolok ukur bukan?

Bagaimana dengan syarat pendidikan? Secara pribadi saya pernah menyinggung korelasi antara pekerjaan dan pendidikan di tulisan yang lalu. Jadi jelas bagi saya korelasinya tetap ada namun tidak secara langsung.

Mengenai syarat pendidikan sendiri toh tidak pernah menjadi sebuah pra syarat mutlak sebuah pekerjaan; seorang Sarjana Hukum bekerja di bidang ritel, kemudian menjadi market intelligence di perusahaan jamu. Seorang master di bidang pemasaran bekerja di bidang pembiayaan. Ini memang pengalaman pribadi tapi saya yakin banyak yang mengalami hal serupa.

Selain itu bukankah pendidikan itu sifatnya bisa formal dan bisa pula informal? Banyak pengusaha yang tidak memiliki latar belakang pendidikan yang sama dengan bidang yang ditekuni atau bahkan tanpa pendidikan sama sekali. Sekali lagi kalau Anda baca tulisan saya sebelumnya Anda akan mengerti pandangan pribadi saya mengenai hal ini.

IME sendiri meski sejauh yang saya tahu masih belum ada pendidikan formalnya bukan berarti tidak perlu pengetahuan. Asal tahu saja, meski di Indonesia belum populer namun pekerjaan ini sangat populer di luar negeri tercinta ini. Konsekuensinya adalah bahwa persaingan untuk beroleh duit di internet itu tidak mudah, sangat kompetitif dan bahkan dalam hal-hal tertentu memang berdarah-darah.

Saya sendiri membandingkan pengalaman saya sebagai karyawan, sebagai pengusaha toko, sebagai konsultan maupun sebagai penyedia merchandise promosi masih jauh tingkat kompetisinya dibanding IME.

Coba tengok saja ketika kran perdagangan bebas dibuka banyak yang berteriak-teriak agar niat itu ditunda dengan alasan pelaku pasar dalam negeri belum cukup kompetitif. Padahal seorang IME sudah langsung terjun dalam sebuah persaingan global sejak pertama kali melangkahkan kaki, dan tidak main-main; para kompetitornya adalah mereka yang benar-benar memahami bidang yang ditekuninya.

Jadi kalau ada yang bilang IME itu santai, jauh dari stres saya justru berpendapat sebaliknya. Paling enak jadi pegawai, mau istirahat ‘ngopi’ 30-60 menit toh gajinya tetap segitu. Sementara IME berhenti sejenak bisa berdampak besar pada penghasilannya.
Kasus lain  misalnya ketika Google melakukan update alogaritma yang dikenal sebagai “Panda”, tidak sedikit blog yang sudah menghasilkan ribuan dollar tiba-tiba anjlok dalam sekejap. Padahal membangunnya bagai menyusun bata sedikit demi sedikit setiap hari selama bertahun-tahun, tapi dirobohkan hanya dalam tempo kurang dari 24 jam.

Jadi stress atau tidak menurut saya tidak akan pernah dapat diukur dari faktor pekerjaannya, tapi faktor manusianya.

Satu hal yang saya bisa bilang bahwa ini bukan pekerjaan yang bisa dilakukan dengan baik oleh seorang pemalas, pengeluh dan pecundang.

Nah, karena persaingan yang ketat ditambah lagi ‘rules of game’ yang bisa berubah setiap saat maka banyak pendidikan informal berupa pelatihan, kursus dan seminar untuk IME. Dan asal tahu saja biayanya berjuta-juta!

Lalu apa sih yang dimaksud sebagai ‘pekerjaan’? Kalau mengutip Wikipedia maka pekerjaan dimaknai sebagai: “Sebuah aktivitas yang karenanya seseorang memperoleh imbalan baik sebagai pegawai, relawan ataupun memulai bisnis…”.

Nah asumsikan saja kita menerima definisi tersebut, maka bukankah IME sudah memenuhi unsur-unsurnya?

Masalahnya adalah ketika Anda seorang IME dan mencoba mencantumkan itu untuk mengisi form biodata maka jangan harap akan diterima. Ya tentu itu hanya sebuah masalah kecil, toh bisa diisikan sebagai ‘wiraswasta’ dan faktanya cakupan wiraswasta memang luas. Jadi rasanya mengenai hal ini bukanlah sebuah isu penting.

IME: Pekerjaan Bergengsi?

Sama halnya perdebatan apakah IME merupakan pekerjaan atau bukan. Bergengsi atau tidak menurut saya juga masalah persepsi.

Seorang yang memilih pekerjaan ini karena terpaksa; tidak diterima kerja dimana-mana, mungkin akan menganggap pekerjaan ini tidak bergengsi karena sekedar sebagai tempat pelarian.

Sebaliknya kami yang serius menekuni bidang ini, menikmati tantangannya, menikmati hasilnya sudah pasti menganggap pekerjaan ini bergengsi. Bagaimana tidak? Kompetisinya berdarah-darah, potensi penghasilan yang diperoleh tanpa batas (karena itu kemudian muncul istilah The Hidden Millionaire). Belum lagi harus update dan updgrade ilmu setiap saat (bukan hanya setiap hari). Makanya jangan heran kalau atribut-atribut IME baik berupa kaos, topi, sticker dan sebagainya bisa laris manis di komunitas tertentu; karena kami bangga!

Di pihak lain mungkin orang yang tidak mendalami profesi ini tidak menganggapnya bergengsi, sekali lagi rasanya itu hanya persepsi. Seorang dokter mungkin menganggap pekerjaannya lebih bergengsi ketimbang IME, itu toh sah-sah saja wong saya sendiri berpikiran sebaliknya.

Bahkan selain Diplomat saya pikir tak ada pekerjaan yang lebih bergengsi dibanding IME. Sekali lagi itu persepsi, karena dulu waktu kuliah S1 saya bercita-cita menjadi diplomat. Namun karena tak sabar ingin dapat pekerjaan biar punya duit sementara Deplu belum membuka tes penerimaan maka saya tak pernah berkesempatan mencoba profesi itu. Bahkan mencoba test pun belum.

Tapi untuk kesekian kalinya, itu sekedar persepsi.

Jadi pada akhirnya apakah IME sebuah pekerjaan atau bukan? Apakah IME bergengsi atau tidak?

Tak ada jawaban yang pasti. Semua adalah perkara persepsi, yang jauh lebih penting adalah bagaimana perasaan dan kesungguhan kita dalam melakukan pekerjaan… apapun itu. (Satrio)

“Get a Life, Not a Job: Do What You Love and Let Your Talents Work For You” (Paula Caligiuri)