Ketaatan, Iman dan Doa

Dari Mat: 17:20 kita telah mendengar perumpamaan mengenai biji sesawi. Yesus mengibaratkan sekiranya kita memiliki iman sebesar biji sesawi saja maka tiada hal yang mustahil. Lalu kita bertanya mengapa pula doa-doa kita tak kunjung dijawab dan tak kunjung dikabulkan sekalipun kita ‘merasa’ telah percaya dan memiliki iman?

Orang kemudian mulai meninggalkan doa, meninggalkan Ekaristi dan meninggalkan Tuhan karena merasa bahwa doa-doanya tak dijawab meski dirinya terus berseru.

Tanpa mereka sadari sikap-sikap demikian tak ubahnya seperti sikap seorang anak manja yang ‘mutung’ (ngambek) ketika keinginannya tak dipenuhi oleh orang tuanya. Tanpa mencoba memahami dan mencari tahu apa alasan permintaan itu tak dikabulkan oleh orang tua lantas si anak manja ini menyebut orang tuanya tak peduli, tak sayang atau bahkan jahat.

Dengan ‘mutung’ si anak manja berharap orang tuanya akan berubah pikiran untuk menuruti apa yang diinginkannya.

Begitu pula mereka yang berpaling dari Tuhan karena merasa doanya tak dijawab berani menyebut bahwa Tuhan tak peduli akan seruan umat-Nya. Siapakah manusia hingga berani menyebut Tuhan demikian? Sudah lupakah siapa sebenarnya yang adalah manusia dan siapakah yang sebenarnya adalah Tuhan?

Ketika seseorang memilih untuk mutung dan meninggalkan Tuhan sebenarnya sikapnya tak beda dengan anak manja yang mutung terhadap keputusan orang tuanya. Bedanya adalah: dia tidak sedang berbicara dengan orang tua! Mungkin oleh karena lelah, tak ingin malu di depan orang maka orang tua akan menuruti apa yang diminta si anak manja yang mutung namun jangan mengira hal yang sama akan dilakukan oleh Tuhan.

Lukas 18:1-8 mengisahkan bagaimana seorang hakim yang lalim mengabulkan permintaan seorang janda karena dirinya enggan terus-menerus diganggu oleh si janda. Sebenarnya disana hendak menggambarkan bahwa seorang hakim lalim sekalipun akan memberikan apa yang diminta oleh seorang yang terus-menerus mengulang permintaannya. Bukankah Tuhan lebih daripada seorang hakim lalim?

Karenanya pada Lukas 18:7 disebutkan:

“Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?”

Kata-kata tersebut menyiratkan arti bahwa Tuhan tak akan pernah menunda pertolongannya bagi mereka yang tak jemu-jemu berdoa. Itu adalah jaminan yang diberikan oleh Yesus sehingga tiada lagi yang perlu diragukan.

Yesus sendiri hendak mengingatkan kita betapa besarnya kekuatan dari doa. Pada Kitab Keluaran 17:8-13 diceritakan bagaimana bangsa Israel memenangkan peperangan setiap kali Musa mengangkat tangannya. Apa yang dilakukan oleh Musa adalah juga sebuah doa, dan kemenangan yang diterima oleh bangsa Israel adalah jawaban atas doa Musa.

Namun ingat bahwa pada selanjutnya disebut juga pada Lukas 18:8:

Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?”

Jadi pertanyaannya apakah kita memiliki iman? Pada paragraf pertama saya sengaja memberi tanda kutip pada kata ‘merasa’ sebab memang tak jarang kita hanya merasa sudah memiliki iman namun tak sungguh-sungguh beriman.

Iman berawal dari ketaatan. Ketaatan adalah sebuah keutamaan yang demikian mengagumkan sehingga Tuhan seringkali memberikan penegasan pada pengamalannya. Yesus sendiri mennyebut bahwa Ia tak datang untuk melakukan kehendak-Nya sendiri melainkan kehendak Bapa (St. Fransiskus dari Sales). Apa yang dilakukan Yesus adalah teladan mengenai ketaatan yang sejati.

Masih banyak lagi contoh ketaatan yang bisa kita temukan dalam Alkitab seperti ketaatan para leluhur yaitu Abraham, Ishak, Yusuf dan Musa (Ibrani 11).

Pada kondisi-kondisi tertentu ketaatan mengharuskan seseorang untuk melakukan hal-hal yang tidak wajar atau tidak masuk akal. Seperti halnya ketika Abraham diperintahkan mengorbankan anaknya, sekalipun kemudian Allah menggantinya namun sebelum itu terjadi adakah Abraham tahu bagaimana akhirnya? Namun apakah itu menyebabkan Abraham kemudian berpaling dari Allah?

Ingat bahwa jembatan menuju ke surga telah diputus oleh karena ketidaktaatan Adam namun oleh ketaatan Yesus maka jalan itu dipulihkan (St. Katarina dari Sienna).

Hawa diperdaya dan jatuh dalam ketidaktaatan sementara Maria taat pada Sabda Allah, sebagaimana manusia takluk pada kematian oleh seorang perawan (Hawa) manusia akhirnya dibebaskan oleh ketaatan Sang Perawan Maria (Adv. Haer., V, 19,1).

Paus Yohanes Paulus II menyebutkan bahwa ketaatan adalah sumber kebebasan yang sejati. Jadi dengan demikian kita bisa melihat betapa besarnya arti dan makna dari ketaatan. Jadi adakah ketaatan dalam diri kita? Sudahkah ketaatan menjadi keutamaan dalam diri kita?

Melalui ketaatan maka iman akan bertumbuh. Dan iman pada akhirnya haruslah diperlengkapi dengan perbuatan-perbuatan. Sebab sebagaimana diingatkan oleh Yakobus bahwa kita tak akan diselamatkan hanya karena iman namun iman yang bekerjasama dengan perbuatanlah yang akan menyelamatkan kita (Yak. 2:14-26). Jadi tak mungkin orang yang sungguh-sungguh beriman akan bersikap ‘mutung’ atau ngambek karena merasa doanya tak dijawab.

Bisa kita lihat bahwa sikap ‘mutung’ dan ‘ngambek’ adalah jauh dari ketaatan sementara ketaatan hanyalah sebuah permulaan dari iman maka dengan demikian sikap mutung dan ngambek adalah jauh dari iman maka jangan pernah berani berkata: “Aku sudah berdoa dan percaya namun Tuhan tak menghiraukan”. Karena percaya adalah iman!

Ingat jaminan Yesus bahwa Allah tak akan mengacuhkan mereka yang terus menerus berseru kepadaNya dengan iman. Maka mari kita kembali pada pertanyaan adakah nilai ketaatan dan iman sudah ada dalam diri kita masing-masing. Sudahkah kita mengganggap doa sebagai sebuah relasi intim dengan Tuhan dan bukan sekedar kata-kata indah serta panjang tanpa makna?

Yesus berpesan kepada St. Faustina:

“Ya… ketika engkau taat Aku mengambil kelemahanmu dan menggantinya dengan kekuatan-Ku. Aku sungguh teramat heran bahwa jiwa-jiwa tak hendak melakukan pertukaran itu dengan-Ku.” (BCH 381)

Marilah kita lebih banyak merefleksi dan introspeksi ke dalam diri kita sendiri manakala doa-doa kita belum dijawab. Janganlah lekas-lekas menyalahkan dan bahkan berpaling dari Tuhan.

Janganlah kita berhenti berseru dalam doa baik dalam kesesakan maupun kebahagiaan. Mungkin syair dari lagu berikut akan mengingatkan kita betapa berartinya sebuah doa:

BILA KAU RASA GELISAH DI HATIMU

BILA KELAM KABUT TAK MENENTU HIDUPMU

INGAT MASIH ADA SEORANG PENOLONG BAGIMU

YESUS TAK PERNAH JAUH DARIMU

BILA COBAAN MENGGODAI HATIMU

BILA SENGSARA MENIMPA KEADAANMU

INGAT YESUS TAKKAN PERNAH JAUH DARIMU

DIA SELALU PEDULIKAN KAMU

BERSERU MEMANGGIL NAMA-NYA

BERDOA DIA KAN SEG’RA MENGHAMPIRI DIRIMU

PERCAYA DIA TAK JAUH DARIMU

DIA HANYA SEJAUH DOA

(Nikita – Dia Hanya Sejauh Doa)