Ketika Apa yang Anda Lakukan Tak Terasa Cukup

Pernahkah Anda merasa bahwa apapun yang telah dilakukan tak pernah terasa cukup untuk mencapai sesuatu yang diharapkan? Atau ketika melihat keadaan saat ini kemudian berpikir seandainya di masa lalu mengusahan lebih maka tentu hari ini kondisinya akan berbeda.

Rasanya cukup banyak dari kita yang merasa demikian dan perasaan ini tak jarang menimbulkan perasaan bersalah.

Karyawan dan profesional berharap bahwa stamina yang dimiliki semestinya lebih baik ketimbang saat ini sehingga bisa terus melakukan lebih banyak pekerjaan.

Para wirausahawan sering dihantui perasaan bahwa semestinya melakukan lebih dari ini dalam rangka membangun usahanya.

Dalam kehidupan berkeluarga pun juga demikian bisa muncul rasa bersalah seorang kepala keluarga karena merasa tak cukup memberikan sesuatu bagi keluarganya meski ada keinginan mengusahakan dan meniatkan yang terbaik.

Perasaan bersalah merupakan bagian dari emosi negatif yang pada akhirnya memengaruhi tindakan dan keputusan yang diambil. Karena emosi negatif berasal dari diri sendiri maka solusinya adalah juga dari dalam diri.

Mungkin memang kita bisa mengusahakan lebih baik dari apa yang telah dilakukan saat ini atau kemarin, mungkin juga tidak dikarenakan belum ada ide-ide baru. Namun satu hal yang harus disadari adalah bahwa perasaan bersalah tidak akan memberi kontribusi positif baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Sebaliknya rasa bersalah yang terus menerus dipegang justru akan menjadikan diri kita tidak produktif. Sebab perasaan itu akan terus menghantui sampai kapanpun hingga kita rela melepaskannya.

Tak jarang bahwa rasa bersalah yang dominan menghambat kreativitas diri kita untuk menemukan ide-ide baru yang bisa jadi diantaranya merupakan solusi atas sebuah masalah yang sedang dihadapi.

Kontemplasi dan meditasi adalah salah satu jalan yang efektif untuk mengatasi perasaan ini. Namun sayang banyak orang yang tak cukup tekun bahkan meremehkan kegiatan semacam ini.

Jika Anda terus menyimpan perasaan bersalah karena tak cukup mengusahakan sesuatu maka Anda tak akan melangkah pada sebuah kondisi yang lebih baik ketimbang saat ini. Sebaliknya rasa bersalah yang terus menerus akan berakibat pada keputusasaan dimana pada level tertentu akan benar-benar mematikan produktivitas dan kreativitas dalam diri kita.

Ketika Anda berani merelakan perasaan bersalah maka Anda telah membuka sebuah kemungkinan akan datangnya inspirasi, kreativitas dan produktivitas yang bisa jadi merupakan sebuah solusi atas keadaan saat ini.

Ingat nasehat dari Pengkhotbah bahwa untuk segala sesuatu ada masanya. Pada berbagai kondisi kehidupan memerlukan sikap dan tindakan yang berbeda pula. Ada masanya dimana kita harus diam, ada masanya dimana kita harus melakukan introspeksi dan evaluasi, ada masanya pula kita harus bertindak. Jangan berlarut pada satu fase.

Penting juga untuk selalu berfokus pada apa yang ada “waktu in” dan tidak membiarkan pikiran terus melayang kepada kondisi masa lalu atau meraba-raba masa depan. Penting juga untuk berfokus pada apa yang Anda lakukan, bukan terus membandingkan dengan apa yang orang lain lakukan atau raih.

Terkadang ketika sampai pada fase dimana kita semestinya mengambil tindakan, rasa takut mulai membayangi sehingga kita berhenti. Ketika kita mulai melangkah maka perasaan takut semestinya disingkirkan.

Sebab rasa takut muncul akibat perasaan bahwa kita tidak cukup mampu dan karena kita merasa tak cukup mampu kemudian kita berhenti untuk bertindak. Tindakan untuk berhenti ini menjadikan kita tak mengusahakan yang terbaik. Tindakan tak mengusahakan yang terbaik menjadikan kita tak mencapai hasil maksimal. Dan akhirnya muncullah rasa bersalah karena merasa tak cukup melakukan sesuatu. Siklus yang berulang bukan?

Karenanya ketika kita merasakan dan tahu apa yang harus kita lakukan jangan pernah ragu untuk bertindak. Dan terkadang tindakan yang harus kita lakukan adalah berhenti sejenak, berkontemplasi dan bermeditasi. Jika memang demikian terima dan lakukan saja dengan rela, jangan selalu berpikir bahwa “struggle action” selalu memberikan hasil lebih baik.

Coba amati betapa banyak orang berusaha mati-matian namun tak juga mencapai apa yang diinginkan. Tidak selalu karena mereka kurang berusaha namun karena mereka tak mau mengambil tindakan tertentu pada kondisi tertentu. Sebaliknya justru memilih “struggle action” yang memboroskan banyak sumber daya dan hasilnya sia-sia.

Bangunlah diri Anda dari dalam ke luar, jangan biarkan orang lain atau lingkungan men-trigger Anda untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu maka Anda akan menemukan perasaan bahagia atas apa yang Anda lakukan/kerjakan.

Buanglah sikap dan keinginan untuk selalu sempurna yang justru akan menjadikan kita takut bertindak. Sebaliknya milikilah sikap yang mengakui bahwa dalam kelemahan dan ketakberdayaan kita kuasa Allah menjadi sempurna.

Related Article:

Take an (Inspired) Action

Pernahkah Anda merasa bahwa apapun yang telah dilakukan tak pernah terasa cukup untuk mencapai sesuatu yang diharapkan? Atau ketika melihat keadaan saat ini kemudian berpikir seandainya di masa lalu mengusahan lebih maka tentu hari ini kondisinya akan berbeda.

Rasanya cukup banyak dari kita yang merasa demikian dan perasaan ini tak jarang menimbulkan perasaan bersalah.

Karyawan dan profesional berharap bahwa stamina yang dimiliki semestinya lebih baik ketimbang saat ini sehingga bisa terus melakukan lebih banyak pekerjaan.

Para wirausahawan sering dihantui perasaan bahwa semestinya melakukan lebih dari ini dalam rangka membangun usahanya.

Dalam kehidupan berkeluarga pun juga demikian bisa muncul rasa bersalah seorang kepala keluarga karena merasa tak cukup memberikan sesuatu bagi keluarganya meski ada keinginan mengusahakan dan meniatkan yang terbaik.

Perasaan bersalah merupakan bagian dari emosi negatif yang pada akhirnya memengaruhi tindakan dan keputusan yang diambil. Karena emosi negatif berasal dari diri sendiri maka solusinya adalah juga dari dalam diri.

Mungkin memang kita bisa mengusahakan lebih baik dari apa yang telah dilakukan saat ini atau kemarin, mungkin juga tidak dikarenakan belum ada ide-ide baru. Namun satu hal yang harus disadari adalah bahwa perasaan bersalah tidak akan memberi kontribusi positif baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Sebaliknya rasa bersalah yang terus menerus dipegang justru akan menjadikan diri kita tidak produktif. Sebab perasaan itu akan terus menghantui sampai kapanpun hingga kita rela melepaskannya.

Tak jarang bahwa rasa bersalah yang dominan menghambat kreativitas diri kita untuk menemukan ide-ide baru yang bisa jadi diantaranya merupakan solusi atas sebuah masalah yang sedang dihadapi.


Kontemplasi dan meditasi adalah salah satu jalan yang efektif untuk mengatasi perasaan ini. Namun sayang banyak orang yang tak cukup tekun bahkan meremehkan kegiatan semacam ini.


Jika Anda terus menyimpan perasaan bersalah karena tak cukup mengusahakan sesuatu maka Anda tak akan melangkah pada sebuah kondisi yang lebih baik ketimbang saat ini. Sebaliknya rasa bersalah yang terus menerus akan berakibat pada keputusasaan dimana pada level tertentu akan benar-benar mematikan produktivitas dan kreativitas dalam diri kita.


Ketika Anda berani merelakan perasaan bersalah maka Anda telah membuka sebuah kemungkinan akan datangnya inspirasi, kreativitas dan produktivitas yang bisa jadi merupakan sebuah solusi atas keadaan saat ini.

Ingat nasehat dari Pengkhotbah bahwa untuk segala sesuatu ada masanya. Jadi jangan biarkan rasa bersalah terus tersimpan dalam diri Anda.


Pada berbagai kondisi kehidupan memerlukan sikap dan tindakan yang berbeda pula. Ada masanya dimana kita harus diam, ada masanya dimana kita harus melakukan introspeksi dan evaluasi, ada masanya pula kita harus bertindak. Jangan berlarut pada satu fase.


Penting juga untuk selalu berfokus pada apa yang ada “waktu ini” dan tidak membiarkan pikiran terus melayang kepada kondisi masa lalu atau meraba-raba masa depan. Penting juga untuk berfokus pada apa yang Anda lakukan, bukan terus membandingkan dengan apa yang orang lain lakukan atau raih.

Terkadang ketika sampai pada fase dimana kita semestinya mengambil tindakan, rasa takut mulai membayangi sehingga kita berhenti. Ketika kita mulai melangkah maka perasaan takut semestinya disingkirkan.

Sebab rasa takut muncul akibat perasaan bahwa kita tidak cukup mampu dan karena kita merasa tak cukup mampu kemudian kita berhenti untuk bertindak. Tindakan untuk berhenti ini menjadikan kita tak mengusahakan yang terbaik. Tindakan tak mengusahakan yang terbaik menjadikan kita tak mencapai hasil maksimal. Dan akhirnya muncullah rasa bersalah karena merasa tak cukup melakukan sesuatu. Siklus yang berulang bukan?


Karenanya ketika kita merasakan dan tahu apa yang harus kita lakukan jangan pernah ragu untuk bertindak. Dan terkadang tindakan yang harus kita lakukan adalah berhenti sejenak, berkontemplasi dan bermeditasi. Jika memang demikian terima dan lakukan saja dengan rela, jangan selalu berpikir bahwa “struggle action” selalu memberikan hasil lebih baik.


Coba amati betapa banyak orang berusaha mati-matian namun tak juga mencapai apa yang diinginkan. Tidak selalu karena mereka kurang berusaha namun karena mereka tak mau mengambil tindakan tertentu pada kondisi tertentu. Sebaliknya justru memilih “struggle action” yang memboroskan banyak sumber daya dan hasilnya sia-sia.

Bangunlah diri Anda dari dalam ke luar, jangan biarkan orang lain atau lingkungan men-trigger Anda untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu maka Anda akan menemukan perasaan bahagia atas apa yang Anda lakukan/kerjakan.

Buanglah sikap dan keinginan untuk selalu sempurna yang justru akan menjadikan kita takut bertindak. Sebaliknya milikilah sikap yang mengakui bahwa dalam kelemahan dan ketakberdayaan kita kuasa Allah menjadi sempurna.