Ketika Passion Tidak Menjamin Kesuksesan

Passion mungkin adalah kata-kata yang paling banyak Anda ketemukan ketika membaca posting di blog ini satu-persatu. Namun dalam beberapa posting terkait passion juga sudah disebutkan bahwa melakukan pekerjaan sesuai passion tidak menjamin seseorang akan sukses secara finansial. Lalu pertanyaanya: Jika passion Anda tidak menjadikan Anda sukses secara finansial, apa yang harus dilakukan?

Berbagai penelitian dan tulisan mendukung bahwa passion menjadi bahan bakar, energi, motivasi ketika seseorang memulai sebuah usaha atau pekerjaan yang pada bidang yang belum diketahuinya. Penelitian juga membuktikan bahwa passion adalah satu-satunya yang memotivasi orang tetap bangkit dan berusaha menyelesaikan sebuah pekerjaan sekalipun mengalami kesulitan besar.

Namun lagi-lagi, penelitian-penelitian juga menunjukkan bahwa passion bukanlah jaminan bahwa seseorang akan berhasil melakukan pekerjaannya atau mencapai sukses.

Passion

Para seniman dan musisi adalah kelompok yang sering dijadikan contoh. Sebagian besar dari mereka menekuni bidangnya karena passion, namun harus diakui bahwa hanya sepersekian persen dari seniman dan musisi ini yang sukses dalam pekerjaannya dan sukses secara finansial.

Lantas ketika passion tidak membawa seseorang pada keberhasilan apakah yang bersangkutan tetap harus setia pada passion tersebut?

Jawabnya hanya satu: “Ya!”

Meski demikian seseorang harus bersikap logis dalam menekuni dan menjalani hidup sesuai passionnya. Pertama-tama seseorang harus mempertimbangkan apakah pilihannya tersebut memungkinkan dia menghidupi diri sendiri dan keluarga? Ingat, jangan sekali-kali mempertaruhkan kemampuan finansial menghidupi keluarga dan diri sendiri apapun taruhannya!

Namun bukan berarti kondisi ini mengharuskan seseorang menjauhi apa hal-hal yang diminatinya, meski bukan sepanjang waktu setidaknya luangkan waktu untuk mengerjakan apa yang menjadi passion Anda.

Menjalani hidup sesuai passion sangat penting. Sebab sekecil apapun porsinya penyelesaian tugas, pekerjaan atau target sesuai passion seseorang akan mendatangkan kepuasan pribadi, dan kepuasan pribadi mendatangkan kebahagiaan, selanjutnya kebahagiaan menghasilkan produktivitas.

Seperti disebutkan bahwa tak sepantasnya seseorang mempertaruhkan kemampuan menghidupi keluarga secara ekonomi untuk mengejar passion semata, hal yang sama berlaku bahwa tak sepantasnya orang mengorbankan passion dan kebahagiaan demi uang.

Banyak orang berpikir bahwa ia akan menghasilkan uang sebanyak-banyaknya terlebih dahulu sebelum kemudian meluangkan waktu untuk mengejar passion dan kebahagiaan. Faktanya sebagian besar orang-orang yang berpikir demikian tidak pernah benar-benar melaksanakan agendanya (passion dan kebahagiaan) hingga akhir usia. Dan yang menyedihkan adalah bahwa satu-satunya yang mereka capai selama hidup adalah uang.

Bicara mengenai uang jangan pernah melupakan kenyataan bahwa pencapaian finansial seringkali dimulai dengan ketidakpastian. Siapa yang bisa menjamin bahwa apa yang Anda lakukan hari ini pasti akan menhasilkan jumlah uang tertentu sebagaimana Anda harapkan?
Oleh karena ketidakpastian yang sama juga coba pikirkan bukankah mungkin pekerjaan sesuai passion Anda yang bisa jadi saat ini tidak memiliki prospek secara finansial ternyata sangat menjanjikan dalam beberapa tahun kedepan? Sebagaimana diulas pada tulisan sebelumnya bahwa lingkungan bisnis dan korporat secara dinamis berubah, perubahan itu semakin dinamis dari waktu ke waktu. Berbagai industri tumbuh dan tumbang, demikian pula perusahaan-perusahaan. Hal tersebut lebih dari cukup bagi siapapun untuk tidak mudah berasumsi bahwa bidang yang menjanjikan hari ini masih menjanjikan esok hari, dan tentu saja sebaliknya.

Bukankah kita juga sering mendengar bahwa di dunia ini satu-satunya kepastian adalah ketidakpastian itu sendiri? Dan tahukah Anda bahwa satu-satunya cara menghadapi kepastian adalah dengan tindakan!

Setiap tindakan kecil akan membuka sedikit-demi sedikit apa yang semula tidak kelihatan, dan setiap tindakan sekecil apapun selalu membawa seseorang pada pilihan-pilihan baru yang mungkin tak terpikirkan sebelumnya.

Jika ketidakpastian dihadapi dengan dugaan, asumsi dan persepsi makan yang terjadi hanyalah sebuah perkiraan-perkiraan yang ada di benak Anda sementara pada kenyataannya Anda hanya diam di tempat dan tidak bergerak kemanapun.

Siapa yang menyangka bahwa berhenti dari universitas sekelas Harvard University demi mengumpulkan biodata dan menghubungkan orang-orang lewat internet bisa menjadikan seseorang sukses seperti Mark Zuckerberg? Atau “mengakali” sistem di CCC (Computer Center Corporation) menjadi langkah awal bagi kesuksesan seorang Bill Gates?