Ketika Pulang tak Terasa Pulang |Reverse Culture Shock

Hampir satu bulan sudah sejak kami kembali ke Indonesia dan ternyata menyesuaikan kembali dengan kebiasaan-kebiasaan yang ada di sini tidaklah segampang yang kami perkirakan dulu sebelum berangkat ke Melbourne.

Sesungguhnya berat bagi kami meninggalkan Melbourne setelah segala sesuatunya terasa sebagai bagian sehari-hari kami. Ya, memang kami hanya satu tahun tinggal di sana namun kami merasa mudah beradaptasi dengan lingkungan sekitar, lebih-lebih anak pertama kami lahir di sana.

Menjelang kepulangan kami sudah menyusun banyak rencana untuk menikmati hari-hari terakhir kami di Melbourne. Memang pada akhirnya tak semua rencana bisa terlaksana karena kesibukan kami masing-masing belum lagi proses packing yang rasanya tak kunjung usai bahkan hingga hari terakhir menjelang keberangkatan kami.

Reverse Culture Shock

Salah satu sudut Collin St saat Winter

Meski statusnya adalah “pulang” namun sejujurnya kami justru tidak merasa “at home” sama sekali. Bahkan sejak pesawat mulai transit di Kuala Lumpur pun kami sudah merasakan suasana asing yang kurang nyaman.

Hal-hal yang mungkin dulu terasa sepele kini terasa mengganggu, misalnya seperti antrian yang tidak teratur atau sikap orang-orang yang tidak peka bukan perkara gampang untuk ditoleransi setelah lama tidak tinggal dalam lingkungan seperti ini.

Ambil contoh saja ketika menunggu bus yang akan membawa kami dari pesawat ke terminal antriannya asal-asalan, semua orang berdiri semaunya sendiri dan ketika bus tiba langusng semua berdesak-desakkan tanpa aturan. Ketika di atas bus istri saya yang menggendong anakpun terpaksa berdiri sementara banyak orang duduk dengan cueknya. Padahal selama di Melbourne setiap naik kendaraan umum entah kereta atau tram langsung banyak orang yang berdiri dan mempersilakan istri saya duduk baik ketika hamil maupun menggendong anak.

Sikap orang terhadap anak bayi juga awalnya membuat kami terkejut. Di Melbourne orang hanya sekedar menggoda atau mengajak senyum ketika melihat bayi tanpa menyentuh. Bahkan keluarga mantan homestay saya yang bagi kami sudah lebih dari sekedar keluarga selalu minta ijin sebelum menyentuh atau menggendong anak kami.
Di sini orang tidak dikenal seperti pramuniaga restoran atau supermarket tiba-tiba saja mendekat untuk memegang pipinya dan beberapa bahkan memberikan tangannya untuk menggendong tanpa permisi. Terus terang sampai sekarang kebiasaan ini masih susah kami terima. Wajar saja jika kenalan atau kerabat, tapi beda ceritanya kalau orang tak dikenal.

Sikap tak wajar dan berlebihan yang sudah lama tak kami jumpai kini kembali menjadi keseharian. Contohnya ketika di Bandara Soekarno-Hatta seorang porter tanpa sengaja menabrakkan trolli ke seorang ayah yang menggendong anaknya. Kata “menabrak” mungkin juga kurang tepat karena lebih tepat dibilang “menyenggol” dan jelas itu tidak sengaja karena menurut saya hanya orang gila saja yang melakukan kesengajaan macam itu.
Si porter sudah minta maaf namun keluarga si bapak itu masih tidak terima dan mencaci maki si porter dengan kata-kata kasar.
Situasi ini sangat tak wajar di Melbourne, orang biasa mengatakan “Sorry” bahkan untuk hal-hal sepele sekalipun dan yang dirugikan juga memaafkan (“It’ OK, “no worries”, dsb) disertai senyum tanpa banyak berkata-kata lebih-lebih kalau hanya masalah sepele.

Kejadian tersebut hanya sebagian kecil dari banyak hal yang harus kami pelajari kembali setelah balik ke Indonesia.

Kebiasaan antri di Indonesia memang harus diakui sedemikian parah dan payahnya. Di supermarket misalnya di Melbourne biasanya orang bukan hanya mengantri dengan tertib namun juga memberi jarak antara satu pengantri dengan pengantri berikutnya untuk memberikan privacy.
Terbiasa dengan model antri semacam ini maka ketika awal-awal kami berbelanja secara tak sadar kami melakukan hal yang sama… hasilnya? Diserobot orang!

Dan karena model antri yang saling berdekatan semacam ini kami juga merasa kurang nyaman ketika akan membayar dengan kartu debet misalnya, sebab jarak orang di belakang sedemikian dekat hingga mudah saja bagi orang lain untuk melihat tombol PIN yang dipencet. Bukan curiga, hanya tidak nyaman saja yang jelas.
Selain itu orang juga bisa melihat berapa uang yang dikeluarkan untuk belanja, dan nyatanya iseng saya perhatikan memang beberapa kali pengantri di belakang tolah-toleh ke barang belanjaan dan nilai belanja. Sikap yang sama sekali tidak sopan bagi orang barat, dan rasanya tidak sopan bagi siapapun yang mengerti etika.

Pendidikan mengantri memang tidak pernah dianggap penting di Indonesia, orang tua dan orang dewasa bukan hanya tidak mengajarkan anaknya untuk mengantri namun bahkan tak jarang memberi contoh buruk.

Belanja di toko atau supermarket, makan di kafe atau restoran seringkali juga membuat kami tidak sabar sebab pelayanannya terasa sedemikian lambat, tidak sigap sama sekali. Yang lebih membuat kami terheran-heran adalah bahwa toko/supermarket/kafe/restoran di Indonesia selalu memiliki jumlah pegawai yang lebih banyak dari usaha serupa di Melbourne, namun pelayanannya jauh lebih lambat.

Kafe-kafe di Lygon yang dekat dari tempat tinggal kami misalnya, rata-rata hanya memiliki tiga hingga empat orang karyawan termasuk koki. Namun pekerjaan mereka tampak efektif dan efisien sehingga pelanggan tak dibiarkan menunggu lama-lama, meja dan piring kotor pun dengan cepat dibersihkan. Sebaliknya di Indonesia banyaknya karyawan tak berbanding dengan efisiensi dan efektivitas kerja, nyatanya entah di toko maupun restoran selalu ada saja pemandangan karyawan saling ngobrol masalah di luar pekerjaan sementara masih banyak hal yang belum terselesaikan.

Jangankan pegawai toko atau restoran, pegawai pemerintahan dan dokter pun yang rata-rata lebih berpendidikan perilakunya tak jauh beda. Di Melbourne kantor pemerintahan buka tepat waktu, karyawan datang beberapa menit sebelum dibuka. Memang kalau kita datang sebelum jam buka kantor tak akan dilayani meski karyawan sudah datang namun begitu jam buka langsung semua karyawan bekerja tanpa ngobrol kesana kemari dan membiarkan orang menunggu.

Sama halnya dengan dokter, mereka datang beberapa menit sebelum jam buka dan langsung melayani pasien begitu jam kerja dimulai. Sementara dokter di Indonesia jam pasien sudah berjejer panjang dokternya masih belum juga muncul meski sudah lewat jam buka praktek.

Ketika saya berbicara begini ada seorang teman yang pernah bilang janganlah dibandingkan di sana dan di sini kan semuanya beda, pendapatannya juga beda. Lah iya pendapatannya beda tapi biaya hidupnya juga beda, lagipula kalau memang pendapatan yang dianggap kurang ya cari saja pekerjaan lain! Jangan jadikan pendapatan sebagai alasan untuk karakter pemalas!

Perilaku perokok juga membuat kami harus menahan emosi. Betapa tidak, di Melbourne tak ada orang yang merokok di ruangan tertutup meski tidak ditulis “DILARANG MEROKOK” dan sekalipun di tempat terbuka perokok selalu menjauh ketika melihat ada anak-anak di sekelilingnya. Sebaliknya di Indonesia bisa-bisanya orang merokok di dalam food court?? Memang tidak ada tulisan larangan merokok tapi mbok ya dipake itu logika kalau memang masih tersisa! Yang punya anak ya sama saja bego-nya, kok ya bisa bapak-bapak mengantar anaknya antri di dokter anak sambil merokok, sekalipun itu bukan di dalam ruangan tapi nalarnya kemana?

Asap memang fenomena unik di negeri tercinta ini, sudah perokok pada tidak punya etika masih lagi ditambah asap dari membakar sampah yang masih diketemukan di Indonesia meski sudah di jaman modern seperti ini. Yang saya herankan seperti di daerah tempat tinggal saya misalnya, setiap hari kecuali hari Minggu selalu ada petugas yang mengambil sampah dari rumah ke rumah untuk dibawa ke TPA, anehnya tiap hari juga ada saja tetangga yang membakar sampah. Bukan sekedar membakar sampah namun bahkan ada yang membakar di seberang rumah orang lain sementara rumahnya sendiri bebas dari asap hasil kreativitasnya.

Kejadian itu sempat saya alami. Memang seberang rumah tempat kami tinggal adalah rumah yang sudah dibiarkan kosong dan tak terawat selama bertahun-tahun oleh pemiliknya. Oleh salah satu tetangga lalu digunakan untuk membakar sampah yang sudah pasti asapnya masuk ke rumah kami.
Saya berusaha menyindir dengan cara halus, saya minta tolong tukang kebun untuk bersihkan rumput dan sisa-sisa sampah di rumah tersebut. Saya pikir orang yang peka, bermoral dan punya etika pasti juga sadar dan pakewuh untuk mengotori tempat yang sudah dibersihkan. Eh..lah…ternyata tidak mempan! Berhubung biasanya dia bakar sampah pagi-pagi akhirnya saya bela-belain menyiram tempat dia membakar sampah dengan air, bukannya sadar malah membakar sampahnya diganti jadi siang hari. Suatu ketika karena kesabaran saya habis akhirnya saya siram juga itu api di depan yang bersangkutan.

Dengan lucunya si tetangga itu bertanya: “Kenapa dimatikan Pak”
“Asapnya masuk ke rumah saya!” jawab saya
“Yah mana tahu saya kalau rumahnya sudah ditempati lagi” jawab si tetangga dengan anehnya. Saya sudah demikian emosi ketimbang keluar kata-kata keras saya hanya memandang mata si tetangga dengan jengkel lalu masuk kembali ke rumah.
Kata-katanya tidak masuk akal, sebab beberapa hari sebelumnya ketika ada tukang kebun keluar masuk rumah saya saja dia bertanya ke tukang kebun apa rumah ini sudah ditempati. Lalu si tukang kebun juga sudah menjawab bahwa sudah ditempati beberapa hari. Bisa-bisanya dia menggunakan alasan tidak tahu rumahnya ditempati. Saya tahu karena ketika dia bertanya ke tukang kebun kebetulan saya sedang berada di ruang tamu, memang dari luar tidak kelihatan tapi dari dalam saya bisa melihat dan mendengar dengan jelas.

Bahkan sekalipun dia tidak tahu bahwa rumah ini sudah dihuni kembali tetap tidak masuk akal membuang sampah di situ mengingat itu bukan tempat pembuangan sampah.

Padahal dia cukup bilang “Maaf” dan tidak mengulangi lagi tentu sudah lebih dari cukup buat saya.
Well, kata-kata seperti “Sorry”, “Excuse me” dan “Thank You” yang sering sekali diucapkan orang di Melbourne dengan tulus bahkan untuk hal-hal kecil memang bukan kebiasaan yang bisa diharapkan di sini meski ngakunya orang Timur lebih beretika ketimbang orang Barat… lol … kata siapa??

Tapi sepertinya si tetangga ini cukup punya itikad baik, sebab setelah itu langsung dia membersihkan sampah-sampahnya dan memasukkan ke tong sampah miliknya sendiri dan hingga hari ini tidak lagi membakar sampah.

Banyak sudah penelitian yang menyebut bahwa asap pembakaran sampah memicu kanker, saya tak menuntut pembakar sampah dan perokok untuk percaya terhadap hasil penelitian itu, tapi kalau mengganggu dan merugikan orang lain tentu lain ceritanya.

Budaya membuang sampah sembarangan juga tak kalah kuatnya melekat di masyarakt kita. Di Melbourne berkali-kali kami lihat bagaimana orang tua mengajari anak-anaknya membuang sampah di tempat sampah, memisahkan sampah organik dengan non organik. Kebanyakan orang Indonesia berpikir bahwa di negara maju rata-rata bersih dari sampah karena penduduknya takut didenda jika buang sampah sembarangan. Padahal faktanya yang kami lihat di Melbourne bukan demikian, bukan ketakutan akan hukuman yang membuat orang tertib, melainkan kesadaran menjaga kepentingan bersama.

Di sini anak-anak sekolah dengan enaknya buang sampah makanan sembarangan sambil jalan sepulang sekolah. Bahkan ada tetangga yang bisa-bisanya membuang sampah kulit durian di seberang rumah saya padahal yang bersangkutan sendiri punya tempat sampah. Saya sungguh mempertanyakan moral orang macam ini, bagaimana bisa setelah menikmati sesuatu (durian) lantas sampahnya dibuang sembarang begitu saja. Saya memang tak menegur, bagi saya adalah tindakan buang-buang waktu untuk bicara dengan orang yang tidak punya moral. Namun kalau batas kesabaran saya habis bisa jadi lain cerita.

Sok Tahu: Kultur Indonesia-kah?

Ada cerita lain yang mengganggu namun juga menggelikan. Di Melbourne hampir setiap orang berdasar pengalaman kami mulai dari dokter sampai pelayan toko tidak pernah malu mengaku “tidak tahu” jika memang dirinya tidak tahu. Tapi lain cerita di sini…

Beberapa waktu lalu kami ke supermarket untuk membeli susu bayi, kami harus mengganti merek susu karena susu yang biasa kami beli untuk anak tidak tersedia di sini. Jadi kami perlu membanding-bandingkan beberapa merek sebelum memutuskan mana yang hendak dibeli.

Saat kami sedang membanding-bandingkan datanglah seorang SPG bertanya:
“Ada yang bisa saya bantu?”
Saya sudah menolak dengan ramah karena saya lihat seragamnya dari merek susu tertentu maka saya ragukan obyektifitasnya.
Tapi lain dengan istri saya dia langsung menjelaskan tujuan kami ke si SPG. Istri saya menjelaskan bahwa kami mencari produk yang tidak mengandung gula karena saran dokter di Melbourne agar bayi dihindarkan dari gula, garam dan madu hingga usia setahun.
Lantas dengan pede-nya si SPG berkata: “Hanya produk susu X (menyebut mereknya) satu-satunya yang tidak mengandung susu di Indonesia!”
Istri saya lalu dengan antusias menerima kaleng susu dari si SPG dan membaca komposisinya.
“Nah ini ada gulanya mbak!” kata istri saya setelah membaca.
“Oh iya ya Bu” si SPG celingukan lantas bersikap tidak jelas.
Dan lagi-lagi tanpa kata “maaf” karena sudah asbun dan menyesatkan.

Cerita lain ketika istri saya memesan taxi untuk dijemput di rumah si sopir taxi kebingungan mencari alamat. Saya kebetulan sedang di depan rumah namun si sopir sudah keburu bertanya pada orang lewat sambil menunjukkan alamat di kertas. Orang lewat itu dengan pede nya menjawab: “Wah masih jauh ke sana lagi mas!”

Buru-buru saya keluar dan memanggil si sopir taxi.

Itu baru SPG dan orang lewat, dokter sama saja. Ada banyak pengalaman kami dengan dokter sok tahu dan ketika salah diagnosa juga bukannya berkata maaf namun justru mencari-cari alasan. Padahal selama di sana kami menemui beberapa dokter dan ketika mereka tidak tahu mereka tidak ragu-ragu untuk berkata “I’m not sure” atau “I don’t know, sorry”. Di depan pasien mereka juga tak ragu untuk menelepon rekan sejawatnya jika memang tidak tahu atau membuka buku untuk mencari tahu.

Belum lagi sikap dan komentar-komentar tak relevan dan tidak profesional yang mewarnainya.
Suatu ketika di dokter anak di salah satu RS terkemuka kami dibuat terheran-heran karena sambil memeriksa anak kami sempat-sempatnya bu dokter ini ngobrol dengan susternya soal nitip uang arisan.

Juga ketika imunisasi BCG untuk anak, memang terlambat karena di Australia tidak ada imunisasi BCG, lucunya si bu dokter ini belum-belum sudah komentar: “Wah sudah besar, susah ini”. Komentar itu bagi saya adalah komentar orang yang tidak profesional dan kompeten sama sekali.

Pelayanan kesehatan memang sering menggelisahkan sekembalinya kami kemari, layanan untuk anak misalnya selama di Melbourne tersedia nomor hotline yang bisa dihubungi oleh orang tua ketika khawatir kesehatan anak. Petugas di nomor itu selalu simpatik dan memberikan nasehat dengan dasar yang jelas, padahal selain pulsa telepon kami tak perlu membayar biaya lain bahkan kalau kami menelepon dan kebetulan nomor tersebut sedang sibuk tak lama kemudian mereka akan balas menelepon.
Sementara di sini harus datang ke dokter, dokternya telat datang karena masih praktek di lain tempat, sikapnya sering tidak simpatik, jawabannya pun tak selalu memuaskan.

Mengenai sikap sok tahu rata-rata orang di Indonesia memang bukan pengalaman baru. Saya sering ketika ke toko komputer atau bengkel misalnya sengaja menanyakan hal-hal yang sebenarnya saya sudah tahu sekedar untuk menguji jujur tidaknya si penjual.

Dalam keseharian saya sering membiarkan orang lain berceloteh panjang lebar sementara saya hanya senyum-senyum tanpa berkomentar, lagi-lagi saya sekedar ingin melihat kualitas dan kejujuran lawan bicara saya. Dan sayangnya sebagian besar memang mengecewakan.

Biaya hidup murah, privacy mahal harganya bung!

Standar biaya hidup Indonesia memang terbilang mahal dibandingkan Melbourne, untuk hidup layak di Melbourne sebuah keluarga setidaknya harus memiliki penghasilan sekitar A$4000 atau sekitar Rp 40 juta-an. Jelas jumlah dengan pendapatan tersebut orang sudah bisa lebih dari sekedar hidup layak di Indonesia, bahkan di kota kecil Anda bisa hidup mewah.

Tapi jangan salah, ada beberapa hal yang di Indonesia harganya jauh lebih mahal ketimbang di Melbourne. Privacy adalah satu diantaranya!

Ya, di Melbourne orang tidak saling peduli urusan orang lain. Selama Anda tidak mengganggu orang lain maka tak akan ada yang protes atau berkeberatan. Namun jika memang mengganggu maka siap-siap saja ditegur dengan tegas siapapun Anda.

Di Indonesia orang gemar sekali bergosip, entah tua, muda, tingkat pendidikan tinggi maupun rendah, tingkat pendapatan tinggi maupun rendah, faktanya sebagian besar suka bergosip.
Karenanya tak heran jika hal-hal remeh lebih-lebih yang sebenarnya bukan urusan orang lain sudah bisa menjadi bahan cerita yang beredar kemana-mana.

Bukan cuma artis yang jadi korban gosip, siapapun bisa menjadi bahan gosip.

Saya pernah berobat ke dokter gigi yang praktek bersama di dalam satu ruang dengan dua dokter gigi lainnya. Sepanjang mendapat treatment dua dari tiga dokter yang kebetulan ibu-ibu tersebut terus-menerus membicarakan orang lain yang kalau saya tak salah tangkap adalah rekan sejawatnya.
Topik yang dibicarakan pun sangat pribadi seperti istrinya, anaknya dan sebagainya. Sejak itu saya benar-benar kapok ke sana dan pilih ke dokter lain sekalipun tarifnya jauh lebih mahal.

Saya juga terheran-heran karena ada salah satu tetangga yang memang super sibuk jadi jarang-jarang sekali bisa menghadiri pertemuan RT, jarang pula keluar rumah untuk bersosialisasi karena kesibukannya. Itupun sudah bisa jadi bahan gosip, menjadi cerita miring padahal faktanya dia sama sekali tak mengganggu orang lain. Herannya yang sering mengganggu karena membakar sampah, berisik atau buang sampah sembarangan namun rajin bersosialisasi kesana-kemari malah sepi dari gosip maupun teguran…

Keterikatan mayoritas orang Indonesia terhadap gosip selalu membuat saya terheran-heran bahkan jauh sebelum kami tinggal di Melbourne. Entah kenapa orang bisa tertarik menceritakan, membahas atau mendengar kehidupan orang lain. Selain bukan urusannya juga seringkali sudah diembel-embeli persepsi pribadi yang membuat cerita semakin tidak relevan, herannya tak sedikit pula yang tanpa konfirmasi langsung percaya.

Beruntung kami sudah termasuk kebal untuk tidak lagi mendengar celotehan orang tidak jelas bahkan sebelum tinggal di Melbourne, dan kini lebih terlatih lagi meski masih sering geli melihat polah tingkah konyol para penggosip dan penikmatnya.

Setelah setahun tidak pernah diganggu oleh iklan-iklan di ponsel yang kebanyakan bekerja sama dengan operator selular kami juga awalnya sempat kaget karena ponsel sering berbunyi yang isinya tak lebih dari sekedar penawaran-penawaran. Lucu sebenarnya karena berlangganan layanan operator selular tertentu konsumen sudah membayar, kok bisa-bisanya masih dikirimi SMS penawaran-penawaran macam-macam. Bagi saya ini adalah praktek kampanye pemasaran yang sama sekali tidak beretika bukan hanya karena mengganggu dari segi waktu yang tak jarang mengganggu istirahat di malam hari namun juga mengganggu saat pengguna menunggu berita penting dari kerabat atau teman misalnya.

Penipuan-penipuan via SMS yang dilakukan oleh orang-orang tak bermartabat juga tak kalah mengganggunya. Dengan cara-cara dan kalimat lugu para pelaku yang bagi saya adalah pecundang ini berharap menemukan korban yang pastinya lebih bodoh dari dirinya.

Hal-hal macam itu, baik iklan maupun penipuan via SMS jelas tak pernah kami temukan selama di Melbourne.
Kebiasaan orang di sini yang kalau mau datang berkunjung langsung datang juga terasa kurang nyaman, sebab selama di sana biasanya orang menelepon seminggu sebelumnya atau jika memang mendadak beberapa jam sebelumnya jika hendak berkunjung.

Mungkin praktik ini tidak lazin di Indonesia namun menurut saya sangat berguna sebab akan menguntungkan kedua belah pihak. Bagi tamu menghindari kemungkinan pemilik rumah sedang pergi, bagi pemilik rumah jelas tidak akan dibuat terkejut misalnya tengah melakukan kesibukan atau terganggu waktunya bersama keluarga.

Untung beberapa kenalan kami sudah cukup banyak yang melakukan praktik semacam ini, meski masih ada beberapa lainnya yang sering membuat kami terkejut karena tiba-tiba mengetuk pintu rumah ketika kami tidak menantikan siapa-siapa.

Kalau memang teman dekat dan kerabat dekat tentulah tak masalah bagi kami. Dan masih mending kalau yang datang kerabat atau kenalan, tak jarang juga salesman atau peminta sumbangan tak jelas tiba mengetuk pintu rumah dengan pede-nya. Kalau ini bahkan sebelum tinggal ke Melbourne pun saya sering dibuat naik pitam karena ulah macam ini.

Di Melbourne jika seorang salesman mengetuk pintu tanpa membuat janji sudah dianggap melanggar hukum, pemilik rumah bisa langsung menelepon polisi jika memang tidak ingin berususan dengan hal-hal semacam ini. Dan Polisi di sana dengan sangat profesional siap melayani masyarakat, bukan justru menjadikan urusan lebih repot seperti umumnya polisi di negara-negara dunia ketiga, tidak semua personil tentu saja.

Perilaku sebagian besar orang Indonesia yang gumunan sering kali juga tak kalah menjengkelkannya. Di Melbourne orang tidak akan mencampuri urusan orang lain selama tidak saling mengganggu. Di Indonesia tingkah anak kecil yang ada kalanya rewel, atau bahkan orang yang memiliki cacat pun bisa menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitarnya. Yah harus diterima bahwa memang beda tingkat peradabannya.

Tak Percaya Diri

Mentalitas tidak percaya diri menjadi bagian yang sulit dilepaskan dari masyarakat Indonesia. Ada banyak kasus, salah satunya adalah kegemaran menambahkan gelar atau titel ketika menuliskan nama. Penggunaan gelar atau titel pada hal-hal yang terkait langsung dengan titel atau gelarnya tentu sah-sah saja tapi lucunya ketika menulis nama untuk keperluan yang tak ada hubungannya dengan gelar dan titelnya ternyata sulit bagi banyak orang di Indonesia untuk meninggalkan embel-embel tersebut. Praktek macam ini tak pernah saya temukan selama di Melbourne. Bahkan selain akademisi dalam lingkungan kerjapun jarang saya temukan orang menggunakan titel ketika menulis namanya.

Pernah saya baca salah satu tulisan yang sayang saya lupa judul bukunya karena sudah bertahun-tahun lalu, menurut si penulis buku kebiasaan orang Indonesia menulis titel dan gelar adalah salah satu bentuk warisan tidak percaya diri yang diwariskan oleh penjajah. Ya, saya rasanya sependapat dengan pemikiran tersebut.

Terkait ketidakpercayaan diri ini ada hal-hal lainnnya yang secara tak disadari mewarnai kehidupan keseharian. Ambil contoh dalam suatu lingkungan entah tempat tinggal ataupun kantor sering masyarakat menilai orang yang tidak banyak menghabiskan waktu dengan teman atau tetangganya dianggap sombong. Padahal setiap orang tentu memiliki preferensi masing-masing, tidak selalu jika seseorang memilih tidak menghabiskan waktu bersama teman atau tetangganya yang bersangkutan merasa lebih baik dari yang lain. Rasa tidak percaya dirilah yang menyebabkan orang susah menerima preferensi dan perbedaan tersebut.

Satu lagi yang saya pelajari, sering kita mendengar berita adanya perkelahian yang berujung pada bentrok massa hanya diawali dengan hal sepele: saling menatap! Ya memang sekonyol itu, sampai kini pun saya selalu terheran-heran dengan fenomena tersebut. Padahal namanya orang hidup wajar saja kalau di jalan tidak sengaja saling menatap.
Selama di Melbourne karena orang cenderung menghargai privacy orang lain maka ketika berjalan kebanyakan orang menunduk ketika bersimpangan, namun ketika secara tidak sengaja saling berpandangan umumnya saling melempar senyum satu sama lain meski tidak saling mengenal.

Tidak mudah memang menghadapi orang yang tidak memiliki rasa percaya diri dan nyaman dengan diri sendiri, sering perilaku dan reaksinya bertolak belakang dari logika. Manifestasi untuk menutupinya lantas jadi aneh-aneh seperti bersikap agresif yang berlebihan dan sebenarnya hanya layak dipertontonkan oleh binatang liar di hutan, menumpuk harta, mengejar jabatan, mengarang cerita, mendramatisir keadaan dan sebagainya yang pada akhirnya juga tidak menjadi solusi atas rasa rendah diri yang dimiliki.

Pejalan kaki mendahulukan kendaraan

Berbeda dengan di Melbourne dimana pejalan kaki selalu didahulukan, di Indonesia justru sebaliknya. Jalanan di Indonesia nampak sekali didesain untuk kendaraan bukan pejalan kaki. Berjalan kaki di Indonesia terus terang membawa kesengsaraan, trotoar tidak rata, bertrap-trap, sempit, tidak saling terhubung dengan penyeberangan yang memadai belum lagi di tempat-tempat tertentu dikuasai pedagang kaki lima.
Ketika hendak menyebarang di zebra cross pun pengemudi kendaraan roda dua maupun empat dengan idiotnya bersikap tak peduli, tak mengurangi kecepatan.

Di Melbourne jalanan diutamakan untuk pejalan kaki, logika mereka bahwa pemilik kendaraan sekalipun pada satu saat pasti akan berjalan kaki sehingga kepentingan terbanyak tentulah kepentingan pejalan kaki. Trotoar di sana landai, antar trotoar disediakan lampu bagi penyeberang jalan, berpindah trotoar juga bukan dengan cara naik turun trap-trapan seperti di sini yang bukan hanya tidak ramah bagi anak-anak dan orang lanjut usia namun lebih-lebih bagi pengguna kursi roda misalnya.

Setiap ada pejalan kaki yang hendak menyeberang di zebra cross semua kendaraan langsung berhenti memberi jalan, bahkan jika penyeberang cukup banyak sekalipun mobil-mobil dan motor tidak berkeberatan menunggu.

Tak heran jika di Melbourne mereka yang lanjut usia maupun lumpuh sekalipun masih bisa menikmati bepergian sendiri baik berbelanja maupun sekedar berjalan-jalan karena desain kotanya lebih baik dan perilaku pengemudi kendaraan maupun sesama pejalan kaki jauh lebih terhormat dan beradab.

Ketika mengemudi di jalan pun selama di Melbourne kita bisa yakin hampir 100% mengenai apa yang hendak dilakukan oleh pengemudi di sekitar kita. Jika dia menghidupkan sein ke kanan berarti memang ia hendak berbelok ke kanan, jika ia menyalakan sein kiri berarti ia memang hendak berbelok ke kiri.
Di Indonesia sein bukan patokan, kadang orang berbelok langsung berbelok, kadang pula sein tidak dimatikan meski sudah berbelok berkilo-kilometer yang lalu.

Kegemaran orang Indonesia menggunakan klakson bagi saya pribadi adalah bentuk lain dari sikap primitif dan tidak sopan. Jika tidak terpaksa pengemudi di Melbourne tidak akan membunyikan klakson, sebaliknya di sini kadang tidak ada alasan apapun sudah membunyikan klakson. Bahkan tak jarang orang tua menjadikan klakson sebagai mainan bagi anaknya.

Melanggar rambu-rambu juga seperti hal biasa bagi sebagian besar orang Indonesia. Di Melbourne orang yang tidak sengaja melakukan kesalahan umumnya bersikap malu dan meminta maaf. Di sini pelanggar justru kadang bersikap sok jago atau ada juga yang bersikap cuek seolah tak melakukan kesalahan apapun. Lagi-lagi…tingkat peradabannya beda!

Makanan oh makanan….

Berbelanja di supermarket ternyata tidak menjamin keamanan makanan atau bahan makanan yang dibeli. Selama di sini kami mendapati beberapa kali makanan yang tanggalnya sudah kedaluwarsa, untung kami meneliti sebelum membeli.

Bukan hanya itu pernah suatu ketika saya mengantar istri berbelanja di sebuah swalayan yang cukup ternama di kota kami, alangkah terkejutnya ketika mendapati mesin pendingin ternyata tengah dimatikan dengan berbagai makanan beku di dalamnya yang tentu saja sudah tidak beku lagi. Belum lagi ada kucing yang keluar masuk toko. Melihat kondisi itu kami lantas mengurungkan berbelanja di tempat itu padahal dulu di sanalah kami selalu berbelanja kebutuhan bulanan.

Pengamen vs. Buskers

Pengamen sebenarnya bukan hanya ada di Indonesia, di Melbourne mereka sering disebut buskers.
Meski hakekatnya sama-sama orang yang perform di depan publik kemudian menerima uang recehan, namun mental dan perilakunya jauh berbeda.

Buskers di Melbourne memerlukan ijin dari Pemkot setempat, dalam ijin itu antara lain tertera spot dimana mereka boleh melakukan pertunjukan. Jadi bukan hanya tidak sembarangan namun juga tidak ada perebutan area antar busker ini.

Dalam melakukan pertunjukan pun mereka tak asal-asalan namun serius mempersiapkan diri. Lagu-lagu yang mereka bawakan enak didengar, lebih-lebih di sore hari di sekitar Bourke Street Mall sambil minum kopi. Penjalan kaki tak berkeberatan berhenti sejenak untuk memberikan recehan dan menikmati lagu yang mereka lantunkan karena memang sangat menghibur. Sumber pendapatan mereka juga bukan sekedar dari recehan yang diberikan para penonton namun mereka juga menjual lagu-lagu mereka dalam bentuk rekaman CD.

Secara berkala pemerintah kota setempat juga mengadakan semacam kompetisi antar para busker ini yang tentu dipisahkan dalam beberapa bentuk kategori karena tidak semua adalah penyanyi namun ada juga yang penari, sulap dan sebagainya.

Sebaliknya di Indonesia sekali kita makan di warung makan saja sudah minimal lima pengamen yang muncul minta recehan, perform-nya pun asal-asalan.
Pengamen yang dari rumah ke rumah pun sama saja, pagi hari sebelum jam kantor dan sore hari setelah jam kantor selalu ada saja yang mengamen, ada yang lagunya itu-itu saja ada yang bahkan tidak bernyanyi dan tidak membawa alat musik hanya tepuk tangan saja.

Apa yang mereka jual? Apa yang mereka tawarkan? Yah faktanya memang susah mengubah mental yang melakukan sesuatu sekedar dimotivasi oleh imbalan semata. Jangankan pengamen, pegawai, pedagang dan sebagainya pun banyak yang mentalnya sama saja tidak mau mengusahakan melaksanakan pekerjaan dengan maksimal namun mengharapkan hasil. Kalau begini saja bisa kenapa repot? Kurang lebih begitu yang saya rasakan mengenai kebanyakan pekerja di sini.

Kalau alasannya kondisi ekonomi… ah alasan klasik bagi saya cuma pemalas yang menggunakan kondisi itu sebagai alasan!

Lingkungan Ideal untuk Anak

Saya melihat bahwa Melbourne adalah tempat yang ideal untuk membesarkan anak, selain alasan fasilitas kesehatan seperti sudah saya sebut sebelumnya hal lain adalah sikap orang dewasa yang menjaga perilakunya di hadapan anak-anak.

Pernah suatu ketika kami berjalan-jalan sore dengan sebuah keluarga muda di depan kami, pasangan suami-istri dan kedua anaknya yang masih usia SD menurut saya. Ketika hendak menyeberang lampu penyeberang jalan masih merah, sementara jalanan sepi dari kendaraan. Si anak mengajak orang tuanya menyeberang dengan alasan tidak ada kendaraan lewat sementara si orang tua melarang karena menurut mereka itu tidak benar.

Di seberang jalan seorang dewasa nekat menyeberang, karuan saja si anak memprotes orang tuanya karena dilarang menyeberang sementara ada orang lain yang menyeberang. Mendengar protes di anak orang dewasa yang menyeberang jalan tadi buru-buru mendekat dan menjelaskan pada si anak tadi bahwa tindakannya salah, jangan sampai ditiru. Lantas si penyeberang jalan tadi mendekati orang tua si anak untuk meminta maaf.

Jadi bukan hanya orang tua yang bersangkutan yang menjaga sikap di depan anak namun juga orang dewasa lain yang tidak ada hubungan secara langsung.

Sebaliknya di sini banyak orang tua dan orang dewasa tak jarang menunjukkan perilaku agresif, tak pantas bahkan tak bermoral di depan anak seperti mengajarkan dan memfasilitasi anak merokok misalnya.

Sikap kasar orang tua kepada anaknya baik lewat kata-kata atau bahkan tindakan fisik yang dianggap lumrah di indonesia juga terasa memprihatinkan. Ketika anak terlibat kekerasan lantas banyak pihak sekedar menyalahkan televisi. Padahal sikap orang dewasa di sekitar anak selama masa perkembangannya turut menjadi penentu.

Di Indonesia, harus diakui bahwa sebagian besar orang tua lebih banyak memberi perhatian pada kondisi serta perkembangan fisik anak, sementara aspek psikologisnya kurang diperhatikan. Sebaliknya pengalaman kami memiliki di Melbourne aspek fisik maupun psikologis anak dianggap sama pentingnya. Berbagai sarana, pra sarana termasuk materi-materi yang dibagikan kepada orang tua secara berkala sesuai usia anaknya memberikan bimbingan kepada orang tua mengenai tahapan perkembangan fisik maupun psikologis anak dari usia ke usia sehingga orang tua bisa cepat menyadari jika ada sesuatu pada diri anak yang perlu menjadi perhatian.

Di negara-negara maju banyak profiler yang ketika membuat profil pelaku kejahatan mencoba menelusuri pengalaman traumatis masa kecil dan ternyata memang kondisi traumatis psikologis masa kecil banyak berdampak pada seseorang ketika dewasa, bukan kejahatan saja. Jadi sangat masuk akal jika di negara maju perkembangan psikologis anak sangat diperhatikan. Sementara di Indonesia asalkan anaknya gemuk, nafsu amakan baik, disediakan baby sitter, diikutsertakan dalam berbagai bentuk kursus, bimbel dan sebagainya orang tua sudah merasa melakukan lebih dari cukup.

Selain perilaku hal lain yang menjadikan Melbourne ideal untuk anak adalah ketersediaan ruang terbuka yang terawat dan bisa diakses siapa saja dengan gratis. Taman bermain dan taman-taman lain tersedia hampir di setiap sudut. Anak bisa bermain, mengeksplorasi alam dan bersosialisasi dengan sesamanya secara bebas di bawah pengawasan orang tua masing-masing.

Sementara di sini bisa dibilang tak ada ruang terbuka gratis yang layak diakses anak-anak, bahkan yang berbayar pun juga tidak benar-benar ideal. Bermain di rumput dan berguling-guling adalah hal wajar dilakukan anak-anak di taman-taman yang ada di Melbourne tanpa khawatir ada puntung rokok, kotoran anjing, pecahan kaca dan sampah-sampah lainnya. Sementara di sini hal-hal sepele macam itu bisa beresiko besar karena orang dewasa tidak mampu menjaga lingkungan dengan baik dan bertanggung jawab.

Belum lagi kebiasaan tak lazim orang tua yang seringkali mengadakan perayaan ulang tahun anaknya di restauran cepat saji baik yang berlogo si Kolonel maupun si badut. Praktik ini sangat tak lazim di Melbourne. Orang tua di sana sedapat mungkin menjauhkan anak dari junk food, kalau sampai ada orang tua merayakan ulang tahun anaknya di tempat-tempat seperti KFC atau Mc Donald dan mengundang anak lain sudah pasti akan mendapat protes keras dari para orang tua lainnya.
Sementara di sini yang tidak benar-benar mampu pun sering kali memaksakan diri merayakan ulang tahun anak di restauran cepat saji, demi apa?

Beda Peradaban

Masih banyak lagi keterkejutan-keterkejutan yang masih harus kami terima dalam rangka penyesuaian kembali dengan kondisi di sini. Seperti misalnya kebiasaan banyak orang di sini yang kalau bersin harus disuarakan keras-keras, padahal di Melbourne selain ditutup dengan sapu tangan juga masih diikuti dengan kalimat “Excuse me”.
Bahkan batuk pun di sini bukan hanya tidak ditutup namun tak sedikit yang buang ludah sembarangan.

Pemilik binatang piaraan seperti anjing, kucing dan sebagainya juga berkesan sembarangan dengan membiarkan piaraannya bebas berjalan ke sana kemari masuk ke halaman orang, buang air sembarangan sementara pemiliknya menganggap semua biasa saja. Di Melbourne biantang piaraan wajib diperiksa kesehatannya secara berkala, setiap diajak keluar rumah harus dalam kondisi terikat, Jika terpaksa buang air di luar rumah maka pemiliknya buru-buru membersihkan.

Lucunya lagi-lagi kita sering mengklaim bahwa orang Timur lebih santun dari orang Barat, dalam hal apa? Bagi saya itu hanya sekedar kesombongan dari orang-orang yang tidak mau melakukan evaluasi dan introspeksi terhadap diri sendiri. Kekurangan bukannya diperbaiki namun justru ditutupi dengan sikap arogan.

Kita orang Indonesia juga lebih sering mengumpat ketimbang orang barat dalam hal ini tentu yang dimaksud orang Australia. Selama di sana bisa dibilang kami tak pernah mendengar orang bule mengumpat, umpatan yang kami dengar selama di sana hanyalah orang kurang waras dan orang Asia. Menarik bukan? Orang Asia yang mengaku orang Timur yang sopan nyatanya gemar sekali melempar umpatan dalam berbagai situasi entah bercanda, marah maupun percakapan keseharian. Jadi kata-kata seperti “F…k”, “Sh..t” dan sebagainya yang biasa Anda dengar di televisi faktanya hampir tak pernah ditemukan pada orang waras di sana.

Sementara kita di Indonesia bukankah kata-kata umpatan seperti hal lumrah yang begitu umum diketemukan sehari-hari?

Kalau sopan santun hanya dipandang dari cara berpakaian saja saya pikir itu analisis yang sangat dangkal. Sopan tidaknya pakaian seseorang tergantung pada maksud si pemakai dan orang yang memandangnya, jadi tak bisa menilai begitu saja hanya dari sudut pandang dan opini sendiri. Opinions are like s..t, everyone has one! Di sana orang berjemur topless di pantai saat Summer pun tak ada yang memperhatikan dengan mesum, sementara di sini orang berpakaian rapat pun masih bisa dijadikan objek otak mesum! Jadi jangan bicara gaya berpakaian saja tapi berkaca juga dari moral masing-masing.

Apalagi kalau disebut orang Barat tidak tahu tata krama karena mereka individualis. Faktanya mereka bukan individualis melainkan menghargai privacy orang lain, sebaliknya masyarakat kita bukan benar-benar guyub melainkan hobi bergosip dan alergi perbedaan. Kita menyebut mereka individualis padahal mereka jauh lebih peka secara sosial ketimbang kita orang Timur yang mengaku punya budaya gotong royong.

Jika mau disebut masih banyak lagi yang bisa dibahas dan dibandingkan seperti sikap dan perlakuan orang tua terhadap anak, dimana saya sering menemukan orang tua di Indonesia dengan kasarnya mengancam akan “menghajar” anak kecil ketika mereka rewel, situasi yang tidak pernah kami temukan di Melbourne meski anak di sana tentu dalam usia-usia tersebut juga mengalami rewel dan melakukan kenakalan sama halnya dengan anak di sini dan dimanapun di berbagai belahan dunia ini. Kalau di sana sampai terjadi orang tua mengancam anak apalagi dimuka umum sudah pasti si orang tua akan didatangi oleh pekerja sosial.

Bukan hanya sikap kasar terang-terangan dari orang tua ke anak, saya melihat hubungan antara orang tua dan anak yang sangat berbeda. Di sini orang tua acapkali berposisi memberikan instruksi dan perintah kepada anak, sementara di Melbourne (yang saya jelas perhatikan seksama karena saya ingin banyak belajar) orang tua tidak begitu saja memberi perintah atau instruksi melainkan berwujud sebuah diskusi, memberi pengertian, memberikan alasan di balik nasehat dan tak segan menerima umpan balik dari si anak.

Dalam hal kemandirian pun sebagaimana pernah saya ceritakan pada posting yang lain bahwa orang Indonesia terlalu manja. Contohnya ketika berbelanja kita selalu menuntut dilayani, lebih-lebih jika membeli barang berat kita minta pelayan toko atau sopir memasukkan barang ke mobil, lalu tentu saja pulang dengan mobil. Atau kalau yang tidak punya kendaraan bisa juga minta dikirim ke rumah.

Di Melbourne biaya kirim ke rumah sangat mahal, dan orang di sana sangat mandiri. Melihat dua orang bergotongan membawa televisi atau lemari es di trotoar adalah hal yang umum di sana.

Tak semua di Melbourne lebih baik daripada di Indonesia. Salah satu yang saya anggap di Indonesia lebih baik adalah model penitipan tas di supermarket Indonesia dimana pembeli wajib menitipkan tas ke petugas sebelum masuk ke supermarket. Dengan cara ini karyawan tidak perlu curiga berlebihan.
Di Melbourne tidak ada model semacam ini, pengujung langsung masuk begitu saja tanpa menitipkan tas. Sebagian besar toko sudah melengkapi dengan sistem keamanan memadai namun supermarket tertentu seperti ALDI tidak demikian.
Akibatnya karyawan sering memiliki kecurigaan berlebihan terhadap pengunjung. Kami sempat menjadi korban beberapa kali dan tentu saja melakukan komplain. Meski jengkel namun di sisi lain kami cukup paham sebab memang banyak turis dari China yang datang ke Melbourne, mereka ini selalu dalam rombongan besar, tidak bisa berbahasa Inggris, tidak berusaha memahami aturan dan tata cara setempat dan beberapa kali saya lihat sendiri mengutil di supermarket. Nah kebetulan istri saya mirip secara fisik jadi itulah yang menyulut kecurigaan berlebihan keryawan toko dan supermarket terhadap kami.

Cukup mengherankan memang perilaku turis-turis itu sebab dari penampakannya sebenarnya mereka cukup berduit namun perilakunya menunjukkan bahwa mereka tak cukup beradab. Rasanya itu menguatkan pendapat saya selama ini bahwa uang tidak mengubah pribadi seseorang namun justru memunculkan karakter aslinya.

Bicara soal uang dan kepemilikan harta ada lagi pelajaran positif yang saya pelajari selama di Melbourne. Orang di sana cenderung berpenampilan biasa saja baik dalam berpakaian maupun bersikap dan memperlakukan orang lain apapun latar belakang ekonominya. Mereka yang naik Ferarri, Lamborghini ataupun yang sekedar naik Nissan X-Trail, Honda Jazz, Mazda 3 (tiga yang terakhir termasuk mobil murah di sana) tidak tampak berbeda dalam pergaulan sehari-hari. Memang ada yang penampilan dan sikapnya mencolok namun jumlahnya tak banyak dan sebagian besar justru adalah orang Asia yang sudah mendapat status penduduk tetap di sana atau bahkan beralih kewarganegaraan.

Sikap yang demikian jelas membawa dampak besar dalam keseharian, contohnya mereka di sana tak memandang hal-hal artificial seperti uang, pendidikan, status sosial dan lainnya sebagai tolok ukur untuk menghargai atau tidak menghargai orang lain. Mereka lebih lugas, lebih jujur dalam memperlakukan, memberi penilaian dan menyampaikan pendapat. Orang di sana lebih menilai individu dari kualitas pribadinya ketimbang hal-hal artifisial tersebut. Heran bukan bahwa sikap demikian justru bisa ditunjukkan oleh orang-orang yang mayoritas tidak percaya adanya Tuhan?

Sementara di Indonesia hal-hal artifisial itu masih sering dijadikan patokan, maka jangan heran jika orang yang bukan siapa-siapa rela berhutang untuk menjadi caleg misalnya. Tujuannya tak lain agar status sosialnya terangkat, bisa memupuk harta, lebih dihargai pendapatnya meski setelah jadi anggota dewan atau pejabat perilaku dan kualitas aslinya juga tidak membaik.

Bukan cuma yang mengincar jabatan, yang sekedar mengincar kekayaan juga sama saja perilakunya. Dipikir kalau sudah punya banyak harta sudah bisa bertindak semau-maunya. Lagi-lagi seperti saya bilang, karakter asli entah baik atau buruk akan makin menonjol ketika seseorang memiliki kekayaan atau jabatan.

Saya pikir kondisi tersebut menjadi salah satu alasan kenapa korupsi adalah hal yang umum dilakukan di Indonesia sementara di Australia merupakan kejadian super luar biasa.

Sekali lagi memang banyak perbedaan yang mencolok, namun bagi kami pelajarannya adalah bahwa kami memiliki kesempatan untuk mengalami hal-hal tersebut yang menjadikan kami lebih bisa melihat mana yang baik mana yang tidak. Ketika berbicara dengan teman-teman di Indonesia pun sebenarnya banyak dari mereka yang berharap kondisi Indonesia yang lebih baik, meski menurut kami takkan terjadi hingga puluhan tahun ke depan mengingat banyak hal baik di Melbourne terjadi karena kesadaran individu sementara di Indonesia mayoritas individu lebih menggantungkan pada peraturan, pemerintah dan sebagainya. Namun setidaknya dengan melihat apa yang lebih baik kami bisa mempertahankan secara individu tanpa terpengaruh fakta bahwa sebagian besar orang memilih status quo.

Tentu kami masih menyadari bahwa kami adalah Warga Negara Indonesia, dan kami tetap mencintai negara ini, bukan Indonesia-nya yang susah diterima melainkan kebiasan-kebiasan serta perilaku negatif. Melawan atau menentang kebiasan-kebiasaan tersebut tentulah tidak mungkin, karena faktanya mayoritas masyarakat di Indonesia juga tidak merasa ada yang perlu dibenahi dari perilaku serta kebiasannya. Namun demikian bukan berarti lantas kami juga akan menurunkan standar denganmengikuti perilaku dan kebiasan negatif tersebut, yang bisa dilakukan adalah rileks dan mencoba menerima kondisi tersebut tanpa harus menjadi bagian diantaranya.

Jangan salah artikan bahwa kami tidak cinta tanah air… sama sekali bukan! Yang mengganggu ada sikap serta kebiasaan negatif terkait etos kerja, sikap saling menghargai, toleransi, ignorant disiplin serta kesadaran diri dalam menjaga ketertiban demi kepentingan bersama.

Sakit hati dengan tulisan ini? Ya dimana-mana kritik memang menyakitkan, makanya kalau tidak mau kena kritik biasakan evaluasi diri ok