Ketika Surat Cinta itu Tiba…

Hari ini tepat tiga minggu sejak saya menerima sebuah surat cinta. Kebersamaan semenjak akhir tahun 2009 itu akhirnya harus berakhir dengan kehadiran surat cinta tersebut. Meski banyak orang sudah mengalaminya namun jujur saja tak pernah saya membayangkan kejadian ini bakal saya alami. Terlebih setelah kebersamaan kurang lebih selama lima tahun.

Well, I’m a married man! Jadi surat cinta yang saya maksud tentu saja bukan surat cinta yang umum dimaksud kebanyakan orang. Surat cinta yang saya maksudkan adalah surat elektronik (e-mail) dari Amazon tentang akun saya yang ditutup sepihak alias banned. Terminologi atau lebih tepatnya slang ini cukup umum digunakan oleh teman-teman seprofesi (Internet Marketer) yang menerima surat serupa.

Awalnya tentu terasa berat bagi saya, mengingat profesi sebagai publisher Amazon selama ini merupakan pekerjaan sekaligus pendapatan utama. Bahkan ketika notifikasi itu diterima hanya berselang beberapa minggu sebelum saya menerima pendapatan yang sudah dinanti-nantikan. Jumlahnya pun bagi keluarga kami tidaklah sedikit, dan itu adalah hasil kerja keras siang-malam. Itupun masih ditambah dengan pembayaran via cek sebelumnya yang hingga saat itu belum tiba dan saya tidak tahu apakah ketika tiba cek tersebut masih bisa dicairkan atau tidak. Begitu pula dengan pendapatan berjalan yang jumlahnya hingga sehari sebelumnya sama sekali tidak sedikit bagi kami.

Lebih-lebih sebelumnya saya dan istri sudah membicarakan banyak hal terkait rencana-rencana kami seperti mempertimbangkan antara membeli mobil baru atau rumah.

Hari-hari setelahnya terasa berat, seperti biasa saya menyibukkan diri dengan pekerjaan ketika merasa terpukul. Memang saya akui, menyibukkan diri dengan pekerjaan merupakan pelarian saya manakala ada situasi yang belum mampu saya cerna (terima).

Akun Amazon UK yang sejak tahun 2009 belum pernah digunakan akhirnya saya gunakan dengan blog dan domain baru. Asumsi saya Amazon US dan UK dikelola terpisah sehingga pemutusan yang satu tidak berdampak pada yang lain. Saya mulai bangun blog dari awal, perlu kerja keras namun bagaimanapun banyak hal yang sudah saya pelajari selama ini sehingga dalam waktu beberapa hari sudah mendatangkan traffic dan penjualan.

Namun ternyata beberapa hari kemudian setelah balance pada akun tersebut mencapai sekitar GBP 18 tiba-tiba muncul notifikasi bahwa akun tersebut ditutup dengan alasan yang sama. Saya yang kala itu belum mampu menerima kejadian sebelumnya tentu saja makin terpukul.

Mati-matian saya berusaha move-on, berusaha menerima dan merelakan namun faktanya setiap bangun di pagi hari yang pertama kali muncul di kepala saya adalah ingatan adalah beberapa ribu dollar yang raib!

Pada satu sisi saya paham, bahwa pemutusan tersebut murni merupakan salah saya sendiri. Pasalnya Amazon jelas-jelas melarang satu orang memiliki lebih dari satu akun. Dalam kasus saya ada dua akun, satu atas nama saya dengan alamat lama dan yang kedua atas nama istri dengan alamat baru. Sebelumnya aman-aman saja karena akun atas nama istri tidak pernah digunakan, namun beberapa bulan terakhir saya mencoba metode baru dan akun tersebut digunakan sebagai percobaan. Ternyata percobaan ini membawa petaka yang luar biasa.

Seperti sudah disebut, pada satu sisi saya paham atas alasan pihak Amazon memutuskan demikian. Namun di sisi lain, di luar rasional tentu saja saya berat menerima. Apalagi hasil kerja keras saya itu sudah memberikan keuntungan bagi Amazon, namun hak saya berupa komisi dibatalkan padahal pembeli tidak melakukan pembatalan. Jadi di pihak Amazon tidak ada kerugian material apapun sebenarnya kalau mereka tetap membayarkan imbalan hasil kerja keras saya tersebut.

Bagaimanapun juga sesuai perjanjian (TOS) yang disepakati bersama di awal ya memang begitulah aturan mainnya. Suka tidak suka saya harus menerima, dan nge-dumel juga percuma meski kadang melegakan.

Akhirnya saya mulai melupakan Amazon, lebih-lebih pemutusan hubungan dengan publisher sifatnya permanen. Artinya akun baru yang saya buka setelah pemutusan tersebut akan ditutup juga oleh Amazon. Sempat terpikir untuk membeli akun siap pakai atau membuat sendiri yang baru, namun jujur saja kalau sampai kejadian banned lagi saya ragu siap menerimanya secara emosional.

Lebih-lebih sebagai seorang suami dan ayah saya bertanggung jawab untuk segera menemukan sumber penghasilan baru. Memang selain Amazon masih ada penghasilan dari AdSense namun nilainya tak seberapa dibanding Amazon. Entah kenapa sepertinya saya kurang pas dengan PPC, pendapatan perbulan tak seberapa.

Sedangkan Lazada, meski saya termasuk yang melamar untuk menjadi publisher-nya di awal-awal namun selama ini belum serius karena topik blog yang saya miliki kurang pas dengan karakter produk Lazada. Sejak bergabung saya hanya pernah sekali payout dan itupun hanya beberapa ratus ribu rupiah…. bukan dollar!

Maka ketika pada akhirnya saya memutuskan berpindah haluan pikiran saya tercabang antara serius dengan Lazada atau mencari yang lain. Setelah mempertimbangkan beberapa hal akhirnya justru saya pilih serius di Commision Junction (JC) saja.

Alasan sebenarnya sederhana, karena saya pernah cukup berhasil di afiliasi Amazon (menurut standar pribadi tentu saja, bukan standar para master di dalam dan luar sono!), sudah merasa cukup kenal dengan karakter pembeli di US serta punya simpanan beberapa kategori produk yang selama ini menyumbang penjualan tertinggi di Amazon. Beruntung di CJ kategori produk sejenis ada, meski tidak semuanya ada. Setidaknya saya pikir ini cukup layak untuk dicoba.

Ketika saya berpikir keadaan tak bakal menjadi lebih buruk ternyata sejak beberapa hari lalu traffic beberapa blog saya anjlok hingga 50%, otomatis pendapatan dari AdSense pun berkurang drastis. Selidik punya selidik ternyata Google sedang melakukan update yang menurut info dari http://searchengineland.com/panda-update-rolling-204313 kondisi baru akan mulai stabil akhir pekan depan. Artinya selain traffic nge-drop juga ada rasa was-was apakah ketika proses Google dance ini nantinya blog saya bakal kembali stabil, lebih baik atau malah anjlok selamanya.

Tapi kalau memang sesuai penjelasan situs di atas bahwa targetnya adalah blog dengan kualitas konten yang rendah rasanya saya cukup yakin tidak bakal terkena dampak negatif. Artikel di blog-blog tersebut jelas asli karena saya sendiri yang menulisnya dari hasil riset dan pengalaman pribadi. Tapi siapa yang tahu? Jadi rasa was-was tentu saja tetap ada.

Flashback yang Sama Sekali Tidak “Flash”

Apapun hasilnya akhir pekan depan dan bagaimana peruntungan saya dengan CJ masih misteri sampai hari ini. Namun kejadian ini membawa saya mengenang kembali alasan dan kejadian yang membawa saya menjadi full-time internet marketer.

Saya ingat kala itu bisnis off-line yang saya bangun bersama istri, kami geluti dan kami banggakan dengan berat hati harus ditutup. Kala itu kami baru saja pindah ke lokasi yang baru, bangunan yang lebih besar. Namun hanya berselang beberapa minggu setelah bangunan di lokasi baru itu beroperasi tiba-tiba ada kabar tidak mengenakkan dimana supplier utama dan satu-satunya yang ada pilih cabut dari Indonesia karena sesuatu yang tidak terkait dengan penjualan atau kualitas produk.

Padahal saat itu tidak ada produk lain yang mampu menggantikan penjualan dan keuntungan yang diterima. Jeleknya, meski sejak awal saya tahu menggantungkan diri pada satu produk dan satu supplier adalah sebuah kesalahan namun saya terlalu menikmati permintaan terhadap produk itu yang makin meningkat baik di toko maupun internet.

Ketika akhirnya supplier itu cabut dari Indonesia saya kelabakan mencari barang pengganti, dan setelah mencoba bertahan akhirnya dengan berat hati saya pun harus mengaku bangkrut.

Sebagai seorang yang baru menikah tentu kondisi semacam itu sangat memukul. Beberapa usaha yang saya coba juga tak menujukkan hasil hingga pada akhirnya saya bertekad “HARUS” bisa memperoleh penghasilan dari internet. Kenapa internet? Karena pasarnya luas, bidangnya pun bermacam-macam.

Kenapa tidak jadi pegawai? Sudah pernah, dan sudah cukup bagi saya untuk tahu passion saya tidak di situ. Jadi berpindah haluan menjadi orang kantoran jelas bukan opsi saat itu dan selamanya bagi saya. Sebagai orang yang menikmati kebebasan imajinasi dan selalu ingin mengimplementasikannya secara nyata kehidupan sebagai pegawai terasa sangat mengekang bagi saya.

Tapi… kala itu saya masih buta soal IM. Bahkan blog yang bisa saya buatpun hanya dengan Blogspot, itupun saya belum paham arti penggunaan istilah “niche” di dunia IM (baca: /niCH/ BUKAN /nīs/) . Saya sudah akrab dengan istilah “niche” di pemasaran karena latar belakang pendidikan formal saya. Jika di dunia pemasaran “niche” digunakan untuk menyebut ceruk pasar baru yang sempit, tertarget namun menguntungkan dan belum dilirik oleh pemain lain, ternyata saya mendapati makna “niche” di dunia IM ternyata lebih luas dari itu.

Meski di tahun itu saya baru benar-benar meniatkan untuk serius berbisnis di dunia maya namun sebenarnya saya pernah sekedar coba-coba di tahun-tahun sebelumnya. Dan kala itu saya banyak terjebak dengan bisnis internet yang sebenarnya tak lebih dari bisnis MLM. Maka ketika tahun 2009 saya ingin all-out saya menghindari jauh-jauh iming-iming pendapatan wow yang ujung-ujungnya tak lebih dari bisnis referral membership dengan disertai produk-produk E-book yang maaf saja terus terang bagi saya tak lebih dari sampah.

Lucunya mereka yang menjual e-book dan membership sampah itu berasal dari berbagai kalangan, mulai dari yang pendidikannya tidak jelas hingga yang jelas-jelas adalah pendidik. Ketika bicara uang memang etika acapkali dikesampingkan. Jika tertarik silakan baca artikel mengenai “Uang dan Makna Hidup” serta perenungan saya di sini.

Kembali ke awal-awal saya terjun serius di tahun 2009-2010, kala itu saya harus Googling hanya untuk menemukan istilah-istilah teknis di dunia IM maupun blogging. Bagaimana cara membuat blog WP pun saya Googling dulu ke beberapa web untuk menemukan step-by-step nya, itupun dilanjutkan Googling untuk memahami istilah-istilah yang saya tidak mengerti. Ilmu yang paling banyak saya dapat tentu saja dari forum Ads ID lebih-lebih kala itu banyak sekali senior yang literally mau berbagi ilmu walau acapkali waktu itu otak saya belum cukup mampu memahami hal-hal yang beliau-beliau ini bagikan.

Jadi… kalau sekarang di forum, group atau pun ketemuan secara langsung ada yang tanya-tanya hal-hal yang sebenarnya sudah sangat mudah dicari di berbagai forum atau group lantas saya tidak mau menjawab ya harap dipahami. Bagi saya keseriusan seseorang dimulai dari hal-hal seperti itu, kalau sedikit-sedikit nggampang-ke dengan bertanya padahal bisa diriset sendiri ya sudah kelihatan sejauh mana yang bersangkutan bakal bertahan menghadapi kesulitan nantinya. Apakagi kalau baru menemui istilah-istilah yang masih terasa asing untuk yang bersangkutan saja sudah menganggapnya sebagai penghalang, sikap cengeng semacam itu jelas sebuah awalan yang buruk.

Itu tidak hanya berlaku di dunia IM, dalam bisnis lain bahkan kehidupan keseharian pun prinsip saya tetap sama.
Malu bertanya sesat di jalan, memang benar. Tapi kalau orang kemudian nggampangke dengan tanya sana-sini, tidak mau mencari, tidak mau membaca, apalagi riset kecil-kecilan itu namanya pemalas, tidak punya determinasi, tidak punya ketekunan. Jadi apa yang mau diharapkan?

Saya sendiri mengalami beberapa kejadian tidak menyenangkan yang pastinya juga pernah dialami oleh rekan-rekan seprofesi. Dulu saya dengan semangat dan senang hati mengajarkan apa yang saya tahu dengan cuma-cuma, baik cara bikin blog, riset KW, menulis artikel dan sebagainya. Namun… dari sekian banyak yang minta diajari ternyata tak satupun yang serius! Waktu yang saya berikan dan ilmu yang saya dapat dengan tidak mudah serta tidak singkat disia-siakan! Tak satupun dari mereka yang menggeluti dunia IM, bahkan sekedar nge-blog pun tidak.

Berarti saya tidak rela dong? Ya iya! Itu saya akui, karena apapun kalau saya mau mengajar artinya saya memiliki ekspektasi tertentu. Jika ekspektasi itu dianggap bentuk ketidakrelaan ya silakan, tapi siapapun yang ingin membagikan ilmunya saya rasa punya ekspektasi juga. Dan kalau yang membagi maupun yang dibagi tidak punya ekspektasi berarti ada sesuatu yang tidak benar di sini.

Saya toh mengajar bukan sebagai orang tua, saya menempatkan diri saya sebagai orang yang berbagi. Kalau saya menempatkan diri sebagai orang tua yang sudah barang tentu saya tidak berharap apa-apa karena memang sudah kewajibannya. Tapi kalau sebagai pengajar saya tidak punya ekspektasi ya namanya saya pengajar yang buruk. Jadi kalau sekarang saya suka malas berbagi ya sekali lagi harap maklum… tapi saya tidak menutup diri kok, pada orang-orang tertentu yang kelihatan serius saya justru menawarkan diri.

Bahkan saya juga masih berbagi pengalaman di beberapa group yang kadang beberapa orang masih menganggap tidak membuka rahasia sepenuhnya. Ya sudahlah, namanya juga penggemar teori konspirasi… Kalau ada pertanyaan yang perlu dijawab ya saya jawab, tapi sekali lagi kalau pertanyaannya mendasar sekali dan bisa dicari sendiri saya cuekin saja.

Saya paham kok sebenarnya perasaan dan keputus-asaan seorang yang baru saja terjun ke dunia IM. Mereka melihat SS penghasilan orang-orang yang sudah terjun terlebih dahulu begitu wow, lalu dia sendiri merasa sudah mati-matian tanpa hasil. Sungguh saya paham, karena saya pernah juga dalam kondisi itu.

Pada kondisi itu kadang kita berharap ada satu orang saja yang mau dan bersedia mengajarkan step-step-nya hingga bisa mencapai pendapatan segedhe itu. Atau minimal payout-lah.

Tapi ada banyak alasan kenapa sulit menemukan orang yang mau mengajarkan dan menunjukkan jalan kepada Anda. Selama ini yang beredar adalah takut disaingi. Mungkin benar, tapi ada ribuan alasan lain juga. Saya sendiri tidak takut disaingi, rejeki toh sudah ada yang mengatur, tidak akan salah alamat.

Keseriusan seseorang adalah salah satunya, dan tentu saja soal ini penilaian saya pasti subjektif. Selanjutnya adalah beban, jangan dianggap mengajari seseorang itu tidak memberi beban. Siapapun yang minta diajari pasti juga punya ekspektasi kan? Nah ekspektasi itu adalah beban bagi yang membagi ilmu!

Kadang juga sebenarnya ilmu itu sudah di-share, gratis, gamblang tapi yang menerimanya saja belum siap. Seperti dulu ketika saya awal-awal gabung di forum ADS ID, banyak senior yang gamblang membagi ilmu tapi saya belum berhasil dapat duit juga dari internet? Kenapa? Ya seperti sudah saya bilang, frekuensi saya belum nyambung, belum nyandak. Jadi jangan semata-mata menyalahkan orang lain kalau kitanya belum berhasil, evaluasi diri dulu.

Satu hal penting juga yang harus dipahami bahwa sebuah teknik pada akhirnya akan berada dalam kondisi saturated, semakin tinggi frekuensi serta kuantitas penggunaannya maka akan makin cepat pula kondisi itu terjadi. Jadi wajar jika seseorang menyembunyikan suatu teknik yang ia peroleh dengan riset serta trial and error yang sudah pasti tidak singkat dan tidak murah. Walau demikian ada hal-hal yang bisa dibagikan dan itu masih relevan serta bermanfaat jika memang yang menerima mau mengaplikasikan, syukur-syukur memodifikasi dan mengembangkan untuk menjadi tekniknya sendiri.

Selain itu kalau saya pribadi meluangkan waktu juga tidak mudah, pekerjaan saya sendiri sudah menyita waktu dan anak kami yang masih balita butuh perhatian, tentu juga ibunya ok .

Dan sebenarnya saya sendiri juga masih belajar dan harus terus belajar, jadi memang alokasi waktunya harus bijak.

Lessons of Life

Bagian ini di skip saja kalau sudah bosan, karena tidak ada hubungan langsung juga dengan dunia IM, meski tetap  ada hubungannya.

Halangan lain yang biasa ditemui oleh mereka yang baru saja memutuskan untuk terjun ke dunia IM atau bahkan sudah sekian saat berkecimpung di dalamnya adalah kekhawatiran mengenai pandangan orang. Mereka bingung bagaimana memberi jawaban ketika ditanya kerja apa.

Semua yang terjun ke dalam dunia IM pasti mengalami itu, jawaban apa yang paling tepat tentu berserah pada masing-masing. Tapi kalau saya sendiri terus terang tidak peduli, tidak ambil pusing dengan hal-hal remeh macam itu. Saya jawab apa adanya, kalau orang paham ya syukur, kalau tidak paham tapi punya niat untuk mengerti profesi ini ya saya jelaskan, tapi kalau tidak paham namun berlagak paham ya mending saya diam dan tersenyum saja. Untuk apa buang-buang energi untuk hal-hal seperti itu, masih banyak hal produktif kok yang bisa dilakukan.

Lantas bagaimana dengan anggapan masyarakat? Ya terserah saja, setiap orang bebas punya pendapat kok, tapi saya pun punya hak untuk tidak mendengarkan. Bagi saya yang penting adalah saya bekerja dan memberi nafkah bagi keluarga. Bahwa hingga kini IM belum diakui sebagai sebuah pekerjaan memang apa peduli saya? Yang namanya pekerjaan itu adalah kita melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain dan memperoleh imbalan karenanya. Jadi terlepas apapun pandangan orang, saya memandang ini adalah juga pekerjaan.

Ada kalanya bahkan saya merasa bahwa yang saya berikan lewat tulisan-tulisan saya di blog-blog dimana saya memperoleh penghasilan itu atau lainnya lebih besar manfaatnya ketimbang upah yang saya terima. Jadi apa yang perlu diperdebatkan lagi?

Saya sendiri sampai sekarang sadar bahwa tak sedikit orang-orang di sekitar baik dalam lingkup keluarga maupun tetangga yang menganggap saya pengangguran dan hanya nunut gaji istri. Kebetulan istri saya adalah dosen, jadi d mata masyarakat primitif tentu dianggap lebih terhormat dan menghiduoi ketimbang saya yang “pengangguran” di mata mereka. Tapi sekali lagi… sungguh saya tak ambil pusing. Saya pilih menggunakan waktu untuk belajar, bekerja, bereksperimen dan meluangkan waktu bersama keluarga ketimbang memusingkan persepsi orang yang acapkali juga memang lebih suka mengurusi hal-hal yang tak dipahami ketimbang mengurus dirinya sendiri.

Kalau Anda termasuk yang masih memusingkan hal-hal tersebut mungkin baiknya Anda meninjau ulang keputusan Anda terjuan ke dunia IM. Mungkin dunia ini memang bukan untuk Anda. Selain itu perlu dipegang dan dipahami bahwa tak ada seorang yang ahli dalam hal tertentu karena melakukannya untuk orang lain. Jadi kalau Anda ingin menguasai bidang tertentu pastikan Anda melakukannya untuk diri sendiri, bukan demi memenuhi ekspektasi orang lain.

People too weak to follow their own dreams will always try to discourage yours.

Belajar dari pengalaman saya dimana dalam kehidupan ini saya mengalami naik-turun dalam banyak hal, pun demikian dengan istri saya.

Tapi tentu setiap orang menerima dan menghadapi pelajaran hidup secara berbeda. Jika naik-turunnya kehidupan membuat istri saya menjadi pribadi yang lebih berempati dan mudah memaafkan, tidak demikian halnya dengan saya.

Ya… saya tentu berempati dengan orang yang mengalami kemalangan apapun itu. Tapi empati saya terbatas pada kondisi-kondisi dimana yang bersangkutan berada posisi yang tidak memungkinkannya untuk menghindari, mengatasi atau mengantisipasi. Sebaliknya jika menurut saya kondisi tidak menguntungkan yang dialami oleh seseorang akibat kesalahan yang sebenarnya disadari namun tetap saja dilakukan, atau lebih parah justru menyalahkan orang lain dan lari ke hal-hal yang aneh, menyakiti orang lain maka dalam kasus itu saya sama sekali tidak bisa berempati.

Saya sendiri maupun bersama istri mengalami banyak hal yang bagi sebagian orang mungkin tidak terbayangkan. Selama itu teman setia dan tempat curhat satu-satunya adalah Tuhan dan istri. Saya tidak mengeluh ataupun meminta tolong pada siapapun selain Tuhan, bahkan bercerita pun tidak. Apalagi lari ke hal-hal aneh dan hiburan tidak sehat.
Jadi ketika saya menemukan seseorang jatuh karena pilihannya sendiri, keengganannya untuk bersikap tegar dan produktif, sengaja menjerumuskan diri sudah pasti rasa empati itu takkan pernah datang dalam diri saya untuk yang bersangkutan.

Jika di grup, forum, maupun keseharian orang mengeluh hal-hal yang itu-itu saja, atau hal-hal yang sebenarnya dengan niat bisa diatasi, jangan harap saya akan pernah bersimpati.
Mungkin saya akan dianggap arogan dan keras kepala bagi sebagian orang, namun saya punya cukup alasan di balik sikap tersebut berdasar pengalaman dan tempaan hidup yang tak seorangpun selain istri saya dan tentu saja Tuhan tahu akan hal itu. Dan dari pengalaman serta tempaan hidup itulah prinsip-prinsip yang saat ini saya pegang dilahirkan. Saya pun paham bahwa tak sedikit orang yang bisa membedakan antara keras kepala dengan memiliki prinsip.

Terlepas daripada itu, pelajaran hidup lain yang saya pelajari adalah bahwa dalam situasi apapun entah menguntungkan entah tidak di mata kita sebagai manusia sebenarnya Tuhan punya rencana.
Dulu saya berpikir bahwa untuk bisa memberi nasehat, teguran ataupun berbagi seseorang harus sudah sukses dulu secara material setidaknya.

Namun pengalaman hidup ternyata mengajarkan saya sebaliknya, Tuhan ingin kita memuliakan Nya dan menerima tugas dari Nya persis di dalam kondisi dan tempat kita berada. Sebagai manusia tentulah kita ingin berbagi atau memberi nasehat saat orang sudah melihat kita pada kondisi sukses dalam ukuran manusia. Mungkin dengan demikian kita merasa kita bakal lebih didengar, atau apa yang kita bagikan lebih dianggap berharga.

Sekali lagi ternyata menurut saya bukan itu kehendak Tuhan. Karena faktanya saat kita dalam kondisi yang tidak baik (menurut takaran manusia) pun kita diperhadapkan pada kondisi-kondisi dimana hati kita tergerak untuk berbagi, memberi nasehat atau bahkan teguran. Jika Tuhan berpandangan seperti manusia maka tentulah kejadian-kejadian dimana kita perlu bertindak itu akan dijauhkan daripada kita tatkala kita berada pada posisi lemah, sekali lagi lemah menurut ukuran manusia.

Jika kita percaya Tuhan punya rencana maka mestinya kita pun percaya bahwa kita berada pada satu tempat, satu keadaan, satu kejadian bukan tanpa kebetulan. Tuhan ingin kita memuliakan Nya, melengkapi rancangan Nya, menjalankan mandat Nya persis pada kondisi dan tempat kita berada saat ini. Bukan besok, bukan juga kemarin.

William Barclay, suatu ketika pernah berkata:

“Seekor ikan di laut mungkin berkata, ‘Bagaimana saya bisa menunjukkan kebijaksaan Tuhan, seandainya saya bisa menyanyi atau memanjat pohon seperti seekor burung.’ Tapi seekor ikan lumba-lumba yang berada di atas pohon tentu menjadi hal yang saat aneh, dan orang tidak akan mengagumi kebijaksaan Tuhan melihat seekor ikan tongkol menyanyi di atas pohon. Namun, jika ikan itu dengan lincah membelah ombak dengan sirip-siripnya, maka ia sangat sesuai berada di tempat tinggalnya. Tulang-tulangnya cocok dengan keadaan di mana ia berada.”

Penggambaran tersebut rasanya cukup tepat bagi kita untuk menyadari bahwa apapun yang kita alami saat ini, semuanya sudah pas dengan rencana Nya. Tinggal pertanyaannya apakah kita bakal menerima dan menjalankan peran kita sesuai rancangan Nya atau kita lebih memilih menghindar dan menempuh jalan kita sendiri.

Kadang sebagai manusia kita bertanya mengapa justru kondisi-kondisi yang mengharuskan kita berbagi, menasehati dan menegur justru terjadi saat hidup kita sendiri tidak dalam kondisi yang menguntungkan atau sukses menurut takaran manusia? Padahal kalau kita kembali mau memahami semuanya tidak ada yang lepas dari rancangan Tuhan sendiri. Jadi muliakanlah Dia di tempat kita berada, “tempat” yang dimaksud tentu saja literally dan not literally.

Sebagai penutup tulisan panjang lebar, pelajaran dan pengalaman hidup saya yang mungkin bagi orang lain tidak ada artinya. Saya ingin sekali berbagi sebuah kutipan dari George Gilder terutama kepada teman-teman sesama IMers dan wirausahawan offline:

Entrepreneur – He casts aside his assurance of 40-hour weeks, leaves the safe cover of tenure and security, and charges across the perilous fields of change and opportunity. If he succeeds, his profits will come not from what he takes from his fellow citizens, but from the value they freely place on the gift of his imagination – George Gilder –

Silakan direnungkan sendiri maknanya, semoga menginspirasi dan membantu Anda menghadapi berbagai tantangan berwirausaha baik di dunia maya maupun dunia nyata yang memang takkan ada hentinya kecuali kita menyerah.