Melampaui Akal Kita

‘Blind Side memang bukan film baru dan sudah dirilis tahun lalu, namun baru hari Minggu kemarin saya menontonnya secara kebetulan. Memang kebetulan sebab film ini menjadi pilihan saya dikarenakan ketika ke sebuah rental film hampir semua film baru sedang disewa.
Di antara beberapa pilihan judul film yang tersisa akhirnya saya pilih film ini meski tak begitu yakin bahwa ceritanya akan menarik karena ber-genre drama, sebuah genre yang tidak menjadi pilihan bagi saya.

Namun ternyata penilaian saya berbalik total ketika menyaksikannya. Film ini merupakan sebuah kisah nyata yang menceritakan kehidupan Michael Oher seorang pemain ternama di NFL (American Football) dari klub Baltimore Ravens.

Di balik kepopuleran dan kesuksesannya di kemudian hari ternyata sejarah kehidupannya di masa lalu tak secemerlang sebagaimana saat ini. Dilahirkan dari seorang ibu yang adalah pecandu obat bius dan ayah yang tak pernah diketahui, Oher hidup sebagai seorang tunawisma yang hanya mengandalkan kebaikan orang-orang untuk menampungnya. Hingga pada suatu ketika penampungnya membawanya ke sebuah sekolah elit yang bersedia menerimanya berkat bantuan sang pelatih football sekolah itu.

Meski sudah diterima namun hidupnya tak lantas menjadi mudah, ketidakmampuannya untuk belajar dengan membaca membuat banyak guru beranggapan bahwa Oher tak dapat ditolong. Belum lagi orang yang selama ini menampungnya tak lagi bersedia menerima Oher di rumahnya.

Secara tak sengaja Oher bertemu dengan keluarga Tuohy ketika dirinya hendak menginap di gym sekolah pada malam hari. Leigh Anne Tuohy merasa iba dan menampungnya di rumah keluarga mereka.

Sejak kehadiran Oher, Leigh Anne merasakan dorongan untuk membantu kehidupan Oher bukan hanya secara finansial namun juga menggali lebih jauh mengenai penyebab keterbelakangan Oher yang pada akhirnya diketahui bahwa meski sulit membaca namun Oher mampu menyerap pelajaran secara verbal.

Singkat cerita Oher bahkan diadopsi secara resmi oleh keluarga Tuohy dan berkat bantuan keluarga itu pula Oher menemukan potensinya sebagai pemain football. Tidak sesimple itu sebenarnya perjalanan cerita biografi Oher dalam film ini, Anda bisa menyaksikan sendiri melalui DVD yang sudah lama beredar.

Yang hendak saya ceritakan di sini adalah pesan dari cerita kisah nyata ini yang begitu mendalam. Keluarga Tuohy adalah keluarga yang berkelimpahan secara ekonomi, Sean Tuohy sang ayah adalah pemilik restoran waralaba sukses sekaligus komentator olah raga sedangkan Leigh Anne istrinya seorang perancang yang sukses pula. Bukan hanya secara finansial mereka sangat mapan namun hubungan di dalam keluarga itu sendiri juga sangat harmonis.

Oher di sisi lain kehidupannya sangat miris, tanpa bimbingan orang tua, tidak memiliki dukungan finansial dan bahkan selain satu setel pakaian yang dikenakan ‘hartany’ adalah sebuah t-shirt serep yang selalu dibawanya kemana-mana dengan kantong plastik.

Secara logika tak ada yang kurang dari keluarga Tuohy seolah tak ada lagi yang harus dicari sementara Oher dipihak lain secara logika tak ada harapan tentang masa depan bahkan bertahan hidup sehari pun sudah anugerah yang luar biasa.

Namun ternyata Tuhan memiliki cara yang unik dan melewati segala akal serta logika dalam menyentuh dan menyapa umatnya. Kehadiran Oher bagi keluarga Tuohy telah membuka mata mereka bahwa masih ada pilihan untuk membuat hidup mereka jauh lebih berarti melebihi segala yang telah mereka peroleh dan miliki selama ini. Tuhan telah memberi kesempatan bagi mereka untuk menjadi sarana penyaluran berkat, dan mereka dengan senang hati menerimanya.

Kehadiran keluarga Tuohy bagi Oher adalah jawaban bahwa Tuhan tak pernah berhenti memelihara umatnya. Sekalipun akal manusia melihat bahwa harapan telah sirna namun kuasa, kasih dan keajaiban Tuhan jauh melampaui apa yang dapat diterima oleh manusia. Bagaimana seorang gelandangan yang tinggal di daerah kumuh pada akhirnya bertemu dengan keluarga kaya yang tinggal di daerah elit bermil-mil jauhnya. Bukan hanya bertemu namun keduanya sama-sama menjadi sarana bagi Tuhan untuk menyapa satu sama lain.

Saya teringat seorang Pastor pernah menggambarkan suatu kejadian dimana seseorang yang dalam perjalanannya menemukan sebuah wilayah yang baru saja tertimpa bencana dan banyak yang kehilangan nyawa serta harta benda. Kemudian orang tersebut bertanya pada Tuhan:

“Ya Tuhan…jika memang Engkau sungguh ada dan Engkau memelihara umat-Mu, mengapa semua Engkau tak menolong mereka?”

Jawab Tuhan singkat kepadanya: “untuk itulah aku menciptakan engkau”

Ya… kita semestinya bersyukur bahwa sebagai manusia pada hakekatnya kita menjadi rekan kerja Allah di dunia. Namun tak jarang ketika kesempatan tiba kita lupa dan tidak membuka hati.

Kisah Michael Oher yang diangkat dalam film “Blind Side” tersebut setidaknya mengingatkan kita akan tiga hal yang demikian berharga:

Pertama, bahwa Tuhan sungguh memelihara umat-Nya. Ketika kita merasa segala jalan sudah tertutup dan tiada lagi kemungkinan sesungguhnya kita telah membatasi kemampuan Allah untuk melakukan banyak hal yang melebihi akal kita.

Kedua, sungguh Allah terus menggunggah hati kita untuk menjalankan tugas kita sebagai rekan kerja-Nya di dunia dengan menjadi saluran kasih dan berkat bagi sesama. Namun maukah kita senantiasa membuka hati itu sesama? Akankah kita tergerak ketika kesempatan itu tiba?

Ketiga, Dia menjadikan segala sesuatu indah pada akhirnya. Mungkin untuk mencapainya kita harus melewati berbagai macam ujian namun justru saat itulah kesungguhan iman kita diuji. Akankah kita tetap setia pada-Nya? Ataukah kita akan meninggalkan-Nya karena menganggap ujian itu sebagai ketidak pedulian Allah pada kita?

Segala-galanya yang menimpa dirimu terimalah saja, dan hendaklah sabar dalam segala perubahan kehinaanmu. Sebab emas diuji di dalam api, tetapi orang yang kepadanya Tuhan berkenan dalam kancah penghinaan. Percayalah pada Tuhan maka lapun menghiraukan dikau, ratakanlah jalanmu dan berharaplah kepada-Nya.
Pandanglah segala angkatan yang sudah-sudah dan perhatikanlah: Siapa gerangan percaya pada Tuhan lalu dikecewakan, siapa bertekun dalam ketakutan kepada-Nya dan telah ditinggalkan, atau siapa berseru kepada-Nya lalu tidak dihiraukan oleh-Nya? (Sir 2:4-6, 10)