Mem “branding” Nazaruddin

Nazaruddin sudah menjadi pusat perhatian sejak mulai terkuaknya dugaan korupsi Wisma Atlet yang melibatkan perusahaannya. Kontroversi seputar dirinya terus meningkat seiring dengan “nyanyian” nya yang menyeret banyak nama pejabat penting di dalam partainya dan bahkan pejabat negara.

Kepulangan Nazaruddin yang sudah hampir sepekan ini tak lantas menyurutkan perhatian publik terhadap dirinya. Sejak awal berbagai reaksi dan persepsi yang berbeda mewarnai sikap publik terhadap dirinya, orang-orang yang dituduhnya dan kasus yang diduga melibatkannya.

Meski banyak yang sejak awal pesimis namun tak sedikit yang masih berharap bahwa kepulangan Nazaruddin akan mengungkap kejujuran atau kebohongan yang sesungguhnya. Nyatanya yang bersangkutan justru “melempem”. Berbagai “kicauan” yang semula diperdengarkan selama dirinya dalam pelarian sudah tak lagi terdengar.

Personal Branding

photo credit: samgichuru.com

Gaya arogan dan percaya dirinya sudah luluh dan berubah menjadi wajah memelas disertai sorot mata yang seolah memohon belas kasihan. Bungkamnya Nazaruddin ini kembali menuai reaksi dan persepsi publik.

Sampai saat ini sebagian besar masyarakat tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sulit untuk membedakan mana yang merupakan kejujuran atau kebohongan.

Disiplin ilmu manajemen pemasaran mengakui betapa kuatnya pengaruh persepsi terhadap perilaku dan keputusan seorang konsumen. Karenanya dalam melakukan sebuah kampanye pemasaran apapun bentuknya pada dasarnya seorang pemasar berupaya membentuk persepsi calon pelanggan. Hingga saat ini diyakini bahwa memenangi persepsi pelanggan berarti memenangi “perang” pemasaran.

Dalam kasus Nazaruddin publik sebaiknya juga berhati-hati terhadap persepsi. Opini media, pernyataan Nazaruddin, pernyataan pihak-pihak yang diduga terlibat dan bahkan pernyataan pihak penasihat hukum hendaknya disikapi dengan sangat hati-hati dan tidak seketika dipercaya.

Publik harus senantiasa mewaspadai bahwa pernyataan pihak manapun bisa jadi merupakan upaya pembentukan persepsi. Ketika Nazaruddin mulai “bernyanyi” dalam pelariannya proses pembentukan opini publik semakin kentara. Dan boleh dikatakan cukup berhasil, karena faktanya muncul ketidakpercayaan publik terhadap pejabat dan lembaga negara yang memang selama ini kurang mendapatkan persepsi positif dari publik.

Pun ketika Nazaruddin dipulangkan ke tanah air, baik Nazaruddin maupun penasihat hukummya tampak mulai melakukan upaya branding. Pertama, Ketika Nazaruddin menyatakan dirinya siap dihukum tanpa proses pendidikan dan penyelidikan sekalipun asalkan istri dan anaknya “tidak diganggu” bisa jadi adalah upaya memosisikan Nazaruddin sebagai korban dan siap mengorbankan diri.Bahkan jauh-jauh hari sebelum itu pihak penasihat hukum berani mengklaim bahwa andaikata kasus ini terbongkar maka negara akan hancur. Sebuah pernyataan kuat yang bisa disinyalir sebagai upaya pembentukan persepsi menuju proses branding.

Brand sebagai koruptor buronan berusaha di rebranding menjadi sosok suami dan ayah yang rela mengorbankan diri bagi keluarganya. Penasihat hukumnya pun turut mendukung pembentukan persepsi ini dengan menyebut Nazaruddin “pasang badan” demi keluarganya.

Benar bahwa publik masih akan memandang dia sebagai seorang koruptor namun branding-nya sebagai sosok suami dan ayah yang “merelakan” dirinya demi meiindungi keluarganya bisa menarik simpati publik.

Masih dalam upaya melakukan personal branding, Nazaruddin menegaskan bahwa dirinya “memohon” kepada Ketua Dewan Pembina untuk “tidak menganggu keluarganya” dan dia sudah lupa apa yang pernah dikatakannya serta siap menanggung hukuman sendiri.

Dari segi kampanye merk pernyataan tersebut bisa dipandang sebagai upaya membentuk persepsi bahwa memang apa yang dia “nyanyikan” selama di pelarian adalah benar. Benar bahwa kasus tersebut ada dan melibatkan orang-orang penting yang telah disebutnya. Namun sekali lagi “demi keluarga” dia rela menanggung semuanya sendirian.

Singkatnya jika memang Nazaruddin harus dihukum (penjara) maka setidaknya orang-orang yang telah dia sebutkan juga harus “dihukum” oleh publik.

Jika dicermati, masih banyak beberapa hal yang patut diduga sebagai upaya branding dan pembentukan persepsi seperti munculnya teori “brainwashing” terhadap Nazaruddin serta raut wajah dan sorot mata yang bersangkutan yang sedemikian berbeda setelah turun dari pesawat yang membawa dirinya kembali ke tanah air.

Jujur tidaknya pernyataan Nazaruddin tentulah harus dibuktikan oleh penegak hukum. Namun publik hendaknya bijaksana dalam memosisikan diri dan cermat dalam menentukan persepsinya sendiri. Jangan sampai sekedar menjadi korban perang persepsi sekaligus korban dari pihak-pihak yang hanya ingin menjatuhkan wibawa lembaga-lembaga di tanah air.Jujur tidaknya pernyataan Nazaruddin tentulah harus dibuktikan oleh penegak hukum. Namun publik hendaknya bijaksana dalam memosisikan diri dan cermat dalam menentukan persepsinya sendiri. Jangan sampai sekedar menjadi korban perang persepsi sekaligus korban dari pihak-pihak yang hanya ingin menjatuhkan wibawa lembaga-lembaga di tanah air.

Branding dan pembentukan persepsi adalah dua hal yang sangat vital baik bagi personal, produk dan bahkan institusi Sekali sebuah merk terbentuk maka proses rebranding-nya tidaklah mudah, karenanya pihak-pihak yang terlibat dalam “perang” memperebutkan “bukit” persepsi harus senantiasa cermat dan bijaksana mengantisipasi gerakan lawan.

Publik di lain sisi perlu cermat mengamati dan menganalisa pergerakan para “atlet”. Publik dalam hal ini adalah “trophy” sekaligus penonton, meski seolah-olah tidak terlibat secara langsung namun segala upaya yang dilakukan oleh kedua belah pihak sesungguhnya adalah memperebutkan persepsi dan opini publik. (Satrio A. Wicaksono. Praktisi Marketing & Branding)