Mencintai Tanpa Harus Terobsesi

Bagi sebagian orang pekerjaan mendatangkan kebahagiaan pribadi. Bukan semata-mata karena imbalan materi yang bakal diterima dari pekerjaan tersebut namun kecintaan pada apa yang dilakukan itulah yang mendatangkan kebahagiaan sesungguhnya.

Mereka yang mencintai pekerjaan biasanya merasa menguasai bidang tersebut, merasa bahagia saat bekerja dan menemukan keselarasan baik dengan pekerjaannya maupun orang-orang yang bekerja sama dengannya. Vallerand menyebut kondisi demikian sebagai harmonious passion.

Dilain pihak ada orang-orang yang begitu terobsesi pada pekerjaannya, mereka tak mampu mengontrol rasa haus untuk bekerja hingga pikiran tentang pekerjaan selalu membayangi sekalipun sedang melakukan hal lain. Orang-orang demikian adalah mereka yang terobsesi pada pekerjaan atau sering disebut Vallerand sebagai obsessive pasion.

Mereka yang terjebak pada kondisi ini cenderung merasakan adanya benturan atau konflik antara pekerjaan dengan hal-hal lain dalam hidup. Pekerjaan menjadi hal yang terutama dalam hidupnya akibatnya tidak terjadi keseimbangan hidup yang wajar. Dari segi pembawaan dan kepribadian, mereka yang terobsesi pada pekerjaan cenderung memiliki emosi yang tidak stabil serta memiliki konsep diri yang negatif.

Harmonious passion jelas adalah kondisi yang ideal dan membawa produktivitas tinggi bagi mereka yang mampu menempatkan dirinya dalam keseimbangan ini. Namun timbul pertanyaan apakah obsessive passion juga membawa produktivitas tinggi bagi seseorang? Bagaimana seseorang dapat mengetahui apakah dirinya mencintai pekerjaan atau justru terobsesi?

Beberapa orang meyakini bahwa obsesi terhadap pekerjaan tidak selalu negatif, bahkan ketika seseorang sedang mulai membangun sebuah usaha kondisi ini mutlak dibutuhkan. Tapi sebenarnya pendapat tersebut kurang tepat sebab pada kenyataannya obsesi pada pekerjaan dalam banyak hal justru mengakibatkan turunnya produktivitas seseorang.

Mengapa demikian? Sebab sekalipun mereka yang terobsesi pada pekerjaan cenderung lebih fokus dan berkomitmen pada pekerjaan namun di lain pihak juga memiliki kecenderungan emosi yang tidak bisa diandalkan, tidak fleksibel menghadapi perubahan kondisi, mudah merasa diserang dan tersaingi disamping munculnya perasaan-perasaan tidak aman dalam dirinya.

obesesiHal terburuk adalah bahwa ketika seseorang katakan saja terobsesi pada pekerjaan di awal karirnya atau di awal yang bersangkutan membangun usaha, obsesi ini tak lantas berubah menjadi harmoni manakala usaha atau karirnya sudah stabil. Sebaliknya orang-orang demikian akan cenderung terus terobesi hingga masa tuanya.
Penelitian-penelitian mengenai produktivitas menunjukkan bahwa sekalipun mereka yang berada dalam kondisi harmonius passion tak memiliki fokus dan komitmen sekuat mereka yang berada dalam kondisi obsessive passion namun lebih stabil secara emosional dan produktif dalam pekerjaannya.

Pada faktanya sebagian besar orang tidak benar-benar sepenuhnya dalam kondisi harmoni ataupun terobsesi namun memiliki kombinasi antara keduanya. Mana yang lebih kuat tentu berbeda-beda pada setiap orang. Karenanya ketika seseorang ingin meningkatkan produktivitas yang pertama-tama harus dilakukan adalah memperkuat harmonious passion dan sedapat mungkin mengurangi obsessive passion.

Sayangnya hingga saat ini belum ada metode ilmiah yang bisa memberikan petunjuk bagaimana seseorang bisa mengurangi obsessive passion dan meningkatkan harmonius passion. Namun bukan berarti sama sekali tidak ada cara untuk melakukannya.

Untuk itu seseorang harus mengenali kondisi-kondisi dalam dirinya sendiri untuk mengenali apakah dirinya cenderung terobsesi pada pekerjaan ataukah mencintai?

Berikut adalah beberapa pertanyaan yag dapat diajukan pada diri sendiri untuk mengenali tanda-tandanya:

  1. Apakah Anda merasa berenergi dalam bekerja? Apakah Anda memiliki rasa antusias terhadap pekerjaan? Apakah Anda menikmati pekerjaan yang dilakukan?
  2. Bagaimana anda mendiskripsikan diri Anda sendiri di luar pekerjaan Banyak orang terobsesi ketika diminta memperkenalkan diri siapa dirinya selalu memulai mendiskripsikan ‘apa pekerjaannya” ketimbang ‘siapa Anda sesungguhnya’. Bayangkan jika diri Anda adalah sebuah pie, seberapa besar porsi pekerjaan dalam pie tersebut?
  3. Apakah Anda memiliki citra diri yang positif? Apakah Anda nyaman dengan diri Anda apa adanya?Apakah Anda tetap merasa nyaman tanpa orang lain harus mengetahui pekerjaan, prestasi atau materi yang Anda miliki? Jika tidak maka Anda adalah orang yang terobsesi pada pekerjaan.
  4. Ketika bekerja, apakah Anda merasa ‘ingin’ dan ‘tidak sabar untuk…’? Dan bukan merasa ‘harus’, ‘perlu’ atau ‘tidak bisa tidak’?
  5. Apakah Anda bisa berhenti bekerja ketika Anda merasa sudah tidak ingin bekerja? Sebuah studi pada penggemar games menunjukkan bahwa mereka yang berada pada kondisi harmonius passion berhenti bermain ketika mereka sudah tidak lagi merasakan kesenangan. Sebaliknya, mereka yang terobsesi tidak ingin berhenti sebelum meraih kemenangan. Mana yang Anda rasakan ketika bekerja?
  6. Ketika melakukan pekerjaan, apakah Anda merasa segala sesuatunya berjalan dan mengalir begitu saja secara harmonis? Dan tidak merasakan adanya beban berat untuk menyelesaikan pekerjaan?

Jika jawaban Anda atas pertanyaan-pertanyaan di atas adalah ‘tidak’ atau didominasi oleh jawaban ‘tidak’ maka kemungkinan besar Anda tidak mencintai pekerjaan namun sedang terobsesi olehnya.
Dan jika memang Anda sedang dalam kondisi terobsesi maka hal-hal berikut adalah yang harus dilakukan untuk mengatasinya:

  1. Menjadwalkan istirahat. Jika Anda sedang terobsesi maka yang perlu sungguh-sungguh dilakukan adalah mencatat pada agenda Anda: waktu untuk istirahat ditengah aktivitas bekerja, dan patuhi jadwal itu sungguh-sungguh. Jika Anda adalah seorang karyawan jadwalkan makan siang bersama pasangan atau teman lama. Jika Anda adalah seorang wiraswasta maka jadwalkan setidaknya beberapa jam di hari Sabtu untuk beraktivitas bersama keluarga atau teman.
  2. Jangan membawa pulang pekerjaan. Jika Anda terobesi dengan pekerjaan, jangan sekali-kali membawa pekerjaan ke rumah sebab bisa dipastikan perhatian Anda akan selalu tertuju padanya. Jika perlu pisahkan antara laptop untuk pekerjaan dengan laptop untuk hal-hal lain di luar pekerjaan, pisahkan juga antara akun e-mail pribadi dengan akun e-mail urusan pekerjaan bahkan jika perlu pisahkan antara no ponsel untuk urusan keluarga dengan urusan kerja. Ingat bahwa obsesi adalah kebiasaan buruk, dan kebiasaan buruk hanya bisa diatasi melalui disiplin.
  3. Bentuk dan ubahlah pola pikir Anda. Tentu Anda pernah mendengar ‘fake it until you make it’. Berpura-puralah pada diri sendiri seolah Anda mencintai pekerjaan, berpura-puralah Anda dalam kondisi harmonius passion hingga Anda benar-benar berada dalam kondisi itu.
  4. Luangkan waktu untuk memiliki atau melanjutkan hobi yang lama ditinggalkan. Seringkali tanda-tanda bahwa seseorang sedang terobsesi adalah hanya berfokus dan melakukan satu jenis pekerjaan saja secara berulang-ulang. Padahal melakukan hobi atau aktivitas lain di luar pekerjaan selain akan membangkitkan perasaan positif sekaligus juga mengasah kreativitas dan menambah pengetahuan seseorang. Jadi jangan pernah merasa bersalah untuk menikmati hobi atau melakukan aktivitas yang bukan pekerjaan Anda.

Passion adalah sebuah ‘alat’ yang demikian kuat memengaruhi imajinasi dan kreativitas seseorang dalam melakukan sebua pekerjaan. Namun tak jarang kita lupa bahwa passion tidak secara tiba-tiba muncul dalam diri seseorang. Kita sering melupakan faktor-faktor yang melahirkan passion itu sendiri seperti keseimbangan hidup, kecintaan pada keluarga dan sebagainya.

Seorang suami wajarnya merasa bertanggung jawab atas keluarga sehingga mengupayakan segala cara untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarga. Kecintaan pada keluarga menjadikan dia ingin memperbaiki kondisi ekonomi keluarga telah melahirkan passion dalam dirinya.  Namun karena melupakan keseimbangan hidup, pada akhirnya ketika secara ekonomi kehidupan keluarganya sudah lebih dari cukup namun obsesinya terhadap pekerjaan menjadikan dirinya mengabaikan keluarga.

Pernahkah Anda mendengar nama Yo-Yo Ma? Dia adalah seseorang pemain cello ternama. Ketika muda dia berada dalam kebimbangan antara memulai solo karir yang saat itu tampak sangat menjanjikan atau mempelajari banyak hal lain dimasa mudanya?
Pada satu sisi, waktu adalah hal yang penting dalam industri musik. Banyak musisi berbakat yang bisa menjadi pesaing andai kata dia menunda karinya. Disisi lain dia menyadari bahwa bakat bukanlah segala-galanya dalam industri musik. Sebab penonton tidak sekedar menikmati bakat namun juga ekspresi, sensitivitas dan pengalaman di luar dunia musik.

Akhirnya Ma memutuskan untuk menunda terlebih dahulu karirnya dan memanfaatkan masa mudanya untuk belajar banyak hal di luar musik. Bahkan demi mempelajari ‘dunia luar’ dia harus rela beroleh nilai D+ dalam kelas Sejarah Musik di Harvard.

Namun dia tak pernah menyesali keputusan dan akibat dari keputusannya tersebut. Dia menyebut masa-masa itu sebagai ‘desposito untuk masa depan’ yang bisa ‘ditarik’ untuk manfaat yang lebih besar dikemudian hari.

Kini dia diakui sebagai salah satu musisi besar dunia bukan semata-mata karena bakatnya di dunia musik namun juga karena pengetahuan yang luas, pemikiran-pemikiran serta antusiasme-nya yang luar biasa. Dengan kata lain bukan hanya dihargai kemampuan bermusiknya namun juga harmonius passion yang dimiliki. Bukankah itu sekaligus menjadi diferensiasi antara dirinya dengan musisi lain? (Satrio)