Not a Job: It’s all about Hobby and Passion

Ketika seorang staff di perusahaan klien bertanya padaku: “Bagaimana bisa seorang berlatar belakang marketing menghabiskan waktu berjam-jam di depan komputer, bekerja sama dengan seorang web designer tanpa merasa bosan?”

Waktu itu aku hanya tersenyum. Bukan enggan menjawab tapi akupun tak tahu jawabannya. Namun ternyata pertanyaan itu terus berada dalam benakku hingga menjelang tidur. Bukannya tidur justru aku merenungkan jawaban atas pertanyaan itu.

Sebagai seorang professional content producer memang aku banyak menghabiskan hidupku di depan laptop. Mempelajari profil perusahaan, portofolio produk dan sebagainya.

Bukan gambaran pekerjaan yang diinginkan oleh seorang berlatar belakang marketing pada umumnya yang lebih suka menghabiskan waktu menyusun marketing plan, presentasi, negosiasi dan sebagainya.

Dulu memang itulah pekerjaan yang kuimpikan, namun banyak hal berubah dan ketika kita membiarkannya mengalir ternyata tak jarang bisa diketemukan hal-hal menarik yang mungkin bahkan tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Aku sendiri meski deskripsi tugas yang kulakukan tak sama dengan yang kuharapkan dan kubayangkan sebelumnya namun tak merasa menyimpang dari dunia marketing.

Marketing sendiri pada dasarnya adalah sebuah kegiatan dalam membentuk kesadaran dan ketertarikan terhadap merk atau produk yang tentu pada akhirnya menghasilkan penjualan. Sekalipun penjualan itu sendiri tidak dieksekusi oleh tim marketing melainkan oleh tim selling namun keduanya tentu saling terkait erat.

Menyusun konten bagi sebuah web menurutku memiliki tujuan yang sama yaitu membentuk kesadaran dan menarik minat target market.

Tentu atribut-atributnya tidaklah sama antara pemasaran konvensional dengan dunia maya. Penting bagi seorang content producer untuk mampu mengenali perilaku pengunjung, pembeli dan pelanggan di dunia maya.

Penting pula untuk menyusun sebuah konten yang membuat pengunjung memperoleh informasi tanpa merasa jemu dan menstimulasi pengunjung untuk kembali membuka web yang bersangkutan di lain kesempatan.

Tak sedikit pemilik web berpikir bahwa desain web adalah hal yang paling utama, selama desain-nya menarik maka hal lain sekedar pendukung. Faktanya pengalaman tak mengajar saya demikian. Bobot keduanya boleh dibilang 50-50 baik desain maupun konten.

Dan berbeda dari pendapat banyak orang bahwa desain yang baik adalah desain yang unik, faktanya desain yang baik adalah desain yang sederhana, mudah dinavigasi dan cepat dalam hal loading.

Konten pun tak kalah pentingnya, sekedar memberikan gambaran detil sebuah produk, visi dan misi perusahaan tak membuat pengunjung betah apalagi berkeinginan mengunjungi web tersebut di lain waktu.

Banyak pemilik web yang dengan kaku mencatumkan detil spesifikasi sebuah produk dan visi-misi perusahaan. Padahal membuat pengunjung memiliki ketertarikan untuk membaca detil spesifikasi atau visi-misi perusahaan adalah point yang lebih penting.

Social networking seperti YouTube, FaceBook, Twitter dan LinkedIn juga membawa dampak yang cukup signifikan. Sebisa mungkin perusahaan memiliki semua akunnya. Sayangnya di Indonesia masih sedikit yang memanfaatkannya secara benar. Tak sedikit akun Twitter atau FaceBook sebuah perusahaan yang melulu hanya mem-posting spesifikasi produk, produk baru dan semacamnya seolah tak cukup iklan di media cetak dan brosur di dealer serta ekspo.

Hal-hal semacam inilah yang menjadi tanggung jawabku ketika seorang klien mempekerjakan. Dan tidak mudah untuk memberikan pemahaman kepada setiap orang ketika sudah satu visi pun masih perlu menyamakan visi dengan web developer yang biasanya juga memiliki visi sendiri tentang sebuah web yang ideal.

Memang sekilas tampak membosankan; melakukan pekerjaan yang dilakukan oleh seorang marketer namun bedanya lebih banyak menghabiskan waktu di depan laptop,

Tapi tidak demikian bagiku, pekerjaan ini tidak pernah kuanggap sebagai sebuah pekerjaan. Aku lebih sering memandangnya sebagai sebuah kesenangan ketimbang pekerjaan. Ada rasa puas manakala tugas tersebut memberikan manfaat yang sesuai ekspektasi atau bahkan lebih meski tak selalu demikian.

Melalui berbagai hal yang kualami, aku belajar bahwa ketika kita melakukan sesuatu bukan karena kebutuhan melainkan karena kesenangan dan hasrat maka kesulitan menjadi tantangan yang menyenangkan dan hasil yang sesuai harapan lebih berharga ketimbang nilai uang yang diterima.

Jadi kalau seorang bertanya sampai kapan aku mau melakukan pekerjaan ini? Jawabku: selama aku masih menemukan kesenangan dalam melakukannya…