Not Everything is About You

Jika beberapa tulisan saya menimbulkan pro dan kontra atau kontroversi hampir ketika menulis sebagian besar tulisan tersebut tentu saya menyadarinya. Namun ketika ada orang-orang tertentu yang merasa diserang secara pribadi jujur saja reaksi tersebut membuat saya heran dan bertanya-tanya.

Pasalnya apa yang saya tulis umumnya memang berdasarkan pelajaran yang saya terima berdasar pengalaman dan pengamatan keseharian. Wajar jika timing dan topiknya mungkin bagi beberapa orang dianggap sebagai sebuah kesengajaan. Namun dibalik itu seperti sudah disebut bahwa semua itu memang ditulis dari pelajaran yang diterima dalam keseharian, dan oleh karena namanya pelajaran maka umumnya hal itu ditujukan pertama-tama bagi pelajaran pribadi disamping dibagikan dengan harapan setidaknya pembaca memiliki sudut pandang lain mengenai topik-topik tertentu.

Tidak bermaksud mengubah paradigma atau sudut pandang pembaca, tentu tidak! Mengubah paradigma dan sudut pandang bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan dan memang tidak pernah menjadi tujuan saya. Lagi-lagi tujuannya sekedar memberi sudut pandang baru agar orang bisa menyadari bahwa ada sisi pandang lain yang tak bisa dikesampingkan. Singkatnya mengajak kita untuk senantiasa berpikir dan tidak menelan segala sesuatu mentah-mentah. Jika mayoritas orang berkata A benar dan B salah, jangan diterima begitu saja, pikirkan kenapa A disebut salah dan B disebut benar? Benar demikian atau sebaliknya? Atau malah tidak keduanya?

Tulisan-tulisan yang mungkin bagi sebagian besar orang akan dinilai sebagai pemikiran “aneh” sebenarnya mau mengajak kita berpikir kritis, bukan kritis dan vokal ngomong-nya saja padahal tak lebih dari asal kritik dan nyinyir!

Apabila kemudian ada orang-orang tertentu yang merasa harus bersikap defend atau merasa diserang terus terang saja saya tidak merasa perlu meminta maaf. Kenapa? Karena sekali lagi ditegaskan bahwa tak ada niatan untuk menyerang orang-orang tertentu. Ya.. saya akui ada beberapa tulisan yang ditujukan secara personal untuk mengkritisi, menyindir atau memberi kredit pada sosok tertentu. Namun itu hanya segelintir dan ada pada satu kategori tertentu yang dari nama kategorinya saja orang sudah bisa menduga bahwa tulisan tersebut sangatlah pribadi.

Jika sebuah topik tidak dimasukkan dalam kategori yang saya maksud, lebih-lebih jika masuk dalam kategori Family Life dan orang-orang tertentu merasa disinggung maka baiknya orang-orang tersebut bertanya pada diri sendiri, mengapa bisa muncul perasaan diserang? Apalagi jika dasar pemikirannya saja sudah pernah disinggung pada tulisan saya yang lain hampir dua tahun yang lalu.

Terus terang terhadap tulisan atau kata-kata saya maupun secara umum tulisan dan kata-kata orang lain wajarnya saya menilai ada dua reaksi: pertama setuju, kedua tidak setuju. Ketika orang merasa tidak sepaham maka umumnya akan cenderung mengabaikan, menganggap angin lalu karena tidak relevan. Namun jika orang tertentu merasa diserang maka sekali lagi ada baiknya melakukan introspeksi diri, kenapa bisa muncul perasaan demikian?

Komentar-komentar bernada defensif yang muncul ketika tulisan dibagikan di media sosial entah FB, Twitter, Google Plus ataupun LinkedIn jujur saja membuat saya bertanya-tanya, apa yang dirasakan oleh komentator sehingga merasa harus bersikap defend? Jika memang tidak benar atau tidak mengena tentulah akan menganggap angin lalu, namun jika merasa harus bersika defensif tentunya bukan hanya saya, namun jika pembaca yang lainpun justru menjadi bertanya-tanya latar belakang dari sikap tersebut.

Yang namanya pelajaran dari sebuah pengalaman atau pengamatan tentulah mengandung unsur kritik, namun apakah kritik itu ditujukan secara personal? Well, jujur saja saya tidak merasa demikian, ada kritik yang ditujukan pada institusi, ada kritik yang ditujukan pada pola pikir, ada kritik yang ditujukan pada paradigma, profesi tertentu dan sebagainya yang terkandung di dalam tulisan-tulisan saya, namun kritik secara personal? Lagi-lagi hanya segelintir, mungkin bahkan hanya satu dan lagi-lagi hanya ditulis pada kategori tertentu. Bukan Family Life pastinya! Kategori tersebut secara khusus dibuat sebagai bahan pembelajaran bagi kami sebagai keluarga dan orang tua. Maka tak masuk akal jika dianggap salah satu tulisannya ditujukan untuk menyerang orang tertentu.

Lagipula semua tulisan dalam kategori tersebut adalah dalam sudut pandang sebagai orang tua dan berbagi dengan sesama orang tua. Sungguh merupakan reaksi yang lucu ketika pribadi-pribadi tertentu merasa diserang. Kritikan memang ada, namun ditujukan pada kebiasaan dan pola pikir, jika dirasa kritikan ditujukan pada sosok atau bahkan pribadi tertentu rasanya sikap tersebut terlalu berlebihan serta cenderung tidak wajar.

Ya saya sadar, bahwa memang ada topik-topik tertentu yang sensitif, topik-topik berhubungan dengan sosok yang disakralkan oleh masyarakat. The thing is, kesakralan tersebut tanpa mengurangi rasa hormat bagi saya bukan merupakan sesuatu yang tabu untuk dikritisi. Bahkan sosok-sosok sakral tertentu oleh karena posisinya yang sangat vital pada sebuah institusi (keluarga, organisasi, artikan sendiri!) perlu juga mendapatkan masukan.

Saya sendiri tidak pernah menyakralkan posisi atau sosok tertentu sampai-sampai seperti tak bisa “disentuh”, sebab untuk kebaikan semuanya perlu melakukan dan memperoleh evaluasi. Namun memang kebiasaan dalam masyarakat sensitif membuat orang mudah berpikir bahwa evaluasi yang utamanya ditujukan pada diri sendiri justru diterima sebagai sikap negatif. Dan jika memang orang berpikir bahwa itulah yang saya lakukan (sikap negatif) maka sebelum menilai ada baiknya Anda membaca tulisan saya beberapa tahun lalu mengenai Prasangka terhadap Orang Lain.

Menyerang pribadi tertentu lewat media lebih-lebih internet bukanlah gaya saya. Saya memang lebih suka menulis ketimbang berbicara, karena dengan menulis saya bisa lebih berhati-hati dengan kata-kata, melakukan revisi-revisi sebelum ter-publish. Selain itu lewat tulisan saya bisa mengendalikan emosi terlebih dahulu dan memastikan tulisan tersebut tidak dibumbui oleh emosi belaka. Apakah ada tulisan saya yang emosional? Ada! Maksimal hanya dua! Lagi-lagi tidak terletak pada kategori Family Life, kalau kita mau pakai istilah “sakral” maka kategori Family Life tersebut bagi saya adalah kategori “sakral” yang saya tak mau menodai dengan tulisan-tulisan emosional lebih-lebih ide sampah.

Dan pula alasan saya lebih suka menulis ketimbang berbicara adalah karena saat berbicara lebih-lebih menyangkut ide atau pandangan yang berbeda acapkali hanya membawa pada situasi tidak produktif dimana masing-masing akan mempertahankan pendapatnya tanpa mencapai hasil apapun. Saya tak pernah memaksa orang menerima ide saya, dan sayapun seringkali tak mau menerima ide serta pendapat orang lain, itulah mengapa perdebatan menjadi sebuah situasi yang non produktif dalam pandangan saya. Sementara tulisan adalah komunikasi satu arah dalam pandangan saya, jika Anda setuju silakan diterima jika tidak itu juga bukan urusan saya. Pastinya saya sudah mencurahkan pendapat lewat tulisan-tulisan tersebut.

Namun saya pun paham bahwa pembaca tidak selalu berada pada kondisi emosional yang stabil ketika membaca, persepsi dan prasangka tak jarang sudah menutup objektivitas rapat-rapat dalam kondisi tertentu. Jadi sebelum menjadikan sebuah tulisan, kata-kata atau kalimat sebagai dasar untuk bersikap, menilai dan lebih-lebih memancing situasi non-kondusif baiknya tanyakan pada diri sendiri terlebih dahulu apakah saat membaca Anda sudah yakin pada kondisi emosional yang stabil dan mampu berpikir objektif? Tulisannya yang tendensius atau Anda sendiri yang tendensius? Evaluasi memang tidak mudah, perlu kejujuran dan penerimaan diri. Namun alangkah bijaksana jika sebelum berkata-kata dan berprasangka terlebih dahulu dilakukan introspeksi.

Mengenai bagaimana saya mencurahkan pandangan lewat tulisan berdasar pengalaman dan pengamatan, itu tidak akan berubah. Bahwa topik-topik tertentu berpotensi menimbulkan pro dan kontra itupun takkan mengubah pendirian saya untuk tetap menulisnya. Bagi saya ini adalah cara saya menyampaikan pendapat serta pandangan. Saya tak pernah khawatir dengan pro dan kontra, apa artinya garam jika ia sudah menjadi tawar?

Bahkan jika bagi orang lain tulisan saya dianggap tidak bermutu itupun saya tak berkeberatan, baik di dunia maya maupun nyata saya adalah orang yang sama. Popularitas dan berbagai aksesoris bukan menjadi hal penting bagi saya. Saya lebih suka bicara dan bersikap wajar apa adanya, bagaimana orang lain menerima serta menyikapi itu adalah hak dan urusan masing-masing.

Anyway, tulisan ini bukan dimaksudkan sebagai klarifikasi, penjelasan dan semacamnya. Lagi-lagi saya sekedar menulis berdasar pengalaman, pengamatan serta pelajaran yang saya ambil dari sebuah situasi. Mau dianggap bermanfaat, mau dianggap sampah, atau malah dianggap mendiskreditkan pihak tertentu terserah bagi Anda yang membacanya.

Tak jadi soal jika Anda menilai pemikiran saya aneh, jika memang Anda salah satu yang menilai demikian maka kemungkinan besar saya akan beranggapan Anda adalah orang yang malas berpikir.

I’m going to be myself, do what I think is right. If they don’t like it, so be it.