Pamrih – Hanya Memberi, Berharap Lebih dari Sekedar Kembali

pamrihPamrih menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia didefinisikan sebagai maksud tersembunyi dalam rangka memenuhi keinginan atau memperoleh keuntungan pribadi. Artinya seseorang yang melakukan sebuah tindakan dengan pamrih memiliki motivasi tersembunyi dari sebuah tindakan yang dilakukannya (untuk orang lain). Tentu saja sikap pamrih adalah kebalikan dari sikap tulus.

Bicara soal kepamrihan (perbuatan yang dilakukan dengan intensi tersembunyi) dan ketulusan saya teringat pada kejadian sekitar satu bulan yang lalu. Tepatnya ketika istri melahirkan anak pertama kami di the Royal Women’s Hospital Melbourne.

Mengenai pengalaman itu sendiri (kelahiran anak pertama kami) sudah kami ceritakan baik dari sudut pandang saya maupun sudut pandang istri mengenai situasi dan pengalaman yang terjadi saat itu pada dua tulisan yang ada di blog ini juga.

Dalam tulisan versi istri, dia menyebutkan nama salah seorang midwife (bidan) yang sangat berjasa dalam membantu persalinan. Meski tidak menyebutkan namun sayapun mengakui betapa besar perhatian dan jasanya selama proses persalinan tersebut.

Midwife yang bersangkutan memulai shift tugasnya pada hari Senin pukul 14.00 waktu Melbourne (GMT +10:00). Meski situasi saat itu sangat melelahkan dan menegangkan bagi kami berdua (saya dan istri) namun semenjak kedatangannya saya sungguh-sungguh merasakan perubahan atmosfer di dalam ruang bersalin.

Ketika datang dia hanya memperkenalkan diri sebagai “Liz”, saya baru tahu bahwa Liz adalah singkatan dari Elizabeth setelah membaca kartu ID the Women’s Hospital yang tergantung di lehernya. Saat itu bahkan saya tidak sempat membaca ataupun menanyakan nama belakangnya. Padahal nama Elizabeth adalah nama yang sangat umum di sini sehingga susah mencari tahu tanpa mengenal nama belakangnya (surname).

Berhubung kondisi pada saat itu sangat mencekam dan melelahkan, fokus saya tentu sepenuhnya pada istri sehingga saya juga tak terpikir untuk menanyakan surname-nya. Satu hal yang jelas adalah bahwa sikapnya yang sangat ramah, penuh perhatian dan empatik bagi saya pribadi memberikan kelegaan dan keringanan beban secara mental.

Bukan berarti bahwa midwives di the Women’s selain Liz tidak ramah, sama sekali tidak! Semua midwives yang kami temui di the Women’s sangat ramah, hanya saja Liz menunjukkan empati sangat besar sehingga membedakan dirinya dari midwife lain.

Selama proses labouring Liz tidak hanya banyak membantu istri namun juga beberapa kali menunjukkan empati kepada saya. Entah karena tahu bahwa kami sudah berada di the Women’s sejak jam 22.00 hari sebelumnya atau karena melihat wajah saya yang kuyu dan kelelahan, Liz beberapa kali mengingatkan saya untuk beristirahat.

Meski tidak mungkin bagi saya untuk beristirahat karena keadaan saat itu namun saya sangat menghargai perhatiannya. Bukan hanya itu dia juga meletakkan meja ke dekat kursi dimana saya duduk menunggui istri dan menaruh bantal di atasnya sambil menyarankan saya untuk meletakkan kepala di atas bantal tersebut.

Saat keluar dari ruangan dia mengambil sekotak juice dan beberapa potong sandwich kemudian menyuruh saya untuk makan dan minum demi menjaga stamina. Lagi-lagi seseuatu yang tidak bisa saya lakukan pada saat itu (makan dan minum) karena namun lagi-lagi saya sangat menghargainya.

Selama beberapa saat istri beristirahat (tertidur) dia juga sempat mengajak saya berbincang-bincang basa-basi yang meski singkat namun membantu saya mengalihkan ketegangan dan kelelahan untuk sesaat.

Tugasnya berakhir pada pukul 22.00 hari Senin, dan itu hanya selang 51 menit sebelum Jethro lahir.

Esok harinya ternyata dia menyempatkan diri untuk menengok istri dan anak kami di Ward center. Lagi-lagi ketika istri menanyakan namanya dia hanya menyebut “It’s Liz”, dan ketika istri saya berulang kali mengucapkan terima kasih dia hanya menjawab “It’s my job”.

Kami tahu bahwa itu adalah pekerjaannya namun empati dan keramahannya menjadikan tugasnya lebih dari “sekedar melaksanakan tugas”.

Bagi saya kerendahan hatinya yang berulang kali menyebut “It’s my job” dan tindakannya yang tulus dengan tidak mau menyebutkan identitas dirinya secara lengkap (“It’s Liz”) memberikan beberapa pelajaran:

Pertama, sebuah tugas bisa menjadi “sekedar melaksanakan tugas” atau “memenuhi kewajiban” namun bisa juga memberi arti lebih dari sekedar tugas manakala seseorang mencurahkan hati dan passion-nya pada tugas tersebut.

Kedua, tindakannya yang enggan menyebutkan identitas secara lengkap bagi saya lebih dari sekedar cukup bahwa ia tidak mengharapkan pamrih dalam melaksanakan tugasnya.

Belakangan baru kami ketahui bahwa nama lengkap Liz adalah Elizabeth Watt, seorang bidan senior yang cukup terkenal di Australia sekaligus staf pengajar di the Royal College of Nursing dan sekaligus pengajar di Nursing & Midwifery Clinical School di La Trobe University.

Mungkin baginya hanyalah melaksanakan tugas, namun bagi kami apa yang dia lakukan lebih dari sekedar menjalankan tugas dan kewajiban. Bahkan bagi saya, Liz adalah “the Good Samaritan”.

Banyak hal tak terduga yang memang bisa terjadi dalam keseharian kita, bagaimana seorang “Liz” yang hanya kami kenal beberapa jam dan tidak pernah memperkenalkan dirinya sendiri secara detil meninggalkan kesan yang mendalam bagi kami berdua.
Sementara di pihak lain ada orang yang sudah bertahun-tahun dikenal justru dalam tindakannya menyimpan pamrih yang luar biasa, bukan sekedar berharap tindakannya dipuji-puji namun bahkan rela mengarang “cerita-cerita palsu” dan fitnah semata-mata agar dirinya mendapatkan kredit dari banyak orang. Dan ketika dirinya merasa belum cukup mendapat kredit dan pujian “cerita” yang dikarangnya semakin beragam dan semakin menjadi-jadi bahkan tanpa malu melakukan victim branding.

Never try to build yourself up by tearing someone else down. ~Thema Bryant-Davis~