Pelajaran Dari Sprei

Kemarin malam seperti biasa setelah seharian sibuk dengan aktivitas dan pekerjaan masing-masing saya dan istri mengobrol di tempat tidur membicarakan berbagai topik seputar kejadian-kejadian sepanjang pagi hingga sore.

Bukan topik pembicaraan kami yang hendak saya tulis, melainkan sebuah kejadian kecil yang terjadi selama pembicaraan entah mengapa menjadi hal yang menarik bagi saya.

Di tengah pembicaraan, istri saya mencoba merapikan sprei di tempat tidur kami sementara kami berdua di atasnya. Entah karena berfokus pada obrolan atau hal lain yang jelas istri saya menarik bagian yang kusut pada sprei ke arah yang tidak semestinya. Memang bagian yang semula kusut kemudian menjadi lebih rapi namun sebaliknya ada bagian lain yang menjadi tidak rapi karena tarikan tersebut.Kejadian ini seolah memberikan sebuah pelajaran bagi saya bahwa tak jarang ketika muncul suatu masalah orang terburu-buru ingin membereskannya. Entah itu masalahnya sendiri entah juga dalam hal-hal tertentu dimana sebenarnya yang bersangkutan tak terlibat langsung namun tidak dapat menahan diri untuk tidak campur tangan.

Sifat yang demikian menyebabkan seseorang hanya melihat pada apa yang tampaknya terjadi tanpa mencoba menelusuri lebih jauh atau lebih dalam asal mulanya dan mencoba menemukan akar permasalahannya.

Akibatnya seperti ‘kasus sprei’ semalam, bukannya menjadi lebih baik justru masalahnya menjadi lebih runyam. Nah kalau sudah begini kecenderungannya bukan mengakui kesalahan namun justru memaksakan ego yang tak jarang efeknya jauh lebih besar ketimbang pokok masalahnya sendiri.