“Penyakit” Orang Tua

Bukan tanpa maksud jika pada saat menceritakan pengalaman kelahiran anak pertama kami saya menyebut bahwa tak pernah dan semoga seumur hidup takkan pernah terlintas di pikiran kami bahwa anak kami behutang budi atau berhutang bakti kepada kedua orang tuanya oleh karena perjuangan atau tantangan yang kami hadapi sebagai orang tua baik saat proses istri melahirkan maupun dalam perjalanan selanjutnya.

Lagi-lagi sebagai laki-laki dewasa dan wanita dewasa yang memutuskan secara sadar untuk menikah dan berkeluarga apa yang telah, sedang dan akan kami lakukan dalam posisi sebagai orang tua adalah sebuah tanggung jawab, konsekuensi dan kewajiban lumrah yang sama sekali tak perlu dibesar-besarkan atau apalagi diucapkan dengan lagak “berkorban”, lebih-lebih di depan si anak. Jujur saja sikap semacam itu bagi saya pribadi adalah sikap pecundang.

Situasi-situasi tertentu yang dihadapi sebagai orang tua seringkali memang merupakan sebuah jebakan, entah situasi yang sulit maupun situasi yang membanggakan. Disebut jebakan karena pada situasi-situasi tertentu tersebut acapkali orang tua tak mampu menahan diri untuk mengklaim pengorbanan atau jasanya sebagai orang tua. Itulah yang selama ini selalu saya camkan dalam diri lebih-lebih sebagai orang tua agar tidak masuk dalam jebakan atau apa yang saya sebut sebagai “penyakit” orang tua.

Penyakit Orang Tua

Lagi-lagi jangan pernah melupakan bahwa semua yang kita lakukan sebagai orang tua adalah sebuah tanggung jawab wajar, serta konsekuensi sepasang manusia dewasa. Selama kita berpijak pada pola pikir itu maka sebagai orang tua mestinya kita merasa malu jika mengklaim segala perbuatan, keputusan ataupun “hasil” sebagai pengorbanan maupun jasa. Dan justru ketika kita melakukan klaim tersebut sesungguhnya kita sudah memilih upah yang lebih kecil dan tidak berharga. Lantas apakah upah yang berharga? Bagi saya secara pribadi adalah upah yang hanya bisa diberikan oleh Tuhan selaku pemberi mandat serta kepercayaan bagi kita sebagai orang tua untuk membimbing dan membesarkan anak.

Jika sebagai orang tua kita lebih memilih untuk “mengklaim” upah duniawi dengan mengakukan “jasa-jasa” kita, pengorbanan kita dan lain sebagainya yang sebenarnya adalah hal lumrah sebagai orang tua maka rasanya tak layak lagi kita mengharapkan upah yang sesungguhnya.

Karena itu setiap hari dalam doa saya selalu memohon agar saya dan istri diberikan kekuatan serta kemampuan mendengar petunjuk Tuhan dalam menjalankan kewajiban serta kepercayaan yang telah Tuhan berikan kepada kami untuk membimbing dan membesarkan anak-anak yang lahir dalam ikatan pernikahan kami. Jangan sampai muncul arogansi dan sikap egois yang menjebak kami untuk membanggakan diri, mengklaim atau bahkan berani merasa kecewa terhadap keputusan-keputusan yang dilakukan anak di masa mendatang. Karena memang kami tidak berhak merasa kecewa, berbangga diri atau bahkan mengklaim.

Tugas utama sebagai orang tua dalam pandangan saya secara pribadi adalah menjadikan anak sebagai pribadi yang beriman, bukan sekedar beragama karena kalau hanya beragama hasilnya seperti sekarang ini dimana banyak keributan dan pertikaian atas nama agama. Juga mempersiapkan anak sebaik mungkin agar ia mampu memilah sendiri mana yang baik mana yang buruk, agar ia mampu mengendalikan diri saat menghadapi berbagai ujian dalam hidupnya serta agar ia siap membuat keputusan-keputusan hidup berikut menanggung berbagai konsekuensi yang timbul dari keputusan-keputusan yang dibuatnya itu. Orang tua boleh merasa berhasil menjalankan mandat yang diberikan kepadanya ketika si anak mampu melakukan hal-hal tersebut.

Karena itu mengarahkan, mengharapkan anak menempuh profesi tertentu, membuat keputusan berdasarkan keinginan orang tua bukanlah sikap pantas sebagai orang tua melainkan sikap egois sekaligus membebani anak secara tidak perlu.
Hal-hal tersebut termasuk mengharapkan anak agar bisa menjadi kebanggaan bagi orang tuanya bagi saya adalah justru merupakan cerminan ketidakdewasaan serta ketidakmampuan orang tua untuk menerima dirinya sendiri.

Jangan lupa, bahwa anak adalah juga individu yang memiliki akal dan budi serta diberi tanggung jawab oleh Tuhan. Lebih penting bagi anak untuk menjalankan kewajiban serta tanggung jawab yang diberikan oleh Tuhan ketimbang memuaskan keinginan orang tua. Sekali lagi, anak adalah juga individu yang memiliki kehendak serta tanggung jawab, bukan pemikul atau penanggung jawab keinginan orang tua, singkatnya anak bukanlah pemuas orang tua!

Sebagai orang beriman, dalam pandangan saya, memang keyakinan saya mengajarkan agar anak menghormati orang tua. Namun yang menurut saya pula sering disalahartikan adalah kemudian atas nama menghormati orang tua tersebut kemudian baik anak maupun orang tua sama-sama berlindung di balik perintah tersebut.

Menghormati orang tua tidak sama artinya bersikap diam manakala orang tua bertindak menyimpang, mentolerir perilaku-perilaku tidak pantas yang dilakukan oleh orang tua tidak sama artinya dengan menghormati orang tua. Sebaliknya orang tua pun tidak semestinya bersikap anti kritik dan berlindung di balik perintah menghormati orang tua tersebut untuk menjauhkan anak yang hendak menegur atau mengingatkan.

Tak jarang orang tua bukan sekedar berlindung di balik perintah tersebut namun bahkan bersikap bias dengan tidak bersedia mendengarkan sikap kritis si anak terhadap masalah pokok yang dibicarakan namun justru balik mengkritisi sikap anak yang memberanikan diri memberi teguran. Bahkan acapkali sebagai orang tua kita juga tidak mau memahami dan mengerti proses serta pengorbanan dari sisi si anak yang ditempuh sebelum pada akhirnya memutuskan memberanikan diri memberi teguran tersebut. Lebih buruk lagi sikap seperti ini seringkali dikombinasikan dengan klaim terhadap jasa serta pengorbanan yang dilakukan sebagai orang tua selama ini yang lagi-lagi bukan merupakan tindakan pantas.

Sementara di lain pihak anak pun juga acapkali berlindung di balik alasan tersebut dengan tidak menegur ketika orang tuanya bertindak dengan tidak semestinya.

Ada pandangan tertentu dalam masyarakat yang masih feodal seperti masyarakat kita bahwa karena orang tua lebih berpengalaman maka sudah sewajarnya anak menuruti kemauan orang tua. Mungkin ya… mungkin juga tidak…

Bagi saya secara pribadi memang sudah semestinya seorang anak mendengar nasehat serta pengalaman orang tua, namun bukan berarti harus menelannya secara mentah-mentah melainkan mencerna serta mempelajari manfaatnya. Bukan terima mentah dan laksanakan ala militer! Hubungan orang tua dengan anak dibangun berdasarkan sikap saling percaya serta saling menghargai satu sama lain, bukan rantai komando.

Jika memang yang dikehendaki Tuhan adalah hubungan rantai komando maka tentulah Tuhan tidak akan memberi akal dan budi serta kehendak bebas kepada seorang anak atau bahkan pada setiap individu.

Namun tentu wajar dan manusiawi jika sebagai orang tua kita memiliki kekecewaan atau ketidakpuasan tertentu, atau mungkin sekedar perbedaan pandangan dengan anak. Atas hal-hal seperti itu alangkah baiknya jika kita kembali melakukan evaluasi diri. Evaluasi berbeda dengan mengasihani diri. Evaluasi bersikap positif, dan pasti ada hasil yang produktif. Sementara mengasihani diri ada sikap destruktif, non produktif serta ujung-ujungnya hanya membawa yang bersangkutan pada kondisi depresi.

Ambil contoh saja ketika seorang ibu merasa kecewa karena si anak tidak menjadi pribadi yang mampu berempati atau mudah memaafkan. Alih-alih mengasihani diri sendiri atas kegagalannya atau menyalahkan si anak mestinya si ibu mencoba mengevaluasi peran sebagai ibu selama ini. Sebab sikap-sikap seperti kemampuan berempati serta mudah memaafkan adalah sifat-sifat yang diturunkan oleh seorang ibu kepada anak.

Di lain pihak ketika si ayah misalnya kecewa karena salah satu anaknya dianggap kurang mandiri, kurang mampu mengatasi masalah terkait otoritas dari luar atau cenderung menyelesaikan masalah dengan kekerasan maka alih-alih menyalahkan istri atau anak baiknya mengevaluasi diri, mengingat kedua hal tersebut adalah sedikit dari banyak hal lain yang diturunkan ayah kepada anak.

Jika saat evaluasi si ibu merasa dirinya adalah pribadi yang berempati dan mudah memaafkan sementara di anak tidak demikian, atau si ayah merasa dirinya adalah pribadi yang mandiri dan tangguh namun si anak tidak maka tanyakan pada diri sendiri apakah selama masa perkembangan pribadi anak baik ibu maupun ayah sudah meluangkan cukup waktu agar anak-anaknya belajar sifat-sifat tersebut dari dirinya?

Dengan demikian sikap saling menyalahkan ataupun mengasihani diri sendiri keduanya adalah sikap-sikap yang sama sekali tidak produktif.

Memang benar bahwa ada anak-anak tertentu yang meski seperti saudara-saudaranya mengalami cara pendidikan yang sama dari orang tua namun akhirnya seolah-olah mampu lepas dari sifat-sifat turunan tersebut. Namun untuk itu si anak menempuh perjalanan serta perjuangan yang tidak singkat seperti kesaradan diri, kemampuan mengenali diri sendiri, kemampuan mengenai sifat-sofat yang diturunkan serta masih dilanjutkan lagi dengan kemauannya untuk melakukan “pemulihan” terhadap diri sendiri.
Dan itu bukanlah proses yang singkat, bagaimanapun ia sebagai individu mampu mengatasi atau setidaknya meredam, namun “warisan-warisan” tersebut tidak akan sepenuhnya hilang dari dalam dirinya.

Dan jangan lupa, bahwa seorang anak lebih banyak belajar pada perilaku yang dilihat dari orang tuanya daripada apa yang dikatakan oleh orang tuanya.. coba renungkan sejenak kalimat ini…

Maka dari itu sekali lagi dan untuk kesempatan yang berbeda saya merasa prihatin dengan sistem pendidikan (dalam keluarga utamanya) di Indonesia yang masih lebih berfokus sekedar pada perkembangan fisik dan intelektual seorang anak. Aspek-aspek perkembangan kepribadian masih dianaktirikan, orang tua serta lingkungan masih jauh dari sadar untuk berhati-hati dalam bersikap, berperilaku serta bertutur kata di hadapan anak-anak yang berpotensi menciptakan “trauma” bagi anak dan bakal memengaruhi kepribadiannya hingga dewasa nanti. Bahkan mungkin seumur hidup.

Intinya dari semua kalimat-kalimat panjang lebar yang sudah lebih dari 1.000 kata ini adalah pertama-tama sebagai orang tua kita semestinya dengan bijak mampu memisahkan mana yang merupakan upaya kita melakukan mandat yang diberikan oleh Tuhan dengan mana yang sebenarnya sekedar merupakan ego pribadi.
Kedua, baik sebagai orang tua maupun anak jangan pernah bersembunyi atau berlindung di balik perintah agama untuk menghormati orang tua.
Ketiga,
jikapun terjadi kekecewaan atau ketidaksesuaian harapan jangan kita melempar tanggung jawab kepada pasangan atau kepada anak. Lakukan evaluasi terhadap diri sendiri, bersikaplah dewasa dengan tidak melemparkan tanggung jawab serta kesalahan kepada orang lain.
Keempat,
jika kita sudah mengakui bahwa posisi kita sebagai orang tua merupakan mandat dari Tuhan maka sudah sewajarnya kita meluangkan waktu untuk memahami, melakukan upgrade ilmu yang mendukung tugas-tugas serta mandat yang diberikan kepada kita sebagai orang tua secara maksimal. Ya itulah… kita sering tidak segan-segan mengeluarkan biaya, waktu dan tenaga untuk meng-upgrade kemampuan profesional kita namun sangat sedikit waktu, energi serta kemauan yang kita agihkan untuk mampu menjalankan tuga sebagai orang tua yang baik. Memercayakan anak kepada baby sitter adalah salah satu bukti konkret yang paling sederhana.

Terakhir, dan masih terkait dengan poin pertama utamanya adalah jangan pernah kita terjebak dengan “penyakit” orang tua yaitu mengklaim jasa, pengorbanan ataupun mengklaim prestasi anak sebagai investasi kita. Jangan samakan anak dengan binatang piaraan yang dipiara kemudian diikutksertakan dalam kontes yang tujuan akhirnya hanya memboyong piala-piala untuk dipajang. Jika piala itu adalah kebanggaan kita selaku orang tua, yah… jangan harap kita bakal beroleh “piala” sesungguhnya yang jauh lebih bernilai…
Lagi pula perkembangan kepribadian anak jauh lebih berharga serta tidak akan pernah bisa digantikan atau dinilai dengan piala-piala yang kita pamerkan di kabinet tersebut maupun hal-hal lain seperti gelar, pekerjaan, penghasilan, dll yang kalau mau diakui sebenarnya hanyalah sekedar aksesoris dan sama sekali tidak mencerimkan kualitas individu. Mungkin enak untuk dipandang, tapi tidak substantif.

Memang anak kami masih dalam usia toddler, jadi mungkin belum terbayang prestasi-prestasi “aksesoris” yang mungkin bakal diraihnya di masa mendatang. Namun kalau saat ini membayangkan hal-hal tersebut terjadi (raihan prestasi aksesoris) rasanya saya akan merasa senang, bahagia, namun bukan bangga. Karena seperti sudah disebut, kebanggaan… kalau memang boleh berbangga rasanya lebih layak dialamatkan pada perkembangan kualitas kepribadian ketimbang aksesoris-aksesoris tak penting semacam prestasi akademis, karir atau sejenisnya.

Ambil contoh saja salah satu mantan capres kita, dari segi “aksesoris” kurang apa sih beliau? Pendidikan, prestasi, pangkat dan jabatan (was), kekayaan, semuanya terlihat begitu menyilaukan. Tapi ketika bicara soal kualitas sebagai individu ya silakan Anda nilai sendirilah… setidaknya lihat bagaimana sikap beliau menerima kekalahan maupun memilih orang-orang di sekitarnya.

Saya jadi ingat dulu sekali ketika menjadi sponsor salah satu event lokal dimana salah satu perlombaan adalah modelling untuk toddler. Saat itu dengan mata dan telinga sendiri saya menyaksikan beberapa orang tua yang tega mencaci maki anaknya karena kalah atau tidak tampil sesuai apa yang sudah mereka latih selama ini. Bahkan saat itu sebelum menjadi orang tua pun saya sudah heran dengan sikap para orang tua ini, lebih-lebih sekarang. Tak terbayang bagaimana mereka dengan sengaja menciptakan trauma dan luka psikologis kepada anaknya sendiri hanya karena gagal mencapai prestasi aksesoris.

Sebenarnya bagi saya sendiri hal-hal semacam itu (lomba, dsb) bukan tidak berarti, tetap banyak hal yang bisa dipelajari seorang anak. Syaratnya pertama-tama si anak harus ikut dengan kerelaan, bukan paksaan. Dan hal-hal yang bisa dipelajari justru bukan prestasi itu sendiri melainkan kegigihan dalam mempersiapkan diri, kerelaan menerima kekalahan dan mungkin kesalahan, juga mengendalikan diri jika akhirnya tampil sebagai pemenang. Hal-hal semacam itu jauh lebih besar maknanya dalam membentuk kualitas individu ketimbang piagam, piala atau hadiah lainnya. Namun kalau orang tuanya saja tidak bisa memahami hal-hal demikian bagaimana bisa mengharapkan anak memahami?

Lantas apakah sebagai orang tua kita tidak boleh berbangga? Boleh, namun sewajarnya saja. Ketika di Melbourne karena banyak bergaul dengan sesama orang tua kami melihat bahwa ada praktek pujian bagi anak dan orang tua yang cukup baik. Ketika anak kami misalnya melakukan hal-hal yang layak dipuji, menunjukkan perkembangan yang baik biasanya orang tua lain atau siapapun itu akan memberikan pujian untuk si anak, lalu di belakang dilanjutkan dengan “both of you have doing a very well job”, “well done!” atau sejenisnya kepada orang tuanya. Artinya hal positif tersebut adalah dicapai bersama-sama oleh anak dan orang tua, pujian tetap diberikan namun sewajarnya saja.