Perjumpaan yang tanpa sengaja meninggalkan kesan… (Bagian 3)

(Sambungan dari “Kesan kedua?… hmmm…mungkin sedikit…“)
Suatu ketika seusai kuliah, ada seorang temanku yang mengajakku untuk mendaftar menjadi anggota satgas kegiatan diskusi bulanan yang menjadi salah satu program Senat Mahasiswa Fakultas Hukum. Singkat cerita aku diberi tugas sebagai sekretaris pada satgas itu, dan sayangnya koordinator satgasku tidak begitu tahu hal-hal teknis. Ia memintaku langsung bertanya saja pada Sekretaris Umum (Sekum) Senat Mahasiswa bahkan memberiku nomor telepon si Sekum. Dan disinilah aku berpapasan lagi dengan mantan pendamping kelompokku itu karena kala itu dialah yang menjadi Sekum Senat Mahasiswa Fakultas Hukum.

Fungsionaris SEMA FH UKSW 1999/2000

Dua orang yang banyak memberikan bekal awal mengenai kehidupan organisasi selama aku bermahasiswa...

Aku memang jadi sering bertanya mengenai urusan teknis penyelenggarakan kegiatan diskusi rutin bulanan itu. Kadangkala aku merasa sungkan juga sehingga aku langsung bertanya pada Ketua Umum Senat Mahasiswa. Kedua orang itulah yang banyak memberikan bekal awal mengenai kehidupan organisasi selama aku bermahasiswa.

Hubungan profesional ini terus berlanjut karena aku kemudian diminta menjadi ketua panitia Acara Natal dan Buka Bersama yang juga adalah program SEMA. Pada saat mengurus kegiatan ini, aku menjumpai sosok pribadi yang lain dari mantan pendampingku itu. Aku jadi tahu kalau dibalik sosoknya yang nampak tidak peduli, sesungguhnya ia adalah orang yang mau membantu. Aku masih ingat, malam itu usai acara, aku bersama teman-teman panitiaku masih membereskan berbagai perlengkapan. Ia dengan sabar menunggu, dan kemudian menawarkan mengantarku pulang karena aku harus membawa pulang beberapa perlengkapan yang kubawa dari rumah. Mungkin hal ini nampaknya biasa, namun karena aku mengira orang ini adalah orang yang tidak peduli dengan orang lain, maka tindakannya ini sedikit mengejutkan aku.

Selain di organisasi, kami tidak banyak berhubungan. Percakapan diantara kami terjadi jika kami membicarakan mengenai urusan organisasi. Saat itu secara pribadi aku belum memiliki ketertarikan padanya. Meskipun dia sudah semakin manusiawi, tidak terlalu nampak arogan lagi dimataku, namun kadangkala sikapnya menjengkelkan.

Pernah suatu sore seusai rapat di kantor SEMA, aku memintanya diantarkan pulang. Aku sengaja melakukannya kerena kulihat hampir tidak pernah ia mengantarkan teman cewek pulang dan aku melakukan itu just for fun. Diluar dugaanku, dia menolak mengantarku. Tentu saja aku sedikit jengkel karena sebelumnya aku tidak pernah ditolak jika meminta temanku (pria) mengantarku pulang, bahkan seringkali mereka yang menawarkan terlebih dahulu bosan . Dengan perasaan jengkel, aku mengulang permintaanku dan akhirnya dia bersedia. Namun dalam hati aku berjanji ini adalah kali terakhir aku meminta dia mengantarku, dan jika ia menawariku, aku tidak akan mau melet . Aku mencatat orang ini sebagai orang yang menjengkelkan.

Perjumpaan kami ternyata tidak berhenti disitu, karena aku memilih untuk aktif di kepanitiaan sementara saat itu dia Sekum SEMA. Aku tetap mengingat perasaan jengkelku karena dia menolakku, namun ada sebersit rasa penasaran terhadap sikapnya yang seperti itu.

Aku mengamati, dengan sesama fungsionaris lain yang wanita, ia cukup akrab namun menjaga jarak. Hal ini kemudian membuat mereka nampak agak segan. Aku menyimpan sedikit ‘dendam’ karena dulu ia menolak mengantarku. Aku sengaja ingin menunjukkan padanya bahwa aku tidak bisa ditolak. Saat pelaksanaan kegiatan Iustitia Cup (saat itu diselenggarakan antar SMA dan untuk menontonnya dipungut tiket), aku bertugas mengumpulkan uang tiket. Aku sengaja meminjam tasnya. Aku tahu ini akan menarik perhatian karena tidak ada yang pernah berani meminjam tasnya. Benar saja, beberapa kakak angkatanku di kepanitiaan itu menanyakan padaku mengenai hal itu. Saat ada penonton yang nekat melompati pagar tanp membeli tiket, sebagai panitia kami wajib menindak. Saat itu aku sengaja mengajak dia memperingatkan dan menagih uang tiket para penonton ‘liar’ itu.

Sejujurnya ada dua alasan kenapa aku mengajaknya, pertama aku ingin membuatnya tidak menolak permintaanku. Aku tahu dia bisa saja menolak karena itu bukan tugasnya dan masih banyak teman panitia laki-laki yang ada disitu. Ini juga sekaligus membuatku senang karena disaat dia bersikap menjaga jarak dengan teman-teman yang wanita, dia berjalan bersamaku. Alasan yang kedua, karena entah bagaimana aku lebih merasa aman jika aku memperingatkan dan menagih uang tiket para penonton ‘liar’ itu bersamanya. Mungkin karena aku tahu ia memiliki kemampuan beladiri. Saat itu ia tidak sedikitpun menolak, aku senang karena ‘dendam-ku’ sudah terbayar gembira .

Meskipun demikian aku tahu, aku belum memiliki perasaan yang khusus terhadap orang ini. Aku yakin ketika aku tidak menanggapi mantan pacarku yang menghubungiku, atau kakak angkatan dan teman seangkatan yang terang-terangan menunjukkan kalau ia melakukan pendekatan bukan disebabkan oleh orang ini.

Namun sebaliknya, kupikir pada saat kegiatan itu ia tanpa sadar mulai jatuh cinta padaku. Pada waktu itu ia adalah perokok, suatu ketika saat pelaksanaan Iustitia Cup, ia mengambil sebatang rokok dan menyulutnya. Aku tidak berkata apa-apa hanya memandangnya dengan mengernyitkan muka. Pada dasarnya aku memang tidak suka orang yang merokok. Ternyata itu adalah kali terakhir ia merokok. Ekspresi wajahku membuat rokoknya terasa tidak enak, jadi ia mematikan rokoknya dan membagikan batang rokok yang masih ada di kotaknya kepada teman-temannya. Setelah itu, ia menceritakan bahwa beberapa kali ia mau membeli rokok namun selalu terbayang ekspresi wajahku yang tidak suka sehingga membuatnya membatalkan niatnya membeli rokok.

Kejadian itu menurutku membuktikan bahwa tanpa sadar ia mulai jatuh cinta padaku. Jika tidak, maka tidak mungkin hanya dengan ekspresiku membuatnya memutuskan untuk berhenti merokok. Perjumpaan demi perjumpaan yang mulai meninggalkan kesan.  senyum bersambung ke bag. 4-habis ….(Indirani).