So What Now??

Well, hari ini Pilpres terlaksana juga, sejauh ini Capres yang populer tampak unggul. Saya sendiri hari ini akhirnya memutuskan menggunakan hak pilih untuk Capres yang populer tersebut dengan berbagai alasan pribadi. So what?? meski unggul di tingkat eksekutif namun pihak lawan sudah mempersiapkan ganjalan di tingkat legislatif. Yah itulah politik, makanya meski menggunakan hak pilih namun pandangan saya tidak berubah… politcs is sucks!.

Kecewa karena manuver pihak lawan di legislatif? Tidak juga… saya pikir wajar kondisi seperti ini dalam dunia politik. Sejujurnya diantara dua capres yang ada tidak satupun yang ideal di mata saya. Hanya saja oleh karena yang satu didukung oleh parpol-parpol yang reputasinya meragukan serta ormas tidak beradab maka saya harus memberikan suara kepada calon yang lain. Well, walaupun parpol lain pun juga tidak lebih baik, tapi setidaknya bukan kelompok fanatik. Lagi pula Indonesia bukan satu-satunya negara dimana para elite politik selalu membuat ontran-ontran seolah negara dan pemerintahan adalah kanvas yang boleh mereka perlakukan semaunya. Selama di Victoria dan mengikuti berbagai berita pun kondisinya tak jauh beda, bahkan ketika Premier of Victoria kala itu tersingkir banyak orang yang menyebut bahwa orang baik memang takkan bertahan lama di panggung politik. Meski begitu namun suasana di dalam masyarakat tetap kondusif seolah tak terpengaruh oleh polah tingkah elite politik.

Jika di negara tersebut ontran-ontran dunia politik tak banyak berpengaruh pada kehidupan keseharian masyarakat, tak demikian halnya dengan di Indonesia. Masyarakat Indonesia seperti pernah saya singgung sebelumnya, memiliki kebiasaan unik atau terus terang sedikit aneh dalam pandangan saya. Pembicaraan politik begitu populer dan vulgar dijadikan topik dimanapun dan kapanpun, basa-basi antar dua orang yang baru kenal pun tak jarang mengangkat topik politik. Padahal di Australia politik dan agama adalah dua hal yang dianggap tabu dijadikan topik sehari-hari.

Di Indonesia sahabat, tetangga bahkan saudara pun bisa berselisih hanya gara-gara perbedaan pandangan politik. Well, tapi apa sih yang tidak bikin ribut di sini? Bukannya semua perbedaan adalah biang keributan di Indonesia? So mature…..

Tapi sebenarnya bukan itu saja salah faktor yang menjadikan kehidupan keseharian masyarakat negara maju tampak tak terpengaruh polah tingkah elite politik. Yang lebih penting adalah bahwa iklim kondusif, toleransi, kebersamaan serta nilai-nilai lain yang diperlukan untuk menjadikan sebuah masyarakat menjadi beradab tercipta berkat kesaradaran masing-masing individu untuk saling menjaga kondisi tersebut.

Nah, di Indonesia hampir segala sesuatu bahkan hingga hal-hal yang paling remeh pun dibebankan pada pemimpin. Ketika memilih Presiden orang berharap akan munculnya tokoh luar biasa dengan berbagai sebutan mulai dari Ratu Adil hingga apapun namanya. Seolah semua tatanan dan semua aspek bisa diperbaiki oleh sang pemimpin ideal ini.

Terus terang menurut saya pemikiran macam itu adalah pemikiran konyol! Dalam berbagai kesempatan saya selalu menegaskan keyakinan saya bahwa jika kita mau memperbaiki kondisi negeri ini ya mari mulai dari diri sendiri. Tapi setiap kali saya ngomong begitu orang mencibir dan tetap meyakini bahwa masalah negeri ini adalah krisis kepemimpinan.

Melihat gelagat ini saya menilai masyarakat kita adalah masyarakat yang manja sehingga alih-alih melakukan perbaikan lewat koreksi dan evaluasi diri sendiri malahan justru membebankan pada orang lain. Ya, mungkin kita mengalami krisis kepemimpinan, tapi pada saat yang sama masyarakat kita juga mengalami krisis mental dan kedewasaan.

Kita lihat saja pada hal-hal remeh seperti tertib membuang sampah, disiplin mengantri dan sebagainya yang di negara maju adalah pelajaran anak setara SD masih belum juga bisa dilakukan dengan benar oleh orang dewasa di Indonesia. Entah berpendidikan rendah maupun tinggi, kelas ekonomi bawah maupun atas perilakunya sama saja.

Tengok saja ketika di berbagai daerah dibuat aturan yang bertujuan mengatur agar masyarakat tidak buang sampah sembarangan bahkan disertai sanksi, lantas apa yang terjadi? Beberapa cukup berhasil namun sisanya jadi aturan tanpa makna. Hal-hal seperti ini mestinya bukan dicapai lewat aturan dan sanksi namun lewat kesadaran pribadi. Namun mengharapkan kesadaran pribadi demikian tumbuh dalam diri masyarakat Indonesia jujur saja hingga kini ibarat pungguk merindukan bulan.

Di negara maju kesadaran demikian diajarkan oleh orang tua kepada anak di usia dini, lha di Indonesia yang dewasa saja tidak punyak kesadaran macam ini bagaimana mungkin mau mengajarkan pada anak-anaknya? Yang bisa dilakukan orang tua di Indonesia sejak bertahun-tahun lalu tidak berubah… menggunakan ancaman dan hukuman agar anak menurut. Maka tak heran jika self-discipline menjadi barang langka di negeri ini. Alih-alih mengembangkan kesadaran diri orang tua lebih memilih menakut-takuti anak dengan berbagai bentuk dan cara.

Karena minimnya kesadaran diri serta self-discipline itulah maka hal-hal remeh temeh mau dibuat aturan, diberi sanksi. Konyol dan manja! Kita ini kan manusia dengan akal dan budi… masa’ iya semua-semua harus dibuat aturan dengan saksi serta pengawasan melekat supaya menjadi benar?

Jangan dipelintir bahwa saya ini anti dengan pemerintahan! Bukan sama sekali! Kalau ada yang berpikir demikian silakan sekolah dulu dah yang pinter biar bisa pahami kalimat saya dengan baik!

Walaupun sebenarnya sumber perpecahan di Indonesia itu menurut saya ada dua pihak: kelompok fanatik dan politisi. Kelompok fanatik entah fanatik agama, suku, ras atau apapun itu kan para blockheaded, lha mau diapain juga otaknya memang sudah ngga’ bener. Sementara politisi memanfaatkan orang-rang fanatik itu untuk kepentingannya sendiri. Yang satu tidak punya otak, yang satunya lagi tidak punya nurani… cocok dah. Politikus tak punya nurani karena menganggap para fanatik sebagai niche market yang bisa dengan mudah mereka eksploitasi untuk kepentingan sendiri, sementara para fanatik tak cukup punya otak untuk sadar dirinya bukan dibela namun sekedar dimanfaatkan. Pathetic!

Terus terang saya sendiri merasa geli melihat bagaimana para simpatisan elite politik mencurahkan waktu dan energi untuk melakukan black campaign terhadap rival politik dari calon yang didukungnya lewat berbagai media. Betapa tidak menggelikan, bahkan untuk membuat isu dan berita-berita sampah itu pun mereka pasti mencurahkan energi, waktu, bahkan melakukan riset agar isu yang dilempar sedikit masuk akal. Namun pada saat yang sama, sebagai Warga Negara mereka seperti tak punya kepedulian, waktu dan energi untuk mengevaluasi diri dalam rangka turut menciptakan masyarakat yang lebih beradab.

Tak cukup sampai di situ, tingkah konyol para elite politik yang kekanak-kanakan seperti tidak mau menerima kekalahan pun dengan cepat meracuni perilaku pendukungnya. Kenapa kita tidak bisa membiarkan saja mereka (elite politik) bertingkah semaunya sementara kita tetap menjalankan aktivitas keseharian dengan normal serta sama-sama berusaha menjadi individu yang lebih baik dari hari kermarin?

Tidak salah jika orang peduli terhadap dunia politik. Tapi bagi saya adalah sebuah sikap munafik manakala seseorang begitu melibatkan diri serta memberi perhatian pada dunia politik namun pada saat yang sama belum punya kedewasaan dan kemampuan untuk misalnya tertib berlalu lintas agar tidak membahayakan orang lain, atau tidak membakar sampah yang jelas-jelas berpotensi merugikan orang di sekitarnya. Hal-hal kecil seperti itu lolos dari perhatian, padahal cukup vital dalam membangun masyarakat yang lebih beradab. Jadi orang bener saja belum sanggup tapi kalau berkomentar soal politik lagaknya bak seorang expert.

Bahwa para elite politik bertingkah seperti anak kecil manja, ya memang itu dunia mereka. Biarkan mereka dengan dunianya, tak perlu kita meniru tingkah polah mereka.

Ada anggapan bahwa golput adalah sikap yang tidak bertanggung jawab. Ya… saya memang tak selalu menggunakan hak pilih dalam Pemilu. Tapi, sedapat mungkin saya mencoba menjadi anggota masyarakat yang baik dalam arti tidak merugikan orang lain. Seingat saya, saya membuang sampah pada tempatnya, tidak membakar sampah agar tidak merugikan orang lain, berusaha tertib berlalu lintas agar tidak merugikan orang lain, melambatkan kendaraan ketika mendekati zebra cross dan berhenti untuk memberi jalan kepada penyeberang jalan meski dicaci maki oleh pengemudi di belakang karena mereka tidak cukup pintar untuk memahami memang begitu semestinya. Saya tidak menelepon, SMS, BBM atau apapun saat mengemudi sebagaimana dilakukan oleh para primitif yang belum bisa beradaptasi dengan etika dan teknologi. Saya bisa tidur nyenyak karena saya yakin tidak pernah secara sengaja merugikan, mencurangi dan menyakiti orang lain. Well… memang ada kalanya saya bersikap agresif dan mungkin cenderung kasar, namun itu hanya saya lakukan sebagai reaksi manakala pihak lain yang saya perlakukan demikian sudah benar-benar dalam taraf kelewatan. Tapi… overall saya menilai diri saya adalah orang yang luar biasa toleran dan warga yang baik. Jika karena beberapa kali golput saya dianggap sebagai warga negara yang tidak baik dan bertanggung jawab dibanding mereka yang menggunakan hak pilih namun kesehariannya pig ignorants ya silakan saja. Saya toh sudah lama berhenti peduli penilaian orang terhadap saya, entah positif maupun negatif. Penilaian positif tak menjadikan saya lebih baik dari yang sebenarnya, demikian pula penilaian negatif tak membuat lebih buruk dari kenyataannya.

Lantas makin lama juga campur tangan negara terhadap kehidupan pribadi juga makin menjadi-jadi. Kapan masyarakat kita ini akan menjadi dewasa jika caranya seperti ini? Jaman Orde Baru dulu semua tampak lebih tertib, kenapa? Karena pengawasannya ketat! Jadi tertib pada masa itu adalah tertib semu!
Buktinya begitu Orde Baru tumbang dan digantikan dengan pemerintahan yang “katanya” lebih demokratis masyakat bak kuda liar lepas dari kekang: brutal, agresif dan tidak beradab!

Apa tingkah primitif dan tidak beradab itulah jati diri asli masyarakat kita sehingga semua bisa terkendali kalau ada kandang dan pawang bersenjata lengkap? Kita ini manusia bung! Pakai akal dan budi lah! Jangan sedikit-dikit merengek minta dibuat aturan, minta ditegakkan aturan dan sabagainya! Pakai itu akal dan budi!

Biasakan untuk bisa mengendalikan diri sendiri, memilih dan memilah, menganalisa. Jangan cuma minta disuap, dikekang dan diawasi oleh pawang!

Lucu memang pola kebiasaan dan pola pikir bangsa ini. Tengok saja bagaimana pemerintah berusaha mengekang serta mengendalikan kebebasan di internet lewat blokir-blokiran. Itu barang parno kalau di luar negeri adalah tugas orang tua untuk membatasi akses dan melakukan filter bagi anak di bawah umur. Nah di Indonesia langsung blokir sampai-sampai situs yang sebenarnya bukan parno pun ikut jadi korban. Artinya apa? Artinya orang dewasa di Indonesia pun mentalnya masih kalah dengan anak di bawah umur di negara maju sehingga tidak bisa diberikan kepercayaan untuk menentukan mana yang baik mana yang tidak bagi dirinya sendiri. Lebih-lebih membimbing dan mengawasi anak-anak untuk itu.

Katanya yang parno-parno itu memicu tindak kejahatan seksual? Ah masa? Pernah dibandingkan dengan negara lain seperti Jepang misalnya yang akses untuk materi seperti itu sangat longgar? Tinggi mana tingkat kejahatan seksualnya?
Jadi masalahnya ada pada materi parno atau pada moral serta pengendalian diri individunya?

Lha wong di Indonesia saja guyonan sexist berbau parno bisa ditemukan dimana saja mulai dari warung nasi, institusi pendidikan, institusi pemerintahan atau kantor-kantor swasta dalam keseharian kok… katanya kita adalah bangsa beragama, padahal di negara yang tidak menyatakan diri beragama kebiasaan seperti itu tidak umum. Entah berupa guyonan, entah bersiut-siut kalau ada cewe’ lewat dan sebagainya. Itu semua kan perilaku barbar dan primitif mendekati perilaku binatang, kalau kebiasaan itu masih ada dalam keseharian kita silakan artikan sendiri apa kita layak menyebut diri sebagai bangsa beradab lebih-lebih menyebut diri sebagai bangsa berke-Tuhanan?

Bukan soal materi parno saja, soal kemampuan mencerna arus informasi juga sama payahnya!
Internet sekarang sudah merambah hingga ke desa-desa, tapi kemampuan manusianya dalam mencerna informasi juga masih belum diperbaiki.

HOAX begitu cepat beredar di internet, akun Twitter atau FB yang isinya menyebar isu begitu banyak pengikutnya. Padahal kicauan-kicauan tersebut juga belum tentu benar, buktinya mana juga tidak jelas. Tapi pengikutnya demikian banyak dan dalam waktu singkat bisa menjadi trending topic.

Orang sudah ribut-ribut duluan sebelum sebuah isu bisa dijelaskan dan dibuktikan, tak jarang sudah memecah belah keharmonisan dalam masyarakat. Atas dasar apa? Omongan tak jelas?

Setelah sebagian besar orang mulai sadar lantas internet dipersalahkan sebagai sumber informasi sampah. Lah… hari gini…. Semua orang bisa nulis dan punya akses…. Jangankan internet, masuk ke toko buku saja bisa dilihat berapa banyak “buku sampah” yang bisa dipublikasikan di sana. Padahal bikin buku prosesnya lebih panjang, apalagi internet yang tinggal tulis dan publish!

Wajar saja, memang fenomena ini biasa terjadi ketika ada kebebasan berpendapat. Kita saja yang perlu pintar-pintar mencerna. Kalau kita bodo dalam mencerna informasi, jangan salahkan internet atau buku, salahkan saja bodo nya kita sendiri!

Selama kampanye Pilpres kemarin hingga hari ini katanya media tidak lagi netral dan terang-terangan menunjukkan keberpihakannya pada calon tertentu. Entah bagaimana teori jurnalistik saya tidak tahu karena memang tidak pernah belajar.
Yang saya tahu di Melbourne pun sama saja. Saya biasa membaca dua surat kabar yaitu “The Age” dan “Herald Sun”. Dari berita yang dimuat serta cara penyampaiannya saya sudah bisa menilai kok masing-masing pro terhadap apa dan kontra terhadap apa.

Biar namanya membaca berita di koran, di internet, mendengar di radio atau televisi janganlah kita begitu naif dengan berpikir bahwa penulis dan media-media tersebut tidak memiliki agenda tertentu.

Semua penulis, apapun medianya pasti….pasti… punya agenda tertentu, termasuk saya menulis di blog saat ini. Pasti!
Tapi diantara agenda-agenda tersebut, diantara sampah-sampah tersebut umumnya ada informasi serta pelajaran penting yang berharga untuk disimak. Jadi kebijakan kitalah lagi-lagi dibutuhkan.

Salah satu serial televisi yang laris di berbagai negara yaitu Law & Order pun kentara sekali memiliki agenda tersembunyi yang diselipkan dalam kebanyakan episode nya.

Sebelum membeli buku pun saya biasanya mencari tahu latar belakang si penulis, entah latar belakang pendidikan, profesi, politik, agama, suku bahkan kalau mungkin histori masa lalunya. Dari situ biasanya akan terbaca agenda-agenda yang bakal “disusupkan” pada karya yang bersangkutan.

Lagi-lagi jangan biasa menjadi masyarakat manja yang hanya menunggu disuap dan diatur, kita ini manusia!

Belum lagi kedewasaaan manusia Indonesia dalam menyikapi keberagaman. Sejak kecil memang orang tua dan lembaga pendidikan di Indonesia cenderung mengarahkan anak pada keseragaman, bukan keberagaman. Akibatnya kita sedemikian alergi terhadap perbedaan, apapun bentuknya.

Beda pendapat ribut, beda sekolah tawur, beda suku, agama dan ras apalagi. Tengoklah itu semua, bukannya itu semua adalah ciri-ciri pribadi primitif?

Lantas apa untungnya menjelek-jelekkan orang lain yang berbeda dengan kita? Menjadikan kita lebih baik? Membuat mereka tampak buruk? Apa manfaatnya?

Saya sering terheran-heran ketika masuk ke toko buku ada demikian banyak buku yang masuk dalam kategori “Religi” namun isinya memperbandingkan keyakinan si penulis dengan keyakinan lain. Sebagaimana sudah diduga penulisnya akan membentuk persepsi pembaca agar seolah-olah keyakinan yang diperbandingkan itu sesat.

Lagi-lagi, sama seperti black campaign menulis buku macam itu tentu perlu riset agar apa yang disampaikan seolah masuk akal. Alih-alih memperdalam keyakinannya sendiri malahan si penulis mempelajari keyakinan orang lain untuk diperbandingkan.

Apa tujuannya? Entahlah, jujur saja sampai sekarang saya tidak bisa mengerti. Saya tidak pernah tersinggung kalau keyakinan saya dijadikan bahan pembanding dan “disesatkan” oleh orang-orang macam itu.

Kenapa? Karena bagi saya keyakinan saya adalah paling benar dan tak ada tulisan atau hal apapun yang menggoyahkan keyakinan saya itu. Kalau saya mengalami pergumulan pun bukan berarti saya bakal tergoda untuk pindah keyakinan, sebab bagi saya kebenaran itu sudah mutlak. Kalau sampai saya bergumul dengan kebenaran mutlak tersebut dan tak berhasil melewatinya maka yang paling mungkin terjadi adalah saya menjadi atheis, bukan pindah ke keyakinan lain. Untunglah sejauh ini hal itu tidak terjadi dan semoga takkan pernah terjadi. Dan pula saya tak pernah mempelajari agama lain di luar agama saya, saya tidak merasa perlu atau tertarik meski pada saat yang sama saya tak pernah berkeberatan pula orang lain meyakini agamanya.

Lagi-lagi makanya saya heran apa manfaatnya orang menjelek-jelekkan keyakinan orang lain? Saya pikir orang-orang demikian adalah orang yang tak terlalu yakin dengan keyakinan yang dianutnya sendiri. Supaya dirinya yakin benar maka orang lain harus salah. Kalau orang lain tidak salah, maka dirinya belum tentu benar. So pathetic, tapi setidaknya itulah pandangan saya terhadap orang-orang macam ini.

Saya sendiri menganggap keyakinan saya benar mutlak, namun saya tak ambil pusing ketika orang lain memiliki perasaan yang sama terhadap keyakinan yang dianutnya. Saya tak perlu orang lain terbukti salah hanya untuk meyakini bahwa pilihan saya benar.

Makanya saya heran ketika ada pandangan sinis yang sedemikian anti terhadap kegiatan sosial atau pemberian bantuan yang dilakukan oleh agama tertentu. Di agama saya, bahkan orang yang sudah punya niat untuk resmi menjadi pemeluk saja masih melalui berbagai proses untuk bisa diterima di dalamnya, dan ketika sudah sah diterima nantinya proses perkembangan iman dan perjalanan juga akan terus menguji orang tersebut. Apa ya masuk akal kalau bagi-bagi mie instan, beras dan sebagainya bisa dianggap sebagai upaya menarik orang agar menjadi pemeluk agama tertentu?

Murahan sekali kalau memang begitu? Atau memang yang memiliki kecurigaan tersebut memang biasa melakukan kegiatan semacam itu untuk menarik orang memeluk agamanya? Atau dirinya sendiri berpikir bahwa ia bisa tergoda pindah agama karena rayuan beras, sembako atau mie instan?

Lagi-lagi, pengalaman saya di negeri orang sebagaimana pernah saya tulis pada tulisan sebelumnya bahwa ada sedemikian banyak agama, suku dan ras yang ada di Negara Bagian Victoria. Namun mereka bisa menjalankan aktivitasnya dengan damai dan hidup berdampingan secara rukun. Kenapa kita tidak bisa? Ya jawabnya kembali lagi pada tingkat peradaban kita yang masih belum jauh dari primitif!

Kalau saya ngomong pengalaman di negeri orang lantas ada orang tertentu yang bilang anti terhadap budaya barat sehingga tak perlu meniru. Well, lagi-lagi sifat primitifnya muncul! Dari sekian banyak yang anti barat itu berapa prosen sih yang pernah benar-benar hidup dan tinggal di antara orang barat sehingga merasa bisa menilai budaya dan kebiasaan mereka?

Lebih banyak yang pernah hidup langsung di tengah-tengah mereka atau sekedar menilai dari berita dan film? Kalau dari berita, cerita dan tulisan saja, seperti saya singgung di atas: semua penulis punya agenda! Sedangkan kalau dari film, walah…. Kebangetan tenan tingkat intelektual orang-orang ini sampai-sampai film dijadikan referensi!

Jangan pula kita memberi label atau cap pada orang-orang di negara lain hanya karena sikap politik pemerintahannya. Sikap politik pemerintahan tidak selalu mencerminkan sikap warga negaranya. Kita orang Indonesia apa kita selalu setuju dengan sikap politik pemerintah? Apa sikap politik pemerintah benar-benar mencerminkan sikap kita? Ya kita pasti punya jawaban berbeda, kalau saya sih tidak pernah menganggap demikian.

Seringkali kita menutup diri untuk belajar dari orang lain yang kita anggap beda dan hanya mau menerima masukkan dari orang-orang yang satu ide dengan kita. Meski itu tidak selalu salah, namun sikap demikian juga membuat kita tidak menjadi lebih baik. Belajar dari siapapun bagi saya sama saja, selama kita tetap analitis, punya pendirian dan tidak kehilangan jati diri. Orang-orang yang suka anti terhadap sesuatu pada dasarnya adalah mereka yang memiliki ketakutan sangat besar karena takut jati diri serta prinsip yang dianutnya bakal luntur jika mencoba membuka pikiran terhadap orang lain.