Purpose, Faith and Passion

Nothing can stop the man with the right mental attitude from achieving his goal; nothing on earth can help the man with the wrong mental attitude. W.W. Ziege

Saya sering mendengar orang mengatakan bahwa dirinya selalu hidup dalam kekurangan dan kegagalan karena menjalani usaha yang salah atau memilih profesi yang salah. Mungkin Anda pun pernah mendengar atau malahan termasuk salah satu yang berpikir demikian.

Kepada mereka yang berpikir demikian sering kali saya justru bertanya dalam hati apakah memang ada bisnis yang salah? Atau adakah profesi yang salah? Selama bisnis atau profesi tersebut jujur, beretika dan tidak merugikan siapapun dimana letak kesalahannya?

Jika memang apa yang kita lakukan itu beretika, jujur, tidak merugikan siapapun dan bahkan memberi manfaat bagi orang lain namun belum juga membawa kita menuju kesuksesan yang kita impikan apa yang harus diperbaiki?

Pernahkah kita bertanya dalam diri kita sendiri: apakah tujuan kita menjalankan sebuah bisnis? Apakah tujuan kita menggeluti profesi yang kita jalani saat ini? Apakah kita benar-benar mencintai profesi/bisnis yang kita jalani sekarang ini?

Faktor internal dalam diri kita sebenarnya merupakan faktor penentu kesuksesan ataupun kegagalan yang kita alami. Untuk mampu mencapai sebuah keberhasilan yang kita perlukan adalah rasa cinta pada apa yang kita tekuni entah itu profesi ataupun bisnis. Saya sering menyebut rasa cinta ini sebagai passion. Dimana dengan rasa cinta ini kita selalu bersemangat dan begairah dari waktu ke waktu, dari hari ke hari untuk menjalani aktivitas tersebut.

Jika kita adalah seorang entrepreneur apakah kita mencintai bidang yang saat ini digeluti? Atau sekedar keterpaksaan demi mencukupi kebutuhan? Para entrepreneur yang memiliki passion kuat karena rasa cinta akan bidang usaha yang ditekuni cenderung mencapai keberhasilan ketimbang mereka yang asal jalan saja. Passion yang kita miliki akan menjadi daya tarik bagi orang-orang di sekitar kita.

Bagaimana membangkitkan rasa cinta akan pekerjaan kita? Jika kita memilih bidang usaha/pekerjaan yang memang sesuai dengan minat tentunya tidak sulit untuk mencintainya. Namun jika saat ini kita sudah berada dalam suatu usaha karena keterpaksaan (meneruskan usaha orang tua, modal terbatas, tidak ada pilihan lain, dsb.) apa yang dapat kita lakukan?

Berpindah ke bidang usaha baru memerlukan energi yang tidak sedikit, sumber daya yang tidak sedikit termasuk dana. Bayangkan jika kita tidak mencintai bidang usaha saat ini namun dikemudian hari usaha kita berkembang sedemikian rupa sehingga dari usaha itu Anda mampu menyekolahkan anak-anak kita ke sekolah terbaik, membeli rumah/mobil yang kita impikan, memberikan lapangan kerja yang menyejahterakan para karyawan, memampukan kita memberi bantuan pada mereka yang berkekurangan dan bahkan mungkin dapat diwariskan selama tujuh turunan. Akankah kita mencintai bisnis kita ini?

Ya, pertumbuhan bisnis akan menumbuhkan pula rasa cinta terhadap bisnis itu sendiri. Agar bisnis kita dapat bertumbuh yang diperlukan adalah tujuan (purpose) dan keyakinan (faith). Tanpa tujuan kita kehilangan arah, tanpa keyakinan kita tidak akan memperjuangkan tujuan. Tujuan yang kita yakini pada akhirnya akan menumbuhkan gairah (passion) dalam menjalani usaha tersebut. Dan seperti telah disebutkan di awal bahwa passion inilah yang akan memancar kepada orang-orang di sekitar kita dan menjadi daya tarik tersendiri.

Cobalah tanamkan dalam diri kita sendiri sebuah tujuan yang konkret dan benar-benar ingin serta harus kita capai. Kalau boleh meminjam kalimat yang sering dipakai Pak Tung Desem (TDW) kurang lebih demikian: kalau dilakukan membawa nikmat luar biasa kalau tidak dilakukan akan membawa sengsara yang tak tertahankan. Yakini bahwa kita mampu/harus mewujudkan tujuan tersebut dan saat ini kita berada di jalur yang benar, pelihara dan jaga selalu keyakinan itu walau apapun yang terjadi. Yakin juga bahwa segala usaha yang kita lakukan membawa kita semakin dekat pada tujuan itu. Dengan demikian jika kita sungguh-sungguh meyakininya pasti akan lahir passion. Semakin kuat keyakinan yang kita miliki semakin kuat pula passion-nya.

Cukup kita meyakini (dengan sangat kuat) dalam diri kita sendiri bahwa tujuan itu pasti tercapai dan tidak perlu menceritakan pada orang lain dengan kata-kata. Hal yang penting untuk ditunjukkan dan disampaikan kepada orang lain adalah passion yang kita miliki bukan kata-kata keyakinan kita.

Bawa passion dan keyakinan tersebut dalam berhubungan dengan siapapun. Dengan keluarga, tetangga, teman, pelanggan, mitra, dll. Yakini pula bahwa orang-orang yang kita temui ini akan membantu kita mewujudkan tujuan entah langsung maupun tidak langsung. Di atas segalanya serahkanlah selalu perbuatan kita pada Tuhan, sebab hati manusia memikirkan jalannya tetapi Tuhan menentukan arah langkahnya.

Perhatikan apa yang terjadi… (meminjam kalimat Pak Mario Teguh). Masihkah kita akan menyalahkan bidang usaha dan profesi yang kita pilih? Atau sikap mental kita-lah penyebabnya? (Satrio A. Wicaksono, entrepreneur dan owner Sinergi Indonesia)