Sabarpreneur

Kemarin ketika selesai menulis “Lebaypreneur” telepon genggam saya berbunyi, setelah diangkat ternyata orang nawari main indeks entah darimana juga mereka dapat nomor saya tapi yang jelas kejadian ini sering berulang meski saya telah beberapa kali mengganti nomor untuk menghindari.

Berawal dari kejadian itulah kemudian tersirat istilah “sabarpreneur” yang meski kalau diterjemahkan ditak akan pas tapi yang saya maksudkan sebagai “sabarpreneur” adalah entrepreneur yang sabar.

Seringkali kalau bicara mengenai entrepreneurship kata-kata yang muncul adalah kegigihan, jeli terhadap peluang, semangat, kerja keras, pantang menyerah dan sebagainya. Namun sebenarnya kesabaran juga penting. Karena menurut saya ada beberapa tahapan dimana harus kita lalui dengan kesabaran, setidaknya ini adalah pengalaman saya. Entah bagaimana dengan yang lain silakan ditanyakan sendiri.
Tahap pertama yang perlu dihadapi dengan sabar adalah reaksi keluarga ketika saya memutuskan untuk keluar kerja dan menjadi entrepreneur. Tidak heran sebab bagi orang tua yang telah puluhan tahun hidup sebagai pegawai tentu menjadi entrepreneur seolah jauh dari kemapanan. Belum lagi biaya pendidikan yang telah diinvestasikan selama ini seolah tampak sia-sia jika anaknya memilih menjadi entrepreneur. Meski faktanya tidak demikian sebagaimana pernah saya tulis pengalaman saya di salah satu artikel di blog ini juga. Namun kita mesti paham juga bahwa yang kita hadapi sebenarnya adalah persepsi. Pesepsi orang tua mengenai hal-hal yang telah saya sebutkan, persepsi lingkungan yang masih melihat bahwa menjadi entrepreneur adalah pilihan terakhir jika tidak diterima kerja dimana-mana. Persepsi-persepsi ini tidak akan hilang hingga kita menunjukkan hasil. Seiring dengan membaiknya hasil yang kita peroleh maka persepsi ini akan pudar. Karenanya diperlukan kesabaran untuk melalui tahapan ini sebab jika tidak sabar bisa-bisa kita menyerah di tengah jalan. Yang selalu saya pegang adalah kata-kata: “As you are looking for your truth outside of yourself, hearing is through the words of others, you will always have that question, for you will hear many different answers, but as you are looking for your truth from that which comes from within you, then you will never question it”

Tahap kedua ketika usaha kita mulai berjalan akan muncul ujian kesabaran dalam menghadapi pelanggan maupun pemasok. Pemasok yang kadang kala mengubah harga dan spesifikasi semaunya sendiri, pelanggan yang menawar dengan harga tidak masuk akal, komplain yang kadang mengada-ada. Atau harus menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka yang “no action ask only”. Ketika kita membuka peluang usaha atau menjual secara ritel, termasuk berjualan secara online biasanya akan banyak telepon, sms ataupun e-mail yang menanyakan harga, sepesifikasi, syarat keagenan dan lain sebagainya.
Sering saya menerima pesan sms atau e-mail seperti ini: “Penting!! Berapa harga agen untuk barang x dan berapa minimal pembeliannya supaya mendapat harga agen? Tolong dijawab secepatnya!!” (lengkap dengan tanda seru yang terkadang semua hurufnya pun kapital). Soelah pesannya begitu penting dan mendesak, setelah dijawab biasanya minta dikirim katalog dan sample, namun tidak ada kelanjutannya. Ketika coba dihubungi jawabnya enteng “Masih pikir-pikir” Nah!! Atau yang mengirim sms: “Saya sangat tertarik untuk menjadi agen tunggal, tolong telepon saya segera!” Ketika ditelepon pertanyaannya demikian banyak dan detil, seringnya menanyakan mengenai garansi jika barang tidak laku. Namun sama seperti tipe sebelumnya, tipe ini pun biasanya tidak ada follow up.

Tapi jangan khawatir sebab lama kelamaan kita akan terlatih untuk menilai mana orang yang serius mana yang tidak melalui kata-kata dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Yang penting adalah untuk selalu sabar menghadapi sebab kalau tidak sabar bisa merusak nama baik usaha kita sendiri.

Kesabaran tahap ketiga adalah menghadapi sumbangan-sumbangan liar. Jangan dipikir saya pelit, kalau sumbangan itu jelas tujuannya, jelas institusinya tidak masalah untuk saya. Tapi tidak jarang datang orang berambut cepak padahal jelas bukan militer, masuk ke tempat usaha kita dengan gaya percaya diri kemudian mengajukan map dan stiker yang kadang isinya sungguh tak bermutu seperti: “Mari Menjaga Ketertiba” atau sejenisnya yang dijual dengan harga cukup mahal dengan embel-embel berlaku entah per tiga bulan, per tahun dan sebagainya. Biasanya sumbangan-sumbangan tak jelas ini ketika kita tanya lebih lanjut mengenai manfaat dan institusinya tampak jawabannya tak masuk akal. Kata pamungkasnya biasanya adalah: “tempat usaha yang lain juga kok”, kalau saya sih biasanya jawab begini :”ya sudah yang lain saja, saya tidak” Tapi ingat: tetap sabar, jangan karena aksi orang lain kita jadi bereaksi tidak elegan.

Tahap ketiga setelah usaha kita mulai “kelihatan” ya itu tadi yang saya sebut di awal tulisan, entah bagaimana nomor ponsel Anda bisa tersebar sehingga muncul tawaran-tawaran main indeks, valas, asuransi dan lain sebagainya. Yang menguji kesabaran tidak jarang mereka telepon di saat penting. Misalnya ketika kita sedang presentasi di hadapan klien, rapat atau bahkan menjenguk relasi di rumah sakit. Jika memang Anda tidak tertarik lebih baik ungkapkan saja terus terang tidak perlu basa-basi lain kali atau lain hari sebab para salesman/girl ini biasanya punya semangat pantang menyerah. Bahkan ketika kita jelas-jelas menolak pun selalu ada caranya.

Tahap keempat dan kelima sebenarnya terpisah namun saya gabungkan saja karena saling berhubungan, masing-masing adalah perputaran roda bisnis dan persaingan. Tak dapat dipungkiri bahwa perjalanan usaha tidak selamanya mulus akan ada masa-masa seolah target begitu mudah dicapai namun terkadang muncul masa-masa dimana memperoleh setengah dari target saja harus berjuang mati-matian. Persaingan pun juga demikian tak selalu kita menghadapi kompetitor yang fair play sebab ada kalanya juga kita menghadapi kompetitor yang bermain kasar. Namun inti menghadapi keduanya adalah sama yaitu kesabaran. Kenapa bukan kegigihan? Sebab bagi saya sia-sia seseorang gigih berjuang jika hatinya sendiri tidak tenang. Nah untuk bisa tenang harus ada kesabaran dulu bukan?

Sekali lagi ini adalah pengalaman saya, kalau ada yang beda ya itulah inti dari hidup ini penuh dengan keragaman yang menjadikan semuanya indah. (Satrio)