Modem SmartFren Ditukar Bakso

Modem SmartfrenSmartfren untuk kesekian kalinya mengecewakan saya. Setelah bulan lalu tanpa penjelasan terus menerus RTO dan sempat saya komplain ke halaman FB nya maupun CS di galeri kini kejadian yang sama terulang kembali.

Tiba-tiba kemarin sekitar pukul 10.00 pagi koneksi putus total. Sinyal EVDO Smartfrenn masih penuh, tapi koneksi selalu terputus. Persis kejadian bulan lalu, ketika saya coba cek pulsa jawabannya kurang lebih demikian “Maaf untuk sementara layanan ini tidak tersedia, silakan lakukan registrasi kartu pra bayar Anda”

Jawaban konyol mengingat saya sudah berlangganan Smartfren sejak bulan Desember 2009 dan tidak pernah mengganti kartu chip.

Tapi memang bukan itu perkaranya, sebab sebulan lalu ketika terjadi ‘badai’ RTO memang saya menerima jawaban serupa ketika mengecek pulsa.

Smartfren Tidak Punya Cukup Komitmen pada Pelanggan

Setelah sekian lama bersabar, dan bahkan ketika bulan lalu terjadi kejadian serupa yang berlangsung selama beberapa hari pun saya masih bersabar dan setia pada Smartfren. Sejak bulan Desember 2009 hingga pagi tadi saya masih setia pada Smartfren, tapi dimana-mana hubungan itu harus ada timbal balik kedua belah pihak.

Faktanya kesetiaan saya pada Smartfren tidak berbalas. Saya ingat betul ketika komplain di halaman resmi FB Smartfren dan CS di galeri saya mengusulkan agar kedepan andaikata ada perbaikan tolong diberitahukan terlebih dahulu pada pelanggan.

Toh ada web resmi Smartfren, halaman FB resmi bisa juga melalui SMS yang bisa menjadi media untuk menyampaikan informasi rencana atau jadwal perbaikan. Setidaknya ketika ada kepastian, meski terganggu pelanggan lebih bisa mentolerir.

Beda halnya kalau diam seribu bahasa seolah tidak ada masalah. Jelas saya tahu tidak ada pemberitahuan sebab kemarin baru saja saya masuk website Smartfren untuk melihat informasi mengenai undian berhadiah.

Jelas pula saya yakin tak ada pemberitahuan via SMS karena saya set ke Hybrid mode.

Asal tahu saja, saya menggunakan koneksi internet untuk melakukan pekerjaan setiap hari. Dan bulan lalu ketika Smartfren ‘berulah’ saya harus menerima komplain dari klien bahkan beberapa diantaranya menuntut pengembalian uang muka. Padahal saya sudah kerja setengah jalan yang artinya sudah keluar biaya dan tenaga.

Tapi tak apalah, berbeda dengan Smartfren yang tak punya itikad baik dan komitmen pada pelanggan, saya punya itikad baik dan komitmen pada pelanggan saya. Daripada pelanggan merasa dirugikan lebih baik saya relakan kerugian ‘beberapa belas juta rupiah saja’.

Smarfren mungkin berpikir toh saya cuma bayar Rp 99.000/bulan untuk paket New Silver dan bisa untung berjuta-juta, masa’ masih protes?

Begini ya Smartfren, saya tidak berkeberatan melakukan upgrade paket atau kenaikan tarif. ASALKAN….. layanan yang dijanjikan oleh pihak Anda ditepati dengan sungguh-sungguh.

Ketika Smartfren mengubah paket dan tarif beberapa waktu lalu, saya memang mempertimbangkan mengambil paket yang lebih tinggi. Tapi…. mengingat track record Smartfren, saya pilih paket New Silver dulu sambil melihat bagaimana Smartfren memenuhi kewajiban sebagai penyedia layanan data.

Ternyata menurut evaluasi saya, kinerja Anda tidak cukup bisa diandalkan sehingga terlalu beresiko jika saya mengeluarkan biaya lebih besar untuk layanan yang belum bisa dipastikan kualitasnya.

Smartfren dan Saya: Cukup Sampai Disini

Tapi ya sudahlah daripada jengkel-jengkel. Atau komplain di FB dengan tanggapan standar atau marah-marah ke mbak-mbak CS di galeri yang saya yakin juga sudah banyak diomeli pelanggan karena ketidakbecusan di luar divisi-nya akhirnya saya buat keputusan:

Live Smart by Leaving SMARTFREN!

Siang tadi saya akhirnya putuskan beralih ke Indosat M2 Prime, sedikit lebih mahal memang. Tapi…. so far saya puas. Lebih stabil dan lebih cepat ketimbang Smartfren yang mengklaim up to 3.1 Mbps (kalau beruntung, tapi lebih banyak buntungnya).

Dari segi biaya berlangganan memang seklias tampak sedikit lebih mahal, tapi setelah saya hitung-hitung sebenarnya tidak juga. Pertama saya tidak perlu menanggung resiko mengambalikan uang muka klien, kedua saya tak perlu menanggung resiko kehilangan klien karena koneksi yang tidak beres. Dan ketiga saya tidak perlu beli obat pusing akibat jengkel dengan ulah operator yang tidak menghargai pelanggannnya.

Apakah IM2 akan terus bekerja dengan baik? Apakah Smartfren di masa mendatang akan lebih baik?

Tidak tahu, yang jelas saya butuh solusi saat ini. Toh kalau memang semua berjalan sesuai rencana awal tahun depan saya tidak lagi di Indonesia. Jadi kalau Smartfren memang bakal memiliki kinerja lebih baik beberapa bulan kedepan…. siapa peduli??

Lalu kemana modem saya? Ketimbang saya jengkel setiap melihat modem AC2726 UI yang sudah menemani saya bekerja sejak akhir tahun 2009 ini akhirnya tadi sewaktu saya jajan bakso di tukang bakso langganan, saya tanya:

“Mas anaknya masih kuliah”
“Masih mas, sudah skripsi mudah-mudahan saja cepat lulus” Jawab si bapak penjual bakso.
“Kalau gitu perlu internet dong mas?” Kata saya
“Iya, biasa ke warnet sebelah kampus tuh” Si Bapak menjawab
“Ini deh mas, saya ada modem nganggur. Kalau mau pake ya syukur kalau ngga mau ya kasih saja ke siapa yang mau”
“Wah beneran mas? Terima kasih sekali. Nanti biar saya kasih ke Wawan (anaknya)”

Ternyata bukan cuma saya terbebas dari stres dan jengkel akibat Smartfren tapi malah si Bapak kasih baksonya gratisan.

Tepat rasanya pilihan saya: Live Smart by Leaving Smartfren atau mungkin lebih tepatnya; bebas stres dengan menukar dua mangkuk bakso dengan modem Smartfren.