Steve Jobs Pemberontak, Jenius dan Idola

Steve Jobs meninggal pada hari Rabu waktu setempat pada usia 56 tahun setelah berjuang melawan kanker pankreas yang sudah cukup lama dideritanya. Demikian disampaikan oleh pihak Apple.

Steve Jobs meninggalkan empat orang putra dan dikabarkan meninggal dengan tenang di tengah-tengah keluarganya. Jobs selama hidupnya dikenal sebagai seorang pembangkang namun sekaligus jenius dan idola banyak orang. Mark Elliot Zuckerberg CEO sekaligus founder FaceBook terang-terangan menyatakan betapa dia mengagumi Jobs baik sebagai idola, penasehat sekaligus sahabat.

Steve Jobs menemukan dan memperkenalkan banyak inovasi produk yang sebelumnya bahkan tak seorangpun sanggup membayangkan dan mengerti manfaatnya hingga dia menunjukkan pada dunia. Jobs telah mengubah cara kita mendengar, melihat dan berkomunikasi melalui produk-produknya. Insting dan kemampuannya untuk memahami kebutuhan adalah kekuatannya selain keberaniannya mengambil resiko dan mempertahankan keyakinan.

Steve JobsBagi sebagian orang dia dianggap sebagai pemberontak yang susah diatur, tapi mereka yang mengerti beranggapan bahwa sikap pemberontaknya hanyalah persepsi salah dari mereka yang tak mampu memahami visi seorang jenius.

Steve Jobs: Rancanglah Hidupmu Sendiri

Pada usia 21 tahun bersama Wozniak, Jobs mendirikan Apple untuk pertama kalinya di garasi orang tuanya pada bulan April 1976. Saat itu mereka tak peduli bagaimana produknya akan dipasarkan dan juga tak mau menuruti keinginan perusahaan besar jika memang bertentangan dengan idealismenya.

Yang menarik untuk dicatat adalah bahwa Jobs hanya membuat produk karena dia yakin akan kemanfaatan dan kinerjanya, itu saja! Bersama dengan Bill Gates yang juga tidak tamat kuliah keduanya diakui sebagai orang yang telah mengubah dunia.

Jobs sendiri terpaksa putus kuliah karena alasan finansial. Pada sebuah kesempatan Jobs pernah bertutur bahwa semasa kuliah dia bahkan harus rela menumpang tidur di lantai temannya karena tidak cukup biaya. Bukan hanya itu, kala itu dia bahkan mengumpulkan botol-botol Coca Cola bekas teman-temannya untuk ditukarkan dengan uang yang selanjutnya digunakan untuk membeli makan.

Keadaan itu tak lantas membuat Jobs putus asa atau mengasihani diri sendiri. Calon pendiri Apple ini tetap yakin bahwa ia akan mampu mewujudkan mimpi dan idenya.

Disejajarkan dengan Thomas Alfa Edison, Jobs adalah seorang entrepreneur tulen. Dia mempertahankan keyakinannya meski harus menghadapi resiko yang tidak ringan. Prihatin melihat begitu maraknya pembajakan hasil karya industri musik, ia menciptakan alternatif penyebaran karya cipta para musisi melalui internet secara legal sekaligus mengurangi tingkat pembajakan.

Selama berbulan-bulan dirinya berusaha meyakinkan Kunitake Ando yang saat itu menjadi CEO Sony untuk bekerja sama memerangi pembajakan musik di internet. Dengan kesabaran yang luar biasa akhirnya lahirlah iTunes Store di tahun 2001.

Sama halnya dengan semua entrepreneur, Steve Jobs tidak melewati perjalanannya membangun bisnis dengan mulus.

Mengawali perusahaannya bersama Wozniak, Steve Jobs sudah menjadi milyuner di usianya yang ke 25 tahun ketika Apple memasuki bursa saham di tahun 1980.

Produk Macintosh-nya saat itu menuai kesuksesan yang luar biasa. Namun filosofi ‘think different” yang dianut olehnya tak mampu diterima oleh orang-orang di dalam perusahaan itu sendiri. Jobs dianggap sebagai pembangkang, tidak waras, labil dan biang onar hingga pada akhirnya tahun 1985 dipecat oleh pemegang saham. Kenyataan tak membuatnya kehilangan keyakinan akan visinya, ia kemudian mendirikan NeXT dan Pixar (yang kini sudah dibeli oleh Disney) sebagai ‘kendaraan’ baru dalam mewujud-nyatakan visi dan ide-idenya.

Tahun 1997 NeXT diakuisisi oleh Apple sebagai upaya Apple ‘menarik’ Steve Jobs untuk dikembalikan pada posisinya semula sebagai CEO di Apple hingga mengundurkan diri pada bulan Agustus 2011 dan merekomendasikan Tim Cook sebagai pengganti.

Selama menjabat sebagai CEO Apple, Steve Jobs hanya menggaji dirinya sendiri sebesar $ 1/bulan. Mengenai gajinya dia pernah berkelakar bahwa ia dibayar 50 sen untuk kehadiran di kantor setiap hari dan 50 sen sisanya sebagai penghargaan atas kinerjanya. Kekayaan Steve Jobs sendiri salah satuya berasal dari saham Apple yang selama sepuluh tahun terakhir tidak pernah menurun nilainya.

Pada masa kempemimpinannya yang kedua sebagai CEO, pangsa pasar Apple di industri PC sudah menurun drastis akibat kalah persaingan dari IBM. Namun selama itu pula Steve Jobs membawa Apple memasuki dan menciptakan segmen-segmen produk baru yang mendapat respon positif dari calon pembeli dan sekaligus mengundang hadirnya kompetitor-kompetitor baru.

Merk “Apple” sendiri selama bertahun-tahun memperoleh predikat sebagai “the world’s most valuable brand”.

Steve Jobs: Pekerjaan Tidak Selalu Nomor 1

Sebagai seorang CEO sekaligus entrepreneur sukses, Steve Jobs tak selalu menomorsatukan pekerjaan di atas segalanya. Ketika menceritakan kehidupan pribadinya yang jarang terungkap, Jobs pernah mengaku bahwa ia melewatkan rapat perusahaan demi berkencan dengan Laurene seorang mahasiswi universitas elit Whatron Business School yang kemudian menjadi istrinya.

Jobs kala itu bertanya pada dirinya sendiri: “Jika ini adalah hari terakhirku, mana yang hendak kulakukan?”. “Menghadiri rapat atau berkencan dengan Laurene?” Jobs akhirnya merelakan agenda rapatnya dan mengajak calon istrinya untuk makan malam.

Keduanya menikah pada tahun 1991, Laurene sendiri adalah juga seorang entrepreneur lulusan Wharton dan memiliki gelar MBA dari Stanford.

Sehari setelah mengumumkan peluncuran iPhone 4S, Apple mengumumkan kepergian sang ikon, mantan CEO sekaligus pendiri perusahaan.