Kalau Bisnis Jangan Bedakan Teman

Sekedar sharing mengenai kejadian yang saya alami baru-baru ini. Sekitar awal bulan lalu seorang teman yg juga sama-sama wiraswasta menghubungi saya via telp. intinya hendak memesan beberapa barang promosi yang akan dijualnya sebagai merchandise dalam sebuah event. Setelah sedikit ngrobrol akhirnya dia memutuskan akan menghubungi saya untuk memberikan kepastian order beberapa hari lagi. Saya menanyakan hari H event karena salah satu jenis item yang dipesannya memerlukan waktu produksi yang agak lama terlebih saat itu sedang overload karena banyak order. Saya hanya mengingatkan supaya desain dan kepastian order bisa saya terima setidaknya 2 minggu sebelum tgl pengiriman yang diminta.

Selang beberapa hari kemudian teman ini kembali telp. untuk memberikan kepastian bahwa akan order dari saya tapi belum memberikan logo/desain-nya, saat itu yang paling saya tangkap penekanannya adalah bahwa teman saya ini tidak bisa kalau harus memberikan DP 50% (saya memberlakukan ini pada customer lain) jadi minta dibantu mungkin dia akan transfer sekitar 5 juta dulu di awal. Berhubung ini adalah teman maka saya percaya saja dan saya menyetujuinya. Saat itu teman saya minta dikirim sample dan harga, keduanya sudah saya kirimkan.

Beberapa hari saya tunggu dan saya hubungi untuk desainnya karena waktu semakin mepet tapi belum juga diserahkan. Akhirnya saya telp malamnya agar desain logo segera dikirm via email dan teman saya menyetujuinya. Pada saat telp ini saya juga memastikan jumlah masing-masing item yang dikonfirmasi saat itu juga oleh teman saya ini. Paginya beberapa kali saya cek email belum masuk setelah saya ingatkan lagi sekitar jam 12 siang baru email saya terima. Setelah saya cek ternyata peletakan logo tidak sama dengan sample sehingga saya menghubungi kembali bahwa ada perubahan harga dan mengingat waktu yang sangat mepet (tinggal seminggu) sementara desain yang dimintanya ada 3 macam maka saya menawarkan hanya dibuat 1 desain saja. Teman saya tidak setuju dan katanya kalau soal biaya tidak jadi masalah buat dia.

Sebenarnya bukan hanya soal biaya tapi justru soal waktu yang paling memusingkan saya. Jumlah yang dipesannya minimum order dimana pada customer lain saya hanya mengijinkan 1 desain saja, sekali lagi berhubung teman akhirnya saya menyetujuinya. Bahkan order yang sudah masuk dari customer lain saya limpahkan untuk dikerjakan oleh pihak lain demi mengerjakan order teman saya ini. Bahkan selama proses sortir dan cetak logo saya dan tunangan saya sendiri yang mengawasi. Ketika ada 4 pcs yg cacat saya langsung tarik dan potong harga (biasanya saya ganti baru namun saat ini waktunya mepet jadi tidak mungkin)

Saya juga sempat kebingungan karena salah satu item pesanannya ternyata kosong stoknya, saya beberapa kali menghubungi teman saya ini namun hp nya tidak aktif. Mengingat besarnya event yang akan menggunakan merchandise ini maka saya mengambil item dengan spek berbeda dan langsung diproduksi logonya sesuai permintaan. Harganya lebih murah dari spek item yg stoknya kosong, jadi pada nota harganya juga saya revisi apa adanya.

Akhirnya 1 hari menjelang hari H event tersebut semua pesanan sudah jadi dan saya packing, malam harinya teman saya ini meminta temannya untuk mengambil order dan berpesan kalau pembayaran akan ditransfer langsug ke rekening saya. Sekali lagi berhubung teman maka saya sama sekali tidak keberatan dan percaya sepenuhnya. Hingga 2 hari belum ada pemnbayaran di rekening saya, saya masih memaklumi mungkin teman saya masih sibuk dengan event yang berlangsung. Sehari setelah event selesai saya sms untuk menanyakan pembayaran mengingat saya juga sudah ditagih oleh supplier tempat saya mengambil barang. Saat itu dijawab: “Hari ini masih proses penghitungan dan siang baru setor ke bank jadi nanti malam atau besok pagi pasti sudah bisa transfer.” Lega saya mendengarnya, jadi saya langsung sms ke supplier saya kata-kata yang sama.

Sorenya teman saya ini sms lagi katanya di sebuah toko ada salah satu item yang saya jual ke dia seharga 13rb ternyata di toko tsb hanya sekitar 4rb, saya terkejut karena saya ambil dr seorang supplier yang juga importir hrgnya 11rb-an padahal saya masih harus mencetak logonya. Saya langsung hubungi supplier dan menyampaikan kabar ini, dari suaranya dia juga tampak terkejut dan minta supaya dikirim sample-nya. Akhirnya saya pesan teman saya untuk membelikan barang tsb dan dikirim ke saya tapi ternyata teman ini sudah keluar dari toko tsb.

Sungguh saat itu tidak ada pikiran negatif mengenai teman saya ini. Saya justru berterima kasih karena saya merasa diingatkan demi kemajuan usaha saya…

Pagi hari sekitar pukul 9 belum ada pembayaran ke rekening, saya sebenarnya sungkan menagih teman sendiri tapi apa boleh buat berhubung saya juga janji bayar ke supplier akhirnya saya sms soal pembayaran ke teman saya. Sekitar 30 menit kemudian dijawab bahwa hari ini akan di transfer dulu 10 juta, mudah-mudahan sorenya bisa 5 juta lagi karena barang hanya laku sedikit. Apa boleh buat saya setujui saja meskipun untuk membayar ke supplier saja jumlahnya masih jauh di atas itu. Tidak lama kemudian dia kembali sms: “kalau tidak salah untuk item A min order 250 knp dikirm 500?” Saya kembali terkejut sebab saya ingat betul saat telpon terakhir malam hari untuk konfirmasi desain dan jumlah saya sudah tanya (saya catat juga) item B 500 pcs, apa item A 500 pcs juga? teman saya ini jawab iya. Itulah yg saya jadikan dasar untuk mulai produksi.

Di satu sisi saya sungkan kalau harus terus-menerus menagih teman tapi di sisi lain saya dikejar-kejar oleh supplier. Pelajaran berharga buat saya dalam kejadian ini…biasanya saya menggunakan SPK dan Purchase order sebagai dasar produksi , menangani komplain dan menagih pembayaran, namun berhubung ini teman sendiri maka semua prosedur formalitas tersebut saya lewati begitu pula mengenai ketentuan DP 50%.

DP 50% tsb sebenarnya juga tidak menutup ongkos produksi sekalipun pada harga wajar (normal) tapi setidaknya mengurangi resiko. Apalagi dalam kasus dengan teman saya ini saya harus membayar uang lembur karyawan dan bener2 memotong keuntungan sehingga kalau dihitung keuntungan hanya 5% padahal umumnya dengan order sebanyak itu saya mendapat keuntungan lebih banyak. Sebenarnya yg saya harap dari teman ini bukan keuntungan material (uang) tapi persahabatan dan preferensi rekomendasi. Tapi saat ini sepertinya saya salah mengambil keputusan. Lain waktu memang tetap harus bersikap profesional mengenai hal2 administratif meski dengan teman.

Saya tidak menyalahkan teman saya, mungkin dia merasa benar dari sudut pandangnya dan saya sendiri merasa benar dari sudut pandang saya. Yang saya tahu dan yakini adalah bahwa semua ini adalah proses yang akan memberikan pelajaran bagi saya. Selain itu sama sekali tidak ada itikad buruk dari saya terhadap teman saya ini baik mengenai harga item yang ternyata ditemukannya lebih murah maupun mengenai jumlah order yang menurutnya tidak sebanyak yg saya kirim. Betul-betul saya selalu menjunjung etika dan kejujuran dalam berbisnis, sebab itulah sesuatu yang tidak bisa saya kendalikan ketika saya masih jadi karyawan dan kedua hal itulah yang membuat saya memilih keluar dari pekerjaan dan memulai usaha sendiri.

NB: Beberapa hari yang lalu ketika ke Semanggi saya sempatkan mampir ke toko buku Gramedia. Item yg oleh teman saya dikatakan harganya Rp 4.700,- di sebuah toko saya temukan harganya Rp 15.000,- di Gramedia :)