Tak Selalu Seperti yang Kita Pikirkan

Seberapa sering terasa bahwa keadaan terasa tak seperti yang kita harapkan? Ketika kondisi ini terjadi umumnya reaksi yang muncul adalah kekecewaan atau kemarahan.

Sedikit orang dapat menerima dan menyadari bahwa apa yang terjadi entah sesuai dengan keinginannya atau tidak namun sesungguhnya segala sesuatu senantiasa berjalan dengan baik sebagaimana mestinya. Hanya diperlukan kesabaran untuk membuka hal baik yang pasti akan datang.

Seorang konsultan di awal karirnya setelah memberanikan diri keluar dari perusahaan tempatnya bekerja mendapati pengalaman yang tak diharapkan. Ketika pertama kali mengadakan sebuah pelatihan ternyata hingga menjelang hari H hanya ada seorang pendaftar. Meski memiliki perasaan kecewa namun demi komitmen dan profesionalitas maka ia tak lantas membatalkan pelatihan tersebut dan mengembalikan biaya pendaftaran sekalipun sempat hal itu dipertimbangkannya.

Pada hari H tampaknya hanya sang peserta satu-satunya itulah yang diuntungkan karena hanya dengan membayar Rp 500.000,- mendapatkan pelatihan privat selama sehari.

Sang konsultan di pihak lain meski secara finansial mengalami kerugian karena pada akhirnya harus menanggung sendiri banyak biaya yang telah dikeluarkan untuk acara tersebut namun tetap memberikan pelatihan sebagaimana mestinya meski sekali lagi dengan alasan profesional dan komitmen.

Tak disangka bahwa satu-satunya peserta tersebut adalah seorang yang hendak dipromosikan pada jajaran top executive, dia merasa mendapatkan banyak hal dari pelatihan tersebut. Setelah diangkat menjadi top executive ia lantas merekomendasikan perusahaannya untuk menggunakan jasa konsultan tersebut.

Sejak itu kepopuleran dan karir sang konsultan terus meningkat. Apa yang terjadi apabila saat itu dia memilih mengembalikan uang pendaftaran dan tidak mengadakan pelatihan karena hanya ada satu peserta?

Jika ditelusuri pengalaman hidup yang menyenangkan atau titik balik dari suatu kondisi yang diharapkan justru berawal dari kondisi yang kurang tak diharapkan pada mulanya. Namun tak jarang kemudian muncul rasa syukur karena tidak menyerah dan berhenti pada titik tersebut.

Kontras adalah gap (selisih) antara apa yang diharapkan dengan apa yang tidak diinginkan. Demikianlah peran kontras semakin suatu hal yang tak diinginkan terjadi maka semakin kuat keinginan dan harapan agar menjadi sebaliknya.

Keinginan yang berlawanan dari apa yang terjadi adalah suatu pertanda dan awal baik selama tidak mengarah pada rasa putus asa atau frustrasi.

Keinginan adalah suatu hal yang baik, berkebalikan dari apa yang diyakini banyak orang dengan mengatakan “Ease Your Desire”. Keinginan senantiasa muncul bersamaan dengan munculnya kontras.

Keinginan adalah sebuah anugerah yang memungkinkan kehidupan menjadi lebih baik sebagaimana halnya hakekat bahwa segala sesuatu diciptakan indah dan baik adanya. Namun apakah keinginan tersebut membawa pada suatu kondisi yang lebih baik atau justru pada perasaan putus asa dan frustrasi adalah bergantung pada tiap-tiap orang.

“Keadaan akan menjadi sangat buruk dan terus memburuk sebelum akhirnya menjadi baik”. Kalimat tersebut tak terasa asing, namun sebenarnya tidak terlalu tepat.

Ketika keadaan semakin tak sesuai harapan maka keinginan akan kondisi yang sebaliknya pun semakin kuat sehingga bisa menjadi titik balik untuk melakukan perubahan. Meski demikian jika yang bersangkutan merespon dengan sikap frustrasi maka kondisi ini tak akan menjadi titik balik namun akan semakin membuatnya terpuruk.

Lain pula halnya bagi yang terbiasa me-manajemen kontras dengan baik dan menerimanya sebagai suatu hal yang alamiah maka tak perlu baginya menunggu hingga keadaan menjadi semakin buruk untuk sampai pada titik balik menuju apa yang diharapkan. (Satrio)