TBC: Tuwo, Bodho, Cengeng

Tuwa

Ada ungkapan yang jamak kita dengar bahwa tua itu pasti, namun dewasa adalah pilihan.
Tidak salah sebab penambahan usia merupakan sebuah kondisi alamiah.
Setiap tahun usia manusia selalu bertambah, atau berhenti. Salah satu dari keduanya adalah pasti.

Tapi kedewasaan bertambah dengan semakin bertambahnya usia? Belum tentu!
Kedewasaan harus senantiasa diusahakan. Kemantapan hati, pengendalian diri dan kemampuan menerima hal-hal yang tidak sesuai harapan tidak serta merta datang bersamaan dengan bertambahnya usia seseorang.

Jadi kalau seseorang eggan mengusahakan kedewasaan dirinya maka ia sudah pasti akan bertambah usia, bertambah tua tanpa dibarengi kedewasaan itu sendiri.

Bagaimana pengalaman hidup entah pahit atau manis memengaruhi seseorang sangat bergantung pada kemampuannya untuk memaknai tiap-tiap peristiwa. Bisa menjadikannya makin bijaksana, optimis makin dewasa. Atau sebaliknya kekanak-kanakan, sinis dan penggerutu.

Tuwa Bodho Cengeng

Bodho

Bodho atau bodoh lebih pantas dilihat sebagai suatu pilihan alih-alih takdir atau gawan bayi.

Memang tak setiap orang dilahirkan dengan IQ jenius, superior ataupun di atas rata-rata. Tapi kalau sekedar untuk memahami etika, common sense dan hal-hal umum yang ditemukan sehari-hari mestinya tak perlu punya IQ setinggi itu.

Pertanyaannya adalah mau atau tidak manusia yang bersangkutan membuka pikiran untuk mempeluas wawasan. Belajar memahami dan menganalisa kejadian demi kejadian, membuka hati untuk memiliki pengertian sudut pandang orang lain juga yang tak kalah pentingnya adalah memiliki sikap empati.

Keengganan melakukan hal-hal tersebut pada akhirnya membawa seseorang pada sebuah kondisi, kondisi kebodohan. Bodho!

Cengeng

Cengeng itu bukan sekedar nangisan (mudah menangis), pemahaman cengeng itu terlalu sempit jika hanya dipahami sebagai sifat gampang nangis.

Gampang nangis itu cengeng, tapi tak semua tangisan merupakan manifestasi dari kecengengan.

Tangis sendiri bukan satu-satunya indikator dari cengeng. Gampang mutung (mudah putus asa), nggresulo (bersungut-sungut), ngrasani wong liya/kancane/tanggane, ngedumel, susah berlapang hati, pendendam itu juga manifestasi-manifestasi dari kecengengan.

TBC: Tuwo, Bodho, Cengeng

TBC (tuberculosis) konon masih merupakan penyakit mematikan.
Tapi TBC yang lain juga tak kalah berbahayanya; Tuwo, Bodho, Cengeng!

Rumangsa tuwo kebanyakan orang merasa sudah banyak makan asam garam ketimbang yang lebih muda.
Mungkin ya, mungkin tidak…
Setiap orang menjalani hidup dan menghadapi tantangan berbeda.
Bisa jadi kesulitan muncul lebih dini, bisa jadi muncul di usia lebih tua.

Apalah arti menjalani dan mengalami berbagai peristiwa, berbagai fase kehidupan jika tak dibarengi kemampuan memaknainya.

Parahnya tak sedikit yang karena merasa tua dan rumangsa banyak makan asam garam ini lantas bersikap defensif, tak mau menerima usulan atau saran, tak mau mencoba memahami sudut pandang orang lain.
“Ah.. bocah wingi sore ngerti apa?”

Setiap saran entah disampaikan dengan cara apapun dianggap sebagai kritik, dianggap sebagai sikap tak hormat.
Ingin dihormati, ingin dituakan tapi diri sendiri tidak mampu “memanusiakan manusia lain”.
Berharap orang lain menghormati, tapi diri sendiri tak sanggup bertingkah laku terhormat.

Salah ora rumangsa salah, malah ngelek-elek wong liya.
Tak paham tapi tak mau belajar, enggan memperluas wawasan karena merasa merasa sudah paham.
Ditawarkan solusi malah menganggap kurang ajar.

Jika pada titiknya yang lebih muda ganti merasa putus asa karena setiap ide dan saran selalu diabaikan, lantas bersikap lebih asertif atau mengambil inisiatif eh… yang rumangsa tuwo ini memasuki fase cengeng.

Cengeng dengan nggresulo di belakang, ngrasani. Kalau masih tak puas dilanjutkan dengan dendam, tebar fitnah dan seterusnya.
Hati kecilnya mungkin sadar kalau dirinya salah, tapi arogansi menahannya untuk berkonsolidasi.
Komplet sudah rangkaian TBC: Tuwo, Bodho tur Cengeng!

NB: Opini ini tidak ditujukan pada orang tertentu melainkan fenomena