Memasuki Trans Studio Bandung Anda seolah dibawa menuju ke Negeri fantasi dengan berbagai tema imajinatif di dalamnya.
Mula-mula sebuah sensasi memasuki kota mini di malam hari seolah mengarahkan dan menarik daya imajinasi yang membuat lupa bahwa Anda sebenarnya sedang berada di sebuah gedung (mall.

Deretan kios serta kafe di kanan kiri selepas melewati petugas bagian tiket makin menguatkan kesan Anda sedang berada di sebuah kota dengan setting malam hari.

Trans Studio Bandung Review
Memasuki Miniatur Kota Trans Studio Bandung (Dokumentasi Pribadi)

Masih dari jalan utama selepas pintu masuk biasanya Anda akan dihentikan oleh seorang fotografer yang akan mengabadikan kunjungan di lokasi itu juga kemudian memberikan nomor tiket foto.
Anda tak harus membelinya, nanti sebelum meninggalkan Trans Studio Bandung Anda bisa melihat dulu hasil fotonya sebelum memutuskan untuk membeli atau tidak.

Foto dari Studio Foto di Trans Studio Bandung
Foto dari Studio Foto di Trans Studio Bandung. Lumayan Mengabadikan Momen Berdua Meski Kualitas Foto Jelek dan Sisi Artistiknya Rendah

Wahana di Trans Studio Bandung

Peta Wahana Trans Studio Bandung (Credit: www.transstudiobandung.com)

Wahana indoor theme park Trans Studio ini dibagi dalam tiga tema masing-masing adalah “Studio Central”, “The Lost City” dan “Magic Corner” yang masing-masing didekor dengan nuansa unik sesuai tiap tema.

Studio Central

Tak jauh dari tempat kenangan Anda diabadikan jika menoleh ke sisi kanan Anda akan melihat pintu masuk ke wahana “Dunia Anak”.
Di dalamnya terdapat beberapa permainan seperti naik kereta mini, bumper car, mini maze dan sebagainya.

Sayang sekali saat kami berkunjung ke wahana tersebut pada hari Rabu tgl. 23 Oktober hanya ada dua petugas untuk semua permainan di Dunia Anak, padahal ada beberapa rombongan yang datang sehingga petugas kelihatan cukup kerepotan meladeni cukup banyak anak dengan permintaan permainan yang berbeda-beda.

Tak jauh dari Dunia Anak terletak sebuah wahana lain yang rasanya juga menjadi salah satu favorit anak-anak namanya “Si Bolang Adventure” dengan produk Indomie sebagai sponsornya kala itu.
Wahana ini membawa anak-anak (juga orang dewasa) berpetualang dengan kereta mini berbentuk pesawat untuk memasuki sebuah gua yang kanan kirinya disusun tema berdasar kebudayaan dan suku yang ada di Indonesia.

Hampir mirip dengan “Istana Boneka” di Dufan Ancol namun alih-alih menaiki perahu di Trans Studio Bandung digunakan kereta mini. Selain itu perjalanannya juga lebih singkat dibanding “Istana Boneka”.

Usai menikmati petualangan bersama “Si Bolang Adventure” kamipun menuju “Ocean World Science Center”

Meski dari luar terlihat luasnya tak seberapa namun ternyata banyak sekali yang ditawarkan oleh wahana ini di dalamnya. Bahkan mungkin merupakan wahana paling komplit di Trans Studio ini.

Banyak pengetahuan yang bisa dipelajari baik untuk anak maupun dewasa seperti bagian-bagian dari hewan laut, suhu serta instensitas matahari di setiap kedalaman laut bahkan Anda pun bisa berinteraksi secara digital kalau penasaran dengan kekuatan ikan hiu.

Menyentuh Ikan Hiu di Wahana Ocean World Science Center
Menyentuh Ikan Hiu di Wahana Ocean World Science Center

Ocean World Science Center

Ikan hiu beneran juga ada di sini, anak ikan hiu lebih tepatnya dan kalau mau Anda bisa menyentuh tentu dengan arahan petugas di sana.

Wahana “Transcar” yang masuk ke wilayah “Studio Central” adalah salah satu wahana favorit di sini sehingga meski bukan hari libur antriannya cukup panjang.
Dua kali kami mengantri di wahana ini dan dua kali kesempatan itu pula diserobot oleh anak-anak berusia tanggung (mungkin SMP) sehingga harus menegur.
Sedangkan petugas tidak banyak berbuat.

Heran juga bahwa hari begini masih ada orang yang belum paham etika mengantri, mudah-mudahan hal sepele tapi substansial semacam ini makin ditekankan dalam pendidikan anak sedini mungkin baik oleh orang tua maupun sekolah.

Selain diserobot oleh sesama pengunjung proses mengantri sempat diperpanjang oleh kru Trans Studio yang juga naik ke wahana itu untuk membuat klip entah untuk komersial atau hal lain saya sendiri kurang jelas.
Pastinya seolah mereka tak cukup peka untuk memilih waktu lain agar tidak memperlama antrian.

Wahana favorit lain di sini adalah “Yamaha Racing Coaster” yang konon merupakan roller coaster tercepat di Asia Tenggara dan “Giant Swing”.
Namun untuk keduanya ada syarat ketinggian minimal dan J belum memenuhi syarat untuk keduanya.

“Super Heroes 4D” juga selalu dipenuhi dengan antrian, padahal sebenarnya sekedar suguhan film singkat “The Avengers” yang diberi tambahan efek 4D.

Sebenarnya keunikan dari Trans Studio Bandung terletak pada “Trans City Theater” dimana pada jam-jam tertentu Anda bisa menyaksikan pertunjukan sulap secara langsung.
Tapi berhubung J tak tertarik jadilah kami berdua (saya dan J) melewatkan pertunjukkan tersebut.

The Magic Corner

Memasuki area “The Magic Corner” Anda dibawa pada sebuah pengalaman “magical” bak dunia Harry Potter.

Paduan dekorasi dan tata cahaya keungu-unguan benar-benar menghidupkan nuansa ajaib, bukan angker meskipun di tempat ini juga terdapat wahana “Dunia Lain” yang mencoba menghadirkan nuansa angker.

Namun di luar wahana “Dunia Lain” sebenarnya yang lebih terasa adalah kesan memasuki sebuah dunia penuh keajaiban.

Setiap pukul 12.00 di wahana “Special Effect Action” Anda bisa menikmati pertunjukan aksi para stuntman secara langsung (bukan lewat layar kaca).
Anda bisa mengabadikan baik dalam bentuk video ataupun foto, namun saya tidak tahu apakah hasil video/foto tersebut boleh dipublikasikan.
Waktu itu juga tidak terpikir untuk bertanya karena memang saat itu juga belum ada rencana mau membuat tulisan review Trans Studio Bandung ini.

Sayang “Pulau Liliput” kala itu sedang tidak difungsikan.

The Lost City

Kalau di area “The Magic Corner” nuansanya adalah keajaiban alias magical à la Harry Potter maka di area “The Lost City” Anda akan memasuki dunia yang sama sekali berbeda yaitu dunia petualangan bernuansa à la Indiana Jones.

“Kong Climb” menjadi wahana pertama di area ini yang menarik minat J, tinggi badan minimal yang dipersyaratkan adalah 120 cm dan J masih 118 cm jadi kami coba saja menuju ke sana kalaupun tidak bisa ya sudah tidak apa-apa.

Ternyata benar sesampai di sana petugas dengan ramah menjelaskan bahwa meski hanya kurang sedikit dari tinggi badan minimal tetap tidak dimungkinkan karena tali pengikat helm tidak akan pas. Untuk mendukung argumennya petugas mengijinkan J mencoba dan memang benar adanya.

Meski J kecewa tapi saya sendiri sangat mengapresiasi keramahan petugas yang bersangkutan ditambah lagi petugas tersebut tetap memberikan pin sebagai obat kecewa untuk J.
Pin itu semestinya diberikan sebagai penghargaan setelah menaklukan tebing “Kong Climb”.

Masih di area ini jangan melewatkan “Sky Pirates” yang akan berjalan melintasi area “The Lost City” dan “The Magic Corner” dari atas.
Nuansa keajaiban dan petualangan yang dihadirkan keduanya bisa dinikmati sekaligus dari ketinggian.

Pada jam-jam tertentu di “Amphitheater” disuguhkan pertunjukkan dengan tema berganti-ganti. Kebetulan saat ini tema yang diusung adalah Zombie.
Para “Zombie” sebelumnya “bergentayangan” di sepanjang kota mini mulai dari pintu masuk utama menuju “Amphitheater”.

Bagaimana Memaksimalkan Kunjungan Anda di Trans Studio Bandung?

    • Berdasar pengalaman selama berkunjung di sana saya ingin membagi beberapa tips untuk memaksimalkan kunjungan di lain waktu.
      Karena kekhasan dari Trans Studio Bandung menurut saya adalah pada pertunjukan (show) seperti Opening Dance, Special Effect Action Show, It’s Magic, Bedrock Circus serta The Magical Parade of Zoo Crew maka pastikan Anda memperhatikan jadwal masing-masing pertunjukan terlebih dahulu dan mendahulukannya. Sebab untuk wahana lain waktunya lebih leluasa.
Jadwal Pertunjukan di Trans Studio Bandung
Jadwal Pertunjukan di Trans Studio Bandung (Credit: www.transstudiobandung.com)
  • Pada hari-hari libur lebih baik membeli tiket di Traveloka karena Anda akan mendapatkan akses masuk melalui Easy Access yang antriannya terpisah dan lebih singkat dari tiket biasa.
    Saat berkunjung ke sana saya membeli tiket masuk hari kerja dengan paket makan seharga Rp 211.816,-Menurut website Traveloka salah satu pilihan menu yang bisa didapat dari paket tiket ini di stan CNY adalah chicken burger dengan minum teh botol Sosro atau air mineral (pilih salah satu) tapi nyatanya waktu saya hendak menukar di tempat tersebut kata penjaga stan untuk tiket Traveloka pilihannya hanya kebab dan minum teh botol Sosro atau air mineral.Jadilah saat itu kami pindah ke stan Studio Mie untuk menukar dengan Mie Ayam Jamur dan teh botol Sosro sesuai ketentuan di website Traveloka.
  • Di dekat pintu masuk ada foto studio yang fotografernya akan mengambil foto semua pengunjung kemudian Anda akan diberi tiket untuk pengambilan foto. Pertimbangkan baik-baik apakah Anda akan mencetak foto tersebut atau tidak sebab menurut saya harganya sangat mahal tapi hasilnya jelek baik dari sisi artistik maupun kualitas foto.Sekalipun menggunakan kamera DSLR tapi hasilnya tak beda amat dari kamera ponsel. Satu-satunya alasan saya mencetak dengan piihan paket paling murah (Rp 150.000,-) karena kami tidak sempat membuat foto berdua (saya dan J) untuk mengabadikan momen selama di sana, tapi kalau Anda bisa minta tolong pengunjung lain, saudara, teman atau kenalan untuk foto sendiri saya rasa lebih ekonomis mengingat hasilnya juga lebih kurang sama.Di tempat wisata lain biasa memang harga cetak foto tak beda jauh dari di Trans Studio Bandung, tapi hasilnya berkali-kali lipat lebih baik menurut penilaian saya.