Viva Victoria, Festival yang Mestinya Membuat Bangsa Indonesia Malu…

Viva Victoria adalah sebuah festival tahunan yang diadakan oleh Pemerintah Negara Bagian Victoria tepatnya oleh Multicultural Commission setiap tahun di bulan Maret. Viva Victoria merupakan puncak acara dari Cultural Diversity Week yang berlangsung selama sepekan. Inti dari Cultural Diversity Week merayakan keberagaman dan kebersamaan yang ada dalam masyarakat Victoria.

Viva Victoria Festival

Negara Bagian Victoria memiliki keberagaman yang tinggi, bahkan mungkin bisa disebut lebih beragam dibanding Indonesia. Setidaknya secara resmi tercatat bahwa penduduknya berasal dari 200 negara yang berbeda. Bukan hanya sampai di situ bahasa dan dialek yang digunakan sebagai bahasa ibu di sini ada setidaknya 260 bahasa. Sementara agama dan keyakinan yang dianut oleh penduduk Victoria ada jika ditotal jumlahnya ada sekitar 135.

Luar biasa… 135 agama dan keyakinan bisa hidup berdampingan dengan damai, sementara Indonesia yang hanya enam agama (yang diakui) saja sudah ribut melulu seperti manusia gua berebut hasil buruan!

Keberagaman yang sedemikian tinggi ini tak terlepas dari posisi Australia yang sering dianggap sebagai tujuan ideal bagi para pengungsi dan pencari suaka baik semenjak Perang Dunia II, perang Vietnam hingga konflik di negara-negara Eropa Timur dan Timur Tengah beberapa tahun terakhir ini.

Melbourne

Dari gambaran di atas kentara sekali bahwa keberagaman tersebut bukanlah kondisi yang disepakati atau ada sejak berdirinya negara tersebut. Sebaliknya keberagaman tersebut muncul dan terbentuk di kemudian hari dan terus bertambah seiring dengan terjadinya konflik di beberapa wilayah (Eropa Timur Asia dan Timur Tengah). Di samping para imigran tersebut tentu saja ada penduduk asli Australia baik Aborigin maupun Torres. Jika dibandingkan Negara Bagian lain yang ada di Australia, Victoria tercatat sebagai negara bagian yang paling tinggi tingkat keberagamannya.

Di Indonesia kebanyakan orang lebih akrab dengan salah satu masa gelap yang pernah terjadi di Australia dan terkenal sebagai White Australia Policy. Beberapa kerabat memang sering mengungkit dan bertanya mengenai hal ini ketika kami tinggal di Australia. Tak bisa dipungkiri bahwa memang Australia pernah mengalami masa-masa ini hingga pada tahun 70-an. Entah bagaimana sisa-sisa kebijakan tersebut di Negara Bagian lain, pastinya selama berada di Victoria kami tidak pernah merasakan adanya diskriminasi baik secara tersirat maupun tersurat.

Baik dalam kehidupan keseharian maupun ketika harus berurusan dengan birokrasi nyaris tidak dirasakan adanya diskriminasi, lebih-lebih dari warga keturunan Eropa (kulit putih). Bahkan dalam beberapa hal mereka yang biasa kita sebut sebagai “bule” ini jauh lebih bersahabat ketimbang keturunan Asia (yang manapun itu).

Bahkan sempat ketika tokoh politik kontroversial dari Belanda Geert Wilders melakukan tur ke Australia dan berniat untuk berorasi di Melbourne pihak pemerintah Negara Bagian Victoria mempersilakan dengan alasan bahwa pertama Victoria tidak melakukan sikap anti terhadap pandangan apapun alias menghargai perbedaan pendapat, dan kedua pemerintah setempat berharap Geert Wilders bisa belajar bahwa keberagaman bisa hidup berdampingan dengan damai sebagaimana terjadi di Victoria. Pernyataan itu bahkan disampaikan langsung oleh Nicholas Kotsiras yang adalah Multicultural Affairs Minister.

Pada pernyataannya tersebut Nicholas Kotsiras menegaskan bahwa Victoria menghormati serta mentolerir kebebasan berpendapat, namun pada saat yang sama tidak berkompromi dengan tindakan menebar kebencian lebih-lebih kekerasan.

Faktanya dalam keseharian meski secara fisik maupun logat bahasa sedemikian beragam namun di luar itu nyaris tak ada perasaan berbeda satu sama lain di antara penduduk Negara Bagian Victoria tersebut. Kami sendiri tinggal di Carlton dimana mayoritas penduduknya adalah keturunan Italia. Ketika bergabung dengan acara komunitas Italia seperti Carlton Italian Festa maupun Carols in Piazza kami juga tidak merasa canggung atau merasa seperti outsiders walau acap kali kami adalah satu-satunya orang Asia yang ada di events tersebut sebab memang tidak ada perbedaan sikap dan perlakuan.

Viva Victoria Festival

Viva Victoria Festival

www.thewicaksonos.info

Viva Victoria Festival

Lantas apa yang bisa dipelajari oleh bangsa Indonesia dari situ? Jujur saja, keharmonisan yang dirayakan setiap tahun lewat Cultural Diversity Week dan berpuncak dengan Viva Victoria Festival adalah sebuah tamparan keras bagi bangsa Indonesia. Betapa tidak, kita sebagai sebuah bangsa yang sejak awal sudah bersepakat untuk berdiri sebagai sebuah negara dengan berbagai keberagaman justru dalam perjalanannya sering terjadi penghianatan yang dilakukan silih berganti baik atas nama suku bangsa, agama dan sebagainya.

Padahal sudah jelas bahwa didirikannya negara ini sejak semula adalah atas dasar keberagaman tersebut, wajarnya sejak awal pula masing-masing sudah bisa menganggap perbedaan tersebut sebagai sebuah kondisi yang lumrah dan bukannya justru saling menciderai janji satu sama lain.

Memang pada kasus-kasus tertentu di Melbourne tetap terdengar istilah Asian, African, white, dan sebagainya. Namun kata-kata tersebut digunakan semata-mata digunakan sekedar untuk memudahkan identifikasi misalnya terjadi kecelakaan atau kejahatan tanpa ada makna lain di baliknya.

Sementara di Indonesia tak jarang kita mendengar kalimat seperti “Biasalah orang (China/ Jawa/Batak/ dll)” yang bernada stereotip dan melabeli seolah-olah sifat-sifat tertentu adalah sifat khas yang dimiliki oleh suku ataupun agama tertentu. No, seriously, what’s the point? Jujur saja, bagi saya kalimat dan sikap seperti itu adalah siratan pola pikir primitif alias manusia gua yang belum mampu memasuki peradaban.

Hal lain yang rasanya layak dipelajari dari kebiasaan masyarakat di Victoria adalah tidak menjadikan topik politik dan agama sebagai komoditas obrolan sehari-hari. Bukan rahasia bahwa kedua hal tersebut adalah topik yang rawan dijadikan komoditas pembicaraan sehari-hari. Tidak berarti harus dihindari hanya saja harus dilakukan di tempat yang memang semestinya topik-topik tersebut dibicarakan. Sebaliknya di Indonesia kedua topik tersebut lebih-lebih politik selalu jadi bahan pembicaraan dimanapun dan dalam level apapun. Saya sering merasa risih ketika orang mengajak berbasa-basi dengan menggunakan topik politik, lebih-lebih jika kemudian dilanjutkan dengan “Bapak/mas agamanya apa?” Lah apa pula urusannya?

Kembali ke Viva Victoria, puncak acara Cultural Diversity Week ini sendiri berlangsung di Fed Square. Beragam acara dan kesenian dari berbagai suku bangsa ditampilkan di sini termasuk Indonesia. Sedangkan di Birrarung Marr yang terletak di tepi sungai Yarra berjajar pula tenda-tenda yang menjajakan makanan khas dari beragam budaya yang ada di Negara Bagian Victoria.

www.thewicaksonos.info

www.thewicaksonos.info

Lantas apakah tidak pernah ada gesekan sebagai akibat dari tingginya keberagaman di Victoria tersebut? Jelas tetap ada, hanya saja jumlahnya sangat kecil dan langka, sama sekali tidak seperti di Indonesia.

Terlepas dari hubungan Indonesia dan Australia yang sejak dahulu memang pasang surut namun alih-alih bersikap arogan faktanya ada banyak hal positif yang bisa kita pelajari dari negara tetangga kita tersebut dan bisa membawa kita menjadi bangsa yang lebih beradab.