🧭 Abstrak
Fenomena politik di Indonesia memperlihatkan kecenderungan publik yang lebih mudah tertarik pada branding dan gimmick politik dibandingkan dengan substansi program atau rekam jejak kandidat. Artikel ini meninjau fenomena tersebut dari perspektif perilaku konsumen, menggunakan pendekatan psikologi kognitif dan teori heuristic processing. Dengan menyoroti kasus pemilu Indonesia dan data sekunder dari lembaga survei, artikel ini menjelaskan bagaimana mekanisme emosional dan bias kognitif membentuk preferensi politik masyarakat modern yang serba cepat dan dangkal dalam mengonsumsi informasi.
Pendahuluan
Pemilu bukan sekadar ajang politik, tetapi juga arena pemasaran sosial di mana ide, citra, dan persepsi dijual kepada publik. Di Indonesia, fenomena pemilih yang lebih terkesan oleh gimmick — seperti gaya berbicara, penampilan, atau slogan emosional — ketimbang substansi program sudah menjadi gejala rutin setiap siklus elektoral. Fenomena ini menunjukkan bahwa perilaku pemilih dapat dipahami seperti perilaku konsumen, di mana keputusan tidak selalu didasarkan pada analisis rasional, melainkan pada persepsi dan emosi (Kotler & Keller, 2016).
Dalam konteks perilaku konsumen, masyarakat seringkali mengambil keputusan melalui jalur cepat yang disebut heuristic processing — yaitu proses berpikir singkat dan efisien untuk menghemat energi kognitif (Tversky & Kahneman, 1974). Ketika dihadapkan pada informasi politik yang kompleks, publik cenderung mengandalkan petunjuk sederhana seperti simbol, narasi emosional, atau popularitas figur.
Kerangka Teoretis: Dari Perilaku Konsumen ke Perilaku Pemilih
Teori Elaboration Likelihood Model (Petty & Cacioppo, 1986) menjelaskan bahwa individu memproses pesan melalui dua jalur: jalur sentral (rasional dan analitis) serta jalur perifer (emosional dan simbolik). Dalam konteks politik Indonesia, mayoritas pesan kampanye justru beroperasi di jalur perifer — misalnya melalui lagu, jargon, atau gestur khas yang mudah diingat.
Konsep ini sejalan dengan riset perilaku konsumen yang menunjukkan bahwa keputusan pembelian sering kali tidak rasional, melainkan dipicu oleh asosiasi emosional terhadap merek (Schmitt, 2012). Politik, pada akhirnya, berfungsi seperti pasar ide di mana kandidat bersaing sebagai “merek” yang menawarkan identitas dan nilai simbolik ketimbang solusi konkret.
Kasus Indonesia: Politik sebagai Konsumsi Emosional

Studi Saiful Mujani Research & Consulting (2023) menemukan bahwa 67% pemilih Indonesia mengaku menentukan pilihan berdasarkan kesan personal terhadap kandidat, bukan karena isi programnya. Misalnya, dalam Pilpres 2014 dan 2019, karakterisasi Jokowi sebagai “rakyat biasa” menjadi kekuatan branding utama yang membangun ikatan emosional dengan publik. Sebaliknya, kandidat dengan program teknokratik sering kali dianggap “terlalu rumit” atau “tidak membumi”.
Fenomena serupa juga tampak dalam kontestasi legislatif. Banyak calon mengandalkan citra visual, gaya berbusana khas daerah, atau penggunaan media sosial yang menyentuh sisi emosional — seperti humor, kesederhanaan, atau kisah perjuangan pribadi. Narasi-narasi ini berfungsi seperti brand storytelling yang memperkuat loyalitas emosional pemilih.
Dalam politik modern, pemilih tidak hanya memilih kandidat — mereka “mengonsumsi” cerita dan simbol yang mewakili identitas sosial mereka.
Studi lain oleh Lembaga Survei Indonesia (2022) mencatat bahwa 72% responden mendapatkan informasi politik dari media sosial, terutama TikTok dan Instagram, di mana format visual dan narasi singkat mendominasi. Hal ini memperkuat orientasi publik terhadap cues emosional daripada logika argumentatif.
Heuristik Emosional dan Bias Kognitif dalam Politik
Fenomena ini dapat dijelaskan melalui konsep affect heuristic — di mana keputusan seseorang lebih dipengaruhi oleh perasaan daripada fakta objektif (Slovic et al., 2002). Dalam politik, ini berarti citra “merakyat”, “tegas”, atau “agamis” dapat menutupi ketidakjelasan program. Selain itu, confirmation bias membuat publik hanya menerima informasi yang memperkuat preferensi awal mereka (Nickerson, 1998), mempersempit ruang dialog rasional.
Dalam konteks Indonesia, struktur media yang semakin sensasional serta polarisasi politik memperkuat bias ini. Kandidat yang cerdas dalam menggunakan simbol-simbol emosional — seperti pakaian khas, gaya bicara lokal, atau kata kunci nasionalistik — mampu “memotong” jalur pemikiran kritis pemilih.
Dampak terhadap Demokrasi

Dominasi branding emosional dalam politik memiliki dua sisi. Di satu sisi, ia membuat politik lebih mudah dicerna dan menarik bagi publik luas. Namun di sisi lain, ia berisiko menurunkan kualitas demokrasi karena menempatkan popularitas di atas kompetensi. Ketika pemilih tidak menilai berdasarkan substansi, akuntabilitas menjadi kabur dan ruang publik tereduksi menjadi arena pencitraan.
Menurut Norris (2011), demokrasi yang sehat membutuhkan keseimbangan antara daya tarik emosional dan penilaian rasional. Tanpa itu, politik berubah menjadi sekadar “pertunjukan persepsi” di mana kebenaran kalah oleh citra.
Kesimpulan
Gimmick politik bukanlah hal baru, namun dalam era digital dan banjir informasi, daya tariknya meningkat karena publik mencari kejelasan emosional di tengah kompleksitas politik. Melalui kacamata perilaku konsumen, dapat dipahami bahwa politik kini dijalankan dengan logika pasar, di mana kandidat diposisikan sebagai merek yang menjual harapan dan identitas.
Pendidikan literasi politik dan media menjadi kunci agar masyarakat tidak terjebak dalam politik emosional semata. Tanpa itu, pemilih hanya menjadi konsumen dari ilusi yang dipasarkan dengan teknik branding yang semakin canggih.
I’m a marketing strategist specialising in consumer behaviour, brand strategy, and digital trust. I provide insight-driven strategic guidance for organisations seeking to understand consumers more deeply, with a focus on midlife audiences and behavioural psychology. My work blends reflective analysis, cultural perspective, and practical frameworks to help brands build clarity, relevance, and long-term trust in a rapidly evolving market.
| My core archetypes: Commander (Best Match), Shaper (Good Match) and Planner (Good Match) |
I believe recognition and status matter far less than being truly competent and effective.
I stand for those whose worth is written in honesty, not in headlines.. ~ Satrio ~
Read more of my posts: Medium| Indonesiana | Kompasiana
