Sebuah Kritik terhadap Mereka yang Menjauh dari Perjuangan Keadilan

Dalam dunia yang bergerak cepat dan dipenuhi ketidakpastian, pilihan moral jarang hadir dalam bentuk hitam dan putih. Yang lebih sering muncul justru dilema yang tenang di permukaan: tetap berada di wilayah aman atau melangkah ke ruang yang berisiko demi kebenaran yang tidak selalu menguntungkan. Pilihan ini bukan semata soal kenyamanan personal, melainkan tentang kesediaan untuk terlibat ketika ketidakadilan hadir secara nyata di sekitar kita.

Banyak orang tidak menolak kebenaran karena tidak mengenalinya. Mereka menjauh karena memahami dengan baik harga yang harus dibayar jika memilih untuk berpihak. Ketakutan semacam ini bukan hal baru. Ia telah menyertai sejarah iman sejak awal, termasuk dalam kisah-kisah yang mengelilingi Yesus sendiri.

Jika membayangkan mereka yang enggan terlibat dalam perjuangan keadilan hidup pada zaman Yesus, gambaran yang muncul bukanlah para penentang terbuka. Yang lebih mungkin adalah sosok-sosok yang memilih bersembunyi, menjaga jarak, dan menunggu situasi mereda. Mereka tidak secara eksplisit menolak Yesus, tetapi juga tidak bersedia menanggung risiko yang melekat pada kedekatan dengan-Nya.

Kisah St. Petrus sering dijadikan contoh paling jelas. Sebagai murid yang berada dekat dengan Yesus, Petrus pernah menyatakan kesetiaan tanpa syarat. Namun ketika situasi berubah menjadi ancaman nyata—ketika tekanan politik dan kekuasaan religius mengeras—keberanian itu runtuh. Penyangkalan yang dilakukannya bukan lahir dari ketidaktahuan, melainkan dari rasa takut yang sangat manusiawi.

Yang menarik, kisah Petrus tidak berhenti pada kegagalan itu. Penyesalan yang tulus membuka jalan bagi pemulihan. Setelah kebangkitan Kristus, Petrus dipanggil kembali, bukan untuk menghapus masa lalunya, melainkan untuk menanggungnya secara jujur. Pada akhirnya, kesetiaan yang dulu runtuh ditegakkan kembali, bukan lewat kata-kata, melainkan melalui kesediaan menanggung konsekuensi iman sampai akhir hidupnya.

Namun tidak semua kisah berakhir dengan pemulihan. Yudas Iskariot menunjukkan wajah lain dari penghindaran moral. Ia tidak sekadar menjauh, melainkan memilih pengkhianatan sebagai jalan keluar dari kekecewaannya. Harapan yang tidak terpenuhi membuatnya menutup diri dari kemungkinan pertobatan. Penyesalan hadir, tetapi tanpa keberanian untuk kembali. Dalam tradisi Gereja, kisah Yudas menjadi peringatan bahwa menjauh dari kebenaran, jika dibiarkan, dapat berujung pada kehancuran yang tidak sempat dipulihkan.

Di antara dua kutub ini, terdapat figur Nikodemus. Ia bukan pengkhianat, tetapi juga bukan pengikut yang terbuka. Ia memahami ajaran Yesus, namun memilih datang pada malam hari—menyembunyikan keyakinannya demi menjaga posisi sosial dan reputasi religius. Nikodemus merepresentasikan mereka yang tahu apa yang benar, tetapi belum siap menanggung konsekuensinya.

Perubahan Nikodemus baru terlihat setelah kematian Yesus. Bersama Yusuf dari Arimatea, ia tampil di ruang publik untuk mengurus jenazah Yesus. Tindakan ini bukan simbolis semata. Ia menandai pergeseran penting: dari iman yang disembunyikan menuju keberanian yang diwujudkan dalam tindakan nyata, meskipun terlambat dan berisiko.

Ketiga kisah ini—Petrus, Yudas, dan Nikodemus—bukan sekadar narasi historis. Mereka membentuk cermin bagi situasi yang kita hadapi hari ini. Banyak orang memilih menjauh dari perjuangan keadilan bukan karena tidak peduli, melainkan karena menyadari bahwa keberpihakan memiliki harga sosial, politik, dan personal yang nyata.

Orang-orang yang memperjuangkan keadilan kerap dipersepsikan sebagai ancaman oleh struktur kekuasaan. Pada saat yang sama, mereka juga dijauhi oleh orang-orang yang khawatir kenyamanannya terganggu jika terlihat terlalu dekat. Dalam situasi seperti ini, memilih tidak terlibat sering dianggap sebagai pilihan rasional.

Namun pertanyaannya bukan lagi soal rasionalitas, melainkan tanggung jawab moral. Jika kita hidup pada zaman Yesus, apakah kita akan berdiri di kejauhan, memastikan diri tidak tercatat sebagai bagian dari lingkaran yang berisiko? Ataukah kita bersedia menanggung konsekuensi dari keberpihakan, meskipun itu berarti kehilangan rasa aman?

Kisah para murid menunjukkan bahwa menjauh bukanlah sikap netral. Menghindari keterlibatan berarti membiarkan ketidakadilan berlangsung tanpa perlawanan. Dalam konteks ini, ketidakberpihakan tidak membebaskan seseorang dari tanggung jawab moral, melainkan justru menegaskannya.

Banyak orang memilih mempertahankan status quo demi stabilitas pribadi. Pilihan ini sering dibungkus sebagai kebijaksanaan atau kedewasaan. Namun Injil tidak pernah menempatkan kenyamanan sebagai ukuran kebenaran. Menghindari risiko mungkin terasa aman, tetapi ia tidak membawa damai yang sejati.

Setiap pilihan memiliki konsekuensi. Tidak semua orang diberi kesempatan untuk kembali seperti Petrus, atau untuk tampil meski terlambat seperti Nikodemus. Kisah Yudas mengingatkan bahwa penundaan dan penghindaran memiliki batas yang tidak selalu dapat kita kendalikan.

Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana namun tidak ringan: apakah kita akan terus memilih kenyamanan yang menipu, atau bersedia terlibat demi kebenaran yang menuntut pengorbanan? Pilihan itu tidak hanya menentukan posisi kita dalam satu peristiwa, tetapi membentuk siapa kita di masa depan. Keberanian untuk berpihak mungkin tidak menjamin kemenangan, tetapi tanpanya, keadilan hampir pasti tidak pernah mendapatkan ruang.

One Reply to “Andai Kita Hidup di Masa Karya Yesus di Dunia, Jadi Siapakah Kita?”

Comments are closed.