Sebuah Kritik Terhadap Mereka yang Menjauh dari Perjuangan Keadilan

Di tengah dunia yang terus bergerak cepat dan penuh ketidakpastian ini, kita sering dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah: tetap berada di zona nyaman atau mengambil langkah yang lebih berisiko demi sebuah kebenaran yang lebih besar. Ini bukan hanya soal apakah kita nyaman dengan posisi kita, tetapi juga tentang apakah kita berani terlibat ketika melihat ketidakadilan atau penderitaan di sekitar kita.
Sama seperti orang-orang di zaman Yesus yang lebih memilih menghindar daripada ikut serta dalam perjuangan keadilan, kita saat ini pun seringkali memilih untuk bersembunyi—bukan karena kita tidak tahu apa yang benar, tetapi karena kita takut akan harga yang harus dibayar.

Bayangkan sejenak, jika orang-orang yang menjauh dari perjuangan keadilan ini hidup di zaman Yesus. Apa yang mungkin mereka lakukan? Bukankah mereka yang enggan terlibat dalam risiko akan memilih untuk bersembunyi?
Mereka yang menghindar dari kebenaran yang sulit, lebih memilih untuk tidak terlibat karena takut dengan konsekuensi yang datang bersama dengan pilihan itu. Inilah yang terjadi pada banyak rasul dan pengikut Yesus pada saat-saat kelam dalam hidup-Nya.

Kisah St. Petrus adalah contoh yang paling populer. Sebagai salah satu rasul yang berada dalam lingkaran dalam dengan Yesus, Petrus pernah menyatakan dengan berani bahwa ia akan mengikuti Yesus sampai mati.
Namun, saat situasi semakin tegang dan ancaman dari penguasa Romawi serta orang Farisi mulai menghampiri, ia memilih untuk menyangkal Yesus tiga kali.
Saat itu, ketakutan mengambil alih dirinya—lebih kuat daripada tekadnya untuk setia. Petrus, yang telah menyaksikan mukjizat-mukjizat Yesus, yang telah dibimbing langsung oleh-Nya, akhirnya memilih untuk menjauh demi keselamatan pribadinya.

Namun, cerita Petrus tidak berhenti pada titik ini. Penyesalan yang mendalam membawa Petrus kembali pada jalan yang benar. Setelah kebangkitan Yesus, ia diangkat kembali, tidak hanya sebagai rasul, tetapi bahkan akhirnya menjadi Paus yang pertama.
Pada akhir hayatnya, Petrus tidak hanya menyatakan iman melalui kata-kata, tetapi melalui pengorbanan dirinya sendiri, mati sebagai martir untuk kebenaran yang pernah ia takutkan.

Kisah Petrus memang memberi kita pelajaran yang berharga: meskipun kita jatuh dalam ketakutan, kita masih memiliki kesempatan untuk bangkit.
Namun, ada pula kisah yang lebih tragis, yang menggambarkan mereka yang memilih untuk tidak bertobat, yang tidak memberi ruang bagi diri mereka untuk berubah.
Yudas Iskariot tentu saja adalah contoh paling mencolok. Yudas memilih untuk mengkhianati Yesus demi sejumlah uang, merasa kecewa karena Yesus tidak membebaskan Israel dari penjajahan Romawi seperti yang ia harapkan.
Yudas, meskipun memiliki kesempatan untuk bertobat, memilih untuk menutup hati dan akhirnya mengakhiri hidupnya dengan penyesalan yang tak terpulihkan. Ia memilih kenyamanan duniawi daripada pengorbanan yang diperlukan untuk mengikuti jalan kebenaran.

Di sisi lain, ada kisah Nikodemus yang menunjukkan pergumulan yang lebih panjang. Sebagai seorang pemimpin agama yang percaya pada Yesus, Nikodemus memilih untuk datang kepada-Nya dengan hati yang penuh keraguan, takut akan pandangan orang lain.
Nikodemus adalah gambaran dari mereka yang tahu apa yang benar, namun terhalang oleh ketakutan akan konsekuensi sosial dan politik. Ia datang kepada Yesus pada malam hari, menyembunyikan keyakinannya karena tidak ingin reputasinya tercemar.

Namun, setelah kematian Yesus, Nikodemus memutuskan untuk keluar dari bayang-bayang ketakutannya. Bersama dengan Yusuf dari Arimatea, ia mengurus jenazah Yesus, sebuah tindakan yang menunjukkan perubahan besar dalam dirinya. Nikodemus, meski terlambat, akhirnya memilih untuk berdiri di sisi Yesus, meskipun itu berarti harus menghadapi resiko besar bagi reputasinya. Ia tidak hanya sekadar percaya, tetapi ia mengungkapkan keyakinannya melalui tindakan, berani membayar harga dari pengakuannya sebagai orang yang percaya.

Di sini, kita bisa melihat analogi yang jelas dengan apa yang kita saksikan hari ini. Banyak orang yang memilih untuk menjauh dari perjuangan keadilan karena takut akan risiko—baik risiko sosial, politik, maupun pribadi.
Sama seperti para pengikut Yesus yang menghindar ketika situasi semakin berbahaya, kita juga sering kali menghindar dari terlibat dalam perjuangan yang memerlukan pengorbanan.
Orang-orang yang memperjuangkan keadilan hari ini, yang berani berdiri untuk mereka yang tertindas, sering kali di satu sisi dianggap sebagai ancaman oleh kekuasaan yang ada, di sisi lain dianggap penyakit menular oleh orang-orang yang takut kenyamanannya terkompromi jika dianggap dekat apalagi berjuang bersama mereka.
Dalam situasi demikian tentu saja banyak di antara kita memilih untuk tidak terlibat agar tidak dianggap menjadi bagian dalam pertarungan yang tidak menguntungkan.

Namun, bayangkan jika kita hidup di zaman Yesus. Apakah kita akan memilih untuk tidak terlibat, lebih memilih untuk tidak terlihat bersekutu dengan-Nya, sama seperti banyak orang yang lebih memilih untuk patuh pada pemerintah Romawi dan orang-orang Farisi karena mereka merasa lebih aman? Apakah kita akan memilih untuk menjauh dari Yesus karena takut dipersekusi, atau kita akan berani mengikuti-Nya meskipun itu berarti harus menanggung risiko besar?

Pada akhirnya, kisah-kisah ini bukan hanya tentang pengkhianatan, penyesalan, dan pengorbanan. Mereka adalah kritik terhadap kita yang sering kali memilih untuk menghindar. Ketika kita melihat ketidakadilan, ketimpangan, atau penindasan, apakah kita akan memilih untuk bersembunyi?
Ataukah kita akan berdiri bersama mereka yang berjuang untuk kebenaran, meskipun itu berarti menanggung risiko yang tidak sedikit? Kita sering kali terjebak dalam kenyamanan kita, menghindari keterlibatan karena ketakutan akan harga yang harus dibayar. Kita lebih memilih untuk menjaga status quo, bahkan jika itu berarti membiarkan ketidakadilan terus berlangsung.

Namun, kisah para rasul mengingatkan kita bahwa pilihan itu bukan hanya soal kenyamanan. Ketika kita memilih untuk tidak terlibat, kita bukan hanya menghindari risiko—kita juga sedang menghindari tanggung jawab moral kita sebagai manusia, sebagai pengikut Kristus. Kita sedang mengabaikan panggilan untuk mengikuti jalan yang penuh dengan pengorbanan itu. Dan jika kita terus menghindar, kita berisiko kehilangan kesempatan untuk berubah, untuk bertobat, seperti yang dialami oleh St. Petrus.

Di sisi lain, kita juga melihat kenyataan yang lebih suram, seperti yang terjadi pada Yudas. Tak semua orang diberikan kesempatan kedua. Kita tidak tahu kapan waktu kita akan habis, atau apakah kita akan memiliki kesempatan untuk bertobat seperti Nikodemus, atau bahkan seperti St. Petrus yang kembali menemukan keberaniannya setelah jatuh.

Setiap pilihan kita memiliki konsekuensi. Menghindar dari kebenaran adalah pilihan yang mudah, tetapi itu bukanlah jalan menuju kedamaian sejati. Kita harus bertanya pada diri kita sendiri: apakah kita akan terus memilih kenyamanan yang menipu, ataukah kita akan memilih untuk terlibat, untuk berdiri bersama mereka yang memperjuangkan kebenaran, meskipun itu berarti harus berhadapan dengan risiko dan pengorbanan? Karena pada akhirnya, yang kita pilih hari ini akan menentukan siapa kita di masa depan—dan apakah kita akan memiliki keberanian untuk berdiri di sisi kebenaran.

One Reply to “Andai Kita Hidup di Masa Karya Yesus di Dunia, Jadi Siapakah Kita?”

Comments are closed.