Chaplet of Divine Mercy: Jesus, I Trust in You!

Darah dan Air, yang telah memancar dari Hati Yesus sebagai sumber kerahiman bagi kami. Engkaulah andalanku!

Pada tanggal 22 Februari 1931, di Polandia, Tuhan Yesus menampakkan diri pada Suster Maria Faustina Kowalska dari Sakramen Mahakudus, dan memberi kepadanya pesan kasih dan kerahiman Allah bagi dunia. Ketika Suster Faustina sedang berdoa di hadapan Sakramen Mahakudus, Tuhan Yesus menampakkan diri padanya. Keluar memancar dari hati Yesus dua pancaran sinar, satu merah dan yang lain putih. Dia kemudian bersabda, “Dua pancaran sinar ini keluar dari kedalaman kerahiman-Ku ketika Hati-Ku yang menderita terbuka karena tombak di kayu salib.” (299)

Tuhan Yesus meminta St Faustina untuk mewartakan ke seluruh dunia, Kasih dan Kerahiman-Nya yang agung dengan menyebarkan Devosi Kerahiman Ilahi.  “Hatiku meluap dengan kerahiman agung untuk jiwa-jiwa, dan terutama untuk para pendosa yang malang. Hanya jika mereka dapat mengerti bahwa Aku-lah Bapa yang terbaik bagi mereka dan untuk merekalah Darah dan Air keluar dari Hati-Ku …. Karena itulah Aku tinggal dalam Tabernakel sebagai Raja Kerahiman. Aku ingin melimpahkan rahmat pada jiwa-jiwa…. Mereka punya waktu untuk apa saja, tetapi mereka tidak punya waktu untuk datang kepada-Ku memohon rahmat.” (367)

“Mohonkanlah kerahiman-Ku bagi para pendosa; Aku menginginkan keselamatan (jiwa) mereka. Ketika kamu katakan doa ini, dengan hati penuh penyesalan dan dengan iman bagi seorang pendosa, Aku akan menganugerahi dia rahmat pertobatan. Doa itu demikian: Darah dan Air, yang telah memancar dari Hati Yesus sebagai sumber kerahiman bagi kami. Engkaulah andalanku!” (186).

Tuhan kita bersabda kepada St Faustina: “Akulah Kasih dan Kerahiman itu sendiri. Ketika setiap jiwa yang datang kepada-Ku dengan iman, Aku memenuhinya dengan kelimpahan rahmat, sehingga seakan tak mampu menampung sendiri, tetapi melimpah bagi jiwa-jiwa lain.” (1074)

Yesus meminta St Faustina untuk melukiskan gambar-Nya, satu gambar yang akan menunjukkan Kasih-Nya, Hati-Nya yang berbelas kasih dengan pancaran sinar kelembutan dan penyembuhan keluar daripadanya, dengan kata-kata “Yesus, Engkau Andalanku”.

Yesus bersabda, “Melalui gambar ini Aku akan melimpahkan rahmat bagi jiwa-jiwa; ini adalah sesuatu yang mengingatkan mereka akan tuntutan Kerahiman-Ku.” (742) Jika Tuhan kita yang penyayang akan melimpahkan anugerah rahmat yang besar bagi kita yang menatap gambar kudus-Nya, betapa lebih banyak lagi Ia akan memberkati dan melimpahkan rahmat bagi mereka yang mendevosikan waktu bagi Dia dalam Sakramen Mahakudus.

“Ketika aku berada dalam gereja … aku melihat pancaran sinar yang sama keluar dari monstrans dan sinar-sinar itu menyebar ke seluruh gedung gereja. Hal ini berlangsung selama kebaktian itu. Setelah Benedictio, pancaran sinar itu meluap ke samping kiri kanan dan kembali lagi ke montrans. Penampakannya terang bersinar dan jernih seperti kristal. Aku mohon kepada Tuhan Yesus agar api cinta kasih-Nya memenuhi jiwa-jiwa yang dingin. Karena pancaran sinar-sinar ini, suatu hati akan dihangatkan kembali meski hati itu sudah seperti balok es.”

Tuhan Yesus berkata kepada St Faustina, “Hari ini Aku menyatakan Kerahiman-Ku kepada umat di seluruh dunia. Aku tak ingin menghukum umat manusia yang menderita, tetapi keinginan-Ku adalah untuk menyembuhkannya, membawa mereka pada Hati-Ku yang Maharahim” (1588). “Pendosa yang terberat akan mencapai kesucian yang besar, jika mereka mempercayakan diri pada KerahimanKu.” (1784) “Lebih besar seorang pendosa itu, lebih besarlah haknya untuk menerima KerahimanKu.” (723)

Suster Faustina mencatat kata-kata yang disampaikan Tuhan kepadanya: “Aku mengingatkanmu, putri-KU, bahwa ketika engkau mendengar lonceng berbunyi pukul tiga siang, tenggelamkanlah dirimu seluruhnya ke dalam Kerahiman-Ku, sembahlah dan muliakanlah kerahiman-Ku, mohonkanlah kemahakuasaan-Nya bagi seluruh dunia teristimewa bagi pendosa-pendosa yang sesat.”

“Usahakanlah sebaik-baiknya … paling tidak memasuki kapel untuk sejenak dan menyembahlah dalam Sakramen Mahakudus Hati-Ku, yang penuh belas kasihan.”

“Aku menuntut dari setiap ciptaan-Ku, pemujaan kepada Belas Kasihan-Ku.” (1572)

Ketika St Faustina sedang berdoa di hadapan Yesus dalam Ekaristi Kudus, Ia menunjukkan suatu penglihatan kepadanya. Setiap kali orang masuk ke kapel dan mengunjungi Tuhan Yesus yang tertahtakan dalam monstrans, ia melihat pancaran sinar ilahi Kasih dan Kerahiman memancar keluar dan melingkupi seluruh dunia dan setiap orang yang ada didalamnya, dengan rahmat dan berkat-Nya! Melalui Adorasi Abadi Ekaristi, Tuhan Yesus mengeluarkan pancaran sinar-sinar penyembuhan-Nya kepada kita, keluarga kita dan seluruh dunia! Tuhan Yesus secara khusus minta bahwa Pesta Kerahiman Ilahi hendaknya dirayakan pada Minggu Paskah yang kedua. Hari yang agung ini akan menerangi Kerahiman Agung Ilahi, yang Ia nyatakan dalam Ekaristi Kudus!

Tuhan Yesus mewahyukan Koronka Kerahiman Ilahi pada St Faustina dan memintanya untuk mendaraskannya setiap hari, “Ucapkanlah tak henti-henti koronka yang Ku-ajarkan kepadamu. Barangsiapa yang mengucapkannya akan menerima kerahiman-Ku pada waktu kematiannya. Imam-imam hendaknya menganjurkannya pada para pendosa sebagai harapan terakhir bagi keselamatannya. Meski ada pendosa yang demikian keras hati, jika mengucapkan koronka hanya sekali saja, ia akan menerima rahmat dari Kerahiman-Ku yang tak terbatas. Aku ingin melimpahkan rahmat yang tak terbayangkan ini bagi jiwa-jiwa yang mempercayakan diri kepadaKu.” (687)

“Belas Kasih Allah, yang tersembunyi dalam Sakramen Mahakudus, suara Allah yang bersabda kepada kita dari tahta kerahiman-Nya: Datanglah kepada-Ku, kamu semua … Lihatlah, bagimu Aku telah mendirikan tahta kerahiman di bumi – tabernakel – dan dari tahta ini Aku ingin masuk ke dalam hatimu. Aku tak dikelilingi oleh serombongan pengawal. Engkau dapat datang kepada-Ku setiap saat dan setiap waktu; Aku ingin berbicara denganmu dan ingin melimpahkan rahmat-Ku.” (1485)

Kristus yang diserahkan Bapa kepada kita adalah bukti kerahiman Allah yang agung bagi umat manusia. Kerahiman Allah nyata dalam pengampunannya, dalam hidup kekal yang kita terima, dalam empatinya yang penuh, dan dalam persahabatannya yang sejati karena selalu menyertai kita sampai akhir jaman, dan terutama dalam RohNya yang menghidupi kita.

Pesta Kerahiman Ilahi dan Devosi kepada Kerahiman Ilahi mulai bergema luas di antara jemaat. Hal ini membawa umat kepada kesadaran akan kerahiman Tuhan dan Cinta-Nya kepada kita membawa kepada kedalaman kepada rohani yang makin nyata, serta berdampak pada kesalehan hidup. Maka kita juga perlu mengupayakan dengan kesungguhan hati untuk menghayati bahwa kerahiman Tuhan adalah nyata melalui usaha menjadi murah hati dan peduli kepada sesama.

Kerahiman Ilahi dilukiskan sebagai Yesus yang bercahayakan kebangkitan dan kemuliaan. Yesus memang bersatu dengan Allah dan kenyataannya itu pulalah tujuan hidup kita. Puncak Kerahiman Allah adalah bahwa kita boleh bersatu dengan Allah di dalam dan oleh Yesus. Hal ini tidak hanya terlaksana pada akhir hidup kita, tetapi sekarang ini juga, yaitu di dalam Ekaristi Suci. Ekaristi dengan demikian tidak hanya mempersatukan kita dengan diri Yesus, namun persatuan kita dengan Yesus juga telah mempersatukan kita dengan Allah. Singkatnya, Ekaristi adalah puncak Kerahiman Ilahi.

Ada dua ayat Kitab Suci yang perlu kita ingat baik-baik sementara kita mempraktekkan Devosi Kerahiman Ilahi, ataupun bentuk-bentuk praktek devosi lainnya:

“Bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, pa
dahal hatinya menjauh dari pada-Ku. ” (Yes 29:13)

“Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.” (Mat 5:7)

Apabila kita memandang lukisan Juruselamat yang Maharahim, atau berhenti sejenak dari rutinitas untuk berdoa pada jam tiga siang, atau mendaraskan Koronka – adakah hal-hal ini mendekatkan kita kepada hidup sakramental Gereja yang sejati dan membiarkan Yesus mengubah hati kita? Ataukah devosi tersebut menjadi sekedar kebiasaan religius belaka? Dalam kehidupan sehari-hari apakah kita semakin dan semakin bertumbuh menjadi orang-orang yang berbelas kasih? Ataukah kita hanya menawarkan “doa bibir” kepada Allah yang Maharahim?

Pentingnya mewartakan Kerahiman Ilahi merupakan tema yang terus-menerus muncul dalam Buku Catatan Harian Sta. Faustina:

“Wartakanlah bahwa kerahiman adalah sifat Allah yang utama. Segala karya tangan-Ku dimahkotai dengan belas kasih”

“Wartakanlah ke segenap penjuru dunia kerahiman-Ku yang tak terselami”

“Jiwa-jiwa yang mewartakan kemuliaan kerahiman-Ku akan Aku lindungi sepanjang hidup mereka bagaikan seorang ibunda yang lembut hati menjaga bayinya, dan di saat ajal, Aku tak akan menjadi hakim bagi mereka, melainkan Juruselamat yang penuh Belas Kasih”

“Wartakanlah dengan segala daya upayamu Devosi kepada Kerahiman Ilahi. Aku Sendiri yang akan menyempurnakan kekuranganmu. Katakanlah kepada segenap umat manusia yang sakit untuk datang merapat pada Hati-Ku yang berbelas kasih, Aku akan memenuhinya dengan damai sejahtera”

Berikut doanya yang didaraskan dengan bantuan Rosario biasa:

Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin.

Bapa Kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu Jadilah kehendak-Mu, di bumi seperti di dalam surga. Berilah kami rejeki pada hari ini, dan ampunilah kesalahan kami, seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami. Dan janganlah masukkan kami ke dalam percobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Amin.

Salam Maria penuh rahmat. Tuhan sertamu. Terpujilah engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus. Santa Maria Bunda Allah. Doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan pada waktu kami mati. Amin.

Aku percaya akan Allah, Bapa yang Maha Kuasa, Pencipta langit dan bumi, dan akan Yesus Kristus Putera-Nya yang tunggal, Tuhan kita, yang dikandung oleh Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria, yang menderita sengsara, dalam pemerintahan Pontius Pilatus disalibkan wafat dan dimakamkan, yang turun ke tempat penantian, pada hari ketiga bangkit dari antara orang mati, yang naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa yang Maha Kuasa, dari situ Ia akan datang mengadili orang yang hidup dan yang mati, Aku percaya akan Roh Kudus, Gereja Katolik yang Kudus, Persekutuan para kudus, pengampunan dosa, kebangkitan badan, kehidupan kekal. Amin.

(Dimulai dengan dekade pertama, pada setiap manik Bapa Kami, ucapkan kata-kata berikut)
Bapa Yang Kekal, kupersembahkan pada-Mu: Tubuh dan Darah, Jiwa dan ke-Allah-an Putera-Mu terkasih, Tuhan kami Yesus Kristus, sebagai pendamaian untuk dosa-dosa kami dan dosa seluruh dunia

(Pada setiap manik Salam Maria, ucapkan kata-kata berikut)
Demi sengsara-Nya yang pedih, kasihanilah kami dan seluruh dunia.

(Setelah selesai 5 dekade, diakhiri dengan kata-kata berikut sebanyak 3x berturut-turut)
Allah Yang Kudus, Allah Yang Maha Kuasa, Allah Yang Kekal, kasihanilah kami dan seluruh dunia.

Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin.

(sumber: gerejakatolik.net, indocell.com, Paroki Santo Stefanus Cilandak, teks Misa Minggu Kerahiman Ilahi Paroki St. Paulus Miki Salatiga)

  Copyright protected by Digiprove © 2011