Dalam kehidupan sosial dan institusional, mungkin pernah dijumpai individu yang memiliki keyakinan kuat bahwa tindakan yang dilakukan adalah benar. Keyakinan tersebut tampak stabil dan sulit digoyahkan, meskipun ketika dianalisis secara rasional dan moral, tindakan itu tidak ditopang oleh argumen yang koheren, konsisten, atau dapat dipertanggungjawabkan secara etis.

Dalam beberapa kasus, rasionalitas dan pertimbangan moral tidak hadir sebagai struktur argumentatif yang dapat diuji, melainkan sebagai pengalaman subjektif. Individu yang bersangkutan sungguh merasa sedang bertindak benar, meskipun penjelasan yang diberikan bersifat berputar, defensif, atau tidak relevan dengan prinsip moral yang diklaim.

Fenomena ini menunjukkan bahwa keyakinan moral tidak selalu merupakan hasil dari penalaran etis yang matang. Sebaliknya, keyakinan tersebut kerap berfungsi sebagai mekanisme psikologis untuk menjaga stabilitas identitas diri ketika tindakan yang diambil berpotensi menimbulkan konflik batin.

Catatan Posisi Penulis

Sebelum melangkah lebih lanjut, tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai pemaparan dari sudut pandang keahlian profesional di bidang neurosains maupun psikologi. Penulis tidak memiliki latar belakang formal dalam disiplin tersebut. Pembahasan yang disajikan berangkat dari pengamatan pribadi atas fenomena sosial dan moral yang berulang, kemudian dianalisis melalui pembacaan terhadap literatur ilmiah dan refleksi konseptual yang relevan. Karena itu, artikel ini tidak mengajukan klaim otoritatif, melainkan menawarkan kerangka pemahaman interpretatif untuk membantu pembaca menimbang fenomena yang dibahas secara lebih jernih dan kritis. Dengan posisi ini, paparan berikutnya perlu dibaca sebagai upaya sintesis lintas disiplin, bukan sebagai kesimpulan final yang menutup kemungkinan pembacaan berbeda.

Otak dan Fungsi Menjaga Konsistensi Diri

Dalam kajian neurosains kognitif, otak manusia tidak dirancang terutama untuk menemukan kebenaran objektif, melainkan untuk menjaga konsistensi psikologis dan keberlangsungan fungsi individu. Proses pengambilan keputusan moral melibatkan area korteks prefrontal dan sistem limbik yang berperan dalam regulasi emosi, identitas, dan penilaian sosial.

Ketika seseorang telah menginternalisasi identitas sebagai individu bermoral, rasional, atau religius, informasi yang mengancam identitas tersebut akan diproses secara selektif. Bukti yang tidak sejalan cenderung diremehkan atau ditafsirkan ulang. Dalam konteks ini, rasa yakin berfungsi sebagai indikator stabilitas psikologis, bukan sebagai penanda kebenaran moral.

Dengan kata lain, otak lebih cepat membangun narasi pembenaran daripada membuka ruang koreksi diri.

Cognitive Dissonance dan Penolakan terhadap Koreksi Moral

Teori cognitive dissonance menjelaskan ketegangan psikologis yang muncul ketika keyakinan bertabrakan dengan tindakan. Secara teoritis, ketegangan ini dapat mendorong perubahan perilaku atau revisi keyakinan. Namun temuan empiris menunjukkan bahwa pada individu dengan investasi identitas tinggi, mekanisme yang dominan justru berupa rasionalisasi.

Alih-alih mengakui kesalahan, individu mengembangkan penjelasan yang meredam ketegangan batin. Situasi dianggap kompleks, tanggung jawab dialihkan, atau tujuan dipandang cukup mulia untuk membenarkan penyimpangan moral.

Proses ini memungkinkan individu mempertahankan citra diri tanpa harus menghadapi konsekuensi psikologis dari pengakuan salah.

Moral Licensing dan Distorsi Religiositas

Psikologi moral mengenal konsep moral licensing, yaitu kecenderungan individu memberi kelonggaran moral pada diri sendiri setelah merasa memiliki rekam jejak kebaikan atau identitas moral tertentu. Kebaikan masa lalu berfungsi sebagai semacam modal simbolik yang membenarkan pelanggaran nilai di masa kini.

Dalam konteks religius, mekanisme ini sering tampil dalam bentuk justifikasi teologis yang dangkal. Iman tidak lagi berfungsi sebagai ruang pemeriksaan hati, melainkan sebagai legitimasi simbolik. Nilai-nilai spiritual digunakan untuk melindungi tindakan dari kritik, bukan untuk menuntun pertobatan.

Religiositas kehilangan daya korektifnya dan berubah menjadi perisai psikologis.

Motivated Reasoning dan Rasionalitas yang Selektif

Penelitian psikologi kognitif menunjukkan bahwa penalaran manusia sering bersifat termotivasi. Akal digunakan bukan untuk mengevaluasi semua argumen secara seimbang, melainkan untuk mempertahankan posisi yang sudah dipilih sebelumnya.

Data yang mendukung diterima tanpa banyak kritik. Data yang mengganggu diperlakukan dengan kecurigaan. Menariknya, tingkat pendidikan tinggi tidak selalu mengurangi bias ini. Individu terdidik justru sering menghasilkan pembenaran yang lebih kompleks dan tampak meyakinkan.

Rasionalitas tidak menghilang, tetapi bergeser fungsi, dari pencarian kebenaran menjadi perlindungan identitas.

Self-Deception sebagai Mekanisme Psikologis

Dari perspektif neurosains evolusioner, penipuan terhadap diri sendiri dapat dipahami sebagai mekanisme adaptif. Dengan meyakini bahwa tindakan diri benar, individu dapat mempertahankan fungsi sosial, otoritas, dan stabilitas emosional.

Persoalan muncul ketika mekanisme ini berlangsung tanpa koreksi reflektif. Nurani tidak lenyap secara tiba-tiba. Nurani menumpul secara bertahap, dilapisi niat baik, bahasa moral, dan pembenaran rasional yang tampak sahih.

Di titik ini, kesalahan tidak lagi dialami sebagai penyimpangan etis, melainkan sebagai kewajaran situasional.

Resonansi dengan Tradisi Teologi Moral

Refleksi teologi moral klasik telah lama mengenali bahaya keyakinan moral yang tidak diuji. Kesalahan yang paling berbahaya bukan yang disadari sebagai kejahatan, melainkan yang dialami sebagai kebenaran.

Dalam perspektif ini, iman yang matang selalu menyertakan sikap waspada terhadap rasa benar yang terlalu nyaman. Keraguan bukan lawan iman. Keraguan sering menjadi prasyarat pertobatan dan pembaruan moral.

Ilmu pengetahuan modern dan refleksi teologis bertemu pada satu kesimpulan. Keyakinan moral perlu diuji secara berulang, baik secara rasional maupun etis.

Penutup

Fenomena merasa benar saat bertindak keliru bukan anomali psikologis. Fenomena ini merupakan bagian dari cara manusia menjaga identitas dan stabilitas batin.

Karena itu, pertanyaan etis yang lebih relevan bukan sekadar apakah seseorang benar, melainkan bagian mana dari diri yang paling resisten terhadap koreksi. Di ruang resistensi itulah refleksi moral seharusnya dimulai.

Daftar Pustaka

Bandura, A. (1999). Moral disengagement in the perpetration of inhumanities. Personality and Social Psychology Review, 3(3), 193–209.

Festinger, L. (1957). A theory of cognitive dissonance. Stanford University Press.

Haidt, J. (2012). The righteous mind: Why good people are divided by politics and religion. Pantheon Books.

Kahneman, D. (2011). Thinking, fast and slow. Farrar, Straus and Giroux.

Mazar, N., Amir, O., & Ariely, D. (2008). The dishonesty of honest people. Journal of Marketing Research, 45(6), 633–644.

Trivers, R. (2011). The folly of fools: The logic of deceit and self-deception in human life. Basic Books.