Bagi saya, awal tahun selalu terasa seperti sebuah transisi yang canggung.
Tidak sepenuhnya baru, tapi juga tidak bisa disebut lama.
Kita menutup kalender, membuka lembar baru, lalu hampir secara otomatis mulai mempertimbangkan banyak hal: pada satu sisi harapan, namun di sisi lain juga ada angka-angka, risiko, skenario terburuk.
Di Indonesia hari ini, rasa cemas itu bukan sekadar urusan personal, tapi sudah menjelma menjadi kecemasan kolektif.
Biaya hidup terasa makin menekan. Dunia kerja makin rapuh. Politik terus berisik, tapi makin menjauh dari harapan rakyat. Di banyak ruang, kita mulai terbiasa dengan pembatasan yang dikemas sedemikian rupa, namun perlahan makin dinormalisasi atas nama “ketertiban” dan “stabilitas”.
Kita dituntut tetap tenang. Tetap produktif. Tetap optimis.
Padahal, jujur saja, realita masa depan terasa makin sulit digenggam.
Mungkin karena itu, di awal tahun seperti ini, pertanyaan yang paling mendasar bukan lagi “apa rencanaku tahun ini?”
Melainkan: bagaimana caranya tetap waras, di tengah ketidakpastian yang nyata?
Uniknya, bagi saya, jawaban atas pertanyaan ini akhirnya datang dari suara-suara masa lalu— para Kudus—yang hidup di dunia yang tidak kalah keras dari dunia kita hari ini.
Padre Pio: Kekhawatiran Hanya Memindahkan Penderitaan ke Hari Ini
Padre Pio bukan sosok yang hidup nyaman. Ia mengenal penderitaan bukan dari buku, tetapi dari tubuh dan reputasinya sendiri. Ia difitnah, diawasi, dibatasi, dan sering kali dibiarkan sendirian.
Namun justru dari sana ia berkata dengan sangat sederhana:
Kalimat ini sering terdengar terlalu sederhana, bahkan naif. Tetapi jika kita menempatkannya dalam hidup Padre Pio, maknanya menjadi jauh lebih tajam.
Ia tidak sedang berkata bahwa hidup akan baik-baik saja.
Ia sedang berkata: kekhawatiran tidak pernah menambah kekuatan kita untuk menghadapi apa pun.
Padre Pio memahami satu hal penting yang sering luput dari kita:
kekhawatiran bukan penderitaan yang produktif. Ia hanya memindahkan penderitaan yang belum tentu terjadi sebagai bagian dari hidup kita hari ini.
Dalam konteks masyarakat Indonesia hari ini, kita mengenali pola ini dengan sangat jelas.
Kita sudah lelah oleh realitas ekonomi yang berat, lalu kita tambahkan beban dengan membayangkan apa yang mungkin terjadi enam bulan ke depan. Kita cemas tentang kebijakan yang semakin tidak pro-rakyat, tentang situasi politik yang terbentuk dari imajinasi satu sisi para politikus, tentang masa depan yang belum terjadi—dan semua itu kita tanggung sekarang.
Padre Pio tidak meminta kita menutup mata.
Ia hanya mengingatkan: jangan membuat penderitaan yang sama dua kali—sekali di kepala, lalu sekali di kenyataan.
Doa dan harapan, dalam pemahaman Padre Pio, bukan pelarian dari realitas.
Justru itu cara menjaga agar realitas tidak menghancurkan batin kita sebelum waktunya.
St. Francis de Sales: Tuhan Hadir di Hari Ini, Bukan di Skenario Terburuk Kita
Jika Padre Pio berbicara tegas, St. Francis de Sales berbicara dengan nada yang lebih lembut—hampir seperti seorang sahabat yang memahami kegelisahan kita, tetapi tidak membiarkannya mengambil alih.
Ia menulis:
Ia tidak menjanjikan kemudahan.
Ia hanya menegaskan kontinuitas kehadiran.
Banyak dari kita gelisah bukan karena masa depan itu sendiri, tetapi karena keinginan untuk mengendalikannya. Dalam situasi sosial, ekonomi dan politik yang serba tak menentu, sebagai manusia wajar jika kita ingin kepastian absolut. Maka kita menyusun rencana, analisis, dan skenario terburuk—seolah semua itu bisa menggantikan rasa aman.
St. Francis de Sales mengingatkan dengan tenang:
iman tidak bekerja di wilayah “bagaimana jika”. Ia bekerja di wilayah hari ini.
Hari ini cukup.
Tugas hari ini cukup.
Kecemasan yang melampaui hari ini sering kali bukan tanda kebijaksanaan, melainkan tanda kelelahan batin.
Pesan dari Bunda Maria di Guadalupe: “Jangan Takut, Aku Ada di Sini”
Di antara semua pesan rohani tentang ketakutan, pesan Bunda Maria dari Guadalupe mungkin yang paling personal. Kepada Juan Diego—seorang kecil di tengah struktur kekuasaan yang menindas—ia berkata:
Tidak ada janji perubahan instan.
Tidak ada strategi besar yang ditawarkan.
Hanya kehadiran.
Pesan ini terasa sangat dekat dengan pengalaman banyak orang hari ini. Ketika suara kita terasa kecil, ketika sistem terasa besar dan dingin, yang paling kita butuhkan sering kali bukan solusi cepat, melainkan keyakinan bahwa kita tidak sendirian di tengah ketidakpastian.
Kekhawatiran Tidak Pernah Menambah Apa Pun
Akhirnya semua ajaran dan pesan para Kudus selalu menghantar pada Sang Kebenaran Sejati: Yesus sendiri.
Dan mengenai kekhawatiran, Yesus berbicara dengan sangat realitis:
Ini bukan teguran moral. Ini pengamatan jujur.
Secara logis kekhawatiran tak membuat kita lebih siap. Ia hanya membuat kita lebih lelah.
Di tengah derasnya berita mencemaskan, polarisasi sosial, dan ketegangan politik, ketenangan justru menjadi tindakan yang berani.
Tenang sama sekali bukan berarti tidak peduli.
Tidak cemas bukan berarti menyerah.
Justru sebaliknya: ketenangan adalah fondasi keberanian yang tahan lama.
Membuka Tahun Baru dengan Kedisiplinan Hati
Refleksi awal tahun ini bukan tentang menghapus kekhawatiran sepenuhnya. Tentu saja itu menjadi harapan yang tidak realistis.
Refleksi ini adalah tentang menempatkan kekhawatiran di posisi yang semestinya, agar ia tidak menjadi penguasa batin.
Untuk menempatkan kekhawatiran pada posisi semestinya ini yang diperlukan adalah kedisiplinan hati, kedisiplinan untuk senantiasa percaya dan sadar bahwa Tuhan adalah satu-satunya Sang Penguasa masa lalu, masa kini dan masa depan.
Para Kudus semasa hidupnya juga tak hidup di dunia yang lebih aman dari dunia kita hari ini.
Namun dalam pengalaman hidup dan imannya mereka belajar hal yang sangat mendalam:
Entah kita yang saat ini merasa cemas akan masa depan, atau justru merasa menguasai masa depan.
Nyatanya tak seorangpun dari kita yang sebenarnya punya kuasa atas masa depan.
Maka mungkin doa awal tahun yang paling masuk akal bukanlah permohonan agar semuanya lancar, melainkan:
“Tuhan, ajari aku setia di hari ini.
Ajari aku tidak memikul beban yang belum tentu Kau titipkan.
Ajari aku menyerahkan diri, bukan pada kalkulasi atau prediksi, tetapi pada kehadiran serta pemeliharaan-Mu.”
Dan ketika rasa takut itu datang lagi—karena ia pasti akan datang—ingatlah kalimat sederhana itu sekali lagi:
“Jangan takut. Aku ada di sini.”
I’m a marketing strategist specialising in consumer behaviour, brand strategy, and digital trust. I provide insight-driven strategic guidance for organisations seeking to understand consumers more deeply, with a focus on midlife audiences and behavioural psychology. My work blends reflective analysis, cultural perspective, and practical frameworks to help brands build clarity, relevance, and long-term trust in a rapidly evolving market.
| My core archetypes: Commander (Best Match), Shaper (Good Match) and Planner (Good Match) |
I believe recognition and status matter far less than being truly competent and effective.
I stand for those whose worth is written in honesty, not in headlines.. ~ Satrio ~
Read more of my posts: Medium| Indonesiana | Kompasiana
