Semut

Siang itu terasa panas, terik matahari terasa menyengat.
Untunglah masih ada persediaan juice jeruk di lemari es.
Aku menuangkan juice itu ke sebuah gelas berukuran sedang
sambil membayangkan betapa segarnya ketika juice itu membasahi mulut dan kerongkongan yang terasa kering.

Namun belum sempat aku menikmatinya sebuah SMS masuk
dan ternyata cukup penting sehingga harus segera kubalas.
Pembicaraan melalui SMS itu memakan waktu cukup lama
hingga tak cukup satu dua kali balasan.

Kurang lebih lima belas menit telah berlalu ketika akhirnya percakapan berakhir.
Aku segera teringat segelas juice jeruk yang tadi telah kutuang ke gelas.

photo credit: positivelyrambling.wordpress.com


Ketika aku mencoba mengangkat gelas ternyata ada seekor semut di tutup gelas.
Rupanya semut kecil ini tergoda oleh aroma minuman ini.
Entah bau manisnya yang mebuat dia tertarik,
atau jangan-jangan dia merasa mulut dan kerongkongannya kering seperti halnya aku saat itu.

Apapun itu aku ingin segera menyingkirkannya,
tapi aku juga tak ingin membunuhnya.
Akhirnya aku mencoba meniup semut itu dengan harapan dia akan ‘terbang’
dan tersingkir dari tutup gelasku tanpa aku harus membunuh atau menyakitinya.

Tapi ternyata cengkeramannya cukup kuat,
meski aku meniup semakin kencang dia masih mampu bertahan.
Habislah kesabaranku pada akhirnya
dan aku kibaskan tutup gelas itu keras-keras hingga ia terjatuh.

Akhirnya bisa kunikmati juga segelas juice jeruk itu tanpa gangguan.
Sambil menikmatinya terlintas kembali bagaimana semut tadi bertahan sekuat tenaga untuk tidak terlepas dari tutup gelas.

Terlintas dalam pikiranku bahwa ia tentu tak tahu bahwa aku meniup agar ia tak tersakiti.
Namun bagaimana ia bisa tahu?
Bukankah dia hanya seekor semut?

Akupun jadi teringat pada diriku sendiri.
Betapa sering aku marah ketika sebuah keadaan tak berjalan seperti yang aku inginkan.
Betapa sekuat tenaga aku berusaha merubah keadaan seperti yang aku mau.

Padahal bisa jadi keadaan tak tampak baik hanya karena aku tak tahu bahwa Tuhan memiliki rencana yang lebih baik untukku.

Aku mengabaikan ‘bisikan-Nya’ mungkin ‘tiupan-Nya’ atau bahkan mungkin ‘sentilan-Nya’ hingga Ia harus memberikan tamparan kepadaku.

Bagaimana aku bisa menyalahkan semut itu
Jika aku yang dibelakali akal dan budi
Bahkan bimbingan Roh Kudus
seringkali lebih memilih jalanku sendiri?