Istilah “filsafat penderitaan” pertama kali saya dengar bukan dari ruang kuliah,
bukan pula dari buku teologi sistematis dengan catatan kaki berlapis.
Ia justru muncul dalam sebuah percakapan ringan
di salah satu episode “Opera Komedi Samadi”.

Romo Yustinus Ardianto, PR, menyebutnya sambil berseloroh,
tanpa penjelasan konseptual atau kerangka akademik.
Tidak ada definisi, tidak ada uraian metodologis.
Namun justru karena disampaikan secara santai,
istilah itu menetap cukup lama dalam ingatan saya.

Ketika menyaksikan penderitaan saudara-saudara kita
di Sumatera, Aceh, dan Jawa Barat
yang terdampak bencana banjir,
ungkapan “filsafat penderitaan” itu kembali muncul
sebagai kegelisahan intelektual, bukan sekadar emosi sesaat.

Filsafat penderitaan.

Pertanyaan yang menyertainya terasa klasik,
tetapi tetap relevan:
mengapa penderitaan seolah tidak pernah terpisah
dari pengalaman manusia?
Apakah semuanya berasal dari Tuhan?
Ataukah sebagian justru merupakan konsekuensi
dari keputusan manusia sendiri?

Dorongan untuk memahami pertanyaan itu membawa saya
membaca kembali Kitab Suci,
tulisan para Bapa Gereja,
refleksi Thomas Aquinas,
serta dokumen resmi Gereja.
Dari sana tampak satu pola yang relatif konsisten
dalam tradisi Katolik:
penderitaan tidak pernah dipahami secara tunggal.
Ia memiliki bentuk yang beragam
dan menuntut pembedaan yang cermat.

Penderitaan yang Datang dari Diri Kita Sendiri

Dalam tradisi Katolik,
sebagian penderitaan diakui lahir
dari pilihan manusia sendiri.

Manusia dipahami sebagai makhluk berkehendak bebas.
Kebebasan ini merupakan martabat,
sekaligus sumber tanggung jawab.
Kebebasan memilih tidak pernah netral,
karena setiap pilihan membawa konsekuensi.

St. Agustinus menjelaskan bahwa kejahatan
bukanlah sesuatu yang diciptakan Tuhan,
melainkan privatio boni:
ketiadaan atau penyimpangan dari kebaikan.
Ketika manusia menjauh dari kebaikan,
kebenaran, dan cinta,
ketidakteraturan pun muncul.

Katekismus Gereja Katolik berbicara dengan jujur
mengenai dinamika ini.
Dosa tidak berhenti sebagai tindakan tunggal.
Ia cenderung membentuk kebiasaan,
menguatkan kecenderungan,
dan menciptakan pola baru dalam diri manusia
(KGK 1853; 1865).

Dampaknya tidak hanya personal.
Dosa melukai relasi,
merusak kepercayaan,
dan kerap menyeret orang lain
ke dalam konsekuensi yang sama
(KGK 1868–1869).
Pada akhirnya,
luka itu kembali mengenai pelakunya sendiri,
meninggalkan keterikatan batin yang tidak sehat
serta ketidakteraturan
yang memerlukan pemurnian dan penyembuhan
(KGK 1472).

Dalam kategori ini,
penderitaan tidak hadir sebagai misteri metafisis
yang jauh dari jangkauan.
Ia dekat,
bersifat personal,
dan sering kali merupakan konsekuensi
dari kebebasan yang digunakan tanpa kebijaksanaan.

Penderitaan yang Diizinkan Tuhan

Namun,
tidak semua penderitaan dapat dijelaskan
dengan menunjuk kesalahan pribadi.

Ada penderitaan yang dialami
oleh mereka yang berusaha hidup jujur,
bertanggung jawab,
dan setia pada nilai-nilai kebaikan.
Di titik inilah pertanyaan iman muncul
bukan sebagai spekulasi teoritis,
melainkan sebagai pergulatan batin:
jika Tuhan itu baik,
mengapa penderitaan ini terjadi?

Thomas Aquinas menjawab pertanyaan ini
dengan kehati-hatian khas tradisi skolastik.
Tuhan bukan penyebab kejahatan.
Namun dalam kerangka penyelenggaraan ilahi,
Ia dapat mengizinkan penderitaan
demi kebaikan yang lebih besar,
meskipun kebaikan itu
tidak selalu segera terlihat oleh manusia.

Katekismus Gereja Katolik
mengakui secara eksplisit
bahwa fakta Tuhan mengizinkan penderitaan
merupakan misteri iman
(KGK 324).
Gereja tidak berpura-pura
memiliki penjelasan tuntas,
karena memang terdapat batas
yang tidak dapat dilampaui oleh rasio manusia.

Kedalaman pastoral refleksi ini
terlihat jelas dalam
Salvifici Doloris,
ketika Paus Yohanes Paulus II menegaskan
bahwa penderitaan,
dalam terang Kristus yang menderita,
tidak kehilangan makna.
Bukan karena penderitaan itu baik,
melainkan karena Tuhan
mampu menghadirkan makna
bahkan dari pengalaman yang paling gelap.

Dalam kerangka ini,
penderitaan menjadi ruang pergulatan iman.
Bukan tempat jawaban instan,
melainkan ruang keheningan
di mana manusia belajar mempercayai Tuhan
bukan karena hidup terasa mudah,
melainkan justru ketika hidup terasa rentan.

Penderitaan karena Tindakan Orang Lain

Ada pula penderitaan
yang sama sekali tidak berakar
pada kesalahan pribadi.

Ia muncul dari keputusan orang lain,
dari kekuasaan yang disalahgunakan,
atau dari sistem yang dibangun
tanpa kepekaan terhadap martabat manusia.

Konsili Vatikan II,
melalui dokumen
Gaudium et Spes,
berbicara secara tegas
tentang penderitaan
yang lahir dari kemiskinan struktural,
perang,
eksploitasi,
dan ketidakadilan sosial.
Penderitaan semacam ini
bukan nasib individual semata,
melainkan kegagalan moral kolektif.

Katekismus Gereja Katolik menegaskan
bahwa dosa tidak selalu berhenti
pada tindakan personal.
Ia dapat berkembang menjadi tanggung jawab bersama
ketika manusia,
secara sadar atau tidak,
turut mempertahankan situasi
yang melukai sesama
(KGK 1868–1869).

Dari sinilah muncul konsep
struktur dosa:
kondisi sosial yang memungkinkan
ketidakadilan berlangsung terus-menerus,
bahkan menimpa mereka
yang tidak ikut menciptakannya.

Dalam kategori ini,
penderitaan tidak dapat disikapi secara netral.
Ia menuntut keberpihakan,
solidaritas,
dan pengakuan bahwa iman
tidak pernah berhenti
pada relasi personal dengan Tuhan,
melainkan selalu membawa konsekuensi sosial.

Belajar Membaca Penderitaan

Tradisi Katolik tidak menawarkan
satu jawaban sederhana tentang penderitaan.
Sebaliknya,
ia mengajak pada pembedaan yang jujur.

Tidak semua penderitaan adalah hukuman.
Tidak semuanya merupakan misteri ilahi.
Dan tidak semuanya dapat dilepaskan
dari tanggung jawab manusia.

Bagi saya,
membaca kembali ajaran Gereja
tidak membuat penderitaan terasa ringan.
Namun refleksi ini
mendorong kejujuran yang lebih besar:
tentang diri sendiri,
tentang sesama,
dan tentang Tuhan.

Barangkali di situlah
kebijaksanaan filsafat penderitaan berada.
Bukan untuk meniadakan luka,
bukan pula untuk menawarkan jawaban cepat,
melainkan untuk membantu manusia
mengenali penderitaan
tanpa tergesa menyalahkan Tuhan,
tanpa mencari kambing hitam,
dan tanpa menghindari tanggung jawab sebagai manusia.

Dan mungkin,
dalam keheningan semacam itu,
iman justru bertumbuh
dengan cara yang paling manusiawi.

Daftar Pustaka

  • Alkitab, Terjemahan Baru. LAI.
  • Agustinus, St. De libero arbitrio.
  • Aquinas, Thomas. Summa Theologiae, Prima Pars, Q.49.
  • Catechism of the Catholic Church, §§324; 1472; 1853; 1865–1869.
  • John Paul II. Salvifici Doloris. Apostolic Letter, 1984.
  • Second Vatican Council. Gaudium et Spes, 1965.