Saat ini sudah sekitar tiga bulan sejak pandemi COVID-19 tercatat di Indonesia pada awal Maret 2020 lalu. Didahului dengan himbauan “tidak usah panik”, “tidak usah khawatir berlebihan”, hashtag “IndonesiaTerserah” sampai pada akhirnya wacana memulai era kewajaran baru (new normal).

Perasaan overwhelmed mungkin merupakan penggambaran paling pas yang dialami oleh sebagian besar masyarakat saat ini.
Situasi begitu cepat berubah. Perubahan-perubahan juga harus dilakukan sesegera mungkin termasuk di antaranya pembatasan sosial, metode bekerja dan belajar.

Entah sebagai individu, pribadi, profesional maupun orang tua hanya dalam tempo dua-tiga bulan saja begitu banyak perubahan dan penyesuaikan yang harus dilakukan.

Belum lagi pembaruan angka jumlah pasien positif setiap hari yang sampai sekarang (5 Juni 2020) sudah mencatatkan angka 29.521 dengan angka kematian 1.770 jiwa dan angka kesembuhan 9.443 orang.

Tentu reaksi setiap orang beragam. Mulai dari cemas berlebihan, waspada, denial sampai ignorant.

Di tengah pandemi yang belum terlihat mereda Pemerintah Pusat mulai menggulirkan wacana memasuki era Kewajaran Baru atau lebih kerap dikenal sebagai New Normal.

Wacana era Kewajaran Baru ini gaungnya juga dibarengi dengan Kepala Daerah tertentu yang mengklaim wilayahnya sudah melewati puncak pandemi meski pada sisi lain Ketua Dewan Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19, Wiku Adisasmito saja menjelaskan tidak ada yang tahu kapan sebenarnya puncak pandemi akan terjadi, termasuk apakah puncaknya hanya terjadi sekali atau lebih.

Tentu reaksi masyarakat pun beragam.
Ada kekhawatiran mengingat dibanding negara-negara lain yang sudah melakukan pelonggaran tingkat kasus di Indonesia masih tinggi sementara tingkat pengujiannya masih jauh dari negara lain.

Sementara sebagian lain menyambut dengan antusias sebab tak sedikit yang sudah lelah dengan berbagai pembatasan, perasaan cemas maupun harapan akan berputarnya kembali roda perekonomian.

Imunitas Jadi Kunci Tangkal Virus Corona?

Bersamaan dengan jelang dimulainya era Kewajaran Baru ini di WAG ramai beredar pernyataan Direktur RSUD Kota Mataram yang menyebut menyebut bahwa dalam situasi pandemi COVID-19 ini solusinya adalah meningkatkan imun. Bisa dengan berolahraga, bernyanyi, makan-makan, atau aktivitas menyenangkan lainnya.

Sebagian besar anggota dalam WAG yang saya ikuti merasa antusias dan mendukung pernyataan tersebut.
Entah motivasinya adalah harapan atau sekedar denial karena lelah hidup diselimuti perasaan khawatir.

Meski disampaikan oleh seseorang dengan latar belakang medis, saya pilih mencermatinya dengan hati-hati sebab sistem imunitas ternyata begitu kompleks.

Respon antibodi terhadap COVID-19 nyatanya sampai saat ini masih terus dipelajari, terlalu dini untuk menarik kesimpulan.
Latar belakang saya memang bukan medis namun kebetulan selama pandemi ini saya mencoba mencari tahu hal-hal yang berhubungan dengan COVID-19 ini untuk kepentingan perlindungan keluarga dan orang-orang di sekitar kami yang mau peduli.

Beberapa peneliti seperti dimuat oleh media terpercaya menjelaskan bahwa imunitas/kekebalan tubuh dan bahagia saja tidaklah cukup dalam menangkal penularan COVID-19 ini.

Tak hanya itu beberapa peneliti medis pun meragukan jika antibodi terhadap COVID-19 (kalau ada) sanggup bertahan di dalam tubuh manusia seterusnya.
Artinya belum pasti apakah mereka yang sudah pernah terpapar virus ini akan terus kebal terhadap serangan virus ini dikemudian hari.

Saat ini banyak dari kita yang berharap antibodi terhadap COVID-19 tak ubahnya antibodi terhadap cacar air yang relatif bertahan di tubuh manusia dalam jangka panjang.

Tapi bukan tidak mungkin sebenarnya antibodi (terhadap COVID-19) tersebut hanya bertahan sementara. Seperti halnya ketika kita terpapar virus Influenza bukan berarti selamanya kita kebal terhadap virus tersebut.
Serupa vaksin Influenza yang harus diulang kembali demikian juga kemungkinan vaksin COVID-19 kalau sudah ditemukan nantinya.

Memang dalam bebererapa pengujian baik manusia maupun hewan (monyet) yang menjadi subjek tidak mengalami simptom terinfeksi untuk kedua kalinya namun belum bisa diambil kesimpulan bahwa antibodi tersebut bakal bertahan di dalam tubuh selamanya.

Lebih jauh lagi penelitian di China ternyata menemukan bahwa dari 30% pasien yang sembuh di ternyata hanya memiliki sedikit antibodi dalam plasma dan bahkan ada yang sama sekali tidak memilikinya.

Walau demikian bukan berarti sepenuhnya saya tak sependapat dengan pernyataan Direktur RSUD Kota Mataram.
Sebab beliau pun menyampaikan pentingnya menerapkan protokol kesehatan. Sayang setidaknya dari beberapa WAG yang saya tergabung di dalamnya kebanyakan komentar tampak mengabaikan poin penting ini karena sekedar tergesa-gesa ingin melepaskan diri dari perasaan cemas selama tiga bulan terakhir.

Benarkah Masker dan Face Shield Mampu Cegah Paparan COVID-19?

Pada awalnya diduga karena kekurangan suplai masker medis maka WHO menyarankan hanya orang yang tidak dalam keadaan sehat saja yang wajib mengenakan masker. Itupun masker yang disarankan bukan masker medis.

Namun dalam perkembangannya baik WHO, CDC maupun Gugus Tugas COVID-19 menghimbau semua orang untuk mengenakan masker demi memutus rantai persebaran COVID-19 ini.

Sebuah penelitian yang pernah saya baca menyebutkan bahwa bahkan kala berbicara dengan volume normal pun sebenarnya manusia terus menyemburkan droplet.

Mengingat bahwa COVID-19 ini ditularkan melalui droplet wajar jika kemudian dianjurkan semua orang memakai masker. Terlebih faktanya tidak sedikit carrier virus ini yang sudah terpapar namun tak seketika bergejala.

Tapi efektivitas penggunaan masker ini ternyata juga masih menimbulkan pro dan kontra diantara para peneliti medis sendiri.

Pro dan kontra juga saling sanggah terhadap hasil penelitian maupun teori dari sisi ilmu pengetahuan sebenarnya wajar dan kerap terjadi.
Masalahnya dalam hal ini menyangkut keselamatan pribadi dan masyarakat, lalu bagaimana menyikapinya?

Saya sendiri memilih tetap menggunakan masker, meski efektivitasnya memang tidak 100% setidaknya lebih baik melakukan sesuatu yang bisa dilakukan untuk meminalisir ketimbang tidak melakukan upaya lantas menyesal di kemudian hari.
Rasa penyesalan bisa datang baik karena diri sendiri terpapar maupun membahayakan orang-orang yang kita sayangi.

Tapi lebih daripada itu baik pada peneliti yang pro maupun kontra terhadap efektivitas masker keduanya sama-sama setuju bahwa physical distancing merupakan pencegahan paling efektif memutus rantai penularan.
Idealnya menjaga jarak 2 meter, kalau tidak memungkinkan setidak-tidaknya 1 meter.

Karenanya sungguh sia-sia jika karena merasa sudah mengenakan masker atau face shield lantas mengabaikan protokol lain seperti physical distancing, larangan berkerumun, CTPS di air mengalir, mandi dan mencuci pakaian selepas bepergian .

Kesimpulannya: mengenakan masker untuk sebagai tindakan mencegah paparan dan penularan perlu dilakukan. Tapi menggunakan masker bukan hal paling utama dalam upaya mencegah penularan dan paparan.

Benarkah COVID-19 Tak Lebih dari Flu Ringan?

Ketakutan terhadap COVID-19 ini memang awal mulanya adalah ketakutan masyarakat akan kematian. Sebab sejak muncul di kota Wuhan memang sudah mencatatkan tingkat kematian yang tinggi.

Per 5 Juni 2020 ini tercatat 391.588 jiwa meninggal di seluruh dunia karena COVID-19, jumlah tersebut diraih hanya dalam waktu sekitar 6 bulan. Sementara untuk flu biasa rata-rata jumlah korban jiwa dalam kurun waktu satu tahun adalah antara 290.000 hingga 650.000.

Padahal selain kematian, tingkat penularannya yang melebihi flu biasa juga tak kalah penting untuk diwaspadai.

Dii Indonesia saat ini sudah tercatat 1.770 jiwa menjadi korbannya, apakah flu biasa menyebabkan tingkat kematian setinggi itu dalam waktu tiga bulan? Sadarkah angka 1.770 itu adalah nyawa manusia? Terbayangkah kalau satu saja dari 1.770 nyawa tersebut adalah orang yang kita sayangi?

Di Kota saya, puji Tuhan sampai tulisan ini dibuat tidak ada korban jiwa. Semua pasien positif COVID-19 hingga hari ini bisa disembuhkan. Alih-alih mensyukuri kondisi ini sayang sekali ada orang-orang tertentu yang lantas beranggapan bahwa COVID-19 tidak seberbahaya yang dikhawatirkan selama ini, lantas mereka pun kendor dalam mematuhi protokol dan berhati-hati.

Padahal kita tidak tahu persis apa faktor yang menyebabkan di kota-kota tertentu angka kematiannya tinggi sementara di kota tertentu lainnya seperti tempat tinggal saya tidak ada korban jiwa sama sekali. Apakah virusnya bermutasi? Apakah faktor suhu? Apakah faktor kondisi pasien? Atau faktor perawatan? Atau sekedar keberuntungan? Tentu masih banyak lagi faktor yang mungkin berperan di sini.

Karenanya sekalipun tanpa korban jiwa tak lantas bisa disimpulkan bahwa virus ini tidak berbahaya. Sebelum ada penelitian lebih lanjut mengenai faktor apa yang menyebabkan tidak ada angka kematian di Kota tertentu maka tidak ada yang bisa disimpulkan. Kalau orang-orang tertentu menilai karena tak ada kematian dianggap tidak berbahaya itu sekedar asumsi liar, saya katakan liar karena tidak ada cukup dasar, tidak ada cukup data dan tidak ada cukup analisa yang memungkinkan dijadikan sebuah kesimpulan.

Asumsi tidak sama dengan kesimpulan, proses untuk sampai pada tahap asumsi berbeda dengan proses mencapai kesimpulan. Apalagi kalau tidak cukup dasar berasumsi maka tingkatannya tak lebih dari asumsi liar.

Kalaupun masih ngeyel hanya mereka yang memiliki penyakit kronis saja yang meninggal pertimbangkan kembali seberapa banyak dari kita dan keluarga kita yang rutin melakukan medical check-up hingga tahu pasti apakah kita termasuk pengidap penyakit kronis atau tidak?

Kalau masih ngeyel lagi katanya kematian akibat COVID-19 ini terlihat tinggi karena mednapat sorotan sementara flu biasa tidak (tersoroti), andia perlakukan saja COVID-19 seperti halnya Influenza biasa. Coba pertimbangkan seberapa sering atau bahkan pernahkah Anda terjangkit Influenza kemudian harus menginap di RS berhari-hari? Atau harus melakukan isolasi mandiri di rumah?

Kalaupun tidak berujung pada kematian nyatanya setiap penambahan pasien COVID-19 membebani begitu besar keuangan negara, menambah beban tugas serta resiko tenaga medis dan non-medis yang merawat. Belum lagi secara pribadi selama sakit tidak bisa produktif dalam pekerjaan maupun mengurus keluarga.

Resiko tenaga medis kala menangani penderita COVID-19 juga lebih besar dibanding menangani korban kecelakaan ataupun flu ringan. Diduga erat bahwa dalam ruang perawatan kesehatan virus ini bisa menyebar secara aerosol sehingga pada akhirnya virus ini juga akan menemukan celah udara pada masker yang dipakai.
Untuk alasan yang terakhir ini pula saya selalu menilai baik mereka yang menyamakan resiko COVID-19 dengan flu biasa ataupun kecelakaan jalan raya memiliki logika yang cacat.

Demikian pula mereka yang beranggapan bahwa potensi resiko terpapar COVID-19 sama seperti peluang terpapar bakteri dan penyakit lainnya. Kelompok yang punya anggapan ini melalaikan tingginya tingkat kelipatan penularan virus Corona ini dibanding virus atau bakteri yang sudah dikenal sebelumnya.
Belum lagi faktor bahwa virus Corona ini belum “dikenal” oleh antibodi manusia serta belum ada obatnya.

Jadi kalau alasan mengabaikan protokol kesehatan dan keberadaan COVID-19 dianggap menciderai produktivitas lantas apakah selama dirawat inap di RS ataupun isolasi mandiri bisa tetap produktif?

Hal yang kerap diabaikan oleh beberapa orang yang menganggap remeh COVID-19 adalah bahwa meski tetap ada harapan hidup sejauh ini diduga bahwa keberadaan virus di dalam tubuh memengaruhi sistem saraf.
Belum jelas apakah disebabkan oleh virus itu sendiri atau dampak dari reaksi tubuh dalam memerangi virus namun tercatat gejala mulai dari pusing, kejang hingga stroke.

Bagaimana kalau pasien sembuh dalam arti tidak berujung pada kematian namun kemudian menderita stroke?
Sepadankah sikap ignorant, acuh tak acuh yang dipegang sejauh ini?

Disayangkan juga masih banyak masyarakat yang tidak sanggup berlogika, bahkan gagal dalam berlogika sederhana sekalipun.
Salah satu bukti yang paling kerap ditemukan adalah pernyataan: “Takut kok sama Corona, takut ya sama Tuhan!”

Menggunakan analogi berpikir tersebut lantas kenapa orang harus berhati-hati menoleh kanan-kiri sebelum menyeberang? Kenapa tak langsung menyeberang? Kendaraan kok ditakuti? Takut itu sama Tuhan!
Kenapa tidak sekalian gelar tikar piknik di tengah jalan tol? Takut itu sama Tuhan! Jangan takut ketabrak!

Kegagalan berlogika semacam itu membuat manusia seolah antara Tuhan dan akal perlu dipertentangkan. Seolah lupa bahwa akal dan budi adalah pemberian Tuhan untuk manusia, karenanya mestinya tidak perlu mempertentangkan antara iman dengan akal budi.

Allah berbicara kepada manusia melalui ciptaan yang tampak. Kosmos material menampilkan diri kepada akal budi manusia, supaya ia melihat di dalamnya jejak-jejak Penciptanya. Siang dan malam, angin dan api, air dan bumi, pohon dan buah-buahan berbicara tentang Allah dan melambangkan sekaligus keagungan dan kedekatan-Nya.

Singkatnya saya pribadi menilai bahwa mengabaikan keberadaan virus ini dan protokolnya dengan alasan produktivitas sebenarnya merupakan tindakan kontra produktif.

Memasuki Era Kewajaran Baru (New Normal)

Secara pribadi saya tidak sreg dengan istilah “New Normal”. Pilihan istilah tersebut terasa salah, narasi yang diberikan juga tidak tepat dan ujung-ujungnya tak sedikit masyarakat yang salah persepsi.

Apapun itu suka tidak suka faktanya perlahan namun pasti memang kita dipaksa memasuki era kewajaran baru. Idealnya keadaan baru bisa disebut aman ketika vaksin COVID-19 ditemukan dan didistribusikan pada 70% dari populasi.

Penemuan vaksin COVID-19 tampaknya masih belum bisa dicapai dalam waktu dekat, demikian pula distribusi dengan cakupan 70% dari populasi juga bakal perlu waktu yang tidak singkat.

Pada sisi lain roda ekonomi dan produktivitas memang harus berjalan, jadi suka tidak suka memang kita harus hidup berdampingan dengan keberadaan COVID-19.

Sayang tak sedikit yang beranggapan bahwa “new normal” atau kewajaran baru itu sama halnya hidup dengan pola-pola lama sebelum keberadaan COVID-19.

Padahal kunci dari “new normal” adalah penyesuaian dan kedisiplinan.

Tanpa kedua hal tersebut yang terjadi bukanlah “new normal” melainkan sikap ceroboh yang membahayakan diri sendiri, orang lain dan masyarakat.

Tanpa penyesuaian dan kedisiplinan potensi terjadinya wabah gelombang kedua bakal tinggi.
Berkaca dari wabah flu Spanyol dan SARS mestinya kita waspada akan potensi wabah COVID-19 gelombang kedua.
Apalagi di negara kita gelombang pertamanya saja sampai sekarang juga belum bisa dibilang reda.

Bahwa solusinya yang paling realistis adalah penyesuaian, sebagai seorang strategist saya sudah memprediksinya sejak awal.
Karenanya di tingkat paling rendah jauh sebelum pemerintah menggulirkan wacana “New Normal” saya sudah menyarankan penyesuaian terhadap sistem dan pola Siskamling.

Ternyata hal yang saya khawatirkan bahwa pola Siskamling/ronda konvensional berpotensi menjadi sumber penularan akhirnya benar-benar terjadi di sebuah wilayah.

Kondisi “new normal”/kewajaran baru hanya bisa terpenuhi manakala setiap individu secara sukarela dan dengan kesadaran tinggi mengupayakan perlindungan bagi dirinya sendiri serta orang-orang di sekitarnya dari paparan COVID-19.

Perlindungan dan penyesuaian ini mutlak dilakukan secara komprehensif, bukan sekedar melakukan penyemprotan atau menutup portal di lingkungan masing-masing tapi kemudian bobol di sektor lain.

Tidak ada gunanya jika akses ke suatu wilayah di portal untuk mencegah persebaran kemudian rumah warga secara rutin disemprot namun di dalam wilayah itu sendiri warga masih mengabaikan physical distancing, masih berkerumun, masih melaksanakan Siskamling secara konvensional dan sebagainya.

Marak pula di beberapa tempat membangun check point untuk membatasi persebaran wabag COVID-19. Niat awalnya mungkin mulia tapi karena kurang paham akhirnya jadi kelucuan. Mulai dari ojol disemprot disinfektan sampai dalam mobil pribadi yang dipakai keluarga dalam satu rumah pun pengemudi dan penumpang di dalamnya diminta memakai masker.

Setiap tindakan dan reaksi harus senantiasa terukur, termasuk dalam pencegahan wabah COVID-19 ini. Artinya harus ada tujuan yang jelas, kriteria penilaian seberapa efektif sebuah tindakan diambil dalam korelasinya dengan pencapaian tujuan. Terakhir tentu saja evaluasi terhadap tindakan yang dilakukan.

Kalau sampai pencegahan, penyesuaian dan kedisiplinan tidak dilakukan secara komprehensif bukan tidak mungkin wilayah itu berpotensi menjadi episentrum di kemudian hari.

Ada banyak hal yang semula bisa dilakukan kini harus dibatasi atau bahkan tidak bisa dilakukan sama sekali.
Meski pada awalnya bisa menyebabkan stress namun harapannya dengan pembiasaan tingkat stress yang dirasakan bisa berkurang.
Nyatanya tak ada pilihan lain selain mengubah pola.

“New Normal” dalam beberapa kesempatan dinilai sebagai kondisi dimana kita dibawa pada “kenyataan yang lebih murni”.
Kenapa demikian karena banyak pola yang kita anggap lumrah sebelum COVID-19 sebenarnya justru tidak lumrah. Namun karena terbiasa kita lantas menilainya sebagai normal.

Kebiasaan lebih banyak menggunakan waktu selepas kerja dengan nongkrong bersama teman-teman ketimbang keluarga misalnya dipaksa “dimurnikan” lewat “tombol reset” untuk kembali pada kewajaran yang semestinya.

New Normal

Tanggung jawab mendidik anak yang utamanya terletak pada orang tua namun dewasa ini lebih banyak dipercayakan pada sekolah kembali pada hakikatnya diserahkan kepada orang tua dengan sekolah sebagai pendamping.

Bahkan hal-hal kecil seperti mencuci tangan dan mengganti pakaian setelah bepergian yang sewajarnya normal sejak dulu pun kini dipaksa kembali dilakukan karena banyak dari kita yang sudah terbiasa dengan kondisi abnormal.

Penyesuaian-penyesuaian ini tentu tidaklah mudah dan setiap orang mengalami tantangan serta kesulitan yang berbeda.

Kelompok pensiunan misalnya mungkin tidak akan bisa merasakan dan memahami kelompok usia kerja yang dipaksa menyesuaikan diri dengan sistem kerja jarak jauh sekaligus diserahi tanggung jawab mendidik anak.
Tapi kelompok usia ini mungkin lebih secara langsung merasakan dampak bahwa anak dan cucunya jadi jarang berkunjung karena physical distancing.

Bagi keluarga muda memang mungkin karena kesibukan dan tuntutan hidup tidak terlalu merasakan kesepian karena jauh dari keluarga besar.
Tapi transisi dan transformasi sebagai dampak kondisi saat ini memaksa setiap pribadi usia produktif untuk memiliki work/life balance agar mampu menyeimbangkan posisinya sebagai seorang profesional sekaligus suama/istri/orang tua sebagaimana mestinya bisa jadi terasa sebagai sebuah tekanan yang tak begitu saja bisa diatasi.

Bicara soal produktivitas selama ini generasi “boomer” dan sebagian generasi “X” masih kerap berpegang bahwa kehadiran fisik adalah bukti produktivitas.
Ternyata dengan situasi pandemi yang kita hadapi bersama saat ini pandangan tersebut tak lagi bisa lagi jadi pegangan.

Selama masa pandemi tiga bulan terakhir ini setidaknya kita bisa melihat potensi produktivitas dengan memanfaatkan dunia digital.
Transformasi dari “kemunculan” secara fisik menjadi digital ini pula awalnya menciptakan stress tertentu bagi kelompok usia tertentu.

Seberapapun beratnya penyesuaian saat ini bak sebuah harga mati, kalau mau tetap produktif dan beraktivitas hanya itulah satu-satunya jalan.
Tulisan Alan Deutschman dalam bukunya “Change or Die” tiba-tiba menjadi sebuah realita bagi semua orang tanpa kecuali.

Saya pribadi tak berkeberatan dengan dimulainya era kewajaran baru dengan pertimbangan roda perekonomian harus berjalan. Selama protokol kesehatan dijalankan secara ketat dan tiap individu memiliki tanggung jawab juga kesadaran tinggi untuk menjaga diri sendiri serta sesama tidak jadi soal.

Tapi kalau ternyata banyak yang tidak berdisiplin dan bertanggung jawab berarti Indonesia belum siap memulai era kewajaran baru.

Pusat pertokoan, tempat hiburan, tempat makan dan sebagainya silakan saja mulai beroperasi dengan protokol ketat. Toh pengunjung datang atau tidak adalah pilihan pribadi.

Keberatan saya kalau sekolah dibuka dalam waktu dekat terutama untuk anak usia TK-SD. Anak usia tersebut masih rentan terhadap paparan, selain itu untuk menerapkan protokol kesehatan seperti tidak menyentuh wajah bakal jadi ke-absurd-an tersendiri. Guru pun tak mungkin bisa mengawasi dan mengingatkan terus menerus. Bagi saya adalah tindakan gegabah kalau sekolah dibuka dalam waktu dekat.

Semoga wacana yang digulirkan bahwa tahun akademik tetap berjalan sesuai jadwal namun pembukaan sekolah baru dilakukan paling cepat akhir tahun 2020 atau awal 2021 benar adanya.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Sebagai individu kita masing-masing bertanggung jawab menjaga keselamatan diri sendiri maupun sesama. Kita pun masing-masing punya peran dalam memutus rantai penularan COVID-19 ini.

Alih-alih merasa cemas, tak berdaya atau malah tak peduli yang membahayakan orang lain ada banyak hal yang dalam ranah pribadi maupun keluarga bisa kita lakukan, diantaranya:

  1. Patuhi protokol kesehatan baik menjaga personal hygiene, lakukan protokol masuk dan keluar rumah, memakai masker, physical distancing dan sebagainya yang selama ini sudah terus diulang dan diedukasi oleh pemerintah. Disiplin adalah satu-satunya upaya yang bisa dilakukan sebelum ada vaksin. Sayang hal sederhana seperti disiplin saja nyatanya tak bisa dilakukan oleh kebanyakan orang.
  2. Minimalisir kegiatan yang tidak mutlak dilakukan di luar rumah.
  3. Asumsikan semua orang adalah carrier terserah mau “dikategorikan” positif, OTG atau apapun. Tujuannya supaya diri kita sendiri lebih berhati-hati dan disiplin menerapkan protokol
  4. Baik tinggal di Zona hijau, kuning, orange maupun merah semestinya kewaspadaan, kedisipilinan dan kepatuhan terhadap protokol tidak berkurang. Jangan lupa bahwa pemetaan zonasi resiko tersebut tidak menandakan ketiadaan resiko. Artinya sekalipun dalam zona hijau bukan berarti resikonya tidak ada, hanya resikonya dipersepsi lebih rendah berdasar 15 indikator yang ditetapkan oleh Gusgas Nasional. Kembali pada kenyataan bahwa new normal tak sama artinya COVID-19 tidak lagi ada, melainkan merupakan adaptasi terhadap kebiasaan baru maka tak lantas bisa dianggap bahwa zona hijau dalam suatu wilayah menandakan bahwa virus COVID-19 tak lagi ada dalam wilayah tersebut. Lebih penting lagi dipahami bahwa ditemukan tidaknya kasus tergantung pada hasil test. Artinya mengingat bahwa test tidak dilakukan pada setiap individu dalam sebuah populasi (wilayah) maka kemungkinan OTG yang tidak terdeteksi selalu ada. Jadi mengendurkan kewaspadaan, mengabaikan protokol dan kedisiplinan semata-mata karena berada dalam zona hijau adalah tindakan ceroboh yang menunjukkan bahwa orang tersebut tidak sungguh-sungguh memahami sifat virus maupun situasi yang dihadapi.
  5. Selalu ingat bahwa status zona juga bisa berubah dalam kurun waktu 14 hari tergantung penambahan kasus dalam kurun waktu tersebut. Hari ini mungkin status Kota Anda hijau, belum tentu demikian 14 hari kemudian. Status ini sekali lagi bukan patokan mengendurkan kewaspadaan pribadi
  6. Jika tujuan sebuah kegiatan bisa dicapai secara lebih efektif atau setidaknya sama lewat pola baru yang lebih aman, pilih pola yang lebih aman dari resiko paparan serta penularan. Tak perlu ngotot mempertahankan pola lama dengan meningkatkan resiko padahal hasil yang dicapai bisa jadi sama atau malah tidak lebih efektif dibanding cara baru yang disesuaikan kondisi.
  7. Tidak mudah percaya apalagi membagikan berita-berita HOAX. Kalau memang tertarik telusuri dulu secara mendalam kebenarannya, kalau tidak berniat menelusuri kebenaran lebih baik diabaikan.
  8. Abaikan teori konspirasi dan perdebatan apakah COVID-19 merupakan rekayasa manusia atau sekedar kecerobohan manusia. Manapun itu faktanya sekarang virus tersebut ada, perdebatannya takkan menjadi produktif. Begitu pula dengan teori konspirasi lain.
  9. Tidak perlu sungkan menolak terlibat kegiatan yang menciptakan kerumunan atau aktivitas lain yang mengabaikan protokol. Dalam situasi ini justru mereka yang mengabaikan protokol dan membuat kerumunan -lah yang semestinya merasa sungkan karena membahayakan diri sendiri serta orang lain.
  10. Idealnya dalam era kewajaran baru ini semua orang saling jaga. Tapi nyatanya tidak demikian. Ada saja orang-orang tertentu yang mengabaikan protokol kesehatan seperti membuat kerumunan, enggan menggunakan masker, enggan menjaga jarak termasuk pula sekolah yang tak sabaran membuka kembali sekolah meski sebenarnya masih bisa melangsungkan pembelajaran jarak jauh serta tidak ada unsur kemendesakan (urgency). Karenanya mau tidak mau kita harus jadi “egois”.”Egois” artinya mengutamakan dan menjaga keselamatan diri sendiri dan keluarga sebab nyatanya orang lain tak bisa diandalkan untuk saling menjaga.
  11. Bagaimana dengan mereka yang ngeyel alias bebal? Kalau saya ya sudahlah, tak produktif mengurus mereka. Sikap bebal mereka memang berpotensi membahayakan orang lain termasuk kita, tapi mengedukasi golongan macam ini juga tak memberi manfaat. Lebih baik sedapat mungkin dihindari saja secara fisik. Golongan bebal ini kerap berkilah bahwa kita yang disiplin terlalu berlebihan bahkan disebut paranoid, padahal menurut pengalaman saya kebebalan mereka sebenarnya merupakan bentuk pertahanan diri. Kelompok bebal kebanyakan tak punya cukup ketahanan mental untuk menghadapi krisis, tidak memiliki resilient mentality. Sebagai akibatnya mereka pilih menyederhanakan situasi bahkan tak jarang sampai pada tahap denial terhadap kenyataan. Karena dilatarbelakangi oleh sikap mental maka tak usah heran jika orang bebal bisa datang dari beragam tingkat pendidikan, profesi dan seterusnya

Tindakan di atas bukan dilakukan dengan pemaknaan atau semangat rasa takut/khawatir melainkan sikap bertanggung jawab dalam memelihara kehidupan pribadi dan sesama. Sebaliknya sikap acuh dan meremehkan/mengabaikan fakta bahwa saat ini COVID-19 memang nyata keberadaannya merupakan sikap tidak bertanggung jawab atas pemeliharaan hidup pribadi maupun sesama.

Ingat bahwa “New Normal” bukan beraktivitas normal dengan kebiasan lama seperti masa sebelum COVID-19 melainkan memulai kebiasaan baru dalam rangka menyesuaikan diri dengan fakta bahwa COVID-19 masih hidup berdampingan dengan kita.

Referensi: