Berani Ambil Resiko atau Tamak? – Perenungan Seorang Internet Marketing Entrepreneur

Belakangan ini saya merasa geli, risih sekaligus terusik dengan perilaku beberapa kawan seprofesi. Pasalnya mereka menggunakan istilah “high risk high gain” dengan penerapan yang menurut saya sangat tidak tepat bahkan cenderung konyol.

Ketika seorang entrepreneur menggunakan istilah tersebut umumnya merujuk pada keberanian mengambil resiko yang besar dengan tujuan memperoleh hasil yang sepadan dengan resiko tersebut. biasanya resiko tersebut sudah terukur.

Misalnya ketika seorang entrepreneur mencoba menciptakan inovasi atau menyasar niche segment yang belum pernah tergarap umumnya pilihan ini tergolong high risk sebab tidak ada kompetitor yang bisa dijadikan benchmark. Sementara investasi yang dikeluarkan bisa jadi tidak sedikit.

Lucunya ketika seorang internet marketing entrepreneur atau internet marketer menggunakan istilah “high risk high gain” cenderung bermakna negatif. Kenapa demikian?

Sebab belakangan ini banyak dari mereka yang menggeluti profesi di bidang internet marketing menggunakan metode atau teknik yang jelas-jelas melanggar TOS dan berdalih bahwa yang mereka lakukan itu termasuk “high risk high gain”.

TamakSaya pikir beberapa orang ini tidak bisa membedakan antara tamak dengan keberanian mengambil resiko. Keberanian mengambil resiko bukan dimaksudkan sebagai keberanian menerima resiko karena melanggar peraturan. Keberanian mengambil resiko bukan sikap nekat melanggar aturan dan etika.

Ketika aturan dan etika dilanggar maka yang terjadi adalah sikap tamak dan rakus yang rela melakukan apapun demi beroleh keuntungan.

Pertanyaannya apakah sikap demikian ini masih layak disebut sebagai entrepreneur? Pun jika tak menyebut dirinya sebagai entrepreneur namun sebagai marketer, mereka perlu tahu juga bahwa marketing pun ada etikanya. Dan bahkan jika tak ingin disebut sebagai apapun, seorang manusia tetap harus berpegang pada etika dalam setiap tindakan termasuk dalam hal mencari penghasilan.

Ketika ketamakan menguasai seseorang maka selain keinginan memperoleh keuntungan materi seolah tak ada hal penting lain daripada materi itu sendiri. Bahkan ketika seseorang kemudian menyisihkan sebagian pendapatannya untuk mereka yang kurang beruntung seperti kaum lemah, miskin dan tersingkir tak lantas tindakannya mencari uang tanpa etika bisa dibenarkan.

Karenanya penting bagi siapapun untuk menjaga baik-baik dirinya sendiri agar jangan sampai ketamakan menguasai dirinya.

Jika seorang yang bergerak di bidang internet marketing hanya berfokus pada tujuan meraup ratusan bahkan ribuan dollar tanpa peduli etika dalam mencapai tujuan lantas apa bedanya dengan koruptor yang Anda kutuk dan caci maki itu?

Ingat bahwa tujuan dari bisnis adalah memperoleh keuntungan berkelanjutan dengan cara memberikan nilai dan manfaat bagi konsumen. Pertanyaannya adalah sudah sepadankah manfaat yang kita berikan pada pengguna jasa kita (baik pembaca, pemasang iklan atau pemilik produk) dengan keuntungan yang kita terima? Atau kita sekedar berfokus pada jumlah uang saja? Tanyakan pada diri sendiri apa makna uang dalam hidup Anda?

Dan yang tak kalah penting adalah bahwa setiap profesi memiliki resiko dan tantangannya sendiri. Baik resiko maupun tantangan semestinya sudah bisa diterima sebagai konsekuensi sebelum seseorang memilih terjun ke dunia itu. Jadi ketika kesulitan terjadi bukan berarti etika dan aturan bisa begitu saja diabaikan. Lagipula suka atau tidak, diakui atau tidak faktanya pelaku Internet Marketing adalah juga seorang wirausahawan, karenanya jangan gampang merengek dan mengeluh seperti anak manja setiap kali menghadapi kesulitan!