Lesson of the day

Hujan baru saja reda, aku mengambil motor dan bergegas meninggalkan area kampus. Sebelum pulang aku mampir dulu ke Apotek. Aku memacu motorku seperti biasa, tidak terasa ada yang berbeda sampai beberapa meter menjelang sampai ke apotek yang kutuju … lho kok sudah aku gas tapi ga bertambah kencang… waduh…sepertinya bensinnya bener-bener habis ni… jahat Memang sudah sejak dua hari lalu penunjuk bensin menunjukkan di huruf E, tapi aku menunda mengisi tangkinya.

Akhirnya setelah belok kiri masuk ke areal apotek, mesin motorku mati sama sekali. Aku turun, membeli obat dan vitamin sambil berharap nanti kalau aku kembali, mesinnya sudah mau hidup… tapi ternyata bahan bakarnya memang sudah habis sama sekali… pusing kucoba stater manual, tetap ga mau hidup, dari sudut mata aku melihat penjual rujak yang senyum-senyum melihatku menstater tanpa hasil…sangat tidak berempati…huft! tampar

Gimana ni… dimana tempat jual bensin yg paling dekat ya?… aku ga tau karena ga pernah isi bensin eceran jadi tidak memperhatikan… lalu aku lihat cowok keluar dai area parkir apotek, dengan menahan malu aku tanya “Mas tempat juat bensin yang paling dekat dimana ya?..” eh..ternyata dia juga tidak tahu…menyesal deh aku nanya… semakin banyak saja orang yang melihat kearahku… Duh…gimana ni… Aku hampir saja telepon suamiku..tapi kuurungkan niat karena gengsi… bosan Akhirnya dengan cepat aku memutuskan untuk memanfaatkan jalan turunan menuju tempat isi bensin yang kutahu. Setelah menunggu lama akhirnya aku berhasil menyeberang Jl. Diponegoro yang cukup ramai. Lalu kakiku mengayuh menuju turunan jl sebelah BRI… dan beruntungnya aku jalan turun dan cukup sepi… kupikir di dekat SD Xaverius ada penjual bensin, aku pun mengarahkan motor belok ke jalan itu….dan ternyata tidak ada penjualnya.

Tidak berapa lama efek jalan turun berakhir, ga ada pilihan lain, kakaiku kembali mengayuh seperti balita belajar naik sepeda roda tiga… aduh engkel kakiku sampai puegel banget… tidak berapa lama aku sampai di jl kartini dekat toko Podho-podho…ternyata di daerah itu juga tidak ada penjual bensin. Waduh gimana ini… ya udah kepalang tanggung aku mau memanfaatkan turunan lagi aja kearah pancasila, sambil berharap ada penjual bensin. Kakiku rasanya udah sangat pegel…telapak kakiku pasti udah merah karena aku pakai sandal yang berhak 5 cm (setidaknya aku tadi sempat mengganti sepatu dengan sandal sebelum pulang…lumayanlah…), bahuku juga sudah capek menahan stang motor. Di jalan itu aku harus menuggu lama untuk bisa menyeberang… akhirnya bisa juga aku menyeberang dan memanfaatkan turunan, tapi menjelang tikungan jalnnya agak naik dan terpaksa aku harus turun dan mendorong motorku… Waktu itu keringat udah membanjiri seluruh tubuh, kaca helm sengaja tidak kubuka berharap tidak ada yang mengenaliku, apalagi bertemu mahasiswaku…waduh… malu

Lalu ha!!aku ga sengaja melihat penjual bensin di seberang jalan!!! semangat! Aku langsung teriak “Mas..bensin 1!” rasanya senang sekali seperti waktu hari panas ada yang membawakan ice cream, ato udah lama ga makan durian tau-tau pas pulang ke rumah ada durian buat aku.. gitulah… senang dan legaaaa!!!!!
Sampai di rumah, sehabis aku membuka helm suamiku langsung komentar, “lusuh amat…” kuceritakan pengalamanku barusan dia cuma bilang “ya..syukurlah kamu mengalami itu, jadi kan kalo diingetin isi bensin ga ditunda-tunda”… hahahaha… iya d… melet