KAZOKU: Outlet Kecil Penuh Kenangan (Bagian 2)

Bangga dan penuh harapan, begitulah yang kami rasakan saat itu. Modal yang harus kami keluarkan untuk renovasi dan desain terbilang tinggi, karena itu kami mati-matian berusaha mendongkrak penjualan. Saat itu modal yang harus kami keluarkan untuk sewa tempat, renovasi, kulakan dan lain-lain hingga outlet dapat beroperasi totalnya tidak kurang dari Rp 20 jt.

Berbagai usaha kami lakukan, mulai dari ikut dalam event bazaar dan pameran, memasang pamflet dan spanduk sampai menjadi sponsor utama dalam event lokal. Kami juga aktif mencari reseller untuk meningkatkan penjualan. Dari enam reseller yang ada pada akhirnya terjadi seleksi alamiah, hanya dua yang bertahan dan memang penjualannya sangat baik. Bahkan kami sampai terheran-heran mengingat bahwa Salatiga adalah kota kecil, apalagi sudah membudaya bahwa mereka yang termasuk segmen middle up memilih berbelanja di kota-kota sekitar seperti Semarang, Solo dan Yogya meski di Salatiga sendiri ada produk serupa dengan harga yang sama. Namun ternyata hasil penjualan yang dilakukan oleh kedua reseller tadi meningkatkan rasa optimis kami berdua.

Pada saat itu kami juga belum merekrut pegawai toko mengingat sistemnya belum terbangun, pengalaman kami sendiri pun sangat minim. Jadilah saya sebagai penjaga toko. Menyapu, mengepel lantai, membersihkan rak dan barang dagangan sudah jadi rutinitas setiap pagi satu jam sebelum toko dibuka. Setelah toko buka saya menunggu toko sambil hunting barang dagangan baru dan merancang promosi. Sementara tunangan saya bertugas mengatur pencatatan keuangan dan pembayaran ke supplier.

Ternyata mengelola sebuah toko tidak semudah dan sesederhana yang kami bayangkan. Kendala-kendala teknis dan non teknis muncul dalam perjalanan dan sebagian di antaranya pernah saya tulis di blog ini. Hal kecil dan mendasar kadang kalau kita kurang teliti bisa menjadi persoalan yang tidak lagi sederhana. Misalnya soal penetapan harga, awalnya kami hanya memperhitungkan harga kulak ditambah biaya kirim atau tranport yang selanjutnya ditambahkan komponen margin sekitar 15-20% sebagaimana umumnya harga ritel. Setelah beberapa bulan berjalan barulah kami sadar bahwa selama ini meski penjualannya bagus namun kami merugi…lho kok bisa?
Ya, kami lupa memasukkan komponen biaya operasional seperti sewa toko, listrik, retribusi dan lain sebagainya dalam penetapan harga. Kalau tiba-tiba kami harus menaikkan harga yang bisa meng-cover semua biaya itu tidaklah mungkin sebab kenaikannya cukup signifikan dibanding harga yang sudah berlaku selama ini. Akhirnya mau tidak mau bidang usaha saya yang lain harus mensubsidi dan menghidupi toko kami sambil sedikit demi sedikit menaikkan harga jual. Itupun ternyata masih mendapat protes dari para pelanggan namun setelah dijelaskan untungnya bisa dipahami.

>Kadang memang terasa melelahkan mengingat saya sendiri memiliki usaha lain di luar toko yang harus ditangani sementara tunangan saya seorang pengajar di universitas. Akibatnya outlet beberapa kali harus tutup ketika kami berdua sama-sama tidak bisa menjaga. Efek negatifnya muncul persepsi bahwa toko kami selalu tutup karena beberapa pelanggan ketika datang selalu pas saat kami tidak buka. Kami akui hal ini memunculkan persepsi kurang baik di mata pelanggan seolah-olah kami kurang serius. Padahal bagi kami toko ini sama sekali bukan dimaksudkan sebagai usaha sampingan. Kadang saya berpikir mengelola outlet kecil saja cukup repot, bagaimana dengan outlet besar apalagi sampai punya beberapa cabang. Kalau sistem sudah ada mungkin memang lebih mudah. Meski demikian semua kami lakukan dengan semangat, sukacita dan penuh syukur. Sebab jujur saja memiliki outlet seperti yang kami miliki saat itu sebelumnya sekedar angan-angan. Dan saat ini kenangan saat-saat itu terasa indah dan menyenangkan.

Bukan hanya kenangan di outlet, namun juga saat event-event seperti bazaar dimana semua benar-benar kami kerjakan sendiri mulai dari packing, mengangkut dan menata barang, melayani pembeli, melakukan pencatatan dan lain sebagainya. Tentu bukan hanya kami berdua namun dibantu oleh adik-adik kami dan seorang sahabat saya. Bahkan ketika selesai event saya sendiri yang menata kembali barang-barang tersebut di outlet. Itu sebabnya pula saat ini saya sering tidak bisa menerima kata “tidak bisa” atau “sulit” dari karyawan sebab saya pernah mengalami sendiri semuanya jadi bukan asal perintah.

Penjualan kami baik di outlet, event stand maupun melalui reseller terbilang baik terutama penjualan selimut jepang. Hanya saja meningat minimnya pengalaman terjadi kesalahan-kesalahan dalam mengelola. Pertama kami terlalu berani melakukan kegiatan promosi tanpa tes dan ukur. Kedua terlalu berani membeli jenis dagangan baru dalam jumlah banyak padahal belum teruji. Ketiga barang-barang yang penjualannya bagus pada akhirnya mensubsidi barang yang penjualannya tidak baik. Selimut jepang yang menjadi penopang usaha akhirnya harus mensubsidi item lain yang tidak laku. Sehingga penjualan selimut jepang sempat terhenti bukan karena minim permintaan namun karena modalnya sudah terpakai untuk item lain.

Setahun ternyata begitu cepat berlalu, masa kontrak toko untuk setahun juga sudah berakhir. Dengan berbagai pertimbangan termasuk ukuran toko yang sudah tidak lagi memadahi akhirnya kami putuskan pindah ke lokasi yang baru. Tanggal 17 April yang lalu toko lama mulai dibongkar dan barang-barang dagangan dipindah ke lokasi baru. Selama menunggu tukang yang membongkar papan nama, sekat, neon box, dll pikiran saya terkenang lagi setahun lalu. Rasanya belum lama saya menunggui tukang memasang papan nama dan lain-lain di toko tersebut…(bersambung ke bagian 3)