Fenomena Pinterest

PinterestAwal tahun ini dunia social media dikejutkan oleh popularitas Pinterest yang memiliki jumlah pemilik akun dan pengunjung melejit sedemikian pesat. Bahkan berdasarkan data, jumlah traffic ke Pinterest masih lebih tinggi dibandingkan traffic LinkedIn, Google+ dan YouTube digabung menjadi satu. Fakta ini tentu menarik perhatian para marketer untuk menggali peluang di baliknya.

Beberapa waktu lalu Vision Critical, sebuah perusahaan riset berbasis di Kanada melakukan penelitian dengan sampe sebanyak 500 orang pemilik akun Pinterest yang tinggal di AS, Kanada, Inggris dan Australia untuk meneliti perilaku mereka dalam menggunakan Pinterest.

Secara mengejutkan, hasil penelitian menunjukkan tingginya korelasi antara perilaku melakukan”Pin” dengan keputusan beli di masa mendatang. Data menyebutkan bahwa 1 dari 5 pengguna melakukan “Pinning” terhadap item/produk yang akan mereka beli dikemudian hari. Bagi para marketer fakta ini tentu adalah kabar yang sangat menggembirakan.

Meski demikian dari sejumlah orang yang mengaku melakukan “pin” untuk produk-produk yang hendak mereka beli dikemudian hari hanya 12% dari mereka yang menyatakan akan membeli secara online. Sementara 16% mengaku cenderung membeli item tersebut di ritel offline dan sisanya (21%) tidak memiliki preferensi tertentu (ada kalanya membeli secara online dan ada kalanya membeli secara offline).

Pengguna Pinterest yang menggunakan social media ini sebagai sarana melakukan riset pra-keputusan beli atau menggunakannya sebagai buying list berdasar data mengunjungi situs ini tiga kali lebih sering ketimbang mereka yang tidak pernah berbelanja (non purchaser)

Jika dilihat dari usia akunnya, sebanyak 60% pembeli sudah memiliki akun sebelum masa booming-nya Pinterest (sebelum Januari 2012). Bisa jadi mereka adalah tipe konsumen early adopter namun bisa juga diasumsikan bahwa mereka yang baru bergabung setelah Pinterest terkenal belum cukup familiar untuk memanfaatkan situs jejaring sosial ini secara maksimal.

Meski hasil penelitian tersebut bagi sebagian marketer dianggap sebagai potensi besar namun faktanya hingga saat ini masih sulit dipastikan hubungan antara perilaku “pinning” dengan keputusan beli. Apakah orang melakukan “pin” terhadap barang-barang yang akan mereka beli? Dan apakah mereka selalu membeli produk-produk yang di-“pin”? Setidaknya hingga saat ini masih sah-sah saja bagi marketer untuk mengasumsikan bahwa perilaku “pinning” menunjukkan adanya ketertarikan calon pelanggan terhadap produk-produk tertentu.

Bagi perusahaan-perusahaan yang selama ini sudah memanfaatkan sosial media sebagai salah satu saluran pemasaran setidaknya bisa memantau lebih dalam perilaku dan ketertarikan pelanggan dan prospek terhadap produk yang ada.

Perlu diketahui juga bahwa dalam Pinterest para pengguna bisa membuat dan memberi nama Pinboard. Pemberian nama Pinboard ini juga diyakini berkaitan erat dengan perilaku beli mereka. Jika seseorang memberi nama Pinboard-nya dengan kata atau kalimat yang abstrak biasanya mereka cenderung tidak akan melakukan pembelian terhadap produk tersebut. Sebaliknya nama-nama sederhana seperti “Smartphone Android”, “Under $300 Tablet” dan sebagainya bisa menjadi indikasi bahwa yang bersangkutan sedang mempertimbangkan alternatif sebelum melakukan pembelian.

Fenomena Pinterest adalah fenomena menarik bagi para marketer, meski demikian masih perlu dipantau hingga beberapa waktu kedepan apakah pengguna Pinterest tetap seantusias saat ini atau semua ini sekedar fenomena jangka pendek.

Karenanya gunakan sosial media secara bijaksana sebagai bagian dari kampanye pemasaran Anda, namun jangan terburu-buru mengalokasikan sumber daya terlalu besar mengingat berapa lama popularitas Pinterest akan bertahan masih sulit untuk diprediksi.