Memasarkan Politikus vs Memasarkan Produk

Rendahnya tingkat partisipasi masyarakat dalam Pemilu maupun Pilkada baik eksekutif maupun legislatif selalu menjadi persoalan. Dari total jumlah penduduk yang memiliki hak pilih, prosentase golput terbilang cukup tinggi.

Banyak alasan mengapa sebagian orang lebih memilih untuk tidak menggunakan hak suaranya. Antara lain adalah ketiadaan kandidat yang dianggap mewakili aspirasinya, tidak menganggap bahwa hak suaranya bisa membuat perubahan dan sebagainya.

PolitikTentu ada banyak pandangan dan bahkan penelitian mengenai fenomena ini. Namun mengingat bahwa dalam setiap kampanye politik para kandidat maupun partai selalu menggunakan strategi dan taktik pemasaran maka rasanya tidak salah jika membandingkan para kandidat atau parpol ini dengan produk, tentu semua dilihat dari sudut pandang pelanggan.

Jika membandingkan para peserta Pemilu/Pilkada dengan produk (consumer product) maka ada empat hal pokok yang bisa diperbandingkan:

Pertama, dalam Pemilu atau Pilkada pemilih sebagai calon konsumen biasanya hanya diberi dua hingga tiga pilihan. Kalaupun pilihannya adalah Parpol meski umumnya banyak alternatif namun tetap hanya beberapa saja yang dominan, sehingga secara alamiah pemilih sudah memiliki persepsi bahwa suaranya tidak banyak membuat perubahan jika memang Parpol yang dipilihnya bukan parpol dominan.

Lain halnya ketika memilih produk, calon pelanggan diperhadapkan pada sedemikian banyak pilihan yang bisa dipilih sesuai kebutuhan dan keinginannya sendiri terlepas apakah orang lain akan memilih produk yang sama atau berbeda.

Kedua, untuk terdaftar dan menggunakan hak pilih dalam Pemilu dan Pilkada pemilik suara harus melewati berbagai prosedur yang rumit dan terkadang terasa merepotkan. Belum lagi pada hari H harus antri di TPS. Sementara untuk membeli consumer product prosesnya jauh lebih sederhana, tempatnya nyaman belum lagi overall experience yang diberikan pada akhirnya.

Ketiga, baik Parpol, Caleg atau Capres seringkali membuat iklan yang berkesan berlebihan dan norak. Alih-alih menarik simpati yang ada justru mengganggu dan membuat kesal.

Situasi ini bisa disebabkan oleh dua hal. Satu adalah skill pemasaran yang pas-pasan dan kedua adalah tidak mungkin bagi Parpol/Caleg/Capres untuk membidik niche segmen, sebab untuk menang diperlukan suara mayoritas.

Dalam rangka membidik pasar yang tidak benar-benar tersegmentasi secara spesifik inilah maka seringkali pesan yang disampaikan menjadi kabur atau tidak jelas. Bahkan alih-alih mengedepankan diferensiasi yang sering terjadi justru didominasi usaha menjelek-jelekkan kandidat/parpol lain.
Consumer products di sisi lain seringkali meraup keberhasilan kampanye pemasaran karena membidik niche segment, sehingga pesan dan treatment-nya mengena pada segmen yang dituju.

Keempat adalah kedekatan emosi antara pelanggan dengan consumer products yang harus diakui jauh lebih intim ketimbang kedekatan calon pemilih dengan Parpol/Kandidat dalam Pemilu/Pilkada.

Hal-hal di atas bukan sekedar menunjukkan bahwa ada perbedaan antara memasarkan produk dengan parpol/kandidat namun lebih dari itu bahwa pemasaran peserta Pemilu/Pilkada harus lebih baik daripada memasarkan sebuah produk. Sayangnya yang terjadi justru sebaliknya, kualitas kampanye pemasaran di dunia politik malah jauh di bawah kualitas kampanye pemasaran consumer product.