Mindset dalam Memilih dan Berlatih Beladiri

Tiada yang sempurna. Sering kita mendengar kalimat di itu diucapkan, dan saya yakin sebagian besar dari kita meyakininya. Sekarang saya hendak membawa filosofi yang sama pada ruang lingkup yang berbeda. OK pertama-tama saya berasumsi bahwa kita sepakat bahwa tak ada makhluk hidup yang sempurna. Ya bahkan kita manusia yang diciptakan serupa dengan Tuhan pun tak sempurna. Anehnya banyak orang yang meyakini bahwa ilmu (bela diri) yang diajarkan atau dipelajarinya sempurna.

Bagaimana mungkin manusia yang diciptakan Allah saja tak sempurna sementara ilmu yang diciptakan manusia bisa sempurna?

Tapi itulah faktanya; saya termasuk gemar mempelajari beladiri. Bukan hanya soal tekniknya namun terlebih filosofinya. Dari beberapa aliran (bela diri) yang saya pernah belajar, hampir kesemuanya memiliki kesamaan; meng-klaim dirinya lebih baik daripada yang lain. Meski ini bukan filosofi resmi yang diajarkan namun setidaknya mengalir sebagai keyakinan dalam diri pengikutnya. Well, tepatnya bukan alirannya yang mengklaim namun instrukturnya.

Padahal faktanya masing-masing bela diri memiliki keunggulan dan kelemahan satu terhadap yang lain, setidaknya dari beberapa yang pernah saya pelajari. Bahkan bukan hanya itu antara yang satu dengan yang lain pun memiliki kesamaan meski pada penekanan dan istilah yang berbeda.

Toh harus diakui bahwa banyaknya aliran bukan semata-mata karena perbedaan teknik dan filosofi. Tak sedikit yang muncul akibat perbedaan ‘kepentingan” dalam sebuah organisasi.

Tapi bukan itu yang sebenarnya hendak saya bagikan di sini. Seperti biasa, melalui tulisan ini saya hendak berbagi pengalaman dan perenungan yang mungkin berharga. Setuju atau tidak pada akhirnya adalah pilihan Anda pribadi. Toh saya meyakini bahwa hampir semua hal pada dasarnya ‘debatable’. Bahkan ilmu pasti yang meng-klaim “pasti” pun nyatanya tetap melahirkan perdebatan satu sama lain.

Kembali ke topik semula. Ketika pertama kali bejalar bela diri, saya berkeyakinan bahwa kesempurnaan teknik; kuda-kuda, pukulan, tendangan ataupun tangkisan adalah modal penting dalam pertarungan yang sebenarnya. Demikian pula yang ditekankan oleh para pelatih dan senior saya kala itu.

Pertarungan 2 lawan 1 sebenarnya dalam kondisi chaos, atau beberapa orang menyebutnya sebagai “real street fight”  saya alami sekitar tahun 1996. Semua terjadi sedemikian cepat, memang saya tak benar-benar ingat apa yang saya lakukan ketika itu namun saya bisa meyakini bahwa teknik yang saya aplikasikan dalam membela diri saat itu tidak benar-benar sempurna sebagaimana dilatih dalam keseharian.

Belakangan ini terutama dengan maraknya arena pertarungan bebas seperti MMA, K1 dan sebagainya muncul persepsi dari awam terutama bahwa teknik beladiri tradisional sia-sia dalam pertarungan sesungguhnya di jalanan.

Saya sama sekali tidak berpendapat bahwa bela diri (tradisional) sia-sia dalam pertarungan jalanan. Sebab faktanya pukulan, tendangan dan tangkisan yang saya pakai dalam beberapa pertarungan chaos adalah apa yang saya pelajari dalam latihan. Masalahnya adalah gerakan-gerakan tersebut tidaklah sempurna seperti yang dituntut oleh para pelatih dalam latihan maupun ujian. Lalu apakah kesempurnaan teknik sebagaimana dituntut oleh pelatih dalam latihan dan ujian kenaikan tingkat adalah sia-sia?

Pastinya adalah bahwa semenjak kejadian itu saya mulai menanyakan logika di balik kesempurnaan bentuk setiap teknik yang diajarkan. Dan pertanyaan itu terus muncul manakala saya mempelajari aliran bela diri lainnya.

Bukti bahwa beladiri tradisional sangat aplikatif dalam pertarungan bebas sendiri juga tidak sedikit. Sebut saja misalnya petarung MMA asal Brazil Lyoto Machida yang berakar dari Karate aliran Shotokan. Memang untuk bisa tampil di MMA dia pun pada akhirnya harus mendalami Brazilian Jiu-jitsu dalam rangka mengatasi situasi yang memaksanya melakukan ground fighting. Namun pada sisi lain gaya Shotokan-nya sangat kental, misalnya bagaimana dia memosisikan tangan yang tampak asing bagi kebanyakan petarung MMA namun sangat familiar bagi yang mendalami aliran Shotokan. Bagaimanapun stances atau kuda-kuda yang ia gunakan tampak sudah diadaptasi sehingga berbeda dari kuda-kuda yang biasa dilihat pada kumite aliran Shotokan misalnya. Bahkan menurut saya saya satu keunggulan Lyoto terletak pada footworks yang membuat ia sedemikian efektif menyerang maupun menghindari serangan.

Masih ada lagi petarung berkebangsaan Turki Serkan Yilmaz yang berasal dari Tae Kwon Do dan kickboxing, jika Anda memperhatikan beberapa pertarungannya di arena K1 kentara sekali teknik-teknik Tae Kwon Do begitu kental menjadi andalannya.

Sempurna seperti dalam latihankah teknik-teknik yang digunakan oleh Lyoto dan Serkan? Tidak sama persis, namun cara mereka mengaplikasikan menunjukkan bahwa mereka menguasai setiap teknik tersebut dalam tingkatan nyaris sempurna. Implementasinya sudah diadaptasi, namun kesempurnaan dalam latihan menjadi alasan mereka mampu menguasai dan memahami makna dibalik masing-masing teknik.

Memang pertarungan MMA sekalipun sama sekali berbeda dengan situasi perkelahian jalanan sesungguhnya, namun fakta bahwa Serkan maupun Lyoto mampu menggunakan beladiri tradisional ke dalam pertarungan modern seperti MMA menunjukkan bahwa beladiri tradisional sangat adaptif, selama individu yang mendalami memiliki kemampuan untuk itu.

Saya tak juga setuju ketika banyak orang awam yang mengatakan bahwa seorang ahli bela diri tidak berpikir ketika bertarung melainkan mengandalkan intuisi semata. Bela diri adalah tentang strategi, tanpa strategi semuanya adalah sia-sia. Strategi bukan berasal dari intuisi melainkan dipelajari dari pengetahuan yang dibarengi dengan pengalaman.

Dan strategi ini terus berkembang secara dinamis seiring dengan tingkat pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki seseorang. Kenapa dinamis? Karena lawan pun selalu dinamis dan berubah. Kecil kemungkinan dalam sebuah pertarungan jalanan kita menghadapi orang yang sama secara berulang-ulang.

Menggunakan intuisi semata saya pikir bukan gaya bertarung seniman beladiri melainkan preman jalanan.

Strategi

Dalam sebuah pertarungan sebuah strategi mutlak diperlukan. Saya tak bicara mengenai strategi bisnis atau strategi perang dimana seseorang memiliki cukup waktu untuk mematangkan strategi dan informasi untuk dipelajari.

Dalam pertarungan jalanan situasinya sungguh tak terduga. Kita tidak tahu kapan hal itu akan terjadi, kita tidak punya informasi latar belakang lawan yang harus dihadapi dan sebagainya. Namun dalam waktu singkat yang penuh tekanan kita harus membuat keputusan.

Pada situasi ini kemampuan yang perlu dikembangkan dan dipelajari adalah:

  1. Kemampuan untuk mempelajari kondisi yang mungkin terjadi dan niatan penyerang.
  2. Kemampuan memprediksi gerakan lawan.
  3. Kemampuan melihat kelemahan lawan yang memungkinkan dieskploitisir.
  4. Kemampuan untuk secepat mungkin melumpuhkan lawan.
  5. Kemampuan untuk berpikir satu langkah di depan; apa yang akan kita lakukan setelah tindakan x gagal atau berhasil.

Kemampuan di atas adalah vital dan sekali lagi harus dilakukan dalam kondisi singkat dan penuh tekanan. Satu saja kesalahan dalam membuat keputusan di atas tak hanya menyebabkan seseorang kalah dalam pertarungan, lebih parah lagi bisa berakhir dengan kematian.

Sayang hingga saat ini sejauh yang saya tahu tidak ada metode untuk mengajarkan hal-hal tersebut pada seseorang. Lebih sayang lagi kebanyakan bela diri sekarang mulai meninggalkan akarnya dan berubah menjadi cabang olah raga. Mereka yang belajar bela diri pun lebih senang mengejar prestasi di arena ketimbang mengasah kemampuan yang menentukan hidup dan mati. Padahal pengalaman di arena bagi saya sama sekali tidak relevan dengan pertarungan jalanan sebenarnya.

Pengalaman lah yang menentukan, namun siapa yang mau sengaja mencari masalah sekedar untuk menambah jam terbang. Lagi pula filosofi beladiri adalah bertahan dan hanya bertindak jika diserang secara fisik.

Maka tentu saja mencari-cari masalah sekedar untuk menambah pengalaman adalah tindakan bodoh dan tidak bermoral.

Harus diakui bahwa kebanyakan orang belajar beladiri dengan metode “take for granted”. Tidak melakukan evaluasi dan tidak kritis. Sikap inilah yang kemudian menyebabkan munculnya pemahaman bahwa aliran beladiri-nya lah yang paling hebat. Kalau seseorang lebih kritis, analitis, evaluatis dan berpikiran terbuka maka dengan cepat dirinya akan sadar bahwa tak satupun teknik dan aliran beladiri yang sempurna.

Kembali pada filosofi

Saya ingat ketika duduk di bangku SMP setiap malam Minggu (Sabtu malam) RCTI memutar film seri berjudul Kung Fu yang tokoh utamanya diperankan oleh David Carradine. Tokoh utama dalam film itu tampak sekali menganut filisofi defensif.

Dia tidak pernah memulai pertarungan jika tidak terpaksa, tak peduli bagaimana kerasnya provokasi pihak lawan. Dia tak segan-segan menghindar jika memang masih mungkin untuk dihindari. Dan kalaupun harus bertarung, dia berusaha secepat mungkin melumpuhkan lawan tanpa banyak menciderai dirinya ataupun lawan yang dihadapi. Setiap gerakannya sama sekali tidak mengandung unsur agresif.

Tentu gambaran di atas “too good to be true” dalam kenyataan. Saya sendiri dalam beberapa pengalaman pertarungan jalanan dalam pikiran saya selalu didominasi bagaimana saya bisa melumpuhkan dia secepatnya sebelum saya dilumpuhkan olehnya. Jadi setidaknya bagi saya masih terasa mustahil memikirkan bagaimana cara saya melumpuhkan lawan tanpa banyak menciderainya.

Tapi bukan berarti 100% yang ada pada karakter film “Kung Fu” tersebut tidak mungkin dipraktekkan. Saya bahkan meyakini bahwa setiap seniman beladiri hendaknya kembali pada filosofi ‘bertahan’. Saya kecewa ketika banyak seniman beladiri yang belajar hanya untuk bergabung dengan kelompok-kelompok pemaksa dan pemeras. Bagi saya hal-hal semacam itu ‘menodai’ kehormatan seni bela diri itu sendiri.

Beladiri bukanlah sekedar memukul, menendang, menguasai gerakan atau menguasai senjata. Di masa lalu pada era penjajahan, era para shogun, samurai mungkin hal-hal tersebut relevan. Tapi di masa kini bela diri mestinya berfokus pada ‘hidup’.

Untuk itu mula-mula para seniman beladiri haruslah mencintai hidup. Baik hidupnya sendiri maupun orang lain. Tujuan akhirnya tentulah kedamaian sebagaimana dicita-citakan oleh setiap manusia.

Mindset ketika belajar beladiri

Siapa yang bisa memprediksi niatan dan gerakan lawan sebelum semua itu terjadi? Atau kapan dan dimana Anda akan diserang. Saya yakin itu mustahil. Dan kalaupun memang bisa tentu Anda tak perlu belajar beladiri karena dengan mudah Anda bisa menghindarinya.

Ada banyak faktor yang tidak mungkin bisa Anda ketahui dalam sebuah pertarungan jalanan; dimana Anda akan diserang? Berapa jumlah lawan? Siapa yang akan menyerang? Bagaimana dia/mereka akan menyerang? Apakah penyerang akan menggunakan senjata? Jika ya, senjata jenis apa?

Informasi di atas adalah informasi vital andaikata Anda bisa memilikinya sebelu terjadi. Namun belajar beladiri tak menjadikan Anda bisa memprediksi hal-hal di atas, karena beladiri bukan ilmu ramal. Lalu apa manfaatnya Anda belajar beladiri?

Seperti saya sebut sebelumnya bahwa ragam aliran beladiri terus berkembang dari waktu ke waktu. Ada yang memiliki akar tradisional ada yang tidak. Dari sekian banyak aliran yang ada saya mengklaisifikasikan menjadi tiga aliran utama dilihat dari sudut pandang pemikirannya.

Pertama, adalah aliran yang lebih tradisional. Alih-alih langsung mengajarkan metode praktis untuk menghadapi situasi tertentu, aliran ini menekankan pada kesempurnaan teknik dan gerak. Aliran ini meyakini bahwa kemampuan untuk menghadapi pertarungan jalanan dipelajari sendiri secara bertahap sesuai tingkat kematangan taknik dan pengalaman masing-masing pribadi.

Aliran pertama menolak modifikasi teknik baik oleh instruktur maupun masukan dari anggotanya. Sebab bagi aliran ini teknik adalah sebuah warisan, tradisi dan nilai pembeda yang wajib dilestarikan dan dipertahankan.

Kedua, adalah aliran yang lebih modern dan mengajarkan gerakan berdasar pengalaman. Aliran ini menciptakan teknik dan gerakan berdasarkan pola serang yang paling sering dilakukan oleh penyerang. Mereka mengalami, memerhatikan dan kemudian memelajari cara menetralisir dan meng-counternya. Prinsipnya aliran ini mengajarkan metode praktis menghadapi sebuah kondisi tertentu (penyerangan) berdasar pengalaman.

Ketiga, adalah aliran yang praktis dan moderat. Aliran ini lebih banyak mengajarkan kapan, bagaimana dan dimana bahaya mungkin terjadi. Teknik tentu tetap diajarkan kepada murid-muridnya, namun pada dasarnya mereka dilegalkan untuk melakukan tindakan apapun dalam sebuah pertarungan. Teknik apa yang digunakan tidaklah lebih penting ketimbang mengapa dan bagaimana sebuah tindakan harus ditempuh untuk menghadapi penyerang. Aliran ini berkembang pesat di negara-negara barat dan beberapa kota besar yang tingkat kriminalitasnya tinggi. Beladiri ini selain bisa ditemukan pada beladiri militer dan aparat keamanan juga biasa diajarkan bagi para wanita yang riskan terhadap kekerasan.

Untuk yang terbaik

Bagi saya tidak ada yang lebih salah dan lebih benar dari ketiganya. Ketika Anda hendak mulai belajar bela diri, pilih saja mana yang terasa sesuai dengan Anda.

Metode praktis mungkin akan membantu untuk menghadapi pertarungan jalanan, namun bukan berarti sempurna. Metode tradisional membentuk karakter dan kepribadian seseorang lebih daripada sekedar memukul dan menendang, tekniknya juga tidak sia-sia dalam pertarungan jalanan meski perlu improvisasi.

Perlu dipahami juga bahwa jangan sampai termakan dengan berbagai provokasi atau terjebak pada debat kusir mengenai beladiri terbaik. Kalau Anda masuk ke forum tertentu atau menjelajah di internet ada demikian banyak debat kusir misalnya mana yang lebih baik antara Tae Kwon Do vs. Karate, Karate Shotokan vs. Shito Ryu, Karate Kyokushin vs. Shotokan dan sebagainya. Debat semacam itu tidak pernah ada ujung pangkalnya. Dalam suatu pertarungan dua aliran hasilnya senantiasa berbeda, kadang aliran A unggul kadang juga B unggul dan seterusnya, sangat bervariasi. Tidak ada beladiri yang lebih baik dibanding yang lain, yang ada adalah petarung/martial artist yang lebih baik. Singkatnya si petarung-lah yang menentukan hasil akhir, bukan alirannya!

Dan untuk menjadi petarung yang lebih baik Anda harus menemukan teknik yang sesuai, teknik yang sesuai juga sia-sia jika tidak menemukan instruktur yang baik. Saya misalnya disamping Tae Kwon Do saya juga mendalami Shotokan, namun akhirnya hati saya berpaling pada Shito Ryu. Bukan karena Shito-ryu lebih baik dibanding Shotokan namun karena lebih pas untuk saya. Badan saya termasuk kecil, memang masih ideal sesuai BMI namun terbilang kecil dibanding kebanyakan orang. Shotokan menekankan pada power, jelas bagi saya kurang ideal ketika harus menghadapi lawan yang lebih besar. Sedangkan Shito-ryu meski dalam beberapa hal mirip dengan Shotokan karena memang ia merupakan perpaduan antara Shotokan dengan Goju-ryu namun ia juga menekankan pada speed.

Di Shito Ryu pula saya memelajari cara menghadapi dan melumpuhkan lawan yang badannya jauh lebih besar, mungkin itu pula alasan aliran ini banyak dinilai sebagai beladiri ideal untuk kaum Hawa. Alasan tersebut (teknik menghadapi lawan yang berbadan lebih besar) didukung oleh keberuntungan menemukan Sensei yang capable bagi saya merupakan alasan menyebutnya sebagai beladiri terbaik… untuk saya.

Kombinasi dua faktor tersebut (aliran sesuai dan instruktur ideal) adalah pilihan paling masuk akal bagi seseorang untuk mencapai hasil terbaik. Jika saya ditanya dalam kondisi hanya salah satu dari dua faktor tersebut yang mungkin diperoleh maka saya akan menyarankan instruktur ideal sebagai syarat mutlak. Lebih baik bertahun-tahun Anda mencari instruktur beladiri ideal ketimbang bertahun-tahun belajar dari instruktur kacangan atau biasa saja.

Pernyataan di atas sekaligus menjawab beberapa sahabat dan pembaca yang bertanya efektivitas belajar beladiri lewat Youtube, e-book atau belajar beladiri online. Kalau sekedar penasaran silakan saja dicoba, tapi kalau Anda berpikir belajar lewat media tersebut aplikatif dalam membela diri maka hasil terbaik yang akan dicapai adalah dipermalukan sementara hasil terburuk bisa jadi cacat seumur hidup atau kehilangan nyawa.

Di Dojo, Dojang, sasana atau apapun masing-masing alirang menyebutnya seseorang akan punya kesempatan mendalami, bukan sekedar belajar. Gerakan-gerakan Kihon misalnya bukan sekedar ditirukan dan dilakukan namun perlu dipahami setiap maknanya, demikian pula halnya dengan Kata maupun Taegeuk. Kihon, Kata atau Taegeuk yang sekedar dilakukan dan tanpa memahami maknanya bagi saya tak lebih dari sekedar tarian. Namun jika didalami maknanya maka manfaat yang diperoleh individu sangat besar.

Tae Kwon Do sebagai beladiri juga sebenarnya juga bukan pilihan buruk, banyak yang meragukan efektivitasnya dalam pertarungan jalanan namun sebenarnya tidak demikian. Memang pesimisme terhadap efektivitas beladiri asal Korea itu dalam kondisi riil sempat oleh saya yang notabene juga praktisi Tae Kwon Do merasa ragu, namun bukan karena aliran atau teknik beladirinya sendiri. Masalahnya banyak instruktur atau pelatih Tae Kwon Do yang hanya memfokuskan pada teknik tendangan, bahkan dalam sparring rutin pun seolah menabukan pukulan. Padahal teknik Tae Kwon do sebenarnya kompleks, bukan sekedar tendangan jarak jauh. Teknik aliran “old school” atau yang kini lebih banyak dipertahankan oleh ITF juga banyak diadopsi oleh aliran Kyokushin karena memang Sosai Mas Oyama sang pendiri aliran Kyoukushin awalnya adalah praktisi Tae Kwon Do tradisional. Sementara Tae Kwon Do sendiri juga sebenarnya banyak dipengaruhi oleh Shotokan. Sayang memang dikemudian hari beladiri ini lebih berfokus pada tendangan jarak jauh saja dan lebih-lebih aliran WTF yang cenderung mengubah seni beladiri tersebut menjadi olah raga. Ketika seni beladiri cenderung fokus ke pertandingan olah raga memang efektivitas dalam pertarungan chaos menjadi pupus. Bagaimanapun selama Anda bisa menemukan pelatih atau instruktur yang tepat, yang masih memegang keaslian teknik-teknik Tae Kwon Do secara utuh maka Anda akan paham bahwa efektivitasnya dalam mempertahankan diri tidak kalah dibanding seni beladiri lain. Masih mungkin seseorang mendalami Tae Kwon Do yang sebenarnya/tradisional/utuh jika menemukan instruktur yang tepat, namun menurut pengalaman saya tidak mudah memang menemukan instruktur Tae Kwon Do yang masih mengajarkan teknik tradisional secara utuh saat ini.

Tae Kwon Do modern dalam perspektif saya semakin kehilangan jati diri sebagai seni bertarung, dimulai dari WTF yang lebih memfokuskan ke olah raga sehingga banyak pelatih pun mengajarkan teknik-teknik yang tujuannya sekedar mencari point. Memang di arena pertandingan cukup sering tendangan-tendangan tersebut meng-KO lawan, namun dalam pertarungan riil kondisinya sama sekali berbeda. Menurut pengalaman saya menggunakan tendangan lebih-lebih tendangan tinggi pada pertarungan jalanan sangat beresiko bagi, sebab lawan dengan kemampuan rata-rata pun dengan untung-untungan bisa mematikan tendangan tersebut. Kecuali kemampuan di penendang setara dengan Bill “Superfoot” Wallace tentu saja.

Degradasi unsur beladiri dalam Tae Kwon Do makin menjadi-jadi setelah poomsae pun kini dijadikan tarian demi meningkatkan popularitas budaya Korea di mata kawula muda. Benar atau tidak perspektif saya tentu bisa diperdebatkan tapi bagi saya itulah yang saya pegang untuk saat ini. Sebagai praktisi Tae Kwon Do terus terang saya merasa kecewa, padahal seni beladiri ini mulanya adalah beladiri untuk militer namun pada perkembangannya tampak kehilangan jati diri.

Kembali ke filosofi, ketika saya bilang hasil terbaik, artinya bukan terbaik dari yang terbaik melainkan terbaik yang bisa dicapai oleh seseorang. Tentu saja hasilnya relatif.

Jangan pula ketika Anda belajar beladiri lalu mindset yang dimiliki adalah menjadi yang terbaik dalam arti terkuat dan dan terkalahkan seperti tokoh Huang Fei Hung di film “Kung Fu Master” atau tokoh lain dalam film action. Terbaik maknanya adalah mempersiapkan kondisi Anda sebaik mungkin untuk menghadapi situasi yang tak diinginkan. Sebaik apapun Anda menguasai sebuah teknik hasilnya bisa jadi Anda menang bisa jadi Anda kalah. Tak seorangpun pernah tahu dan tak seorangpun tak terkalahkan. Tapi yang jelas persiapan terbaik akan memberikan hasil terbaik yang mungkin bisa dicapai dibandingkan tanpa persiapan.

Pertahanan terbaik adalah….

Dalam topik ini saya tidak sepakat bahwa pertahanan terbaik adalah menyerang. Pengalaman mengajarkan bahwa dalam pertarungan jalanan pertahanan terbaik adalah: bertahan!

Bertahan bukan dalam artian menangkis dan membiarkan lawan memukuli. Tepatnya adalah mengulur waktu, menghindar sedapat mungkin. Ada beberapa keuntungan disini:

  1. Anda punya kesempatan untuk mempelajari lawan
  2. Anda punya kesempatan memperoleh pertolongan entah dari orang lain maupun aparat.
  3. Penyerang yang lebih agresif biasanya menunjukkan banyak kelemahan, jadi semakin Anda membiarkan lawan menjadi agresif biasanya Anda justru akan lebih cepat mengetahui cara melumpuhkannya ketimbang sekedar adu jual-beli pukulan secara langsung. Petarung agresif umumnya (bukan semua) lemah dalam teknik maupun penguasaan diri. Kondisi ini bukan saja terjadi di jalanan namun juga dalam kumite atau sparring dimana biasanya sikap agresif, menyerang habis-habisan ditunjukkan oleh mereka yang tingkatannya pemula hingga menengah. Sementara mereka yang sudah masuk tingkatan lebih tinggi cenderung bersikap hati-hati, mengatur strategi, memelajari lawan dan hanya melakukan gerakan yang diperlukan. Bukan terus-menerus menyerang.

Tentu kondisi di atas tidak berlaku jika Anda berhadapan dengan lawan yang membawa senjata terlebih senjata api.

Pelatih beladiri (yang jujur) manapun mengajarkan sedapat mungkin menghindari pertarungan dimana lawan Anda memegang senjata, sekalipun Anda sudah diajarkan bagaimana melumpuhkan senjatanya tetap saja adalah hal bodoh jika tidak menghindar selagi masih memungkinkan.

Ingat bahwa pertarungan jalanan bukanlah pertandingan/kompetisi dimana point yang menjadi taruhannya. Pertarungan jalanan bukan pula sebuah film action dimana Anda harus melakukan gerakan yang memukau penonton. Lihat kembali gaya petarung-petarung hebat, mereka tidak banyak menggunakan teknik aneh-aneh. Teknik yang mereka gunakan sederhana, efektif dan yang lebih penting tahu kapan harus menggunakannya. Pertarungan jalanan bukan pula pertarungan antar samurai yang membela harga diri sehingga lebih baik mati terhormati ketimbang hidup dipermalukan. Faktanya pertarungan jalanan membutuhkan gerakan yang akurat, efektif dan efisien sebab nyawa Anda-lah yang jadi taruhannya. Dan jika Anda harus mati dalam pertarungan jalanan Anda tak akan beroleh kehormatan, yang ada hanyalah mati konyol! Menang atau kalah tak pernah ada kehormatan dalam pertarungan jalanan!

Bahasa tubuh juga tak kalah penting baik dalam mencegah, menghindari maupun menghadapi pertarungan jalanan. Pada tulisan berikutnya saya akan mencoba membagikan beberapa tips.

Namun sementara itu, coba tengok kembali tulisan di atas. Bukankah banyak hal bisa diterapkan dalam kehidupan keseharian? Ya… seni beladiri memang kaya akan filosofi, itulah salah satu alasan saya sangat mencintai seni beladiri. (Satrio)