Inspired by COACH CARTER

Coach CarterKemarin bersama suami aku nonton sebuah film yang berjudul Coach Carter. Pada film itu diceritakan seorang yang bernama Carter bersedia menjadi pelatih sebuah tim basket yang hanya menang empat kali pada musim yang lalu. Tim Basket tersebut adalah tim basket sebuah SMA di kota Richmond. Diceritakan pada film itu bahwa Richmond Highschool bukan merupakan sekolah unggulan, setiap tahun hanya sekitar 50% siswanya yang lulus dan dari yang lulus hanya sedikit yang masuk ke Universitas. Anak-anak yang tergabung dalam tim basket tidak memiliki prestasi akademik yang baik.

Hari pertama Carter datang sebagai pelatih, ia menyodorkan perjanjian kepada anak-anak di tim basket yang akan dia latih. Pada intinya kertas itu berisi perjanjian bahwa untuk dapat menjadi anggota tim basket, anak-anak harus memiliki prestasi belajar yang baik (nilai SAT 2,3 padahal yang ditetapkan sekolah hanya 2,00), mematuhi semua aturan yang ditetapkan pelatih termasuk untuk datang tepat waktu, hadir pada tiap kelas yang diikuti dan duduk di barisan paling depan serta mengenakan jas dan berdasi. Sebagai kontra prestasi coach Carter berjanji mencurahkan segala yang dia bisa lakukan untuk tim basket tersebut, dan ia yakin bahwa tim tersebut dapat meraih kemenangan. Coach Carter bahkan meminta laporan studi anggota tim-nya dari semua guru.

Tentu saja tidak semua anak menerima aturan tersebut dan ada beberapa yang langsung mengundurkan diri. Diantara yang mengundurkan diri terdapat anak-anak yang mencetak skor terbanyak pada setiap pertandingan. Namun coach Carter tidak peduli, piihan mereka untuk tetap tergabung dalam tim basket adalah setuju dengan isi perjanjian tersebut.

Singkat cerita, coach Carter melatih mereka dengan penuh disiplin dan konsisten dengan aturan yang telah disepakati. Berkat latihan dan teknik yang diajarkan, pada 16 kali pertandingan, tim yang sama sekali tidak diungulkan ini menang.

Ketika mempersiapkan pertandingan yang ke 17, coach Carter menerima laporan bahwa prestasi belajar bebrapa anggota timnya sanagt buruk. Seketika coach Carter membuat keputusan menghentikan latihan, menutup gedung olahraga, dan memindahkan latihan ke perpustakaan. Ia mengumumkan tidak akan memulai latihan jika nilai anggota tim yang jelek belum memenuhi standar sesuai perjanjian mereka.

Cerita itu tentu tidak selesai sampai disitu, kelanjutannya silakan disaksikan sendiri dalam film tersebut.

Melihat film tersebut aku belajar menjadi seorang coach. Menjadi seorang coach tidak cukup hanya memiliki pengetahuan teknis. Lebih dari itu, seorang coach juga harus seorang yang memiliki tujuan, menetapkan standar dan konsisten dengan standar yang telah ditetapkan.

Perjalanan proses coaching amat dipengaruhi bagaimana seorang coach menjaga tujuan yang ingin dicapai melalui keteguhan hati mengahadapi berbagai rintangan yang menantang.

Karakter seorang pemimpin juga diperlukan, seorang pemimpin yang yakin dengan keputusan yang dibuat dan siap dengan segala konsekuensi atas keputusan tersebut. Seringkali keputusan yang dibuat mendapat tentangan, bukan saja dari pihak luar tetapi juga dari pihak dalam. Keteguhan dan kekuatan seorang pemimpin sangat diperlukan untuk menjaga konsistensi terhadap keputusan yang telah dibuat tersebut. Hal ini penting, sebab keberhasilan hanya mungkin tercapai dengan adanya konsistensi.

Seorang coach juga dituntut memiliki kemampuan melihat jauh kedepan, dan bukan hanya pada tuntutan yang berkembang pada saat ini. Oleh karenanya kepercayaan terhadap diri dan keyakinan terhadap tujuan yang ditetapkan mutlak diperlukan.

Selain itu hal lain yang sama pentingnya adalah kepercayaan kepada anak-anak yang dilatih. Kepercayaan ini menjadi modal dalam proses coaching, dan merupakan bekal yang amat vital dalam perjalanan meraih tujuan bersama. Seorang coach yang tidak memiliki kepercayaan terhadap anak-anak dalam tim-nya, sesungguhnya sedang melakukan usaha menjaring angin dalam proses coaching yang dilakukannya.

Oleh karena kepercayaan tersebut, maka seorang coach akan mampu menuntut tinggi, menuntut kemampuan yang paling maksimal, dan membantu anak-anak dalam tim-nya untuk menggali semua potensi yang dimiliki. Seperti talenta yang dimanfaatkan, bukan berkurang namun justru semakin berkembang; itulah prinsip dasar yang harus dimilki oelh seorang coach.

Tentu banyak hal-hal lain yang masih dapat digali dari film tersebut. Belajar dari coach Carter semoga ketika aku menjadi seorang coach, aku mampu menerapkan prinsip-prinsip seperti yang dilakukan coach Carter. (Indirani)

  Copyright protected by Digiprove © 2011